"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Bangkitnya Sang Pengendali Amarah
Baiklah belerang yang menembus indra penciuman , berbaur dengan hawa panas yang menyengat kulit dari danau lava di bawah mereka.
Di kaki gunung Ambarawa yang runtuh itu, harapan seolah-olah telah pupus. Itsuki bersujud dengan tubuh gemetar, seluruh energinya terkuras habis setelah serangan membabi buta ya yang gagal total.
Di atas sana, tubuh Kaguya masih tersekap dalam belenggu rantai magis, tergantung pasrah di atas maut.
Ketika sebaran Itsuki dan para monster siap berpesta pora merayakan kemenangan mereka, sebuah keajaiban yang tak terduga membelah keheningan yang mencekam tersebut.
Langkah kaki yang berat namun pasti membelah lorong kaki gunung Ambarawa, Roy datang. Pemuda itu, yang terkapar tak berdaya akibat bentuk patal, ternyata takdir lebih cepat bergerak dari pikiran siapapun.
Tanpa suara, dengan insting yang tajam Roy merayap dalam kegelapan dan membuntuti pergerakan musuh yang lengah.
Sebelum pasukan monster menyadari kehadirannya, Roy melesat maju seperti bayangan dengan gerakan akrobatik yang terlatih, ia merampas pistol Laras panjang milik Hinata yang berada di dekatnya, bersiap mengambil kendali penuh atas berjalannya pertempuran.
"Hinata, Jalankan rencana B sekarang!" teriak Roy sambil melepaskan serentetan tembakan membuka. Menggunakan strategi taktis yang telah di rancang sebelum nya oleh Hinata yang di abaikan Itsuki.
Roy bergerak sebagai ujung tombak yang mematikan, ia memanfaatkan setiap ujung batu sebagai perlindungan. Memuntahkan peluru secara konstan untuk mengacaukan formasi musuh.
Serangan dadakan itu membuat barisan musuh kocar-kacir. Hinata, meskipun senjatanya berpindah tangan, dengan sigap memberikan instruksi arah angin dan titik lemah musuh dari posisi lebih tinggi, yang menciptakan kepanikan massal di kubu lawan.
Melihat perhatian musuh terpecahkan sepenuhnya akibat rentetan tembakan, Roy tidak menyia-nyiakan momentum emas tersebut.
Ia berlari kencang menerobos koridor batuan yang membara, menuju tepat ke pusat tempat Itsuki di sekap. Kondisi Itsuki sudah berada di ujung tanduk; tubuhnya tergantung mengenaskan dengan tali tambang kuno tepat di atas lava panas yang mendidih. Sepersekian detik sebelum tali itu putus akibat hawa panas, Roy melompat dengan berani.
Dengan satu tebasan pisau komando di tangan kirinya, ia memotong tali tersebut dan menyergap tubuh Itsuki, menyeretnya menjauh dari jilatan api.
Kondisi Itsuki keramat kritis, kulitnya melepuh, napasnya tersengal-sengal, dan kesadarannya di ambang kematian.Lalu Hinata segera berlari mendekat, merebut kembali pistolnya dari tangan Roy dengan cepat.
Ia menarik magasin peluru konvensional dan menggantinya dengan selongsong khusus.Itu adalah serum cair racikan magis yang telah ia siapkan untuk situasi paling buruk.
Tanpa ragu, Hinata mengarahkan moncong senjata ke lengan itsuki dan menarik pelatuknya sebanyak lima kali berturut-turut. Cairan berpendar hijau itu langsung menyebar melalui pembuluh darah, memicu regenerasi sel yang luar biasa ekstrem di dalam tubuh Itsuki.
Epek obat Hinata bekerja terlalu instan, memicu reaksi berantai yang tak terprediksi. Begitu seluruh luka luar Itsuki menutup, sebuah anomali magis yang mengerikan terjadi.
Gelombang energi dahsyat berwarna hitam ke keunguan mulai meledak-ledak dari dalam pori-pori kulit Itsuki. Kekuatan Kono di dalam darah Itsuki yang tertidur, bangkit secara brutal, mencoba mengambil alih seluruh kesadaran Itsuki secara paksa.
Pandangan mata itsuki mendadak berubah menjadi kosong seputih susu. Di dalam kepalanya, sebuah perang batin di dalam tubuhnya mulai berkecamuk. Ia harus bertarung melawan ego kegelapan yang ingin menjadikannya monster yang tak terkalahkan yang haus darah.
"Aku tidak akan jadi budak lagi!"
Geramnya parau, Itsuki tau resikonya. jika ia kalah dalam perang batin ini, ia akan lepas kendali dan berbalik membantai Roy serta Hinata.
Mengulangi tragedi masa lalu yang menghancurkan desa mereka. Namun, memenangkannya tidaklah mudah, memaksa energi besar itu untuk tunduk di bawah kehendak manusianya membutuhkan ketahanan mental yang bisa menghancurkan jiwa siapapun secara instan.
Perang bating yang berlangsung terlalu lama itu akhirnya mencapai titik jenuh. Tubuh Itsuki tidak mampu lagi membendung tekanan partikel energi yang bergejolak.
