NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Pintu Hati yang Terkunci

Kabar pernikahan itu menyebar secepat angin malam yang berhembus di sepanjang gang sempit pemukiman tempat tinggal Ayu.

Suara bisik-bisik tetangga yang mula-mula hanya berupa guncangan di pos ronda, kini secara terang-terangan terlontar setiap kali Ayu melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya.

"Padahal kalau masih gadis kan bisa dapet yang masih bujangan juga, masa sama duda mau-mau aja," celoteh Bu RT saat sedang memilah bayam di tukang sayur keliling.

Ibu-ibu lain yang mererungi sayuran cepat menyambar, "Zaman sekarang status tuh gak penting, Bu. Yang penting kan banyak uangnya. Pak Yoga kan kontraktor sukses, punya rumah dua lantai di kawasan elite. Ayu mah pinter ambil peluang."

Ayu yang saat itu sedang berdiri hanya tiga langkah di belakang mereka, meremas ujung gamisnya. Rasanya dingin, padahal matahari pagi baru saja terbit.

Ia tidak menjawab, tidak pula membalas tatapan sinis yang dilayangkan padanya. Bagi Ayu, penjelasan apa pun tidak akan mampu mengubah pikiran orang-orang yang sudah terlanjur memberi label padanya sebagai wanita pemburu harta.

Mereka tidak tahu bagaimana ketulusan Yoga saat mengetuk pintu rumah orang tuanya dua bulan lalu. Mereka tidak tahu bagaimana matanya yang teduh menatap ayah Ayu dengan penuh rasa hormat, dan meminta izin untuk membimbing anak gadis mereka.

Dan yang paling penting, mereka tidak pernah tahu bagaimana hangatnya pelukan Moana, gadis kecil berusia enam tahun yang kehilangan sosok ibu sejak bayi, setiap kali Ayu selesai mengajarinya membaca.

Bagi Ayu, Yoga bukan sekadar pria berada. Yoga adalah sosok dewasa yang tenang, penuh perhatian, dan menghargainya sebagai seorang wanita.

Selama satu tahun menjadi guru privat Moana, Ayu melihat sendiri betapa Yoga bekerja keras membagi waktu antara bisnis konstruksinya dan membesarkan tiga anak sendirian.

Rasa kagum itu berakar pelan-pelan, hingga akhirnya tumbuh menjadi cinta yang mantap ketika Yoga melamarnya secara terhormat.

Namun, cinta tidak pernah sesederhana yang ada di dalam novel.

Hari pertama setelah pesta pernikahan yang digelar sederhana di rumah orang tua Ayu, mobil sedan hitam milik Yoga perlahan memasuki pelataran rumah megah berarsitektur modern di kawasan Jakarta Selatan.

Rumah itu megah, ditopang pilar-pilar kokoh dengan pekarangan luas yang ditanami rumput jepang bersih. Namun, ada aura dingin yang terasa mencekam begitu gerbang besi otomatis itu tertutup kembali.

Yoga keluar lebih dulu, mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Ayu. Sensasi dingin melingkupi telapak tangan Ayu ketika Yoga meraih jemarinya, dan mengusapnya lembut untuk memberikan ketenangan.

"Jangan gugup, Ayu," bisik Yoga. "Ini rumahmu sekarang."

Ayu tersenyum tipis, mengangguk kecil seraya membenahi letak jilbab instan berwarna pastel yang ia kenakan. Hatinya berdebar kencang saat melangkah menuju pintu utama.

Di ruang tamu yang luas, tiga sosok anak sudah menunggu.

Yang pertama adalah Moana. Gadis kecil itu melompat gembira dari sofa begitu melihat Ayu masuk. Gaun merah muda yang ia kenakan berkibar saat ia berlari dan langsung menubruk pinggang Ayu.

"Kak Ayu! Eh... Ibu!" seru Moana riang. Suaranya yang melengking memecahkan kekakuan ruangan.

Ayu segera berlutut hingga sejajar dengan tinggi Moana, lalu memeluk tubuh mungil itu dengan erat. "Halo, Moana... Kangen sama Kak Ayu?"

"Kangen banget! Kata Papa, mulai hari ini Kak Ayu tinggal di sini dan jadi Mama Moana," ucap Moana polos dengan mata berbinar-binar.

