Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Bertemu
Motor Arman melaju kencang membelah jalan tanah Desa Suka Makmur.
Debu beterbangan di belakangnya, tapi ia tidak peduli. Setelah dua hari mencari tanpa hasil, akhirnya ia menemukan petunjuk yang benar. Gang kecil yang hampir tertutup pohon jati itu.
Jalan Kebun Mangga.
Jantungnya berdegup begitu kencang saat ia membelokkan motor masuk ke dalam gang setapak itu. Jalan itu cukup panjang, sekitar dua ratus meter, di kanan dan kirinya hanya kebun mangga yang rindang dan sunyi. Tidak ada satu pun rumah warga di sepanjang jalan itu.
Sampai akhirnya, di ujung jalan, matanya menangkap sesuatu yang membuat napasnya tercekat.
Sebuah rumah besar dari kayu jati yang sangat asri, halamannya luas penuh dengan bunga warna-warni, ada kolam ikan kecil yang airnya jernih. Dan di pojok kebunnya, ada sebuah rumah kecil yang terlihat bersih dan terawat.
Dan di halaman rumah kecil itu, ada pemandangan yang membuat air mata Arman langsung jatuh.
Alya.
Alya sedang berjongkok di kebun sayur, memakai caping lebar yang menutupi wajahnya, tangannya lincah memetik kangkung yang segar. Di sampingnya, Nisa dengan kerudung pink barunya yang bersih sedang membantu memetik cabai merah sambil tertawa riang. Raffi duduk di atas tikar di dekat bedengan, memakai baju baru yang bersih, badannya terlihat lebih gemuk dan segar, sedang asyik memainkan mobil-mobilan kayunya.
Mereka terlihat sangat berbeda.
Alya yang dulu tinggal bersamanya selalu terlihat pucat, kurus, matanya sembab karena menangis, baju dasternya lusuh dan memakai jilbab yang selalu sama, terlihat berantakan karena kelelahan mengurus rumah. Sekarang, Alya terlihat bersih, wajahnya cerah, kulitnya tidak pucat lagi. Meskipun setiap hari bekerja di kebun di bawah sinar matahari, ia justru terlihat lebih terawat dan bahagia.
Anak-anaknya pun begitu. Nisa terlihat bersih, pipinya berisi, pakaiannya bagus dan rapi. Raffi yang dulu sering demam dan rewel karena kekurangan susu, sekarang tertawa lepas dengan wajah yang ceria.
Pemandangan itu membuat Arman merasa bahagia sekaligus hancur dalam waktu yang bersamaan.
Suara motor yang dimatikan membuat Alya menoleh.
Saat mata mereka bertemu, waktu seakan berhenti.
Caping yang dipakai Alya terjatuh ke tanah.
"Arman..."
Nisa yang melihat sosok ayahnya berdiri di ujung kebun langsung menjerit kegirangan dan berlari sekencang-kencangnya.
"AYAH! AYAH DATANG!"
Nisa menerobos bedengan kangkung dan langsung memeluk kaki Arman dengan erat.
"Ayah, Nisa kangen Ayah!"
Raffi yang mendengar kata Ayah, ikut menoleh dan berteriak dengan bahasa cadelnya yang lucu, "Yayah! Yayah!"
Arman langsung berjongkok dan memeluk Nisa erat-erat. Air matanya tumpah tanpa bisa ia tahan lagi.
"Nisa, anak Ayah, akhirnya Ayah menemukan kalian, sayang..."
Alya masih berdiri kaku di tengah kebun. Tangannya gemetar memegang keranjang cabai. Satu bulan ia berusaha menata hidupnya tanpa Arman, satu bulan ia belajar untuk menjadi kuat, tapi melihat Arman berdiri di depannya sekarang, semua pertahanan yang ia bangun seakan runtuh seketika.
Arman berdiri sambil menggendong Nisa, lalu berjalan pelan mendekati Alya.
"Ly, alhamdulillah akhirnya mas bisa menemukan kamu, Ly. Mas sudah mencari kamu ke mana-mana, Ly."
Alya mundur satu langkah kecil. Wajahnya yang tadi ceria langsung berubah tegang.
"Untuk apa kamu kesini, Man?" tanya Alya dengan suara pelan tapi terdengar tajam.
Arman menatap wajah Alya yang sekarang terlihat jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Ly, mas kangen kamu, kangen Nisa sama Raffi. Ayo kita pulang, Ly. Kita mulai lagi dari awal ya? Mas sudah bicara sama Ibu, kita akan ngontrak rumah sendiri, tidak tinggal sama Ibu lagi. Mas janji, Ly."
Alya menggeleng pelan. Air matanya mulai jatuh, tapi bukan air mata rindu, melainkan air mata luka yang belum kering.
"Pulang? Pulang kemana, Man? Pulang ke rumah yang setiap harinya aku hanya akan dimaki, dihina, dibilang menantu miskin yang tidak berguna? Pulang ke rumah di mana anakku didorong sampai jatuh hanya karena menumpahkan air? Itu bukan rumah, Man. Itu neraka buat aku dan anak-anakku."
