NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Melihat keadaan semakin berbahaya dan takut keduanya ketahuan, Pangeran Ketiga tak membuang waktu lagi. Tanpa memberi kesempatan Feng Wu untuk menolak, ia langsung merangkul pinggang gadis itu erat dan melesat menjauh dari tempat itu dengan kecepatan luar biasa. Angin malam menerpa wajah mereka sepanjang perjalanan.

Sesampainya di sebuah tempat yang sepi dan aman, Pangeran Ketiga baru melepaskan pelukannya. Namun baru saja kakinya menyentuh tanah, Feng Wu langsung mendorongnya dengan wajah merah padam menahan amarah.

"Kau... berani-beraninya memelukku?! Siapa yang memberi izin pada Pangeran untuk bersikap semena-mena seperti itu?!" bentaknya tinggi, napasnya memburu karena marah sekaligus malu.

Pangeran Ketiga malah mengangkat alis, menatapnya dengan tatapan datar lalu berkata dengan nada meremehkan yang sengaja dibuat menyebalkan.

"Jangan terlalu membesar-besarkan hal itu. Aku hanya melakukannya karena terpaksa. Lagipula, aku sama sekali tidak tertarik pada wanita yang tubuhnya kurus kering, kurang berisi seperti kau. Tidak ada yang patut dipeluk pun," ucapnya dingin dengan senyum tipis yang menyembulkan niat jahat.

Belum selesai kata-kata itu mengudara, Feng Wu melangkah maju secepat kilat. Tangannya langsung menyambar rambut hitam Pangeran Ketiga dan menjambaknya dengan kuat.

"Kau bilang aku ini kurus?! Kau bilang kurang berisi?! Berani sekali menghinaku begitu?!" Feng Wu mengomelinya tanpa rasa takut sedikit pun, matanya menyala marah.

Pangeran Ketiga yang tak menyangka serangan balasan itu hanya bisa mendesis pelan, namun tak benar-benar menepis tangan gadis itu. Sementara itu, di balik bayang-bayang pohon tak jauh dari sana, pengawal bayangan yang ikut menjaga dari tadi buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat, matanya terbelalak menahan tawa agar tak bersuara. Ia tak menyangka ada wanita yang berani menjambak Pangeran Ketiga, orang yang paling ditakuti di seluruh kekaisaran. Hari ini mereka melihat sesuatu yang takkan pernah ia percaya jika tidak dilihat sendiri.

Siapa yang berani melakukan hal seperti itu pada Pangeran Ketiga sang Dewa Kematian yang ditakuti seluruh kekaisaran Qinchuan? Namun di hadapan Feng Wu, justru diam saja tanpa marah.

Feng Wu menarik tangannya perlahan, menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Rasa bersalah perlahan menyusup ke hatinya. Ia menunduk sedikit, suaranya terdengar lebih lembut.

"Maaf... aku tadi terlalu emosi dan keterlaluan. Tapi bukan berarti yang mulia sepenuhnya benar, kau juga salah, berani memelukku sembarangan lalu menghinaku seenaknya, aku juga punya harga diri," ucapnya jujur, tanpa menunduk sepenuhnya, tetap mempertahankan harga dirinya.

Pangeran Ketiga hanya menghela napas pelan, tak sedikit pun menaruh dendam. Ia mengangguk pelan seolah memaklumi sifat gadis itu.

"Sudahlah. Sekarang ikutlah denganku," ucapnya pelan, lalu berjalan mendahului.

Feng Wu mengikuti dari belakang. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah gundukan tanah tinggi yang menghadap ke langit luas, tempat di mana angin malam berhembus sejuk dan cahaya bulan sabit bersinar lembut di atas mereka. Keduanya duduk berdampingan, menikmati kesunyian malam yang tiba-tiba terasa begitu damai.

Pangeran Ketiga menatap ke arah bulan, suaranya terdengar lebih dalam dan serius.

"Feng Wu, kau harus tahu. Di balik kemewahan istana ini, tersembunyi intrik yang jauh lebih kejam dari yang kau bayangkan. Terutama Permaisuri... dia adalah sosok yang sangat berkuasa, licik, dan tidak segan-segan menyingkirkan siapa pun yang dianggap mengancam posisinya. Putri Anning adalah putri kandung Permaisuri bahkan kesayangannya. Jika kau menyakitinya tanpa perhitungan, kau bukan hanya menantang seorang putri, melainkan menantang Permaisuri sendiri dan seluruh kekuatannya."

Ia menoleh sedikit, menatap Feng Wu dengan tatapan penuh peringatan sekaligus kepedulian yang tersembunyi.

"Jangan terlalu gegabah. Jika kau terluka atau hilang begitu saja, bagaimana dengan rencanamu membalas dendam pada Keluarga Feng yang telah menyiksamu selama bertahun-tahun? Bukankah itu belum selesai? Jadi... tolong, jangan membahayakan dirimu sendiri demi kemarahan sesaat."

Feng Wu terpaku mendengar itu, matanya membelalak tak percaya. Ia menatap wajah samping Pangeran Ketiga lekat-lekat.

"Kau... kau tahu semuanya? kau menyelidiki ya " tanyanya dengan suara bergetar, campuran antara keterkejutan dan rasa ingin tahu yang mendalam.

Pangeran Ketiga tersenyum tipis, namun tak menjelaskan lebih lanjut. Ia hanya kembali menatap bulan, membiarkan keheningan menjawab pertanyaan itu.

