NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Saat Dia Memilih Orang Lain

Hari itu dimulai seperti hari-hari lainnya — pagi yang tenang, sinar matahari yang lembut menyelinap masuk lewat celah jendela, suara burung yang berkicau di halaman. Namun ada sesuatu yang berbeda di udara, sesuatu yang terasa berat dan tak terucap, seakan langit yang cerah pun menyembunyikan badai yang akan datang.

Pesan itu datang di tengah pagi — sebuah undangan resmi yang dikirim dari rumah besar keluarga Arga, meminta kehadirannya di pertemuan keluarga yang dinyatakan sebagai pertemuan terakhir untuk menyelesaikan seluruh perselisihan warisan. Surat itu tidak menyebutkan namaku. Hanya namanya. Sejak awal, aku seakan tidak ada. Seakan aku hanyalah bayangan yang mengikutinya, bukan bagian dari kisah ini.

"Kau akan pergi?" tanyaku pelan, saat ia selesai membaca surat itu, melipatnya kembali dengan gerakan yang kaku.

Arga berdiri di dekat jendela, menatap ke luar tanpa melihat apa-apa. "Aku harus pergi. Jika tidak, mereka akan berkata aku lari. Bahwa aku tidak berani menghadapi kenyataan."

"Boleh aku ikut?" suaraku nyaris tak terdengar.

Ia terdiam lama sekali, lalu menggeleng perlahan, tanpa menoleh ke arahku. "Tidak kali ini, Lia. Mereka memintaku sendirian. Jika aku membawamu, mereka akan menutup telinga. Mereka akan mengatakan semua yang kukatakan hanyalah karena pengaruhmu."

Kata-kata itu menancap pelan di dadaku. Karena pengaruhmu. Sejak kapan cintaku menjadi sesuatu yang disebut pengaruh? Sejak kapan kehadiranku menjadi alasan untuk meragukan kebenarannya?

"Jadi... aku tidak diinginkan di sana?" tanyaku, meski jawabannya sudah kutahu.

Arga berbalik menatapku, wajahnya penuh kecemasan namun juga ketegasan yang membuatku kedinginan. "Bukan begitu. Ini hanya strategi, Lia. Biarkan aku berbicara dengan mereka sendiri. Biarkan mereka mendengar suaraku, bukan suara orang lain di belakangku. Lalu aku akan kembali. Semuanya akan baik-baik saja."

Ia mendekat, ingin memelukku, namun aku mundur selangkah. "Berjanjilah padaku — apa pun yang terjadi, kau tidak akan melupakan siapa yang menemanimu saat kau sendirian. Berjanjilah kau tidak akan memilih mereka hanya karena mereka banyak, karena mereka kuat, karena mereka memiliki semua yang dulu kau miliki."

Arga mengangguk, matanya tampak jujur, namun ada bayang keraguan yang tak bisa ia sembunyikan. "Aku berjanji. Tidak ada yang akan mengubah pilihanku."

Ia pergi. Aku berdiri di depan pintu, menatap punggungnya yang perlahan menjauh, hingga menghilang di tikungan jalan. Sejak saat itu, waktu seakan berhenti berjalan. Setiap menit terasa seperti satu jam. Aku duduk di tempat yang sama, menunggu, berdoa, mencoba meyakinkan diri bahwa ia akan kembali, bahwa janjinya akan ia tepati.

Namun sore berganti malam, dan ia tidak pulang. Tidak ada pesan, tidak ada kabar. Hanya keheningan yang semakin dalam, semakin dingin.

Keesokan harinya, berita itu datang — bukan dari mulutnya, melainkan dari tetangga yang datang dengan wajah penuh rasa iba, seakan takut menyampaikannya namun tak bisa diam. "Mereka bilang... Arga menyetujui kesepakatan itu. Dia kembali ke rumah lamanya. Dia memilih untuk tetap bersama keluarganya."

Duniaku seakan runtuh seketika. "Memilih... apa maksudnya?"

"Dia setuju untuk tidak lagi bersamamu," jawabnya pelan, menunduk. "Mereka memberinya pilihan — keluarga dan harta, atau kau. Dan dia memilih mereka."

Aku tidak percaya. Aku berlari ke tempat yang biasa kami temui, ke jalan yang sering kami lewati, ke setiap sudut tempat kami pernah berjanji tidak akan berpisah. Namun tidak ada jejaknya. Pintu rumah lamanya tertutup bagi aku. Orang-orang yang lewat menatapku dengan pandangan yang sama — seakan aku adalah orang asing yang tidak seharusnya berada di sana.

