Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA WAJAH ELENA RAVENCROFT
Ruangan bawah tanah itu mendadak terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
Aren berdiri di depan layar besar yang menampilkan seorang perempuan kurus dengan wajah pucat. Rambut perempuan itu kusut, bibirnya pecah-pecah, dan matanya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan oleh kamera mana pun.
Namun, ketika perempuan itu mengangkat wajah dan menyebut namanya, Aren merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Aren…”
Satu kata.
Hanya satu kata yang terdengar begitu pelan dari pengeras suara.
Akan tetapi, kata itu menghantam dadanya lebih keras daripada semua tuduhan yang selama ini ia dengar tentang ayah kandungnya.
Perempuan itu tampak seperti Elena Ravencroft.
Ibu yang selama ini ia cari.
Ibu yang katanya meninggalkannya demi menyelamatkan hidupnya.
Ibu yang beberapa waktu lalu memeluknya di Bukit Arvantis, menangis di hadapannya, dan meminta maaf karena tidak pernah berada di sisinya.
Tetapi sekarang Alistair Valerius mengatakan bahwa perempuan yang memeluknya itu bukan Elena.
Lalu siapa perempuan yang telah memanggilnya anak?
Siapa yang mengetahui detail tentang masa kecilnya, surat ibunya, bahkan benda-benda yang seharusnya hanya diketahui keluarga Ravencroft?
Dan yang paling menyakitkan, jika perempuan di layar itu benar-benar Elena, mengapa ia membiarkan putranya tumbuh selama bertahun-tahun tanpa pernah berusaha kembali?
“Aku ingin kalian membawakan Adrian kepadaku,” suara Alistair terdengar dari rekaman sebelumnya. “Jika kalian ingin mendapatkan Elena yang asli, jangan buang waktumu untuk mencari perempuan yang salah.”
Layar berubah hitam.
Beberapa detik berlalu tanpa seorang pun berbicara.
Riven menjadi orang pertama yang memecah kesunyian.
“Tidak.”
Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Tidak mungkin perempuan itu palsu. Aku melihat Aren memeluknya. Aku melihat cara perempuan itu menangis. Dia tahu bagaimana membuat Aren merasa aman.”
“Justru itu masalahnya,” jawab Kian.
Ia duduk di depan komputer, membuka rekaman yang baru saja mereka terima, lalu memutarnya kembali dalam kecepatan rendah.
“Kalau dia penipu, berarti dia mempelajari Elena dengan sangat teliti. Dia tahu informasi pribadi keluarga Ravencroft, tahu bagaimana mendekati Aren, dan berhasil meyakinkan kita semua.”
“Termasuk aku,” kata Aren lirih.
Lima pasang mata langsung tertuju kepadanya.
Raka melangkah mendekat. “Aren.”
“Aku percaya kepadanya, Kak.”
Suara Aren terdengar tenang, tetapi matanya mulai memerah.
“Aku percaya ketika dia bilang dia ibuku. Aku membiarkannya menyentuh wajahku. Aku bahkan berpikir…” Ia berhenti, menelan sesuatu yang terasa menyakitkan di tenggorokannya. “Aku berpikir akhirnya aku bisa mendapatkan kembali bagian hidupku yang hilang.”
Leon segera berdiri dari kursinya dan menghampirinya.
“Kau tidak salah karena ingin mempercayai ibumu.”
“Tapi bagaimana kalau dia memang bukan ibuku?”
“Kalau begitu, kesalahan ada pada orang yang sengaja mempermainkan perasaanmu,” jawab Leon lembut. “Bukan pada dirimu.”
Aren menunduk.
Leon meletakkan kedua tangannya di bahu adiknya, memastikan Aren menatapnya.
“Dengar. Tidak ada satu pun dari kami yang akan menyalahkanmu karena itu. Kau mengerti?”
Aren mengangguk kecil.
Riven bergerak mendekat, lalu merangkul leher Aren dari samping.
“Dan kalau perempuan itu sengaja menyakitimu, aku akan menemukannya.”
“Riven,” tegur Darren.
“Apa? Aku belum mengatakan akan melakukan sesuatu yang buruk.”
“Kau mengatakannya dengan wajah seseorang yang sudah merencanakan sesuatu yang buruk.”
