DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15-LEMBAH HANTU
Raka mulai membuka matanya, tapi saat menetap sekeliling.
Tempat ia berada sudah berubah, bukan lagi di dalam kereta kuda.
Melainkan du hutan yang di penuhi pepohonan besar, bahkan tak ada satu rumput atau pohon kecil di bawah.
Raka sedikit menunduk karena merasakan dinginnya telapak kaki yang langsung menyentuh tanah dan dedaunan kering, karena sekarang dia sama sekali tak memakai alas kaki.
"di mana aku."
ia mencoba berjalan mencari Kirana, terus memanggil namun tak ada sautan sama sekali.
Bahkan Raka sampai berteriak, namun hasilnya tetap sama.
Jangan sautan dari Kirana, bahkan satu binatang pun tak ada sepanjang mata memandang.
Tak lama ia berjalan, samar samar ia mendengar suara aliran sungai.
karena tenggorokannya juga sudah terasa kering, ia memilih mengikuti sumber suara.
Sampai akhirnya ia benar benar menemukan sungai.
Namun saat melompat hendak meminum air dari sungai langsung.
Ujung matanya menangkap sesuatu, Raka menoleh.
"Kirana" ucapnya.
seorang wanita berdiri batu tepat di pinggir air terjun, postur tubuh, rambut bahkan warna kulitnya sangat mirip dengan Kirana.
Namun saat wanita itu menoleh, Raka langsung terdiam.
Wajah sosok itu benar benar tak dapat terlihat oleh matanya.
Bukan rata, tapi pandangannya seakan kabur saat menatap wajah wanita itu.
"kalung ini..."
Raka langsung meremas bajunya sendiri, karena kalung yang di kenakan wanita itu sangat familiar di matanya.
Bahkan Raka sampai menunduk melihat ke bawah, untuk memastikan kalung itu.
Saat melihat kalung, di leher.
Tanpa sadar, Raka melangkah mundur.
Tubuhnya langsung bergetar.
"jangan takut, aku tak akan melukaimu" ungkap wanita itu.
Setelah mengatakan hal ini, wanita itu sedikit melangkah.
Namun saat langkahnya terhentak, tubuhnya tiba tiba menghilang.
Lalu muncul di batu lainnya.
"aku hanya ingin memastikan satu hal" lanjutnya.
Raka yang sebelumnya ketakutan, kini mencoba tegar.
"pasti manusia, jika memang hantu lalu apa" batinnya.
Setelah itu, Raka mendongakkan kepalanya.
"me memastikan apa" jawab Raka mencoba tegar, walau suaranya masih sedikit terputus putus.
Lalu wanita itu menunjuk ke kalung yang ada di leher Raka.
"ingat, kau telah memilikinya. Jangan pernah membiarkan siapapun mengambilnya walau nyawamu taruhannya" ucap wanita itu.
baru akan menjawab, tiba tiba Raka terbangun.
"hanya mimpi" gumamnya dengan napas yang naik turun.
Setelah itu Raka menatap kakinya yang masih terbalut alas kaki.
Ia bisa merasakan, rasa dingin dan sedikit mengganjal.
Ia melepaskan alas kaki, melihat kakinya yang terdapat tanah. Raka langsung membelalak, ia sedikit menelan ludahnya.
"apa yang tadi bukan mimpi" lanjutnya membatin.
"ada apa" ucap Kirana yang masuk ke dalam kereta.
Raka menggeleng.
"tidak, hanya mimpi buruk"
"oooo, karena kamu sudah tidur. Sekarang gantian aku yang tidur, aku sudah lelah"
Raka mengangguk, dan mereka merubah posisi.
"sebenarnya siapa wanita tadi, apa mungkin itu ibunya Kirana."
namun dengan cepat Raka menggeleng.
"tak mungkin, dari cerita Kirana. Ibunya tak bisa berkelahi, sedangkan wanita tadi jelas sekali memiliki kekuatan yang tinggi."
sepanjang jalan, Raka terus terpikir hal ini.
Bahkan saking asiknya berfikir Raka sampai tak sadar dirinya sudah masuk ke wilayah lembah hantu..
Dia tak menyadari kalau dia sudah mengendarai kereta hampir 8 jam karena kepalanya terus memikirkan mimpi tadi.
plak..
Raka terlonjak, saat ada yang menepuk pundaknya.
"ngapa ngelamun"
"Kirana, apa apaan kau ini."
