NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Ruang tunggu sekuriti di lantai 2 tidak punya jam di dinding. Hanya kamera di sudut dan suara AC yang pelan. Adrian duduk di seberang Alina, tangan di atas meja besi, jari tidak bergerak. Ia tidak membuka laptop. Ia tidak membawa map. Ia hanya menunggu.

“Anda bilang ada yang digeser,” kata Adrian. “Bukan hanya angka. Jelaskan.”

Alina menatap permukaan meja yang dingin. “Di ringkasan, kewajiban vendor historis ditulis Rp12,4 miliar dan statusnya ‘diselesaikan’. Di lampiran yang saya lihat, totalnya Rp18,9 miliar. Tiga item. Sewa armada terkait, jasa pendukung gudang, dan Lazuardi Mitra Logistik. Selisih enam setengah miliar. Nama Lazuardi masih muncul dengan keterangan ‘masih muncul pada rekonsiliasi’.”

“Saya sudah melihat itu kemarin.”

“Kemarin Oscar bilang akan menandai ulang sebelum draf ke Aruna. Menandai ulang berarti membuat angka itu tidak lagi mengganggu. Bukan berarti memeriksa kenapa selisihnya ada.”

Adrian tidak membantah. “Anda masuk lagi hari ini untuk melihat apa?”

“Untuk memastikan halaman itu belum diganti. Dan untuk mencari apakah ada jejak siapa yang memindahkan angka itu ke ringkasan yang lebih kecil.”

“Dengan tas kosong dan tanpa ponsel.”

“Ponsel saya masih di laci Anda.”

Adrian menghela napas pendek. “Anda memakai nama Pramesthi. Nama yang sama dengan mantan Direktur Keuangan kami yang keluar dalam skandal. Anda menolak menjawab apakah itu kebetulan. Anda menolak menyebut pemberi kerja. Anda menolak disebut utusan Kusuma. Dari sini, satu-satunya kesimpulan yang masuk akal adalah Anda datang karena dendam pribadi.”

Alina mengangkat wajah. “Kalau saya datang karena dendam, saya tidak akan membuang waktu memotret lampiran. Saya akan langsung ke media atau ke polisi. Saya datang karena angka yang tidak cocok, dan karena nama yang seharusnya sudah selesai masih hidup di kertas Anda.”

“Nama Lazuardi.”

“Ya.”

“Anda tahu apa fungsi perusahaan itu?”

“Belum. Saya hanya tahu ada yang ingin membuatnya terlihat sudah selesai.”

Adrian diam beberapa detik. “Baskara Prameswari. Anda tahu siapa dia?”

Alina tidak mengalihkan pandangan. “Saya tahu dia dijadikan pencuri.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka tanpa suara tambahan. Adrian menatapnya lebih lama.

“Dijadikan.”

“Di berita dia menggelapkan dana. Di kertas resmi dia bertanggung jawab. Tapi rekening yang disebut tidak pernah saya lihat isinya. Yang saya lihat hanya ringkasan yang sudah disusun rapi setelah dia tidak lagi bisa membela diri.”

Adrian menekan jari di tepi meja. “Anda berbicara seolah Anda punya akses ke rekening itu.”

“Saya tidak bilang saya punya. Saya bilang saya tidak percaya ringkasan yang terlalu cepat selesai.”

“Dan sekarang Anda memutuskan bahwa perusahaan ini yang membuatnya jadi pencuri.”

“Saya memutuskan ada yang digeser. Ada nama yang masih muncul. Ada selisih yang akan ditandai ulang sebelum investor melihat. Itu cukup untuk membuat saya masuk dua kali.”

Adrian berdiri. Ia berjalan dua langkah ke arah dinding, lalu berbalik. “Kalau saya serahkan Anda ke polisi hari ini, berita yang keluar adalah penyusup anak pejabat lama yang punya dendam. Angka di lampiran akan jadi detail sekunder. Investor akan bertanya kenapa ada kebocoran, bukan kenapa ada selisih enam setengah miliar.”

“Itu ancaman.”

“Itu perhitungan. Saya tidak memanggil polisi kemarin karena angka itu. Saya belum memanggil hari ini karena angka yang sama. Tapi saya tidak akan terus menahan sekuriti hanya karena Anda menolak menjawab siapa Anda.”

Alina tetap duduk. “Kalau Anda yakin saya hanya datang untuk balas dendam, panggil saja. Saya tidak akan lari. Tapi halaman itu tetap tidak akan menjadi sama.”

Adrian menatapnya. Suaranya lebih rendah. “Anda menyebut ‘dijadikan pencuri’. Itu bukan bahasa orang yang hanya membaca berita. Itu bahasa orang yang merasa ada yang dikorbankan.”

