NovelToon NovelToon
Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.

​Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.

​Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.

​“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”

​Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Bos Besar Dan Kucing Penakut

Pertemuan singkat di dapur pagi itu meninggalkan tanda tanya besar di kepala Aira. Sepanjang hari, Gabriel pamit pergi untuk "mengurusi beberapa urusan kantor yang membosankan". Namun, cara Gabriel pamit tadi pagi sungguh tidak bisa dilupakan Aira. Pria itu sempat cemberut selama sepuluh menit di depan pintu utama karena Aira lupa memberikannya ciuman pipi sebelum berangkat kerja.

​"Kalau tidak dicium, aku tidak punya energi untuk bekerja, Aira..." rengek pria tinggi besar itu tadi pagi, membuat para pengawal bersenjata yang berdiri di lorong hanya bisa menunduk menahan muka memerah karena menahan tawa.

​Kini, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aira duduk di sofa ruang tengah sembari membaca majalah. Penthouse sangat sunyi hingga suara pintu utama yang terbuka mengejutkan Aira.

​Gabriel berjalan masuk. Jas mewahnya tergantung di salah satu tangannya, sementara dasinya sudah agak dilonggarkan. Wajahnya tampak lelah, namun mata tegasnya langsung berbinar begitu melihat Aira duduk di sofa.

​"Aira! Aku pulang!" seru Gabriel riang, melupakan semua kelelahan di wajahnya. Ia melempar jasnya sembarangan ke sofa lain dan langsung menghampiri Aira, meluncurkan tubuhnya untuk duduk di samping Aira dan menyandarkan kepalanya di bahu mungil sang istri.

​Aira terperanjat. Tubuh Gabriel yang kekar terasa sangat hangat dan berat. Bau parfum maskulin bercampur aroma kayu manis yang khas merasuk ke indra penciuman Aira.

​"Capek sekali hari ini..." bisik Gabriel dengan nada manja, menggosokkan kepalanya pelan di leher Aira seperti seekor kucing besar yang minta diusap. "Orang-orang di kantor sangat menyebalkan. Mereka hanya bisa berteriak dan tidak ada yang sebisa kamu."

​Aira terkekeh pelan tanpa sadar, tangannya ragu-ragu terangkat untuk membelai rambut hitam tebal milik suaminya. "Memangnya apa yang terjadi di kantor?"

​"Biasa, rapat direksi yang membosankan. Aku sampai hampir tertidur," jawab Gabriel bohong tanpa berkedip.

​Padahal kenyataannya tiga jam lalu, Gabriel baru saja memimpin rapat rahasia di sebuah gudang tua di pinggiran kota, di mana ia menancapkan pisau lipat ke meja kayu tepat satu senti dari jari seorang pengkhianat organisasi sambil memberikan senyuman paling mengerikan yang pernah ada.

​"Oya, Aira!" Gabriel mendadak menegakkan tubuhnya, menatap Aira dengan mata berbinar-binar. "Malam ini kita makan malam di luar, yuk? Aku sudah memesan tempat di restoran Italia favoritmu!"

​Aira mengerutkan kening. "Restoran Italia? Aku tidak pernah bilang suka makanan Italia..."

​"Eh? Masa?" Gabriel mengerjap kaget, lalu tertawa hambar dengan wajah sedikit panik. Aduh, salah! Itu kan hasil analisa dari tim intelijenku minggu lalu! batim Gabriel menjerit panik. "M-maksudku... aku yang sangat ingin makan pasta! Iya, betul! Aku yang mengidam pasta malam ini! Ayo, kita siap-siap!"

​Aira hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku suaminya yang terkadang sangat transparan namun menyimpan banyak teka-teki.

​Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil Rolls-Royce hitam yang melaju menembus jalanan kota yang berkilauan oleh lampu-lampu jalan. Gabriel mengemudi sendiri, membiarkan para pengawalnya mengikuti dari jarak aman di belakang sesuai permintaannya—karena ia ingin menikmati "waktu kencan" tanpa gangguan.

​Namun, takdir malam itu tampaknya punya rencana lain.

