Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Bahkan Sayap Pun Bukan Miliknya
Setelah tahu dirinya hanya kebagian baju seragam bekas, Tantya sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Tidak ada protes. Tidak ada wajah masam. Bahkan ia tidak bertanya mengapa dirinya diperlakukan berbeda.
Ia hanya tersenyum tipis, lalu memilih meninggalkan ruang tengah. Kalau mereka ingin membuatnya merasa kecil hanya karena sepotong pakaian, Tantya tidak akan memberi mereka kepuasan itu.
Langkahnya justru mengarah ke dapur. Ia lebih memilih membantu Bi Lilis daripada duduk di antara orang-orang yang sejak kedatangannya sudah membuatnya merasa seperti tamu yang tidak diundang.
Begitu sampai di dapur, Bi Lilis langsung menoleh. "Eh, Neng Tya! Baru datang, Neng? Tambah cantik saja.”
Tantya tersenyum hangat. Ia segera menghampiri perempuan paruh baya itu dan mengulurkan tangannya. "Iya, Bi. Apa kabar, Bi?”
"Baik, Neng." Bi buru-buru mengelap tangannya dengan kain yang ada di dekatnya sebelum menyambut uluran tangan Tantya.
Setelah bersalaman, perempuan itu menghela napas. "Duh, cuma Neng Tya yang masih mau menganggap Bibi. Yang lain mana ada yang mau salaman sama orang miskin seperti Bibi ini.”
Tantya sedikit mengernyit "Wah, masa Bi?”
"Ya begitulah, Neng. Bibi orang miskin, jadi dianggap pun tidak.”
Nada suara Bi Lilis terdengar getir. Namun, Tantya justru tersenyum kecil. Ia tahu persis bagaimana rasanya diperlakukan berbeda hanya karena dianggap tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan.
"Saya juga belum sempat salaman sama mereka, Bi,” ujar Tantya santai. “Soalnya baru saja mau salaman, sudah disuruh ke dapur.”
Keduanya pun tertawa kecil. "Yang sabar, ya, Neng!”
"Iya, nggak apa-apa, Bi.”
Tantya kemudian terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah pintu dapur. Ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"Eh, sebentar ya, Bi. Saya mau menelepon dulu.”
"Ya, Neng.”
Tantya melangkah ke bagian belakang dapur. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya, ia mengambil ponsel dari dalam tas. Jarinya segera mencari nama seseorang.
Erni, asistennya. Panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum, Erni.”
"Waalaikumsalam. Ada apa, Mbak?”
"Er, baju burgundy yang harganya paling mahal masih ada?”
"Size apa, Mbak?”
"Size S.”
Terdengar suara Erni seperti sedang memeriksa stok. "Ada. Tinggal satu lagi.”
"Okay. Kamu kirimkan ke aku, ya. Pakai ekspedisi paling ekspres. Usahakan bisa sampai Cirebon besok.”
"Okay, Mbak. Minta alamatnya saja!”
"Iya. Nanti aku kirimkan alamatnya.”
"Siap, Mbak.”
Tantya hendak mengakhiri panggilan, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu. "Langsung kirim sekarang, ya, Er. Soalnya mau dipakai lusa.”
"Okay, Mbak.”
"Makasih, ya, Er.”
"Iya, sama-sama, Mbak.”
Panggilan berakhir. Tantya masih berdiri beberapa detik sambil menatap layar ponselnya. Kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. Bukan senyum seseorang yang sedang marah. Bukan pula senyum seseorang yang ingin membalas penghinaan dengan cara murahan. Justru sebaliknya. Senyum Tantya begitu tenang.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu merapikan kerudungnya sebelum kembali ke dapur. "Lihat saja!” bisiknya pelan.
Langkahnya kembali ringan. "Lusa, kita lihat siapa yang benar-benar pantas disebut paling cantik.”