Alina tidak menjawab.

“Saya akan bertanya sekali lagi,” kata Adrian. “Apakah Baskara Prameswari ayah Anda?”

Alina menatap kamera di sudut ruangan, lalu kembali ke Adrian. “Saya tidak akan menjawab pertanyaan itu di ruang yang dipasangi kamera sekuriti. Kalau Anda ingin tahu, bawa saya ke tempat yang tidak merekam. Atau biarkan saya pergi dan cari sendiri.”

Adrian menghela napas. Ia membuka pintu. Dimas masih berdiri di koridor, laptop di tangan.

“Masuk,” kata Adrian.

Dimas masuk. Adrian menutup pintu lagi.

“Dia menolak menjawab di sini,” kata Adrian. “Dia bilang kamera.”

Dimas melirik kamera di sudut. “Kamera ini internal. Tidak ke luar. Tapi saya mengerti.”

Adrian menatap Alina. “Saya tidak akan melepaskan Anda hari ini tanpa jaminan. Ponsel tetap di laci. Anda tidak boleh meninggalkan lantai ini tanpa pendamping. Dimas akan mengatur ruang baca terbatas di lantai arsip. Anda boleh melihat draf yang sedang berjalan, di bawah pengawasan. Bukan data room. Bukan map lama. Hanya draf yang akan dikirim ke Aruna.”

Alina mengangkat alis. “Kenapa?”

“Karena kalau selisih itu nyata dan masih hidup di draf, itu bukan hanya masalah Anda. Itu masalah akuisisi yang sedang saya jalankan. Saya lebih memilih Anda melihatnya di depan saya daripada Anda mencoba masuk lagi lewat pintu lain besok.”

“Dan kalau saya menolak?”

“Maka saya memanggil polisi. Bukan karena saya ingin, tapi karena saya tidak punya alasan lagi untuk menahan laporan sekuriti.”

Alina menimbang. “Ruang baca terbatas. Pengawasan. Draf yang sedang berjalan. Tidak lebih.”

“Tidak lebih.”

“Baik.”

Adrian menoleh ke Dimas. “Siapkan ruang di lantai arsip. Satu meja, dua kursi, tidak ada USB, tidak ada ponsel. Sari boleh ikut menjaga pintu. Laporkan hanya ke saya.”

Dimas mengangguk. “Kapan?”

“Sekarang. Sebelum siang.”

Dimas keluar untuk mengatur. Adrian dan Alina tinggal berdua lagi sejenak.

“Ini bukan kerja sama,” kata Adrian. “Ini penahanan dengan izin melihat. Kalau Anda mencoba menyalin apa pun, saya berhenti.”

“Saya mengerti.”

“Dan nama itu,” Adrian menunjuk ke arah laptop yang sudah dibawa Dimas keluar, “belum selesai. Saya akan mencari jawaban, dengan atau tanpa pengakuan Anda.”

Alina berdiri. “Silakan. Saya juga akan mencari.”

Mereka keluar dari ruang tunggu sekuriti. Di koridor, dua orang sekuriti sudah menunggu. Adrian memberi isyarat singkat. Mereka tidak memegang Alina. Mereka hanya berjalan di belakang saat Dimas memimpin ke arah lift yang menuju lantai arsip.

Di dalam lift, tidak ada yang berbicara. Alina menatap angka lantai yang berubah. Adrian menatap pintu. Di antara mereka, jarak itu masih sama seperti dua hari lalu: cukup dekat untuk saling mendengar napas, cukup jauh untuk tetap menjadi lawan.

Lift berhenti. Pintu terbuka ke koridor lantai arsip yang lebih tenang, berbau kertas dan debu yang sudah lama tidak digeser. Dimas sudah berdiri di depan satu pintu dengan kaca buram.

“Ruangnya siap,” katanya.

Adrian mengangguk. “Masuk.”

Alina melangkah masuk lebih dulu. Di dalam hanya ada satu meja panjang, dua kursi, dan satu monitor yang sudah menyala dengan draf terbuka. Tidak ada jendela. Tidak ada laci. Hanya dinding putih dan kamera di sudut yang sama seperti di bawah.

Adrian berdiri di ambang pintu. “Anda punya satu jam. Dimas akan duduk di sini. Saya akan kembali.”

Ia menutup pintu. Di luar, ia berdiri sejenak sebelum berjalan menjauh. Di dalam, Alina duduk di kursi, menatap layar yang menampilkan baris-baris angka dan nama vendor yang masih menunggu untuk ditandai ulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!