NovelToon NovelToon
SAAT BAHAGIA BERSAMAMU

SAAT BAHAGIA BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah NH2

Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.

Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?

Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa

Selamat membaca~~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gawat!

"Kyle, itu diluar ada Erik nungguin kamu, Mama suruh nunggu didalam tapi nggak mau"

"Ya, Ma, nanti Kyle keluar"

Sepeninggal Hilda, Kyle menghela nafas panjang. Orang ini sungguh nekat, batin Kyle, dengan keadaan sedang tidak sehat Erik justru datang menemuinya. Untuk apa? Untuk mendengar penjelasan Kyle tentang foto-fotonya bersama Marsya yang dikirimkan seseorang kepada Erik. Sejujurnya Kyle juga merasa bingung, siapa yang mengirim foto-foto itu? Namun siapa pun itu, orang itu sengaja melakukannya agar Erik merasa terpancing dan berkelahi dengan Kyle.

Seperti sekarang, sudah pasti Erik datang dengan emosi tak terbendung, foto-foto itu membuatnya sangat kesal. Erik merasa cemburu melihat Marsya begitu dekat dengan Kyle. Menggenggam tangan, merangkul, pulang dan pergi bersama, semua itu terjadi saat Erik tidak bersama Marsya. Hal itu membuat Erik semakin yakin bahwa Kyle memang berniat mengambil Marsya darinya, dia berani melakukan itu dibelakangnya.

Baru saja Kyle meninggalkan ruang kerja David, Marsya sudah menyusulnya dari lantai dua. Marsya berlari dan langsung memeluk Kyle, menahan Kyle yang hendak keluar menemui Erik.

"Mau kemana? Katanya mau bantu aku ngerjain tugas?"

"Iya, sebentar" Kyle menepuk-nepuk kepala Marsya, mencoba memberi pengertian namun Marsya tetap tidak melepaskannya, "Sekarang, aku udah ngantuk"

"Sebentar, Sya. Gue keluar dulu"

"Iya, mau ngapain?"

Pertanyaan Marsya membuat Kyle terdiam, haruskah dia mengatakan bahwa Erik sedang menunggunya diluar? Sepertinya tidak, Kyle tidak mau Marsya bertemu dengan laki-laki itu meski hanya sekedar melihat keadaannya. Akhirnya, Kyle berikan kecupan lembut dibibir Marsya, membuat gadis itu mematung seketika.

"Tunggu dikamar" Ucap Kyle sebelum pergi meninggalkan Marsya ditempat. Dia perhatikan langkah Kyle yang membawa menuju pintu utama, membuat Marsya penasaran dan mulai mengendap-endap mengikuti Kyle untuk mencari sendiri jawaban dari pertanyaannya. Tidak peduli Kyle menyuruhnya untuk menunggu, Marsya harus tahu hal apa yang membuat Kyle terlihat serius dan terburu-buru.

"Sebenarnya dia mau ngapain, sih? Apa ada orang yang nungguin diluar?" Marsya masih melangkah tanpa suara, semakin dekat dengan pintu utama membuat rasa penasarannya semakin tinggi. Tanpa menghentikan langkahnya, Marsya menatap kearah jendela, siapa tahu dia bisa melihat seseorang diluar sana. Namun apa yang dia dapatkan, kepalanya justru membentur dada Kyle saat laki-laki itu berbalik dan berhenti dihadapannya.

"Aw" Marsya meringis sambil memegangi dahinya, tatapan tajam dia layangkan kepada Kyle yang sedang menghela nafas panjang, "Sakit tau!"

"Kenapa ngikutin?"

"Aku kan kepo, sebenarnya kamu mau ngapain, sih? Ada siapa diluar?" Marsya celingukan, kakinya mulai melangkah kearah pintu dan hendak membukanya. Namun Kyle lebih dulu menahan, dia menarik Marsya dan langsung mencium bibirnya tanpa aba-aba. Bola mata Marsya membulat sempurna, Kyle kembali menciumnya. Apa-apaan ini? Batin Marsya. Bukannya memberi jawaban sang suami justru menciumnya. Marsya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang Kyle sembunyikan.

"Hmph..." Marsya mulai memberontak, namun sial tenaganya tidak sebanding. Kyle mengikatnya dengan pelukan erat dipinggang dan tengkuknya, laki-laki itu semakin memperdalam ciuman mereka. Cukup lama, berlangsung beberapa menit sebelum Marsya berhasil mendorong Kyle sekuat tenaga.

"Kyle? Bukannya jawab kamu malah cium aku? Ada apa, sih?"

"Oh? Udah nggak mau dicium?"

"Ya, nggak gitu-"

"Kyle! Keluar lo sekarang!"