“Wajahku memang begini.”
Dalam keadaan lain, Aren mungkin akan tertawa mendengar pertengkaran mereka. Kali ini, ia hanya menyandarkan kepala sebentar pada bahu Riven.
Raka memperhatikan adik bungsunya, kemudian mengalihkan pandangan kepada Kian.
“Bisakah kau memastikan rekaman itu asli?”
“Sedang kukerjakan.”
Jari-jari Kian bergerak cepat di atas papan ketik.
“Alistair mungkin membohongi kita tentang identitas perempuan itu. Rekaman ini bisa saja dimanipulasi. Kita tidak boleh mengambil keputusan hanya berdasarkan wajah yang muncul di layar.”
Darren mengangguk. “Kalau perempuan itu benar-benar Elena, kita harus tahu lokasinya. Kalau bukan, kita perlu mencari tahu siapa dia dan mengapa Alistair ingin membuat kita percaya bahwa Elena sudah ditemukan.”
“Dan kita harus membawa Adrian ke sana,” kata Raka.
Nama itu membuat suasana kembali menegang.
Adrian sedang berada di tangan Alistair.
Bersamanya ada amplop hitam berisi surat kedua Armand Ravencroft, surat yang mungkin menyimpan jawaban atas pertanyaan yang selama tujuh belas tahun tidak pernah terpecahkan.
“Alistair tidak meminta Adrian tanpa alasan,” lanjut Darren. “Dia menginginkan surat itu, atau sesuatu yang hanya Adrian ketahui.”
“Bisa jadi dia ingin memaksanya mengakui apa yang terjadi pada malam itu,” sahut Kian. “Khususnya tentang dua orang yang berhasil keluar dari fasilitas.”
Mara Soren, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, perlahan mengangkat wajahnya.
“Dua orang,” ulangnya.
Semua orang menoleh kepadanya.
Mara tampak semakin pucat.
“Kalau Adrian hanya menemukan satu orang setelah kebakaran, itu berarti orang kedua mungkin masih hidup. Atau…” Ia terdiam sejenak. “Atau seseorang sengaja membuatnya percaya bahwa orang kedua sudah mati.”
Aren langsung menatapnya.
“Apakah orang kedua itu ibu saya?”
Mara tidak segera menjawab.
Dan bagi Aren, keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada sebuah pengakuan.
“Aku tidak tahu,” kata Mara akhirnya. “Aku tidak akan berbohong kepadamu. Aku memang mengenal Elena, tetapi malam itu penuh kekacauan. Api, asap, orang-orang bersenjata, dan perintah yang berubah setiap beberapa menit. Aku tidak melihat semua yang terjadi.”
“Namun, kau mengenali gelang bulan di rekaman itu.”
Mara mengangguk.
“Gelang itu milikku. Aku kehilangan gelang tersebut sebelum serangan terjadi. Setelah melihat rekaman, aku mulai berpikir seseorang mungkin mengambilnya untuk menyamarkan identitas.”
“Jadi perempuan yang keluar bersama bayi itu bisa saja mengenakan gelang milikmu?” tanya Darren.
“Ya.”
Kian berhenti mengetik.
“Kalau begitu, gelang bulan bukan bukti bahwa perempuan itu adalah Elena atau Mara. Itu hanya membuktikan seseorang memakai benda yang pernah menjadi milik Mara.”
Raka mengusap dagunya, berpikir keras.
“Kita memiliki tiga kemungkinan. Elena asli masih hidup dan ditahan Alistair. Perempuan yang kita temui adalah orang lain. Dan rekaman lama menunjukkan seseorang keluar dari fasilitas dengan identitas yang belum kita ketahui.”
“Empat kemungkinan,” koreksi Aren.
Semua orang kembali menatapnya.
Aren menunjuk layar hitam di hadapan mereka.
“Kemungkinan keempat adalah Alistair sedang mempermainkan kita semua. Mungkin perempuan di layar itu memang ibuku, mungkin juga bukan. Kita belum tahu apakah rekaman itu baru, apakah lokasinya benar-benar fasilitas miliknya, atau apakah dia sengaja membuat rekaman lama terlihat seperti keadaan sekarang.”
Kian tersenyum tipis.