​Saat mobil mereka melewati sebuah lorong jalan yang agak sepi di dekat area pelabuhan tua untuk memangkas waktu, tiba-tiba dua buah mobil SUV hitam berkecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan dan memotong jalan secara mendadak!

​CIIIITT!

​Gabriel menginjak rem dalam-dalam. Ban mobil mencicit keras di atas aspal. Aira terjerat ke depan, namun dengan refleks secepat kilat, tangan kiri Gabriel melayang menahan dada Aira agar tidak membentur dasbor.

​"Aira! Kamu tidak apa-apa?" tanya Gabriel panik. Mata tajamnya memeriksa tubuh Aira dari atas ke bawah.

​"A-aku tidak apa-apa..." jawab Aira dengan jantung yang berdegup kencang karena kaget. "Siapa mereka?"

​Dari dalam kedua SUV hitam itu, keluar sekitar delapan orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam. Masing-masing dari mereka memegang tongkat pemukul besi dan beberapa di antaranya mengapit pisau lipat di jemari mereka. Mereka mengepung mobil Rolls-Royce milik Gabriel.

​Aira memucat seketika. Tangannya gemetaran hebat. "Gabriel... bagaimana ini? Mereka membawa senjata! Kita harus menelepon polisi!"

​Gabriel menatap para pria di luar sana melalui kaca mobil yang gelap. Untuk sekilas, kilatan kejam yang sangat mematikan terpancar dari matanya. Bisa-bisanya kecoak-kecoak ini mengganggu waktu kencanku dengan Aira?

​Namun, saat berpaling menatap Aira yang ketakutan, Gabriel kembali memasang raut wajah panik yang berlebihan.

​"Aaduh, Aira! Bagaimana ini?!" seru Gabriel dengan nada suara yang sengaja dibuat gemetar. Ia memegang dadanya seolah hendak pingsan. "Mereka kelihatan seram sekali! Aku... aku takut!"

​Aira menoleh kaget. "Kamu takut?!"

​"Iya! Lihat tangan mereka besar-besar sekali! Nanti kalau ketampananku hilang bagaimana?" ringkis Gabriel sambil bersembunyi di balik bahu Aira, berpura-pura gemetaran.

​Di balik sandiwara konyol itu, jemari Gabriel di bawah dasbor sebenarnya sedang menekan sebuah tombol khusus di kunci mobilnya—mengirimkan sinyal panggilan darurat bersandi merah kepada seluruh tim eksekutor mafia yang berada di radius lima kilometer.

​salah satu preman di luar mulai memukul kap mobil dengan tongkat besi. BLEK!

​"Keluarlah, Alexius! Jangan sembunyi di balik ketiak wanitamu!" teriak pria berkepala botak di luar dengan nada mengejek.

​Aira semakin erat menggenggam lengan baju Gabriel. "Gabriel, jangan keluar... mereka terlalu banyak!"

​Gabriel menatap Aira. Di dalam hatinya, rasa hangat dan gemas menyeruak melihat betapa khawatirnya wanita ini padanya. Namun di saat yang sama, amarah mendidih mulai membakar dadanya karena ada orang luar yang berani membuat istrinya merasa terancam.

​"Aira," ucap Gabriel lembut. Ia meraih kedua tangan Aira yang dingin dan menciumnya perlahan. "Kamu tunggu di dalam mobil ya? Kunci pintunya dari dalam dan jangan pernah melihat ke luar sampai aku bilang boleh."

​"Tapi, Gabriel—"

​"Dengar kataku, Sayang," potong Gabriel. Kali ini, tatapan matanya begitu dalam dan penuh penekanan yang tak bisa dibantah. "Aku cuma mau 'bicara' sebentar dengan mereka. Oke?"

​Sebelum Aira sempat menahan, Gabriel sudah menekan tombol kunci otomatis untuk Aira, membiarkan Aira terkurung aman di dalam mobil berpelindung kaca tahan peluru, sementara ia melangkah keluar menembus kegelapan malam.

1
Chenyu Wang
mantap awal cerita sudah seru..
Chenyu Wang: sama2
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!