Aku akhirnya melihatnya dari kejauhan, berdiri di beranda rumah besar itu, dikelilingi kerabat yang tersenyum puas. Ia tampak tenang, namun matanya kosong, seakan ada bagian dari dirinya yang ikut hilang bersamaku. Di sampingnya berdiri Rania, tampak anggun, seakan tempat itu memang miliknya. Mereka berbicara, tertawa — atau setidaknya mereka berusaha tertawa. Dan di sana, di kejauhan, aku menyadari hal yang paling menyakitkan: ia memang memilih orang lain. Bukan karena tidak mencintaiku, tapi karena ia lelah. Lelah berjuang, lelah dibenci, lelah dipisahkan dari semua yang ia kenal sejak lahir. Ia menyerah.

Aku tidak mendekat. Aku tidak memanggil namanya. Karena aku tahu — jika ia ingin bersamaku, ia akan mencariku. Jika ia ingin memilihku, tidak ada siapa pun yang bisa menghentikannya. Dan jika ia tidak datang... maka pilihannya sudah jelas.

Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan dalam mimpi buruk yang tak berakhir. Aku kembali ke rumah kecil kami — atau rumahku, sekarang — dan duduk di tempat kami biasa duduk bersama. Setiap benda di sana menyimpan kenangan: cangkir yang kami gunakan bergantian, kursi yang kami beli bersama, jendela tempat kami menonton matahari terbenam. Semuanya masih ada, namun ia yang paling berharga telah pergi.

Orang-orang berbicara di belakangku. Ada yang berkata aku pantas menerimanya — bahwa aku memang tidak sepadan, bahwa pertemuan kami hanyalah kebetulan yang tidak seharusnya terjadi. Ada yang berkata ia pengecut — bahwa ia tidak berani berdiri teguh pada pilihannya. Namun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di hatinya. Tidak ada yang tahu bahwa di antara dua hal yang sama-sama berharga, memilih salah satunya berarti kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Suatu malam, pintu terbuka pelan. Arga berdiri di sana, tampak lelah, pucat, matanya bengkak seakan tidak tidur berhari-hari. Ia menatapku, namun tidak melangkah masuk.

"Lia..." suaranya nyaris tak terdengar.

Aku berdiri diam, menahan air mata yang sudah terlalu lama jatuh. "Mengapa kau datang? Kau sudah memilih mereka."

Ia menggeleng, air mata mulai menetes di pipinya. "Aku tidak memilih mereka karena aku ingin. Aku memilih karena aku pikir... jika aku pergi, kau akan tenang. Kau tidak akan lagi dihakimi. Kau tidak akan lagi dibenci. Aku pikir melepaskanmu adalah cara terbaik untuk melindungimu."

"Melindungiku?" suaraku pecah. "Dengan meninggalkanku sendirian? Dengan membiarkan semua orang berkata aku tidak berharga? Itu bukan perlindungan, Arga. Itu pengkhianatan."

Ia menunduk, bahunya bergetar. "Aku tahu. Aku salah. Sejak langkah kakinya menjauh darimu, aku tahu aku salah. Setiap detik terasa seperti menyiksa. Rumah itu kembali sepi — lebih sepi dari sebelumnya. Karena kali ini, tidak ada lagi harapan yang menantiku di sana."

Ia mendekat perlahan, seakan takut aku akan lari. "Aku kembali untuk meminta maaf. Bukan untuk memintamu menerimaku kembali. Aku tahu aku tidak pantas. Tapi aku tidak bisa hidup dengan keraguan ini — apakah kau tahu bahwa meninggalkanmu adalah keputusan tersulit yang pernah kuambil?"

Aku menatapnya lekat-lekat, pria yang kucintai namun yang juga menyakitiku begitu dalam. "Kau pergi, Arga. Kau memilih mereka. Dan meskipun kau kembali sekarang, bagian dari hatiku sudah terluka. Bagian yang percaya bahwa kau tidak akan pernah pergi, kemanapun kau pergi."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Ia berdiri di sana, terlihat hancur, dan aku berdiri di sini, terlihat utuh namun sebenarnya hancur juga. Saat dia memilih orang lain, dia tidak hanya meninggalkanku — dia juga meninggalkan dirinya sendiri. Dan sekarang, di antara kami, ada jarak yang lebar, dalam, dan tidak mudah dijembatani kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!