Sebuah benturan supranatural memekakkan telinga meledak dari pusat tubuh Itsuki. Gelombang kejut masif tercipta, menghempaskan bebatuan dan memancarkan cahaya putih menyilaukan yang dapat membutakan mata siapa saja yang melihatnya
Roy dan Hinata terlempar ke beberapa meter ke belakang, terpaksa memejamkan mata erat-erat demi melindungi penglihatan mereka dari radiasi energi yang luar biasa pekat yang memenuhi seisi gua di kaki gunung Ambarawa.
Ketika cahaya itu perlahan memudar dan menyusahkan kepulan asap tebal, sesosok siluet perlahan tegak berdiri. Ternyata itu adalah Itsuki, Namun dalam wujud yang lebih mengintimidasi.
Urat-urat tebal tampak menjalar di sepanjang wajah dan lehernya, kualitas pisik tubuhnya meningkat pesat secara eksponensial; otot-ototnya memadat dan auranya terasa begitu menekan.
Kali ini, tatapan mata nya tidak lagi kosong, sepasang manik matanya berkilat tajam penuh kesadaran dan otoritas absolut.
Itsuki telah berhasil. Kini, dialah yang mengendalikan kekuatan dewa itu sepenuhnya, bukan lagi menjadi budak yang di kendalikan. tanpa membuang satu detik pun, Itsuki melesat maju dengan kecepatan yang melampaui suara.
Targetnya adalah entitas kuno yang menjadi otak dari seluruh petaka ini, pertempuran jarak dekat yang brutal kembali pecah, namun kali ini Itsuki berada di atas angin. Setiap jotosan nya memicu gelombang kejut yang meruntuhkan serta menghancurkan batuan-batuan yang membara.
Di lini belakang,Hinata dengan sisa tenaganya harus menembakkan presisi tinggi yang mengunci pergerakan musuh. Di saat yang sama, Roy berlari zigzag menuju tempat Kaguya di sekap.
memanfaatkan celah pertempuran untuk menyelamatkan gadis itu, kemenangan mutlak sudah berada di depan mereka. Makhluk kuno itu terdesak parah di bawah tekanan tinju Itsuki yang bertubi-tubi tanpa ampun.
Namun, dalam keputusannya, sang raja makhluk mengeluarkan raungan histeri yang menggetarkan pondasi bumi. Pekikan itu memutus seluruh sihir kutukan yang ia tebar selama ini.
Seketika, ratusan korban yang di mengendalikannya, yang semula menipu mata yang berwujud manusia teman-teman Itsuki mulai retak.
Kulit tiruan mereka terkelupas, memuntahkan daging taring, dan mengembalikan wujud mereka ke wujud monster bawah tanah yang asli dan lapar.
Situasi yang tadinya terkendali, dalam sekejap berbalik menjadi neraka yang kacau. Sebelum Hinata sempat mengisi ulang amunisi, sesosok monster bertangan pisau melompat dari langit-langit gua kaki gunung Ambarawa.
Dengan satu tebasan kilat, mahluk itu menepis kasar senjata dari genggaman Hinata. Pistol andalan terlempar jauh, berputar di udara sebelum akhirnya tenggelam ke dalam kubangan lava mendidih di sertai suara desisan yang melelehkan logam tersebut.
Di sisi lain, Roy yang bergerak tanpa senjata terkejut bukan main ketika langkahnya menuju Kaguya diblokade total.
Puluhan monster buas langsung mengepung dan menyerbunya secara brutal dari segalah arah Roy terdesak hebat, terpaksa bertarung dengan tangan kosong demi bertahan hidup di tengah kepungan taring yang bersiap mengoyak dagingnya dari berbagai penjuru lorong yang sempit.
Melihat seluruh sekutu Itsuki berhasil di lumpuhkan dalam sekejap, sang makhluk mengambil keuntungan penuh dari traksi.
Dengan raungan murka yang menggelar, sang raja mengangkat sebuah bongkahan batu magma berlumur api abadi dari dasar Kawa lava yang membara.
Sebuah proyektil maut yang suhunya sanggup melelehkan kulit dan tulang dalam hitungan detik, lalu makhluk itu melemparkannya sekuat tenaga ke arah dada Itsuki.
Itsuki membelalak, terlambat menghindar. Ia terpaksa memasang kuda-kuda kokoh dan mengerahkan seluruh pelindung energinya demi menahan laju batu membara tersebut yang mengerikan.
Meskipun Itsuki telah mengerjakan seluruh kekuatan barunya, saya dorong batu magma itu terlalu masif, pertahanan energinya hancur berkeping-keping . Tubuh Itsuki terhempas hebat ke belakang.
Menghantam dinding gua hingga retak sebelum akhirnya berlutut dengan napas memburu. Tepat di tengah napas Itsuki menipis di tengah jeritan Hinata dan kepungan monster yang mau menenggelamkan Roy.
Telinga itsuki menangkap suara bisikan asing yang dingin dari balik lava. Seiring dengan cakar sang raja makhluk yang perlahan terangkat di atas kepala Kaguya dan, SINGGG!
(Bersambung).