Pangeran Ketiga berdiri, menatap Feng Wu dengan lembut. "Sudah larut, biarkan aku mengantarmu pulang."

Namun Feng Wu langsung berbalik, menolak dengan tegas. "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi, meninggalkan Pangeran Ketiga sendirian di atas bukit itu. Pangeran Ketiga hanya menatap punggungnya yang perlahan menjauh, lalu tersenyum tipis sebelum menghilang ke dalam kegelapan.

Sesampainya di kediaman Wen, Feng Wu berjalan pelan menuju paviliunnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat sesosok pria asing sedang duduk diam di tepi kolam, menatap ke permukaan air yang tenang. Pria itu memiliki wajah yang tampan namun terlihat dingin, sikapnya penuh wibawa dan ketenangan yang mendalam.

Feng Wu menghampiri Qing Su yang sedang menunggunya di depan paviliun lalu berbisik pelan sambil menunjuk ke arah pria itu. "Qing Su, siapa pria yang duduk di dekat kolam itu? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya."

Qing Su melirik ke arah pria itu, lalu menjawab dengan lembut. "Itu adalah Tuan muda pertama Wen Qi, putra tuan Wen Rui dan Nyonya Yun Zhi. Tuan muda baru saja kembali dari perbatasan Nanjing."

Feng Wu mengangguk pelan, kembali menatap sosok pria itu dengan rasa penasaran. Wen Qi... nama yang belum pernah ia dengar sebelumnya, namun entah mengapa, kehadirannya seakan membawa suasana yang berbeda di kediaman Wen.

Keesokan harinya, suasana ruang makan kediaman Wen terasa lebih lengkap dari biasanya. Saat semua berkumpul untuk sarapan bersama, Jenderal Wen menganggukkan kepala ke arah pria yang duduk di sisi kanannya.

"Wu'er, kemarilah. Ini adalah sepupumu sekaligus putra sulung dari Pamanmu, Wen Qi," ucap Jenderal Wen dengan bangga. Lalu beliau menoleh ke arah pria itu. "Dan Qi'er, dia adalah Feng Wu, putri dari bibimu."

Feng Wu tersenyum ramah, lalu menunduk sedikit memberi salam. "Kakak sepupu, namaku Feng Wu. Senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan Kakak."

Wen Qi mengangguk pelan, menyambut sapaan itu dengan sopan namun terasa dingin. "Ternyata adik Wu'er, aku juga senang bisa bertemu denganmu," jawabnya singkat, lalu kembali menunduk menatap mangkuk di hadapannya.

Feng Wu duduk di tempatnya, namun matanya tak lepas dari sosok Wen Qi. Di balik sapaan sopan itu, ia bisa merasakan ada beban berat di hati pria itu. Wajahnya tampan dan tegas, namun sorot matanya suram, tak ada kehangatan atau kebahagiaan yang terlihat seolah ada sesuatu yang terus membebani pikirannya. Feng Wu mengerutkan kening pelan, timbul rasa penasaran di hatinya. Entah apa yang sedang dihadapi oleh Wen Qi.

Setelah sarapan selesai dan semua orang beranjak dari meja makan, Feng Wu segera mencari Wen Jin yang sedang berjalan menuju halaman belakang. Ia menghampiri sepupunya itu dengan langkah ringan.

"Kakak Jin, tunggu sebentar," panggilnya pelan.

Wen Jin berbalik, tersenyum melihat Feng Wu. "Ada apa, Wu'er?"

Feng Wu menatap ke arah ruang makan sebentar, lalu berbisik dengan nada penasaran. "Kakak... sebenarnya apa yang terjadi pada Kakak Wen Qi? Sejak tadi sarapan, dia terlihat begitu murung dan tak bahagia. Apakah ada masalah yang sedang dihadapinya?"

Wen Jin menghela napas panjang, senyumnya perlahan memudar. Ia menatap Feng Wu dengan tatapan simpati. "Ah... kau menyadarinya juga ya. Kakak memang sedang menanggung beban berat. Tapi itu ceritanya cukup panjang dan menyedihkan, Wu'er."

Feng Wu semakin penasaran mendengarnya, matanya berbinar ingin segera mengetahui kebenarannya.

"Beban berat apa yang ditanggung, Kakak Jin? Ceritakanlah padaku," desaknya pelan.

Namun Wen Jin segera menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Ia menggeleng pelan.

"Di sini tidak aman, Wu'er. Jika Kakak sampai mendengarnya, sudah pasti akan merasa terluka. Cerita ini bukan hal yang sembarang untuk dibicarakan di kediaman sendiri."

Feng Wu mengangguk paham. "Lalu di mana kita bisa berbicara dengan tenang?"

"Ikutlah denganku," ajak Wen Jin mantap. "Ada sebuah restoran terkenal di pusat kota, tempat yang nyaman dan sepi untuk berbincang. Di sana kita bisa berbicara tanpa takut didengar siapa pun."

Tanpa menunda lagi, keduanya berpamitan kepada keluarga. Feng Wu segera berganti pakaian yang lebih rapi namun tetap sederhana, lalu berangkat bersama Wen Jin menuju restoran yang dimaksud. Sepanjang perjalanan, pikiran Feng Wu terus tertuju pada sosok Wen Qi, semakin ia mendalami hal itu, semakin ia merasa ada sesuatu yang besar dan menyedihkan di balik kesunyian sepupunya itu.

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!