Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Matahari bersinar sangat terik siang ini memanggang jalanan aspal ibu kota.
Brummm.
Sebuah taksi eksklusif berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang besi raksasa setinggi lima meter.
Gerbang itu merupakan satu-satunya akses masuk menuju kompleks perumahan paling elit di kota ini.
Kawasan Mansion Bukit Hijau.
Ceklek.
Astiana membuka pintu taksi dan melangkah turun dengan postur tubuh yang sangat tegap.
Hari ini dia tidak memakai kemeja lusuh atau gaun pesta yang merepotkan.
Astiana mengenakan setelan jas wanita berwarna hitam pekat yang pas di tubuhnya.
Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Di tangan kanannya, Astiana menenteng sebuah koper besi tipis berisi dokumen palsu buatan peretas Raka.
Taksi hitam itu langsung berputar arah dan melaju pergi meninggalkan Astiana sendirian.
Raka sengaja tidak mengantarnya secara langsung agar mobil Keluarga Darma tidak terekam kamera keamanan musuh.
Pemuda itu hanya memantau dari jarak beberapa kilometer menggunakan pelacak sinyal di koper Astiana.
Astiana merapikan kerah jasnya lalu melangkah pelan mendekati pos penjagaan gerbang utama.
Tap tap tap.
Langkah kaki sepatu pantofelnya terdengar beradu dengan jalanan beton yang panas.
Di depan gerbang besi itu, berdiri empat orang penjaga berbadan besar memakai seragam taktis militer.
Mereka menenteng senapan laras panjang yang diselempangkan di dada masing-masing.
"Berhenti di sana, Nona."
Salah satu penjaga mengangkat tangannya memberikan isyarat agar Astiana tidak melangkah lebih dekat.
"Kawasan ini adalah properti pribadi, Anda tidak bisa masuk tanpa jadwal pertemuan resmi."
Penjaga itu berbicara dengan nada datar namun jari telunjuknya sudah berada sangat dekat dengan pelatuk senapan.
Astiana sama sekali tidak gentar melihat moncong senjata api yang mengarah ke bawah kakinya.
Dia justru tersenyum sangat tipis dan mengangkat tangan kirinya hingga sejajar dengan dada.
Sring.
Cahaya matahari siang langsung memantul pada cincin perak berukir elang dan ular di jari telunjuknya.
Mata keempat penjaga itu langsung melebar mengenali lambang otoritas mutlak tersebut.
"Itu cincin Tuan Kusuma."
Suara hati penjaga pertama berteriak kaget di dalam kepalanya.
"Kenapa cincin penting itu bisa ada di tangan seorang gadis muda yang tidak kami kenal."
Astiana menangkap kepanikan di dalam pikiran penjaga itu dengan sangat jelas.
"Saya adalah utusan baru dari Tuan Kusuma."
Astiana berbicara dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit angkuh dan dingin.
"Saya ditugaskan untuk mengantarkan laporan keuangan akhir bulan secara langsung kepada Nyonya Besar."
Penjaga pertama saling berpandangan dengan teman-temannya merasa sedikit ragu.
"Tunggu sebentar, kami harus mengonfirmasi hal ini ke pusat keamanan di dalam."
Penjaga itu menyentuh alat komunikasi di telinganya dan mulai berbisik pelan.
"Markas, ada seorang wanita membawa cincin Tuan Kusuma meminta izin masuk."
Astiana memusatkan tenaga dalamnya ke telinga untuk menyadap percakapan radio tersebut.
Kresek kresek.
"Apakah Tuan Kusuma bersamanya sekarang."
Terdengar suara berat seorang pria membalas dari seberang radio.
"Tidak, dia datang sendirian dengan taksi dan membawa koper besi dokumen."
Suara di seberang radio terdiam cukup lama sebelum akhirnya memberikan jawaban.
"Nyonya Besar memang sedang menunggu laporan keuangan Tuan Kusuma siang ini."
"Geledah tubuh gadis itu, jika dia tidak membawa senjata, biarkan dia masuk."
Penjaga pertama mengangguk lalu memutuskan sambungan radionya.
"Maaf Nona, sesuai prosedur keamanan, kami harus memeriksa tubuh Anda dari senjata berbahaya."
Dua orang penjaga wanita berseragam hitam tiba-tiba keluar dari dalam pos jaga.
Mereka mendekati Astiana dan mulai meraba setelan jas hingga ke bagian kaki dengan sangat teliti.
Astiana merentangkan kedua tangannya dengan santai membiarkan mereka melakukan tugasnya.
Tentu saja dia tidak membawa senjata api atau pisau tajam sama sekali.
Tubuhnya dan ilmu bela diri kunonya adalah senjata mematikan yang tidak bisa dideteksi oleh alat keamanan mana pun.
Tiit tiit.
Penjaga wanita itu juga memindai koper besi Astiana menggunakan alat detektor logam.
"Dia bersih, Komandan, hanya ada tumpukan kertas di dalam koper ini."
Penjaga wanita itu melapor mundur setelah selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh.
"Baiklah, Nona, silakan masuk, mobil golf penjemput akan mengantar Anda ke mansion utama."
Kriet.
Gerbang besi raksasa itu perlahan terbuka lebar memberikan jalan bagi Astiana.
Astiana melangkah masuk tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun demi menjaga perannya sebagai anak buah arogan.
Di balik gerbang, sebuah mobil golf kecil sudah menunggunya dengan seorang supir berseragam rapi.
