Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah hati
Zain dan Zean sudah berangkat bekerja. Zean pergi ke kantor pusat travel sedangkan Zain ke kantor perumahan. Jadi mereka memakai mobil masing-masing.
Zean sudah biasa lewat di jalan alternatif.
"Gini amat jadi bujangan, pagi-pagi sudah dapat suguhan yang bikin meriang. " Gerutu Zean sambil menyetir mobilnya.
Ciiiit....
"Aaaaaa.... "
Zean ngerem mendadak karena melihat anak kecil mengejar bolanya.Untung saja ia tidak ngebut.
"Hah hah... Astaghfirullah... "
Anak kecil itu malah bengong di tempatnya sambil nyengir ke arah mobil.
Zean segera turun dari mobilnya menghampiri anak tersebut. Ia mensejajarkan diri dengan anak itu.
"Boy, kamu tidak apa-apa?" Tanya Zean ambil memeriksa keadaan anak tersebut.
"Nggak papa, om."
Zean dapat bernafas lega.
Seorang perempuan keluar dari gerbang rumahnya dan menghampiri anak tersebut.
Zean tertegun melihatnya. Wanita berparas cantik dengan memakai kerudung hitam itu membuat Zain terpesona.
"Rafli, sudah dibilang jangan main di jalan!"
"Rafli nggak pa-pa, bun."
Namun Zean merasa patah hati saat mendengar panggilan anak itu. Dalam pikirannya sudah menebak hubungan mereka adalah ibu dan anak.
"Em maaf, sudah mengganggu perjalanan anda. Padahal gerbangnya sudah dikunci, tapi tetap saja bisa dibukanya."
"Ti-tidak apa-apa. Saya juga minta maaf karena kurang konsentrasi tadi. Hampir saja menabraknya. "
"Rafli ayo masuk."
"Iya bunda."
"Mari... "
"Eh iya... "
"Daaa om... "
Rafli melambaikan tangannya kepada Zean. Zean pun membalasnya. Matanya tidak dapat beralih dari keduanya yang saat ini sedang berjalan masuk ke gerbang rumah.
"Sekalinya jatuh cinta, eh ternyata istri orang. Nasib-nasib... " Lirih Zean.
Zean sudah sering melewati jalan di perumahan itu. Namun baru kali ini ia mengalami hal seperti ini. Dan baru kali ini juga ia bertemu dengan perempuan dan anak kecil itu. Mungkin karena memang penghuni di sekitar perumahan elit itu jarang keluar rumah. Atau keluar pun mereka langsung naik mobil.
Zean kembali masuk ke dalam mobil, lalu melanjutkan perjalanannya.
Tidak lama kemudian, Zean sampai di kantor. Ia langsung masuk ke aula untuk memimpin rapat bulanan. Ia terpaksa menggantikan abinya. Biasanya ia paling malas kalau disuruh memimpin rapat.
"Pak Zean, bisa dimulai?"
"Iya langsung saja."
Selama rapat berlangsung entah kenapa Zean terlihat gelisah. Ia bahkan melakukan kesalahan beberapa kali.
"Pak, and sehat? "
"Tentu saja. Memang kenapa?"
"Eh tidak apa-apa, pak."
"Ya sudah, nam. Kamu tutup rapatnya. Aku kembali ke ruangan ku dulu."
"Iya, pak. "
Zean menutup laptopnya lalu keluar dari aula dan kembali ke ruangannya.
Sampai di ruangannya, ia menambah volume AC karena cuacanya cukup panas. Ia duduk sambil memeriksa beberapa berkas.
"Ya Allah... kenapa aku malah kepikiran perempuan tadi? Ada apa dengan otakku? Bisa-bisanya mikirin istri orang. Astaghfirullah tidak-tidak... " Zean menggelengkan kepala.
Adzan Dhuhur pun berkumandang. Zean segera ke toilet untuk berwudhu' lalu shalat Dhuhur di Mushalla. Dalam do'anya ia meminta agar dikuatkan imannya serta dijauhkan dari perasaan yang tidak boleh dirasakannya.
Setelah selesai shalat Dhuhur, Zean keluar sebentar untuk makan siang. Ia berjalan kaki hanya dua menit untuk sampai ke tempat makan siang yang letaknya di pertokoan belakang kantornya. Zean memesan nasi rawon dan es teh.
