Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Keesokan harinya Tristan benar-benar menemani putrinya untuk menemui si guru yang katanya akan menjadi istrinya
Sudah lima menit ia berdiri disini dan sekarang dimana wanita itu, Tristan tidak akan disini lebih dari satu menit lagi
"Itu Bu guru Aini" Tristan menatap putrinya, sangat terlihat jika Melody begitu bahagia melihat sang guru
Wanita disana membuka helmnya, Tristan terpaku pada wajah yang begitu ia rindukan. Sudah tujuh tahun dan wanita itu ada dihadapannya
"Clara"
Wanita itu melangkah mendekat, rambut panjangnya terbang diterpa angin. Saat melihat Melody ia tersenyum dan senyum itupun mengingatkan Tristan pada wanita yang masih bertakhta di hatinya
"Selamat pagi Melody" Sapa Aini dengan suara lembut khasnya
"Selamat pagi Bu guru, oh iya Bu. Ini Papa nya Melody"
Aini tersenyum pada pria tampan yang Melody perkenalkan padanya, Aini mengulurkan tangan namun laki-laki dihadapannya masih membeku
Aini mengerti, biasanya orang-orang kaya tidak ingin bersalaman. Aini menarik tangannya, namun saat itu juga ia terkejut karena tubuhnya ditarik dan dipeluk
"Clara, kamu kembali" Lirih pria yang tengah memeluknya itu
"Maaf pak" Aini mendorong pelan tubuh kekar itu, hal ini jelas membuatnya tidak nyaman
"Clara" Tristan tersadar, dihadapannya bukanlah, Clara istrinya tapi wanita lain
Bagaimana bisa ia melihat wanita ini sebagai istrinya. Jika diperhatikan memang keduanya memiliki kemiripan, dari garis wajah, bentuk bibir serta tatapannya
Namun keduanya bukanlah saudara kembar, jelas masih ada perbedaan dan Tristan tahu jika yang berdiri didepannya adalah orang lain
"Maafkan saya"
Aini tersenyum canggung, tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Bagiamana bisa ada orang yang tiba-tiba saja memeluknya
"Ini ibu guru Aini, cantik kan, Pah?" Pertanyaan Melody mengalihkan Tristan dari wajah Aini
"Iya sayang" Tristan kembali menatap wanita dihadapannya, berulang kali ia meyakinkan diri jika yang berdiri ini bukanlah Clara, wanita yang ia cintai
"Ayo kita masuk Melody!" Ajak Aini dan gadis menggemaskan itu mengangguk, menerima uluran tangan sang guru
"Melody masuk dulu yaa, Pah" tangan kecilnya melambai, Tristan tersenyum hingga putrinya hilang dibalik gerbang sekolah
"Dia bukan Clara, dia tidak akan bisa seperti Clara"
Setelah mengatakan itu, pria tampan nan gagah itu berlalu masuk kedalam mobilnya
"Papa nya Melody ganteng kan, Bu guru?" Aini tersenyum lalu mengusap kepala anak didiknya itu
"Ganteng"
"Ibu suka gak sama Papanya Melody?"
Pertanyaan yang membuat Aini terdiam, ia tidak mungkin suka pada pria yang menyentuh seorang wanita dengan sembarangan
"Ayo, sekarang Melody masuk kelas!" Titah Aini dan gadis kecil itu mengangguk
Dikantor
Tristan menatap pigura kecil diatas meja kerjanya, ia tersenyum sambil mengusap potret seorang wanita yang tengah tersenyum
"Tidak akan ada wanita yang seperti kamu, sayang. Kamu tenang aja! Wanita itu tidak akan pernah menggantikan posisi kamu"
Pintu ruang CEO terbuka, Tristan Kusuma adalah pewaris tunggal perusahaan Kusuma dan namanya terkenal sebagai seorang pengusaha kuda terbaik di kota ini
"Permisi pak"
"Ada apa Rafael?"
"Tuan ditunggu diruang meeting sekarang juga" Ujar asisten pribadi itu
"Saya segera kesana"
Tristan menyimpan kembali pigura itu ditempatnya, pria tampan itu berdiri lalu merapikan jas mahalnya sebelum meninggalkan ruangan
Disekolah
Semua murid berlarian menghampiri orang tuanya yang datang menjemput, Aini berjalan bersama Melody serta seorang anak laki-laki
Keduanya memang satu kelas dan sangat sering bertengkar
"Ibu guru itu akan jadi Mama aku" Ujar Melody dengan sangat percaya diri
"Tapi ibu guru itu cocoknya sama Papa aku, waktu itu Papa aku pernah kasih ibu guru coklat"
Aini hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua bocah ini. Bagaimana bisa mereka memperebutkan guru sendiri untuk dijadikan ibu
"Ibu guru pasti pilih papa aku, Papa Melody itu kan ganteng" Melody tidak ingin kalah
"Papa aku juga ganteng"
"Sudah, kenapa jadi bertengkar. Sekarang kita pulang!" Aini menggandeng tangan kedua bocah yang masih bertengkar itu, biarlah, karena bagi Aini ini lucu
"Selamat siang ibu guru cantik" Seorang pria dewasa menghampiri Aini sambil menyodorkan seikat bunga
"Papa" Bisma bersorak saat melihat sang ayah
"Bunga yang cantik untuk ibu guru yang cantik" Pria seusia Andra itu tersenyum, sebenarnya Aini tidak ingin menerima pemberian pria ini tapi tidak enak jika terus-terusan menolak
"Terima kasih pak, Ferdy. Tapi harusnya ini tidak perlu" Aini tersenyum tidak enak
"Rasanya tidak pantas jika bertemu dengan wanita secantik Bu Aini tanpa membawa apapun" Aini sudah sangat muak mendengar rayuan seperti ini
"Tapi ini disekolah, pak. Tidak baik dilihat sama Anak-anak"
"Baiklah, besok coklat saja"
"Tuh kan, Bu guru pasti suka sama Papa ku, lihat aja! Papa aku bawa bunga untuk ibu guru" Bisma berbisik ditelinga teman sekelasnya
Melody kesal melihatnya, gadis cantik itu berlalu tanpa berpamitan. Bahkan Melody mengabaikan panggilan dari sang guru
"Ada apa sama dia?" Gumam Aini melihat anak didiknya yang sudah masuk kedalam mobil jemputan
"Bu guru cantik udah siap belum untuk menikah lagi?" Tanya Ferdy
"Maaf pak, tapi saya belum kepikiran untuk menikah lagi. Masa Iddah saya saja belum selesai" Aini sebenarnya tidak nyaman jika bicara dengan laki-laki tipe perayu seperti ini
"Nanti kalau sudah siap, langsung kabari saya! Saya selalu setia menunggu" Aini hanya tersenyum "Ayo Bisma sayang! Kita pulang, Papa harus kembali kekantor"
Sebelum berlalu dengan mobilnya, Ferdi masih sempat-sempatnya menggoda Aini dengan melambaikan tangannya
Aini menaiki kendaraan roda duanya lalu melaju menuju rumah, sebenarnya ia merindukan Kasih, namun ia tidak ingin datang ketempat dimana wanita lain suaminya berada
lebih suka Aini sama Yudha saja sih, Yudha juga laki-laki yang baik