Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Di tempat lain, Leo duduk di ruang kerjanya sambil menatap sebuah map hitam yang baru saja diterimanya dari bagian hukum perusahaan.
Di halaman pertama terdapat dokumen kerja sama lama. Pada salah satu lampiran, tercantum nama sebuah perusahaan perantara yang belakangan kembali muncul dalam transaksi mencurigakan. Leo membuka halaman berikutnya, ada salinan laporan keuangan dan catatan mengenai perubahan kepemilikan saham yang terjadi beberapa bulan sebelumnya.
Semula, ia hanya ingin membantu program kesehatan rumah sakit. Namun, setelah memeriksa dokumen-dokumen itu, ia menemukan beberapa kejanggalan yang tidak bisa diabaikan. Nama Rangga memang tidak tercantum langsung, tetapi ada transaksi yang melibatkan seseorang dari lingkaran keluarga besar Cendana. Sebagai bagian dari keluarga yang sama, Leo tahu persoalan ini bisa menyeret nama mereka semua jika dibiarkan tanpa penyelidikan.
Leo belum memiliki bukti yang cukup untuk menarik kesimpulan. Karena itulah, ia belum menceritakan temuannya kepada siapa pun, termasuk Rangga maupun anggota keluarga Cendana lainnya. Ia ingin memastikan fakta yang sebenarnya sebelum mengambil langkah yang bisa memicu konflik di dalam keluarganya sendiri.
Ia tidak ingin mendekati perempuan itu hanya untuk mendapatkan informasi tentang mantan suaminya. Namun, ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa ketertarikannya kepada Jingga tidak membuat persoalan tersebut terasa semakin pribadi.
Ponselnya berdering. Salah satu stafnya menghubungi untuk mengonfirmasi jadwal kegiatan akhir pekan.
“Pastikan semua dokumen program kesehatan dibawa,” ujar Leo. “Dan tolong periksa kembali daftar pihak yang akan hadir.”
Setelah panggilan berakhir, ia menatap nama Jingga yang tercantum dalam jadwal.
“Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Jingga. Tapi aku tidak akan melibatkanmu hanya untuk menggali rahasia keluargaku sendiri.”
____
Sementara itu, Samudera baru saja selesai memeriksa pasien ketika ia melihat Jingga berdiri di dekat ruang perawat sambil membaca pesan di ponselnya. Ia tidak berniat menguping, tetapi sekilas ia melihat nama Leo di layar sebelum Jingga menyimpannya.
“Persiapan kegiatan akhir pekan sudah selesai?” tanyanya ketika mendekat.
Jingga mengangguk. “Sebagian besar. Sepertinya program ini akan lebih besar daripada yang saya bayangkan.”
“Leo memang serius mengurusnya.”
“Dokter mengenalnya secara pribadi?”
“Tidak terlalu dekat. Saya hanya tahu dia cukup aktif dalam urusan kemitraan perusahaan.”
Samudera berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman selama kegiatan nanti, sampaikan kepada koordinator. Jangan merasa harus menghadapi semuanya sendiri.”
Jingga menatap Samudera dengan senyum kecil. “Dokter khawatir?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Begitu menyadarinya, Jingga langsung terdiam.
Samudera juga tidak segera menjawab. Ia bisa saja berlindung di balik alasan profesional, tetapi tatapan Jingga membuatnya memilih kata-kata dengan lebih hati-hati.
“Saya ingin kegiatan itu berjalan lancar. Dan saya tidak ingin orang yang bekerja keras untuk pasien justru harus menghadapi masalah yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya.” Jawab Samudera.
Jawaban yang masuk akal. Terlalu masuk akal, sampai Jingga hampir kecewa karena tidak menemukan jawaban lain di baliknya. “Baik, Dokter. Saya akan mengingatnya.”
Samudera mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Ia tidak menyadari bahwa Jingga memperhatikannya beberapa detik lebih lama sebelum kembali bekerja.
Jingga mulai bertanya-tanya apakah ketenangan yang ia rasakan di dekat Samudera hanya karena lelaki itu memahami lukanya, atau karena hatinya perlahan menginginkan sesuatu yang lebih?
Malam itu, Jingga baru tiba di kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit. Ia meletakkan tas di atas kursi, lalu duduk di tepi ranjang sambil menghela napas panjang.
Pikirannya kembali tertuju pada percakapan dengan Leo dan Samudera. Leo tampaknya menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan keluarga besarnya sendiri, sedangkan Samudera selalu berhasil membuatnya merasa tenang tanpa banyak bertanya.
Jingga tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Leo dengannya. Namun, ia menyadari bahwa pria itu mulai menunjukkan ketertarikan yang lebih dari sekadar hubungan profesional. Di sisi lain, perhatian Samudera juga perlahan menghadirkan perasaan yang sudah lama tidak berani ia rasakan.
Ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Setelah semua yang terjadi dalam pernikahannya dengan Rangga, Jingga ingin memastikan bahwa langkah berikutnya benar-benar berasal dari keinginannya sendiri, bukan karena ingin melupakan masa lalu atau membuktikan sesuatu kepada mantan suaminya.
Untuk malam ini, ia ingin beristirahat tanpa memikirkan Rangga, persoalan keluarga Cendana, ataupun kemungkinan hubungan baru yang mulai tumbuh di sekelilingnya.
Namun, jauh di dalam hati, Jingga tahu bahwa ia tidak bisa terus menghindari semua persoalan itu. Ia perlu menghadapi masa lalunya, menyelesaikan urusannya sendiri, dan menentukan siapa yang pantas mendapat tempat dalam hidupnya.
Ia ingin menjalani pekerjaannya, membangun kembali kehidupannya, dan memastikan bahwa kebahagiaan yang kelak ia temukan bukan lagi sesuatu yang harus ia perjuangkan sendirian di dalam pernikahan yang menyakitkan.
Sebab, setelah kehilangan begitu banyak hal, Jingga akhirnya memahami satu hal penting. Ia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, tanpa harus meminta izin kepada Rangga ataupun siapa pun dari keluarga Cendana.
.
.
.
Jika ada nama Dewangga, itu typo ya teman-teman. Itu tokoh pria di novelku yang berjudul "Ibu Tiri Kesayangan dan CEO Idiot".
Makasih sudah baca cerita ini 💚
lanjut Thor👍