NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Proses sidang Mama Lydia ternyata jauh lebih singkat dari yang Kila bayangkan.

Mama memang hancur, tapi Mama bukan tipe yang maju perang tanpa senjata. Bukti-bukti perselingkuhan Papa Adrian, foto, mutasi rekening apartemen, sampai rekaman, sudah disiapkan Mama dengan sangat detail dan rapi dalam satu map hitam tebal. Pengacaranya bahkan tidak perlu banyak bicara.

"Untuk kali ini, Mama tidak mau kalah," kata Mama pelan malam sebelum sidang, sambil memeluk map itu.

Sidang perdana itu selesai dalam hitungan jam. Tidak ada drama perebutan harta yang panjang, karena Papa Adrian sendiri seperti sudah menyerah dan ingin semuanya cepat selesai.

Tiga hari menemani Mama di rumah besar sudah cukup membuat Mama sedikit lebih kuat. Hari ini, Mama sudah bisa masak lagi, sudah bisa menyuruh Kila keramas karena rambutnya lepek.

"Kamu balik aja, Sayang. Kuliah kamu jangan ketinggalan. Mama udah bisa sendiri kok," kata Mama pagi itu.

Kila yang mendengar itu, dengan berat hati memutuskan untuk pulang kerumahnya. Sudah beberapa hari juga dia tidak masuk kuliah.

Kak Elvar kembali mengantar Kila pulang.

Perjalanan 2 jam itu terasa lebih ringan. Di tol antar kota tidak semacet waktu jemput kemarin. Kila duduk di depan, memeluk tasnya, sudah pakai baju kampus lagi. Blazer lecek Elvano sudah dia cuci dan lipat rapi di dalam tas, mau dikembalikan.

"Kak, mampir makan dulu ya?," pinta Kila saat sudah masuk kota tempat dia kuliah.

Kak Elvar melirik jam. "Boleh. Di mana?"

"Di restoran langganan Kila sama temen-temen dekat kampus, Kak. Enak, tempatnya tenang."

Restoran itu bukan restoran mewah, tapi restoran keluarga yang agak private di pusat kota. Meja kayu, lampu kuning hangat, tidak terlalu ramai siang itu.

Mereka baru saja pesan, Ayam Bakar dan dua es teh, saat pintu restoran terbuka lagi. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi.

Seorang pria dengan kemeja hitam rapi, jam mahal, dan parfum yang bahkan dari jarak 3 meter sudah kecium, masuk sambil menelepon.

"Ya, data kuesioner desa binaan yang kemarin sudah saya rekap. Tidak, mahasiswi saya sedang izin keluarga..."

Kila langsung membeku. Sendok di tangannya jatuh ke piring.

Pak Rhaegar.

Pak Rhaegar menutup teleponnya, mengangkat kepala, dan matanya langsung bertemu dengan mata Kila.

Sama-sama kaget.

"Hah? Kila?" suaranya pelan, masih dengan nada dosen itu.

Sebelum Kila sempat menjawab, Kak Elvar yang duduk membelakangi pintu, berbalik karena dengar nama adiknya disebut.

Dan dunia berhenti sepersekian detik untuk Kak Elvar.

Pria dengan kemeja hitam itu... rambutnya memang lebih pendek, lebih rapi, tapi matanya...

"Rhaegar?" bisik Kak Elvar.

Pak Rhaegar yang biasanya wajahnya seperti kulkas 24 jam, mengerutkan dahi, lalu matanya membesar pelan. Ekspresi yang sangat jarang Kila lihat.

"Elvar? Elvar Mahardika??"

Hening.

"ASTAGAAAA! KULKAS!" teriak Kak Elvar setengah berbisik tapi heboh, langsung berdiri dan memeluk Pak Rhaegar yang masih kaku.

Kila melongo. Ini pertama kalinya dia lihat Pak Rhaegar dipeluk orang dan tidak menghindar. Bahkan terlihat... pasrah dipeluk.

"Gila... 6 tahun, Gar! 6 tahun kamu hilang! Nomor kamu ganti! IG kamu hilang! Aku kira kamu udah jadi profesor di Jerman gak balik lagi!" Kak Elvar menepuk-nepuk punggung Rhaegar keras.

Rhaegar akhirnya menghela napas, dan... tersenyum tipis. Senyum pertama yang Kila lihat yang bukan senyum sinis dosen.

"Var.. Kamu.... masih berisik seperti dulu," kata Rhaegar pelan, suaranya agak serak.

Mereka akhirnya duduk satu meja. Ayam bakar Kila jadi dingin karena dia sibuk jadi penonton.

"Jadi... ini adik Kamu? Kila?" Rhaegar menatap Kila, lalu menatap Elvar. "Yang dulu masih SMA kelas 2 yang lu ceritain nangis-nangis karena gak mau tinggal di rumah?"

Kila kaget. "Kakak cerita tentang Kila ke Bapak?"

"Jaman kuliah, tiap malam," jawab Rhaegar singkat, menyesap air putih.

Kak Elvar masih tidak percaya. "Sumpah Gar, Aku gak tau Kamu balik dan jadi dosen di kampus adik Aku. Pantasan kemarin di parkiran Aku liat SUV hitam itu gak asing!"

Rhaegar hanya mengangguk. "Baru setahun kembali."

"Terus perusahaan keluarga Kamu gimana? Bukannya Kamu disiapin buat ngurusin itu? Bokap Kamu kan...?" Kak Elvar menurunkan suaranya. Dia tau topik ini sensitif.

Disitulah raut wajah Rhaegar kembali dingin.

"Aku tolak," jawabnya pendek. "Aku gak mau."

Kak Elvar diam.

Rhaegar menatap keluar jendela restoran, ke arah jalanan kota besar yang ramai.

"Aku kuliah S2 S3 bukan buat balik ngurusin perusahaan, Var. Aku kuliah karena Aku suka riset. Aku suka ngajar. Walaupun gaji dosen tidak ada apa-apanya dibanding jadi direktur, tapi disini Aku bisa napas. Di perusahaan keluarga... Aku cuma jadi boneka Papa yang harus sempurna. Semua harus sempurna."

Dia melirik Kila sekilas.

"Makanya Aku milih jadi dosen. Di kampus, kesempurnaan Aku ada gunanya buat nilai mahasiswa, bukan buat pamer di meja rapat."

Kila menahan napas.

Baru sekarang dia mengerti. Kenapa Pak Rhaegar selama ini terlihat seperti bukan dosen pada umumnya. Kenapa parfumnya terlalu mahal untuk ukuran dosen muda, kenapa mobilnya SUV hitam yang terlalu bagus, kenapa dia perfeksionis sampai ke font tugas.

Bukan karena dia pamer.

Tapi karena itu semua adalah sisa-sisa tuntutan keluarga terpandang yang masih menempel di tubuhnya, bahkan setelah dia kabur dan memilih jalannya sendiri sebagai dosen.

Dia bukan dosen yang ingin terlihat kaya.

Dia adalah anak orang kaya yang kabur untuk bisa menjadi dosen.

Dan di seberang meja, Kak Elvar menatap sahabat lamanya dengan bangga.

"Gila. Kamu akhirnya berani juga, Gar," kata Kak Elvar pelan, menepuk bahu Rhaegar. "Aku bangga."

Rhaegar tidak menjawab, hanya menunduk. Tapi telinganya merah.

Kila yang melihat itu, tiba-tiba merasa... Pak Rhaegar tidak sedingin yang dia kira selama ini.

---

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!