“Itu baru adikku.”
Raka mengangguk puas. “Kita tidak akan bergerak sebelum mendapatkan bukti.”
“Tidak,” kata Aren.
Keenam orang itu menoleh kepadanya.
Aren menarik napas panjang.
“Kita tidak punya waktu untuk menunggu terlalu lama. Kalau perempuan di layar itu benar-benar ibu saya, dia mungkin sedang kesakitan. Aku tidak mau membiarkannya di sana hanya karena kita takut tertipu.”
Raka memandangnya lekat-lekat.
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga tidak mau menukar Kak Adrian hanya karena Alistair menyuruh kita datang.”
“Bagus,” jawab Raka. “Karena kita tidak akan melakukan pertukaran yang ditentukan oleh musuh.”
Untuk pertama kalinya sejak rekaman itu muncul, Aren merasa sedikit lebih tenang.
Bukan karena mereka telah menemukan jawaban.
Melainkan karena ia tidak harus mencari jawaban itu sendirian.
Di tempat lain, di dalam ruang kendali Proyek Serigala Hitam, Adrian Valerius duduk di sebuah kursi besi dengan kedua tangan terkunci pada sandaran.
Amplop hitam terletak di atas meja di hadapannya.
Alistair berdiri di sisi lain meja, mengenakan setelan gelap yang nyaris tidak memperlihatkan tanda-tanda usia. Lelaki itu tampak seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar kehilangan kendali atas apa pun.
“Cucu kesayanganmu sudah melihat Elena,” katanya.
Adrian mengangkat kepala.
“Apa yang kau lakukan kepadanya?”
“Memberinya kesempatan untuk melihat kebenaran.”
“Kebenaran?” Adrian tertawa hambar. “Kau bahkan tidak bisa mengatakan satu kalimat tanpa menyelipkan kebohongan.”
Alistair tidak tersinggung.
Ia justru tersenyum kecil.
“Kau masih sama, Adrian. Selalu merasa dirimu lebih baik dariku karena sesekali memilih jalan yang berbeda.”
“Aku tidak pernah menganggap diriku lebih baik darimu.”
“Benarkah? Kalau begitu, mengapa kau mengubah perintahku tujuh belas tahun lalu?”
“Karena kau memerintahkan pembantaian.”
“Karena Armand menolak menyerahkan anaknya.”
“Armand menolak menyerahkan seorang bayi kepada proyek gilamu!”
Alistair menghantam meja dengan telapak tangannya.
“Bayi itu adalah kunci!”
Adrian menatapnya tanpa berkedip.
“Dia adalah anak.”
Keheningan menekan ruangan.
Alistair kemudian menarik napas dan kembali bersikap tenang, seolah ledakan emosinya barusan tidak pernah terjadi.
“Selalu begitu. Armand melihatnya sebagai anak. Elena melihatnya sebagai anak. Dan kau juga melihatnya sebagai anak. Tidak seorang pun memahami apa yang bisa dilakukan darah Ravencroft.”
“Aren bukan milikmu.”
“Dia cucuku.”
“Hubungan darah tidak memberimu hak untuk menghancurkan hidupnya.”
Senyum Alistair menghilang.
Ia mengambil amplop hitam, membuka lipatannya, lalu mengeluarkan surat yang telah disimpannya selama bertahun-tahun.
“Kau tahu apa yang paling menarik dari surat ini?”
Adrian tidak menjawab.
“Armand menulisnya untukmu, tetapi kau tidak pernah berani membiarkan orang lain membacanya.”
“Karena itu bukan urusanmu.”
“Justru sebaliknya.”
Alistair mengangkat selembar foto yang terselip di antara halaman surat.
Foto itu memperlihatkan Armand, Elena, bayi Aren, dan Mara yang berdiri sedikit di belakang mereka.
Namun, di balik foto tersebut, ada tulisan tangan yang belum pernah Adrian lihat sebelumnya.
Alistair membacanya perlahan.
“Jika anakku selamat, pastikan dia tidak pernah mencari perempuan yang membawanya keluar malam itu sebelum mengetahui siapa yang sebenarnya kehilangan anaknya.”
Adrian membeku.
Wajahnya berubah begitu cepat sehingga Alistair tidak perlu bertanya apakah ia memahami kalimat tersebut.
