Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lagi Cewek Cemong
Waktu berlalu tanpa terasa. Masa hukuman tiga hari magang di bengkel yang terasa seumur hidup sudah berakhir. Evan kini resmi kembali menduduki kursi CEO Wirasena Group.
Semua haknya pulih sepenuhnya. Ruang kerja megah di lantai puncak, kendali penuh atas operasional perusahaan, jajaran kartu kredit tanpa batas yang sempat dibekukan, semuanya dikembalikan utuh.
Namun kemewahan yang kembali itu tidak membawa ketenangan. Sesuatu telah bergeser di antara mereka. Ciuman singkat di koridor, sentuhan noda oli di bengkel, memori itu tak pudar, justru diam-diam tertanam, berakar, dan tumbuh tanpa diundang di kepala masing-masing.
Pada suatu sore yang tenang, Helena datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Ia membawa kotak besar berlapis beludru hitam, di dalamnya tergeletak gaun malam mewah berwarna midnight blue dengan sulaman benang perak yang berkilau halus, rumit namun anggun.
"Pakai ini untuk Gala Amal besok malam, Aira," ucap Helena datar, matanya menyapu kaus oblong Aira dengan pandangan yang tak menyembunyikan ketidaksukaan.
"Jangan sampai kamu mempermalukan nama besar Wirasena di depan rekan bisnis kami."
Aira menerima kotak itu dengan ragu. Jemarinya menyentuh kain sutra yang sehalus awan, belum pernah ia memegang sesuatu seindah dan sehalus ini.
"Terima kasih, Mami Helena. Tapi... apa saya pantas memakainya? Jujur, saya belum pernah mengenakan gaun semewah ini."
Helena mendengus sinis, melipat tangan di dada. "Kamu sekarang istri sah Evan. Kamu harus belajar membawa diri. Lupakan baju bengkelmu yang bau oli itu. Jangan bikin kami malu dengan tingkah laku kampunganmu."
Tanpa menunggu balasan, wanita paruh baya itu berbalik dan pergi dengan angkuh.
"Buset, ribet bener ya aturan orang kaya," gumam Aira setelah pintu tertutup. Dia menatap gaun itu seperti melihat bom waktu yang belum tahu kapan meledak.
"Cuma makan malam, rasanya seperti harus maju ke medan perang."
***
Malam acara akhirnya tiba. Halaman depan kediaman utama tampak sibuk namun tertib. Lampu taman berpendar keemasan, menerangi deretan mobil mewah yang siap mengantar rombongan keluarga inti.
Papi Surya tampil gagah dengan tuksedo klasik, Sean yang terlihat segar dengan kemeja putih dan jas santai yang elegan. Di sudut teras, Kakek Baskara berdiri tenang bertumpu pada tongkatnya, menanti.
Dan di dekat pintu mobil kedua, Evan.
Malam ini dia tampil memukau. Jas tiga lapis abu-abu gelap yang dipesan khusus dari penjahit terbaik di London, kemeja putih bersih, dasi sutra hitam, rompi yang menonjolkan postur tegapnya.
Wajahnya datar, namun matanya sesekali melirik ke arah pintu paviliun dengan gelisah, tak sabar, ingin tahu. Bagaimana rupa gadis itu malam ini? Apakah dia akan tetap terlihat seperti Aira yang dikenalnya, atau berubah menjadi sosok asing yang jauh dari jangkauannya?
Helena mengetuk-ngetukkan kakinya tak sabar. "Lama sekali! Mas Surya kita berangkat duluan saja? Jadwal acara bisa berantakan kalau kita terlambat.
Sean yang sedang berdiri di dekat mobil langsung menoleh. Dia merangkul pundak ibunya dengan manja sambil tersenyum manis.
"Mami sayang, jangan emosian dulu dong. Nanti kerutan di wajah cantiknya Mami bisa kelihatan, lho. Bintang utamanya kan memang biasa datang belakangan biar kesannya makin istimewa."