Tantya tersenyum kecil. Tidak perlu menjelaskan apa pun kepada mereka. Tidak perlu mengatakan bahwa baju bekas itu tidak berarti apa-apa baginya. Tidak perlu pula memamerkan apa yang ia punya. Karena ada kepuasan tersendiri ketika seseorang meremehkan kita berdasarkan apa yang mereka lihat hari ini, lalu terdiam ketika melihat kenyataan yang sebenarnya.
Tantya menahan senyumnya. Mereka memberinya baju bekas. Tidak masalah. Ia justru akan datang dengan sesuatu yang membuat baju pemberian mereka terlihat seperti pilihan yang sangat sederhana. Dan yang paling menyenangkan? Mereka bahkan tidak akan tahu apa yang sedang ia siapkan.
Tantya kembali membantu Bi Lilis seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah selesai menelepon Erni, Tantya kembali bergabung dengan Bi Lilis. Ia menyimpan ponselnya ke dalam tas, lalu tanpa banyak bicara langsung menggulung sedikit lengan bajunya dan ikut membantu pekerjaan di dapur.
"Masak apa saja, Bi?” tanyanya.
"Ini mau mulai bikin sop ayam kampung, Neng. Yang lain nanti sambal goreng kentang sama capcay. Tinggal goreng kerupuk dan bikin sambal.”
"Ya sudah, saya bantu.”
Tantya pun segera mengambil peran. Ia membantu memotong sayuran, mengupas kentang, sementara Bi Lilis mengurus ayam dan bumbu-bumbu yang sudah disiapkan. Sesekali keduanya berbincang ringan, membuat suasana dapur yang semula sepi menjadi terasa lebih hangat.
Aroma sop ayam kampung perlahan memenuhi dapur. Disusul wangi bumbu sambal goreng kentang yang ditumis hingga matang dan harum. Capcay pun menyusul dimasak, lengkap dengan sayuran yang masih terlihat segar. Tantya bahkan ikut menggoreng kerupuk dan membuat sambal.
Berbeda dengan suasana di ruang depan yang dipenuhi anggota keluarga inti, dapur justru terasa jauh lebih tenang. Halaman rumah Rendra memang cukup luas. Bagian belakang rumah dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyiapkan berbagai makanan dan camilan, sehingga orang-orang yang bekerja di sana tidak harus keluar-masuk melalui ruang utama.
Untuk menu utama, keluarga memang sudah memesan katering. Namun beberapa hidangan pendamping dan makanan rumahan tetap dibuat sendiri, termasuk masakan yang dikerjakan Tantya dan Bi Lilis untuk makan keluarga inti.
Tanpa terasa, waktu sudah mendekati zuhur. Satu per satu masakan akhirnya selesai.
"Sudah beres, Neng,” kata Bi Lilis sambil mengusap keringat tipis di dahinya.
Tantya mengangguk puas. "Alhamdulillah ."⅗
Mereka kemudian membawa hidangan ke meja makan. Sop ayam kampung diletakkan di tengah, disusul sambal goreng kentang, capcay, sambal, dan kerupuk yang baru saja digoreng.
Setelah semuanya tertata rapi, aroma masakan pun memenuhi ruang makan. Tak lama kemudian, anggota keluarga inti mulai berdatangan dan mengambil tempat masing-masing di meja makan.
Obrolan pun terdengar di sana-sini. Kursi mulai terisi. Suasana rumah yang sejak pagi cukup sibuk kini beralih menjadi suasana makan bersama.
Tantya sebenarnya sudah selesai membantu sejak beberapa saat lalu. Namun ia masih memastikan semuanya benar-benar tertata sebelum meninggalkan dapur.
Barulah setelah merasa tidak ada lagi yang perlu dikerjakan, ia berjalan menuju ruang makan.
Ia menjadi orang terakhir yang bergabung. Dengan tenang, Tantya menarik kursi yang masih kosong, lalu duduk tanpa mengatakan apa-apa.