“Kau tahu maksudnya, bukan?” tanya Alistair.
Adrian menatap foto itu.
“Aku tidak pernah membaca bagian belakang foto tersebut.”
“Namun, kau tahu ada perempuan yang meminta diselamatkan malam itu.”
Adrian tidak menjawab.
“Dan kau memilih untuk menyelamatkannya.”
“Aku memilih menyelamatkan bayi yang berada dalam pelukannya.”
“Bukan perempuan yang berada di ruang sebelah?”
Adrian mendongak tajam.
Alistair tersenyum kembali.
“Nah. Akhirnya aku mendapatkan perhatianmu.”
“Di mana Elena?”
“Pertanyaan yang bagus.”
Alistair berjalan menuju layar besar di dinding.
Ia menekan sebuah tombol. Gambar ruangan putih muncul, memperlihatkan perempuan kurus yang sebelumnya dilihat Aren.
“Dia ada di sini.”
“Buktikan bahwa dia Elena.”
“Aku sudah menunjukkan wajahnya kepada cucuku.”
“Wajah bukan bukti.”
Senyum Alistair melebar.
“Kau mengajari Aren berpikir seperti itu?”
“Aren tidak membutuhkan ajaranku untuk mengetahui bahwa kau pembohong.”
Alistair mendekat sampai berdiri tepat di depan Adrian.
“Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh dia akan pergi demi perempuan yang disebutnya ibu.”
Ia menekan tombol lain.
Sebuah layar kecil di meja menyala, menampilkan seorang pria berseragam hitam.
“Bawa tahanan kedua ke ruang putih,” perintah Alistair. “Aku ingin mereka bertemu.”
Adrian mengerutkan kening.
“Tahanan kedua?”
Alistair menatapnya dengan ekspresi penuh kepuasan.
“Kau sungguh tidak tahu siapa yang selama ini berada di fasilitas ini?”
Pintu di belakangnya terbuka.
Dua penjaga masuk sambil menyeret seseorang dengan tangan terikat. Tubuh orang itu tertutup mantel abu-abu, wajahnya tertunduk, dan rambutnya yang panjang menutupi sebagian besar kepala.
Ketika penjaga itu memaksanya berlutut, orang tersebut mengangkat wajah.
Adrian kehilangan kata-kata.
Ia mengenali mata itu.
Mata yang pernah dilihatnya di tengah kobaran api tujuh belas tahun lalu.
Mata yang ia kira telah hilang selamanya.
“Tidak…” bisiknya.
Perempuan itu menatap Adrian dengan air mata yang menggenang, lalu tersenyum pahit.
“Lama sekali, Adrian.”
Alistair berdiri di sampingnya.
“Perkenalkan, perempuan yang selama ini tidak kalian temukan.”
Ia membungkuk sedikit, seolah sedang memperkenalkan tamu kehormatan.
“Orang yang mengetahui siapa sebenarnya perempuan yang melahirkan Aren Ravencroft.”
Adrian memandang perempuan itu dengan wajah pucat.
Lalu perempuan tersebut mengucapkan kalimat yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
“Jangan biarkan Aren bertemu Elena.”
Di ruang bawah tanah rumah tua Bukit Arvantis, Kian akhirnya berhasil membuka metadata rekaman yang dikirim Alistair.
“Sebentar,” katanya.
Raka mendekat. Darren berdiri di belakangnya, sementara Leon dan Riven tetap berada di sisi Aren.
“Ada sesuatu yang aneh.”
Kian memperbesar informasi di layar.
“Rekaman perempuan di ruang putih ini tidak dibuat hari ini. File aslinya berusia empat tahun. Alistair hanya mengubah tanggal pengiriman dan memotong bagian awal.”
“Artinya dia mungkin menggunakan rekaman lama,” kata Darren.
“Benar. Tapi itu belum membuktikan perempuan tersebut sudah mati atau masih hidup.”
Kian membuka lapisan data lain.
“Dan ada satu hal lagi. Rekaman ini pernah dikirim ke sebuah terminal internal tiga bulan lalu.”
“Terminal siapa?” tanya Raka.
Kian membaca identitas pengakses yang muncul di layar.