Astiana naik ke kursi belakang mobil itu dan meletakkan koper besinya di atas pangkuan.
Wushhh.
Mobil golf itu melaju tanpa suara menyusuri jalanan menanjak yang membelah taman bunga luas.
Pemandangan di dalam kawasan Bukit Hijau ini benar-benar tidak masuk akal mewahnya.
Ada lapangan rumput luas, air mancur raksasa, dan deretan patung pualam bernilai miliaran rupiah.
Namun Astiana sama sekali tidak tertarik dengan kemewahan duniawi tersebut.
Fokusnya tertuju pada sebuah bangunan raksasa bergaya Eropa klasik yang berdiri megah di puncak bukit.
Mansion utama milik Miranda Adibrata.
"Kita sudah sampai, Nona, silakan turun."
Supir mobil golf itu menghentikan kendaraannya tepat di depan tangga marmer putih yang menuju pintu masuk.
Astiana turun dan mendongak menatap pilar-pilar raksasa yang menyangga teras depan mansion tersebut.
Dua orang pelayan berjas hitam membukakan pintu kayu ganda yang sangat besar dari dalam.
Kriet.
Astiana melangkah masuk ke dalam lobi utama mansion yang dihiasi lampu gantung kristal terbesar yang pernah dia lihat.
Suhu udara di dalam mansion ini terasa sangat dingin seperti di dalam ruang pendingin daging.
Bukan hanya karena mesin AC sentral, tapi karena aura di dalam rumah ini tidak memiliki kehangatan sama sekali.
"Mari saya antar ke ruang kerja Nyonya Besar."
Seorang kepala pelayan pria berambut putih menyapa Astiana dengan wajah kaku tanpa senyum.
Astiana mengangguk pelan dan mengikuti langkah pria tua itu menaiki tangga melingkar ke lantai dua.
Tap tap tap.
Sepanjang lorong lantai dua, Astiana melihat ada banyak penjaga elit berpakaian preman yang berdiri di setiap sudut.
Mata mereka sangat tajam dan gerakan napas mereka sangat teratur.
"Orang-orang ini bukan preman bayaran biasa seperti di club malam."
Astiana membatin sambil terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan.
"Mereka adalah pembunuh profesional yang sudah berlatih bela diri militer."
Kepala pelayan itu akhirnya berhenti di depan sebuah pintu ganda berbahan kayu mahoni gelap.
Tok tok.
Dia mengetuk pintu itu dua kali dengan ritme yang sangat sopan.
"Nyonya, utusan pembawa dokumen dari Tuan Kusuma sudah tiba."
"Suruh dia masuk."
Sebuah suara wanita yang sangat dingin dan berwibawa terdengar samar dari dalam ruangan.
Suara itu membuat bulu kuduk Astiana sedikit meremang tanpa alasan yang jelas.
Ceklek.
Kepala pelayan membukakan pintu dan mempersilakan Astiana masuk ke dalam.
Ruang kerja itu sangat luas dengan rak-rak buku yang menutupi seluruh dinding ruangan.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja dari kayu jati berukuran raksasa.
Di balik meja itu, duduklah seorang wanita paruh baya dengan kacamata baca berbingkai tipis.
Dia adalah Miranda Adibrata, Nyonya Besar yang mengendalikan dunia bawah tanah ibu kota.
Wajah wanita itu terlihat sangat elegan, tegas, dan sama persis dengan yang dilihat Astiana di stasiun.
Deg.
Jantung Astiana tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih cepat dari biasanya.
Pada saat yang bersamaan, rasa panas yang menyengat tiba-tiba menjalar dari kulit dadanya.
Liontin kristal yang tersembunyi di balik jas hitamnya bereaksi dengan sangat keras.
Pendaran cahaya hijau kebiruan itu bahkan hampir menembus kain kemeja dalamnya.
Astiana segera menekan dadanya dengan tangan kiri untuk menyembunyikan cahaya tersebut.
"Untung saja aku memakai jas berlapis hari ini."
Astiana bersyukur di dalam hatinya karena reaksi liontin ini jauh lebih terang dari sebelumnya.
Itu artinya ikatan darah wanita di depannya ini sangat kuat dengan dirinya.
Miranda melepaskan kacamata bacanya dan menatap Astiana dengan sorot mata yang tajam bagaikan elang.
"Tinggalkan dokumen itu di meja dan jelaskan padaku di mana Kusuma sekarang."
Miranda memberikan perintah tanpa membalas sapaan atau basa-basi sedikit pun.
Astiana melangkah maju dan meletakkan koper besinya perlahan di atas meja kerja tersebut.
Klak.
Dia membuka kunci koper dan mengeluarkan map tebal berisi dokumen palsu buatan Raka.
"Tuan Kusuma sedang tidak bisa hadir secara langsung, Nyonya Besar."
Astiana menjawab dengan suara datar sambil menyerahkan map itu ke depan Miranda.
"Semalam ada sedikit kekacauan besar di Club Malam Obsidian yang harus dia bereskan."
Miranda mengambil map itu namun matanya tidak lepas dari wajah Astiana sedetik pun.
"Kekacauan apa yang kau maksud, anak muda."
Miranda menyandarkan punggungnya ke kursi kulitnya yang besar.
"Kusuma tidak pernah berani absen menyerahkan laporan akhir bulan hanya karena masalah sepele."
Astiana memusatkan pendengarannya untuk membaca suara hati wanita berbahaya ini.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