"Erik?!" Marsya tersentak, dia tahu betul pemilik suara itu. Sekarang Marsya paham dengan siapa Kyle akan bertemu. Tetapi mengapa suaminya itu tidak mau mengatakan yang sebenarnya? Marsya menoleh kearah luar sebelum kembali menatap Kyle, "Jadi ada Erik diluar? Mau apa dia kesini? Dia kan lagi sakit?"

"Kamu yang minta Erik datang? Mau berantem lagi?" Pertanyaan Marsya yang bertubi-tubi membuat Kyle memijat keningnya. Ternyata percuma mencoba menutupi kedatangan Erik, toh, tanpa disengaja istrinya ini tahu dengan sendirinya.

"Balik ke kamar. Kalau lo cerewet, kita ciuman lagi didepan Erik sekarang juga"

"Kyle? Aku serius"

"Balik kekamar, Sya. Tenang, gue nggak bakal nyentuh Erik"

"Ya udah, okay" Marsya berbalik dan meninggalkan Kyle. Dia naiki anak tangga sambil sesekali menoleh dan memperhatikan Kyle yang sudah menghilang dari balik pintu.

Diluar, Erik sudah menunggu Kyle seorang diri. Erik tampak duduk diatas kap mobil dengan wajah yang terlihat sengit dan angkuh. Kyle tatap Erik dari atas sampai bawah, sepertinya sahabatnya itu sudah membaik, Erik tidak terlihat lemah seperti sebelumnya. Dan Erik langsung buktikan dengan menarik kaos yang dipakai Kyle, cukup kencang, Erik tampak bertenaga. Luar biasa melihat sahabatnya ini bisa pulih lebih cepat, ini adalah kabar baik, batin Kyle.

"Jelasin ke gue semua foto-foto itu!" Erik berteriak, cengkraman tangannya pada kaos semakin kencang, "Lo mesra-mesraan sama cewek gue, maksud lo apa, Kyle?"

"Semuanya udah jelas" Ucap Kyle sambil melepas tangan Erik dari kaosnya, "Gue mau ngerebut cintanya Marsya"

"Anjing" Erik bergumam, raut wajahnya tampak semakin kesal, "Lo nggak anggap gue, ya? Lo nikung sahabat sendiri?! Lo terang-terangan mesra sama cewek gue Kyle?!"

"Oh? Lo boleh terang-terangan mesra sama Via, kenapa gue sama Marsya nggak boleh?"

"Lo tau dari mana soal Via?"

"Ck, udah lah, mending sekarang lo pergi sebelum gue emosi dan ngehajar lo lagi"

"Okay. Lo lihat aja, Kyle, Marsya nggak akan pernah jadi milik lo"

Kyle tersenyum sengit mendengar ucapan Erik yang setinggi langit. Erik begitu percaya diri tanpa tahu yang sebenarnya. Memang benar Kyle sudah memiliki Marsya, namun yang dia butuhkan bukan hanya statusnya tetapi juga cinta dan kasih sayang Marsya yang harus dia rebut dari Erik. Kyle semakin tidak sabar menunggu hari itu, hari dimana Marsya memutuskan untuk meninggalkan Erik akan menjadi hari kemenangan terbesar untuknya.

****

"Sya? Nyamuk dikamar lo gede-gede, ya?" Leo bertanya sambil melirik jejak merah yang ada di leher Marsya. Gawat, sejak kapan jejak itu terlihat? Apa ada orang lain yang melihatnya selain Leo? Kyle sialan, dia itu bukan nyamuk, tapi titisan anjing. Kenapa dia ninggalin bekas semerah ini? Memalukan, batin Marsya sambil mengepalkan kuat tangannya. Marsya mengumpat mengungkapkan kekesalan karena Kyle semakin berani dengan meninggalkan bekas ciumannya tadi.

Ya, ciuman itu Marsya dapatkan di pagi hari sebelum mereka berangkat ke kampus. Mendengar Marsya menerima panggilan video dari Erik membuat Kyle cemburu. Kyle pun mengganggu Marsya, dia jelajahi sekitar leher, tengkuk dan bahu Marsya dengan ciumannya. Membuat Marsya bekerja keras menahan diri sebab panggilan video itu belum terputus.

Bisa dibayangkan bagaimana momen itu berlangsung, Kyle men-ja-mah Marsya dengan bebas, sedangkan Marsya berusaha menyembunyikannya dari Erik dengan memutar kameranya kearah lain. Tentu Kyle merasa puas melihat Marsya tersiksa karena ulahnya. Dan tanpa disengaja, ponsel Marsya lepas dari tangannya dan itu membuat Erik semakin curiga dan bertanya apa yang sedang terjadi.

Ya, semua itu sudah berlalu, sekarang tugas Marsya adalah kembali menutup jejak merah itu dengan rambut panjangnya yang terurai. Jangan sampai Erik melihatnya.