Wajahnya berubah.
“Aku tidak tahu siapa pemilik terminal ini sekarang. Identitasnya disamarkan, tetapi kode aksesnya berasal dari sistem lama keluarga Ravencroft.”
Aren mendekat.
“Bisakah kau membuka riwayat pesannya?”
“Sedang kucoba.”
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan teks muncul.
Tidak ada nama pengirim. Tidak ada tanda tangan.
Hanya satu kalimat.
JIKA AREN MENGETAHUI SIAPA YANG MEMBAWA DIRINYA KELUAR DARI API, DIA AKAN MEMBUNUH ORANG YANG PALING DIA CINTAI.
Aren merasakan tengkuknya dingin.
Riven segera berdiri di hadapannya.
“Jangan membaca pesan seperti itu sendirian.”
“Aku tidak sendirian, Kak.”
“Aku tahu. Aku hanya tidak suka seseorang mengancam adikku melalui komputer.”
Kian menelusuri pesan tersebut, tetapi tidak menemukan jalur pengirim yang bisa dipercaya.
Kemudian layar berkedip.
Sebuah pesan baru masuk, kali ini disertai foto.
Foto itu memperlihatkan dua perempuan berdiri di sebuah ruangan rumah sakit. Salah satunya adalah Elena Ravencroft yang dikenali Aren dari foto keluarga lama. Perempuan kedua memiliki wajah yang hampir sama, tetapi terdapat bekas luka kecil di dekat alisnya.
Di antara mereka, seorang bayi terbaring dalam keranjang.
Pada bagian belakang foto, seseorang menuliskan tanggal tujuh belas tahun lalu.
Aren mendekat dengan napas tertahan.
“Itu…”
Ia mengenali wajah perempuan pertama.
Namun, perempuan kedua bukan Mara yang ia kenal sekarang. Wajahnya jauh lebih muda, dan rambutnya masih panjang tanpa uban.
Di bawah foto terdapat satu baris tulisan.
MALAM ITU, HANYA SATU DARI MEREKA YANG KEHILANGAN BAYI.
Aren menatap tulisan tersebut, mencoba memahami maksudnya.
Kemudian ia melihat detail yang sebelumnya luput dari perhatiannya.
Di pergelangan tangan perempuan yang berdiri di sebelah Elena, melingkar sebuah gelang bulan.
Gelang yang sama dengan gelang pada rekaman pintu keluar fasilitas.
Gelang yang pernah hilang dari tangan Mara Soren.
Dan ketika Aren memperbesar foto itu, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
Di belakang kedua perempuan tersebut berdiri seorang pria dengan setelan gelap.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Namun, di jari tangannya terdapat cincin perak dengan lambang serigala.
Cincin yang sama yang selama ini dikaitkan dengan Mara.
Sebelum Aren sempat bertanya, telepon Kian berdering.
Panggilan itu berasal dari nomor Adrian.
Kian langsung mengaktifkan pengeras suara.
“Kak Adrian?”
Suara napas terdengar dari seberang.
Kemudian suara Adrian muncul, rendah dan terburu-buru.
“Raka, dengarkan aku. Jangan datang ke fasilitas Alistair. Jangan mencoba menukar siapa pun.”
Raka langsung berdiri tegak.
“Ayah di mana?”
“Aku tidak punya banyak waktu.”
“Apa yang terjadi?”
Adrian menarik napas tajam.
Lalu suara lain terdengar di belakangnya, suara perempuan yang membuat Aren membeku.
Suara yang sama seperti perempuan dalam rekaman ruang putih.
“Aren, jika kau mendengar ini, jangan percaya kepada siapa pun yang mengatakan bahwa mereka menyelamatkanmu malam itu.”
Panggilan mendadak terputus.
Aren berdiri kaku.
Di layar komputer, foto dua perempuan itu masih terbuka.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari kemungkinan yang jauh lebih mengerikan daripada memiliki ibu palsu.
Mungkin selama ini bukan hanya identitas ibunya yang telah ditukar.
Mungkin, tujuh belas tahun lalu, seseorang telah menukar seorang bayi.
Dan jika itu benar, Aren Valerius mungkin bukan satu-satunya anak yang selamat dari malam kehancuran keluarga Ravencroft.