Sedangkan Zain saat ini sedang menelpon istrinya untuk mengingatkannya agar tidak lupa makan siang meski tidak ada dirinya di rumah. Hari ini Zain makan siang di kantor karena banyak sekali yang akan dia kerjakan. Tiyas pun segera shalat Dhuhur setelah Zain memutus panggilannya. Setelah selesai shalat, Tiyas turun ke bawah. Kali ini ia lebih memilih makan siang bersama ke empat asisten rumah tangga di belakang.
"Non, kenapa Non makan di sini juga?"
"Aku nggak mungkin makan di meja sebesar itu sendirian, bi'. Lebih baik aku makan bersama kalian saja."
"Ya, Allah, Non. Non memang baik hati dan selalu merendah."
"Karena kenyataannya saya juga orang kampung, bi'"
"Iya, tapi Non nggak sombong. Sama dengan keluarga suami non. Mereka meskipun kaya tapi tidak sombong."
Tiyas hanya mengulum senyum
Betul kata bibi'. Keluarga suaminya itu memang sangat baik dan tidak sombong. Keluarga itu mematahkan pandangan Tiyas terhadap orang kaya yang pasti sombong.
Akhirnya setelah yang lain ngumpul, mereka makan siang bersama. Tiyas sangat senang dapat berbaur dengan mereka.
Waktunya sudah sore.
Zean sudah bersiap untuk pulang. Ia masukkan barang-barang ke dalam tas. Setelah itu, Ia keluar dari ruangannya. Zean masuk ke dalam mobil lalu tancap gas.
Zain juga baru saja selesai shalat Ashar di kantor. Setelah itu, ia bersiap-siap untuk pulang.
Saat perjalanan pulang, Zain mampir ke konter yang cukup besar untuk membeli handphone.Ia ingin membelikan handphone baru untuk istrinya. Zain melihat handphone istrinya layarnya sudah retak. Zain sengaja, tidak bilang kepada Tiyas, karena ia tahu pasti Tiyas akan menolaknya. Ia memilih IP 18 warna Burgundy. Selesai melakukan pembayaran, Zain pun keluar dari konter lalu melanjutkan perjalanan pulang.
Beberapa saat kemudian, Zain sampai di rumah. Kebetulan Tiyas baru selesai menyiram tanaman. Melihat suaminya datang, Tiyas pun menyambutnya dengan senyuman.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, mas. "
Tiyas mencium punggung tangan suaminya. Zain pun mengecup keningnya. Mereka masuk ke dalam. Zain sudah tidak sabar ingin memberikan handphone yang dibelinya.
"Sayang, duduk di sini dulu ya. Aku capek."
"Ah iya, mas. "
Mereka duduk di ruang tengah.
"Sayang, ini untukmu. "
Zain menyerahkan paper bag warna putih.
"Apa ini, mas?"
"Kamu lihat saja!"
Tiyas membukanya.
"Ini.... handphone."
Zain mengangguk.
"Buat apa, mas?"
"Kalau handphone fungsinya apa, sayang?"
"Maksudku ini untuk siapa? "
"Untuk kamu lah."
"Tapi kan handphone ku masih berfungsi."
"Iya aku tahu. Tapi aku pingin belikan kamu."
Saat melihat merknya, Tiyas semakin terkejut.
"Mas, ini harganya mahal. Kenapa nggak belikan yang murah saja. Toh sama saja fungsinya."
"Kalau aku mampu kenapa tidak, sayang? Lagian ini untuk orang yang spesial, jadi ya harus spesial." Ujar Zain sambil mencubit dagu istrinya
"Mas, kamu lama-lama pintar menggombal."
"Eh kata siapa? Ini bukan gombal tapi kenyataan."
"Iya iya, makasih ya. Akan aku manfaatkan sebaik mungkin."
"Iya sama-sama."
Zain melebarkan tangannya. Tiyas pun memeluknya. Lagi-lagi adegan itu dilihat oleh Zean.
"Ehem.... "
Tiyas langsung melepas pelukannya. Ia merasa sedikit malu.
"Dek, masuk rumah kok nggak ucap salam! " Tegur Zain.
"Sudah, bang. Tapi penghuninya lagi pacaran. Makanya nggak dengar." Ujar Zean sambil melipir pergi naik ke atas.
Zain dan Tiyas saling berpandangan lalu tertawa.
Sedangkan Zean hanya bisa merutuki abangnya di dalam kamarnya.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...