"Kyle jago ya ternyata, pro banget"

"Sstt! Leo, jangan ngomong sembarangan nanti ada yang dengar"

"Hehe, iya iya"

Siang itu, bersama Leo, Marsya sedang menunggu Erik dikantin. Marsya turuti permintaan Erik untuk bertemu sebab dia mengatakan ingin memberikan sesuatu untuknya. Baik lah, Marsya bersedia dan Kyle pun mengizinkan asalkan Leo ikut untuk mengawasi Erik disana.

Tidak lama, Erik datang dengan tas jinjing kecil ditangannya, dia berhenti tepat disamping Marsya dan membungkuk untuk mencium pipinya. Namun apa yang terjadi? Leo menjauhkan kepala Erik begitu cepat, dia pun tersenyum bangga karena telah berhasil menggagalkannya. Nafas Erik terdengar kasar, dia mengusir Leo tanpa basa-basi, namun Leo tidak mengindahkan ucapannya. Leo bertekad untuk mengawasi Erik agar tidak bertindak terlalu jauh.

"Eh, gue perhatiin hari ini lo sensi banget ngeliat Kyle, kenapa?" Leo mengungkapkan rasa penasarannya. Memang hari ini Erik begitu emosi setiap kali melihat Kyle. Keduanya tidak saling bertegur sapa bahkan Erik memilih posisi duduk yang jauh dari Kyle.

"Kalau lo diposisi gue, lo bakal paham kenapa gue sebenci itu ngeliat Kyle"

"Huh? Emangnya kenapa?"

"Ish! Leo ini, dia sengaja nggak sih nanya kayak gitu ke Erik?" Marsya membatin, Leo bertanya seakan-akan tidak mengetahui ketegangan apa yang terjadi diantara Erik dan Kyle. Pertanyaan Leo hanya akan membuat Erik kesal dan marah. Dan lagi, Marsya tidak mau berada disituasi ini, dia tidak mau Erik dan Leo membicarakan dirinya yang menjadi rebutan dua laki-laki, tidak nyaman rasanya.

Akhirnya, dengan isyarat yang Marsya berikan lewat tatapan mata, Leo pun mengalihkan obrolannya dengan Erik. Erik juga tidak ingin berlama-lama menunjukkan apa yang dia bawa tadi. Dia keluarkan sebuah kotak dari tas jinjingnya dan dia tunjukkan kepada Marsya.

Sebuah kalung, kalung dengan liontin kupu-kupu yang sengaja Erik beli untuk menebus kesalahannya karena sudah berbuat kasar. Erik berikan kalung itu secara tulus agar Marsya bersedia memaafkan dirinya dan mau melupakan kejadian itu. Entah Marsya harus bereaksi seperti apa, dia merasa tidak senang dengan hadiahnya. Dan baginya, tidak mudah melupakan kejadian itu begitu saja, ada rasa takut yang belum hilang sampai sekarang.

"Sya, aku bantu pasangin, ya" Erik menyingkap rambut Marsya tanpa permisi. Dan itu membuat Marsya dan Leo panik dengan membelalak mata seketika. Sudah terlambat untuk mencegah, sepertinya Erik sudah melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.

"Ini, leher kamu kenapa merah?" Erik bertanya sambil mengusap tanda merah itu dengan ibu jarinya, Erik tahu betul tanda itu dibuat dengan sengaja oleh seseorang, bukan tanda gigitan serangga atau luka terkena sesuatu.

"Siapa yang cium kamu disini?"

"Aduh, Sya, gue rasa lo nggak bakal selamat" Batin Leo sambil menatap Marsya yang terlihat sudah pasrah.

...••••...

To be continued

Hayooo hayoo siapa yang ikut panik dan deg-degan? Kira2 kali ini Marsya bisa menyelamatkan diri apa nggak nih??

Yuk yang penasaran boleh klik subscribe, like dan komen yaa

dukung aku terus biar cerita ini makin berkembang✨ terimakasih banyak💕❤️

1
rayhan dirgantara
belalai apa tu🫪🫪🫪🫪
rayhan dirgantara
hi nma aku rayhan ak suka crrita kmu ka aku kls 4sd ka
Kholifah NH2: anak kelas 4 sd bacanya komik yang lucu lucu aja ya dek, jangan yang ini nanti dimarahin mama🥰
total 1 replies
rayhan dirgantara
jjur krng pjng,bacany cma semenit torrr pjgngin lg dong smngat y😌
rayhan dirgantara
Kelazzzzzz
Tiaraa Kayla
ini kurang ajar si
Tiaraa Kayla
what😰
Tiaraa Kayla
rahasiain pernikahan tp mereka kiss di parkiran,ada yg liat ga th
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!