"Ly, mas tahu mas salah, Ly. Mas pengecut karna mas hanya diam saat kamu disakiti. Tapi beri mas satu kesempatan lagi, Ly. mas janji mas akan berubah."
Alya menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran di dadanya. Lalu ia mengucapkan sebuah kalimat yang tidak pernah terbayangkan oleh Arman seumur hidupnya.
"Man, aku sudah memikirkan hal ini matang-matang selama satu bulan ini. Aku tidak mau pulang dengan kamu, Man. Aku mau kamu menceraikan aku."
Dunia Arman seketika runtuh mendengar kalimat itu.
"Ly, kamu bilang apa, Ly?" Suara Arman bergetar, ia pikir ia salah dengar.
"Ceraikan aku, Man. Talak aku. Aku sudah tidak sanggup lagi menjadi istrimu. Aku bahagia di sini, Man. Lihat anak-anak kita. Lihat Nisa, lihat Raffi. Mereka bersih, gemuk, memakai pakaian yang bagus, mereka bisa tertawa setiap hari. Waktu tinggal bersamamu dulu, mereka kurus, pucat, setiap hari menangis ketakutan karena mendengar pertengkaran. Di sini aku bisa memberi mereka makan daging, telur, dan susu setiap hari dari hasil kebunku sendiri. Aku bisa menabung untuk sekolah Nisa dari gajiku sendiri. Aku sudah bisa hidup tanpa kamu, Man."
Setiap kata yang keluar dari mulut Alya seperti pisau yang menyayat jantung Arman.
Ia menatap Nisa yang ada di gendongannya. Ucapan Alya benar. Nisa memang terlihat sangat berbeda. Lebih bersih, lebih ceria, pipinya lebih berisi. Raffi pun begitu. Sangat berbeda sekali dibandingkan saat mereka masih tinggal bersamanya dulu, di mana Nisa sering tidak makan karena uang belanja tidak ada dan Raffi sering menangis semalaman karena susunya habis.
Arman menangis. Ia memeluk Nisa semakin erat.
"Ly, jangan berkata begitu, Ly. Mas mohon, Ly. Jangan minta cerai.Mas tidak bisa hidup tanpa kalian."
"Justru itu, Man. Aku bisa hidup tanpa kamu. Satu bulan ini sudah membuktikan semuanya. Aku bisa hidup tanpa harus dimaki setiap hari, tanpa harus ditampar, tanpa harus meminta uang belanja sambil menangis. Aku lebih tenang seperti ini, Man."
Nisa yang melihat ayah dan ibunya sama-sama menangis ikut menangis ketakutan.
"Mama, Ayah jangan bertengkar..."
Saat itulah Ustadzah Munah keluar dari rumah besar karena mendengar keributan di kebun.
"Astaghfirullah, ada apa ini, Nak? Alya?"
Ustadzah Munah langsung mendekati Alya dan merangkul pundaknya dengan lembut.
Arman menatap Ustadzah Munah dengan mata yang penuh permohonan.
"Ustadzah, saya Arman, suaminya Alya. Tolong bujuk Alya, Ustadzah. Saya ingin membawa dia pulang."
Ustadzah Munah menggeleng pelan sambil menatap Arman dengan tatapan iba.
"Nak Arman, Ibu tidak bisa memaksa Alya, Nak. Alya sudah seperti anak Ibu sendiri. Ibu melihat dengan mata kepala Ibu sendiri bagaimana dia bahagia di sini setelah satu bulan ini. Jika dia sampai meminta cerai, pasti ada luka yang sangat dalam yang belum sembuh. Tugas kamu bukan memaksa dia untuk pulang, Nak, tapi menyembuhkan luka itu terlebih dahulu."
Setelah mendengar itu Arman tak bisa mengatakan apapun lagi,dia berpamitan pulang.
Arman pulang dengan kemelut di hatinya yang begitu besar.
Di sepanjang jalan pulang, bayangan wajah Alya terus muncul di kepalanya.
Di satu sisi, hatinya merasa lega luar biasa karena akhirnya ia bisa menemukan Alya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Alya, Nisa, dan Raffi baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Bayangan wajah Alya yang semakin bersih dan terawat meskipun bekerja di kebun, tapi terlihat bahagia. Anak-anaknya bersih, gemuk, dan memakai pakaian yang bagus. Sangat berbeda sekali dibandingkan saat tinggal bersamanya dulu yang serba kekurangan dan penuh tekanan.
Namun di sisi lain, hati Arman hancur berkeping-keping karena Alya meminta talak. Permintaan cerai itu benar-benar di luar dugaannya. Ia mengira Alya akan langsung berlari memeluknya dan mau diajak pulang begitu saja.
Ternyata tidak. Alya yang sekarang sudah berubah menjadi perempuan yang kuat dan mandiri.
Sesampainya di rumah, Bu Ratna sudah menunggu di ruang tamu.
"Bagaimana, Man? Ketemu dia?"
Arman hanya menatap ibunya dengan tatapan kosong, lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Malam itu, Arman tidak bisa memejamkan matanya. Bukan karena gelisah tidak menemukan Alya, tapi karena kalimat Alya terus terngiang di telinganya.
"Ceraikan aku, Man."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya sampai pagi menjelang.
Bersambung...