Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Penguasa Sementara Baroni Denwick
Matahari sore memancarkan cahaya keemasan saat rombongan itu melintasi gerbang besi Kastil Denwick yang berkarat.
Hans, kepala pelayan tua yang sedang mengawasi beberapa pekerja mengangkat karung gandum sisa, menghentikan langkahnya. Matanya membelalak tak percaya. Tuan mudanya yang seminggu lalu pergi dengan pakaian berburu sederhana dan lima penjaga desa berzirah kulit usang, kini kembali dengan aura yang sama sekali berbeda.
Di belakang Arya, kelima pemuda itu berjalan dalam balutan zirah pelat baja yang memantulkan cahaya senja. Setiap langkah kaki mereka menghasilkan dentingan baja yang serempak dan berat. Formasi mereka rapat, pandangan mereka tajam ke depan, memancarkan disiplin mematikan layaknya kesatria veteran yang telah berkali-kali menipu kematian.
Arya menghentikan langkahnya di tengah halaman utama kastil. Ia berbalik, menatap Max, Josh, Willi, Erson, dan Kin. Kelima prajurit itu serentak berhenti dan berdiri tegap, menunggu perintah.
"Kalian telah membuktikan kesetiaan kalian dengan darah di Hutan Kuno," ucap Arya memecah keheningan sore. Tangannya merogoh ke dalam peti kecil yang dibawa Josh, lalu mengeluarkan lima kantong kulit kecil dan melemparkannya satu per satu kepada mereka.
Max menangkap kantong itu dengan tangannya yang utuh. Bunyi gemerincing logam yang berat terdengar dari dalamnya. Saat ia membuka tali pengikatnya, napasnya tercekat. Kepingan emas murni.
"Masing-masing dari kalian menerima tiga puluh koin emas," lanjut Arya dengan nada datar. "Bawa uang itu. Pulang dan berikan pada keluarga kalian."
Arya menatap mereka dalam diam. Ia tahu persis realitas di wilayah ini. Bagi rakyat di baroni yang miskin ini, tiga puluh koin emas adalah sebuah anugerah. Uang itu lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga mereka hingga bertahun-tahun tanpa perlu merasakan kelaparan. Arya sangat paham, kesetiaan yang mutlak tidak hanya ditempa lewat rasa hormat dan ketakutan di medan pertempuran, melainkan dengan menjamin kelangsungan hidup orang-orang yang mereka cintai.
Tangan Erson bergetar hebat. Kin dan Willi saling berpandangan dengan mata berkaca-kaca. Di dunia ini, prajurit rendahan yang mati di medan perang bahkan hanya dihargai dengan beberapa keping perak sebagai uang duka. Namun tuan muda mereka baru saja memberikan sebuah masa depan untuk keluarga mereka.
Kesetiaan kelima pemuda ini kini mengakar menjadi pengabdian absolut.
"Mulai hari ini, kalian resmi menjadi komandan pasukan inti Baroni Denwick," perintah Arya tegas. "Kalian punya waktu tiga hari untuk beristirahat dan menemui keluarga kalian. Pada hari keempat, tiga puluh set perlengkapan militer dan lima gerobak gandum dari Guild Pedagang akan tiba di gerbang ini. Saat itu terjadi, masa istirahat kalian selesai. Kita akan merekrut pemuda baroni dan kalian akan mulai melatih mereka."
"Siap, Tuan Muda!" seru kelima prajurit itu serempak, meninju dada pelat baja mereka dengan kepalan tangan, menghasilkan suara dentuman keras yang menggema di seluruh halaman kastil.
Setelah membubarkan pasukannya, Arya mengambil alih peti kayunya dan berjalan masuk ke aula utama.
Di sana, Lady Lisa Denwick sedang duduk di depan perapian yang redup. Wajah ibunya tampak lelah. Namun, saat melihat putra semata wayangnya kembali dalam keadaan hidup dan berdiri tegap di hadapannya, Lisa langsung bangkit dan memeluk Arya erat-erat.