Di balik keceriaan Moana, dua pasang mata lainnya menatap adegan itu dengan tatapan yang jauh dari kata ramah.

Di sudut sofa, Kenzo duduk bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia mengenakan jaket hoodie hitam dan memasang earphone di salah satu telinganya. Matanya menatap Ayu dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang dingin dan tajam.

Sementara itu, di samping Kenzo, berdiri Lea. Ia tidak memasang wajah dingin seperti kakaknya, melainkan tatapan sengit dan penuh kebencian yang terang-terangan. Tangan mungilnya mengepal erat di sisi rok lipitnya.

" Ekhem!" Yoga berdeham, dan mencoba mengendalikan suasana yang mendadak canggung itu, lalu merangkul bahu Ayu dengan lembut.

"Kenzo, Lea, kemari. Sambut Ibu kalian," ujar Yoga dengan suara yang tenang namun tegas.

Kenzo tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya terkekeh sinis, melepaskan earphone-nya, lalu berucap dengan nada malas, "Ibu? Pa, dia bahkan cuma beda beberapa tahun dari Kenzo. Lebih cocok jadi kakak ketimbang ibu."

"Kenzo! Jaga bicaramu!" tegur Yoga, dengan nada suara yang menajam.

"Kenapa? Memang benar, kan?" potong Lea, dengan suara tinggi dan tajam. Matanya yang bulat kini menatap Ayu penuh amarah dan kecemburuan. "Kita cuma punya satu Mama! Dan Mama udah meninggal! Wanita ini cuma guru privat Moana yang mau ambil uang Papa!"

"Lea!" suara Yoga menggelegar di ruang tamu yang luas itu.

Ayu merasa dadanya dihantam benda tumpul yang sangat berat. Sindiran tetangga tadi pagi rasanya belum seberapa dibanding kalimat yang baru saja keluar dari mulut gadis remaja itu.

Sakit, namun Ayu mencoba menahannya. Ia tahu, anak-anak ini sedang terluka dan merasa terancam dengan kehadirannya.

"Mas, tidak apa-apa..." bisik Ayu pelan sambil memegang lengan suaminya, dan mencoba meredakan amarah Yoga.

Ayu kemudian mendekati Lea dengan perlahan. Ia berusaha mengukir senyum setulus mungkin, meski bibirnya terasa gemetar. "Lea, Tante tahu, maksud Tante, Ibu tahu kalau kedatangan Ibu di sini tidak bisa menggantikan posisi Mama kalian. Ibu tidak berniat menggantikan siapa pun. Ibu cuma ingin—"

"Gak usah sok manis!" bentak Lea sambil mundur dua langkah, dan menolak uluran tangan Ayu. "Jangan panggil diri Tante 'Ibu'! Aku gak sudi punya ibu seumuran Tante!"

Setelah berteriak, Lea berbalik dan berlari kencang menaiki tangga menuju lantai dua. BAM! Suara dentuman pintu kamar yang dibanting terdengar keras menggelegar di seluruh penjuru rumah.

Kenzo pun berdiri dari sofanya dengan santai. Tanpa memandang Yoga maupun Ayu, ia berjalan melewati mereka begitu saja menuju kamarnya di lantai atas, meninggalkan bau parfum maskulin yang tajam dan sikap acuh tak acuh yang menusuk.

Di tengah keheningan yang menyiksa itu, Moana mendongak dan menatap Ayu dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca. "Kak Ayu... Kak Lea sama Bang Kenzo marah ya?"

Ayu berlutut kembali dan menatap Moana, lalu mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut. "Gak apa-apa, Moana. Kak Lea sama Bang Kenzo cuma belum terbiasa aja. Nanti juga baik-baik saja."

Yoga menghela napas panjang. Garis-garis kelelahan terlihat jelas di wajah pria empat puluh tahun itu. Ia lalu berlutut di samping Ayu, dan memegang jemari istrinya dengan rasa bersalah yang mendalam.

"Maafkan anak-anak, Ayu... Aku tidak menyangka reaksi mereka akan keras seperti ini," ucap Yoga dengan penyesalan yang mendalam.

Ayu menatap suaminya dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Ini butuh waktu. Saya yang harus belajar menyesuaikan diri."

Namun di dalam hatinya, Ayu tahu betul, perjalanan ini baru saja dimulai, dan ombak yang harus ia hadapi jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!