"Istimewa apa? Bikin pusing iya!" ketus Helena, walau wajahnya sedikit melunak karena rayuan anak bungsunya.
"Tahu apa sih Mami soal penampilan anak muda zaman sekarang?" kekeh Sean lembut. "Orang cantik emang butuh waktu lebih lama buat bersiap."
Evan tetap dia mendengarkan perdebatan itu, meski jemarinya yang bertumpu di atas jam tangan mewahnya sedikit menegang. Dia gelisah.
TAP. TAP. TAP.
Suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar berbunyi ritmis dan agak berhati-hati dari arah lobi.
Semua serentak menoleh. Keheningan menyelimuti halaman.
Aira melangkah keluar.
Dia bukan lagi gadis bengkel yang cemong. Riasan halus menonjolkan keindahan wajahnya, bersinar, lembut, memikat.
Gaun midnight blue itu melekat sempurna, menonjolkan lekuk tubuh yang anggun, bahu jenjang yang terbuka elegan. Rambut hitamnya disanggul rapi, memperlihatkan garis leher yang mungil dan tegap.
Dia tampak seperti berlian kasar yang baru saja dipoles hingga memancarkan cahayanya yang sejati, tidak dibuat-buat, tidak dipaksakan, hanya indah.
Kakek Baskara terkekeh bangga, mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Wah! Luar biasa! Entah karya penata rias atau memang dasarnya sudah indah sejak lama, cucu menantu Kakek sungguh bersinar malam ini!"
Surya tersenyum lebar, matanya berbinar tulus. "Papi setuju. Kamu cantik sekali, Aira. Sangat pantas mewakili keluarga kita malam ini."
Sean mematung. Senyumnya memudar perlahan, digantikan kekaguman yang bercampur perih. Cantik... sungguh cantik. Dan bukan untuknya.
Dia menarik napas dalam, mencoba menguasai dirinya yang mendadak goyah, lalu memaksakan senyum santainya yang biasa.
"Wah! Kak Aira benar-benar luar biasa malam ini. Nggak kalah sama ratu sejagat. Gue jadi makin bangga punya kakak ipar sekeren ini,"
Aira tersipu, pipinya memerah. Dia meremas pelan kain gaunnya, mendadak salah tingkah. "Sudah dong pujinya. Jujur, kaki saya sudah gemetar dari tadi gara-gara pakai sepatu hak tinggi ini," ucap Aira, mencoba bercanda untuk menutupi rasa gugupnya karena tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.
Evan tak bergerak. Pikirannya seolah mendadak macet total. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Matanya mengunci sosok Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria itu tidak mampu mengalihkan pandangannya sama sekali.
Dia... benar-benar indah, batin Evan bergemuruh hebat.
Sangat berbeda dari wanita kaya yang biasa dia temui. Ada kekuatan di balik keanggunan itu. Keanggunan yang lahir dari ketangguhan, bukan kepalsuan yang dibuat-buat.
Evan buru-buru berdehem berat, berusaha mengembalikan sikap dinginnya meski telinganya memerah. "Sudah? Jangan buat kita terlambat."
"Siapa juga yang bikin terlambat? Lo yang bengong!" cibir Aira pelan saat melangkah mendekati mobil, tidak mau kalah dari keketusan suaminya.
Kakek Baskara tersenyum bijak, lalu mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai dengan ketukan yang berwibawa namun menenangkan.
"Sudah, sudah. Tidak perlu berdebat di depan mobil," ujar Kakek Baskara dengan tenang. Beliau menatap Evan dan Aira bergantian dengan pandangan lembut.
"Malam ini adalah malam yang besar untuk keluarga kita. Ayo masuk ke mobil, jangan biarkan para tamu menunggu kedatangan Nyonya Wirasena yang baru."
Beliau melangkah masuk ke mobil pertama dengan anggun, diikuti Surya dan Helena yang diam-diam juga terpesona melihat Aira.