"Syukurlah, kau kembali dengan selamat, Arya..." bisik Lisa, matanya menatap cemas sisa-sisa luka gores di leher putranya.
Arya melepaskan pelukan ibunya dengan lembut, lalu meletakkan peti kayu seberat batu itu ke atas meja aula. Ia membuka penutupnya. Cahaya dari kepingan seribu lima ratus lima puluh koin emas murni seketika menerangi ruangan yang temaram itu.
Hans, yang baru saja masuk menyusul dari halaman, menjatuhkan nampan kayu di tangannya. Mulut Lisa sedikit terbuka, menatap kekayaan yang tak pernah singgah di kastil ini selama lebih dari dua dekade.
"Ini akan cukup untuk menghidupkan kembali ekonomi baroni kita, Ibu," kata Arya. "Dan dalam tiga hari, pasokan gandum kualitas tinggi akan tiba untuk memenuhi lumbung musim dingin kita."
Seharusnya, ini adalah momen perayaan. Namun, insting Arya sebagai mantan komandan menangkap kejanggalan. Lisa tidak tersenyum lega. Ibunya justru menundukkan wajah, meremas ujung gaunnya dengan raut kesedihan yang mendalam.
Mata Arya menyipit. Ia memindai ke sekeliling aula, menyadari suasana kastil yang terlalu sepi.
"Di mana Ayah?" tanya Arya dingin.
Hening sejenak sebelum Lisa akhirnya menjawab dengan suara bergetar. "Tiga hari yang lalu... surat panggilan perang teritori datang dari Viscount Danes Thorin. Karena baroni kita tidak mampu melunasi sisa pajak tahunan... ayahmu tidak punya pilihan. Ia berangkat memenuhi panggilan wajib militer itu sebagai kompensasi hutang, membawa sisa penjaga kastil yang kita miliki."
Udara di aula itu terasa membeku.
Arya terdiam. Otak taktisnya langsung memproses informasi tersebut. Ayahnya pergi ke medan perang hanya membawa penjaga-penjaga tua dengan perlengkapan seadanya. Lebih buruk lagi, kepergian Baron Aran berarti Baroni Denwick saat ini tidak memiliki pemimpin resmi dan tidak memiliki perlindungan militer sama sekali. Ini adalah undangan terbuka bagi wilayah tetangga untuk menjarah mereka.
"Hans," panggil Arya. Suaranya dingin dengan nada datar.
"Y-ya, Tuan Muda?" Hans tersentak maju.
"Mulai detik ini, aku mengambil alih komando darurat atas seluruh Baroni Denwick," perintah Arya tanpa keraguan. "Tutup gerbang utama. Beritahu penduduk bahwa jam malam diberlakukan. Saat persenjataan dari Vane tiba tiga hari lagi, aku akan langsung membentuk barisan pertahanan. Tidak boleh ada satu orang pun dari luar wilayah yang boleh masuk tanpa izinku."
Arya memutar tubuhnya, menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke batas wilayah baroni di kejauhan. Kepergian ayahnya adalah pengingat keras bahwa dunia ini digerakkan oleh kekuasaan dan kekuatan militer, bukan sekadar koin emas.
Di saat yang bersamaan, dua kilometer dari batas luar perkebunan gandum Denwick, di atas sebuah bukit berbatu yang tersembunyi, seorang pria berpakaian serba hitam sedang menurunkan teropong kuningan dari matanya.
Pria itu adalah mata-mata dari Baroni tetangga. Ia tersenyum sinis, mencatat di perkamennya bahwa Baron Aran Denwick telah pergi meninggalkan wilayahnya, menyisakan kastil yang kini hanya dijaga oleh seorang istri yang lemah dan putra yang berpenyakitan.
Mata-mata itu tidak tahu bahwa anak berpenyakitan itu baru saja pulang dengan selamat dari Hutan Kuno, membawa modal peperangan yang akan mengubah peta kekuasaan di perbatasan Kerajaan Mossgate untuk selamanya.
👍