Wajahnya tetap tenang seolah kejadian pagi tadi sama sekali tidak membekas. Semua orang sudah mengambil nasi dan lauk masing-masing. Piring-piring di atas meja pun mulai dipenuhi berbagai hidangan yang sejak tadi mereka tunggu.
Tantya menjadi orang terakhir yang mengambil makanan.
Ia mengambil nasi secukupnya, lalu tangannya bergerak ke arah panci sop ayam. Matanya langsung tertuju pada bagian sayap—potongan yang memang sejak dulu menjadi bagian ayam kesukaannya.
Namun, belum sempat tangannya menyentuh sendok saji, suara Bu Martha terdengar.
"Jangan ambil sayap. Itu kesukaan Farah.”
Tangan Tantya terhenti di udara. "Biar Ibu ambilkan.”
Bu Martha langsung mengambil sendok, lalu dengan santainya menyendokkan potongan kepala ayam dan satu bagian kaki ke dalam piring Tantya.
"Kamu ini saja.”
Tantya menatap isi piringnya beberapa detik. "Lho, Mbak Farah kan sudah mengambil, Bu.”
Ia melirik ke piring Farah yang memang sudah berisi nasi dan lauk, termasuk potongan ayam.
"Siapa tahu nanti dia mau nambah." Jawaban Bu Martha begitu ringan, seolah tidak ada yang aneh dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Tantya terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi potongan kepala dan kaki ayam di piringnya. Padahal dialah yang sejak tiba di rumah ini berdiri di dapur. Dialah yang membantu membersihkan dan mengolah bahan makanan. Dialah yang ikut memasak sop ayam kampung itu sampai matang.
Namun ketika tiba waktunya makan, bagian yang ia sukai justru harus ia berikan kepada orang lain.
Tantya menarik napas pelan. Tidak ada gunanya berdebat hanya demi sepotong sayap ayam.
Ia mengambil sendok, tetapi bukannya menyentuh kepala dan kaki ayam tersebut, ia justru menggeser piringnya sedikit.
Akhirnya, Tantya memilih tidak mengambil sop sama sekali. bukan karena tidak lapat, tetapi ia sudah kehilangan selera. Ia mengambil sedikit capcay dan sambal goreng kentang sebagai pengganti, lalu mulai makan dalam diam.
Tak lama kemudian, Arya menyuap kuah sop dan mengangguk puas. "Bi, Nanah, tumben masakannya enak banget.”
Bi Lilis yang sedang makan langsung tersenyum.
"Iya, itu sebenarnya yang masak Neng Tya. Bibi cuma membantu.”
Tantya spontan menoleh. Namun sebelum Bi Lilis sempat mengatakan lebih banyak, Farah langsung menyambar. "Jangan merendah, Bi. Mana aku percaya?”
Farah tertawa kecil sambil tetap menikmati makanannya.
"Bibi kan dari dulu memang paling jago masak.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi entah mengapa justru membuat Tantya semakin tidak nyaman. Bi Lilis hanya tersenyum kecut. Ia merasa heran karena mendapat pujian itu, sementara Tantya tetap diam.
Ia tidak merasa perlu merebut pujian dari siapa pun. Biarlah. Hari ini mereka boleh mengira siapa pun yang mereka mau sebagai orang yang paling berjasa. Toh, Tantya tidak memasak untuk mendapatkan pujian. Ia hanya tidak menyangka, bahkan setelah memasak untuk satu meja penuh, ia sendiri justru menjadi satu-satunya orang yang tidak mencicipi sop ayam buatannya.
Ia menunduk, menyuap nasi perlahan. Ada sedikit senyum di sudut bibirnya. Bukan senyum bahagia.
Lebih seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa mulai hari ini, ia tidak perlu lagi berharap diperlakukan adil oleh orang-orang yang memang sejak awal tidak berniat memperlakukannya demikian.