Raka sedikit mengelus dada.
"lagian kamu ngelamunin apa si"
"gak ada, cuma mikirin Mbah aja"
Kirana hanya ber oh ria.
"oh ia Rana, kenapa kamu keluar...? Bukanya kamu mau tidur."
"udah ngapain lanjut berhentiin kudanya."
Raka hanya menurut.
sedangkan Kirana langsung melompat ke bawah.
"buat apa tidur lagi, kita sudah sampai."
"udah sampai...?" Raka ikut melompat turun.
"Hem...." jawab Kirana sambil mengelus kuda.
"untung kita ngebawa kuda ajaib yang cuma perlu di temani di bangku kusir. Kalo enggak mungkin kita udah nyampek mana gara gara kusirnya asik ngelamun"
Raka hanya bisa tersenyum, ia tak membantah dan hanya mengeluarkan seluruh barang yang mereka perlukan lalu memasukkannya ke sebuah tas genggam ajaib.
"udah di keluarin semua...?" tanya Kirana
"beres."
setelah itu, Kirana mengayunkan tangannya dan kereta kuda yang sebelumnya besar tiba tiba menjadi patung kayu kecil.
"ayo masuk." ajak Kirana.
"untunglah tak ada hantu" lega Raka setelah cukup lama berjalan namun tak menemukan apapun.
Srek....
Keduanya menoleh, namun tak ada apapun selain pepohonan tinggi.
Wus...
Sebuah suara terdengar di tempat lain.
Namun saat menoleh lagi, mereka masih tak menemukan apapun.
"bersiaplah, sepertinya mereka sudah bergerak" ungkap Kirana.
"mereka...?" Raka langsung bersembunyi di balik punggung Kirana.
Namun dengan cepat ia di dorong menjauh.
"apa apaan si ka, gak usah jadi pengecut."
"tapi, mereka hantu Lo..."
Kirana tak menjawab, kali ini kelebatan muncul dari pohon ke pohon.
"keluarlah, jangan jadi pengecut" teriak Kirana.
Tak lama setelah itu, hutan kembali sunyi.
Lalu beberapa kelebatan muncul dengan bentuk manusia penuh luka.
"ra...Ra...na mereka benar benar hantu"
namun belum sempat Raka bersembunyi di balik punggungnya.
Rana sudah memicingkan matanya.
Melihat ini Raka hanya bisa terdiam tak berdaya.
"ingat kita ke sini untuk mencari kekuatan, dengan melenyapkan mereka. Adalah hal paling tercepat meningkatkan kapasitas energi."
mendengar ini, Raka akhirnya teringat dengan tujuan mereka.
Akhirnya ia mencoba memberanikan diri.
Namun para sosok itu tak menunggu mereka selesai berdiskusi.
Satu per satu langsung maju.
Wus wus wus.....
Sosok sosok itu terbang menyerang.
Kirana langsung mundur, sedangkan Raka malah melesat maju.
Ia langsung melayangkan tendangan memutar ke arah salah satu sosok hantu.
sayangnya, tendangan itu seakan menendang angin.
Kakinya langsung menembus hantu itu dengan mudah.
Akibatnya tubuh Raka oleng, ia terhuyung huyung.
Namun sebelum ia jatuh, sebuah bola energi melesat langsung ke tubuhnya.
Hal ini membuat Raka langsung terpental menjauh, tubuhnya berguling beberapa kali di tanah sampai menabrak pohon.
"bodoh." umpat Kirana.
Sedangkan sosok sosok hantu itu kembali menyerang, melihat hal ini Kirana tak bisa tinggal diam.
Ia membentuk segel tangan, seketika beberapa bayangan di pohon membentuk duri duri tajam yang langsung melesat menyerang.
Lalu dari kaki, bayangannya sendiri memanjang.
Membentuk tangan yang langsung menangkap Raka.
Setelah berhasil membawa Raka kembali ke dekatnya, ia langsung menatap kesal ke arah pria itu.
"jangan bilang kau tak tau cara melawan pasukan hantu."
Raka menggeleng.
"dasar bodoh, bukannya Mbah pernah mengajarinya."
Raka malah tersenyum.
"aku tak mendengarkan karena takut."
bruk....
"aduh..."
Tubuh Raka langsung terjatuh karena bayangan yang menopang Raka sudah menghilang.
"dengarkan aku baik baik" tegas Kirana.