NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LORONG RUMAH SAKIT

Lampu lorong rumah sakit itu terlalu putih untuk pukul tiga pagi.

Laras duduk di kursi plastik biru di depan pintu ruang operasi, kedua tangan terkulai di pangkuan. Darah Dimas sudah mengering di telapaknya, berubah cokelat kehitaman, menempel di sela-sela kuku. Seorang perawat sempat menawarkan tisu basah, tapi ia menggeleng. Ia belum sanggup membersihkannya. Seolah dengan membiarkan darah itu tetap di sana, Dimas masih terhubung dengannya.

Mira duduk di sampingnya dengan kompres es di pelipis. Sejak mereka tiba, tak ada yang bicara. Hanya detak jam dinding dan bunyi roda brankar yang sesekali lewat.

"Ras." Suara Mira serak. "Minum dulu."

Laras menerima gelas plastik berisi teh hangat, tapi tidak meminumnya. Tangannya masih gemetar, sehingga permukaan teh itu bergetar kecil seperti riak di kolam.

"Lima jam," gumamnya. "Lima jam lalu aku masih berdiri di dapur, menghangatkan sayur lodeh."

"Aku tahu."

"Lima jam lalu aku masih berpikir hidupku cuma sedang retak sedikit."

Mira tidak menjawab. Ia meraih tangan Laras dan menggenggamnya, erat dan hangat, tanpa kata.

Langkah sepatu terdengar dari ujung lorong. Jaksa Hendarto berjalan mendekat dengan jaket lapangan dan wajah letih. Di belakangnya mengikuti dua petugas yang berhenti di dekat pintu keluar, berjaga.

"Bu Laras." Ia berlutut di depan Laras, sejajar dengan matanya. "Saya baru dapat kabar dari ruang operasi. Pelurunya sudah diangkat. Pak Dimas kritis, tapi stabil. Dokter bilang kemungkinan besar dia selamat."

Napas yang selama tiga jam Laras tahan keluar sekaligus, gemetar dan pecah. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya berguncang tanpa suara.

Hendarto menunggu dengan sabar, seperti seseorang yang sudah terlalu sering menyaksikan momen semacam ini. Ketika Laras akhirnya mengangkat wajah, ia berkata pelan, "Saya turut menyesal atas semua yang Ibu alami."

"Rudi?" tanya Laras. Suaranya serak tapi mantap. "Dia kabur?"

"Dengan perahu cepat. Tim pengejar kehilangan jejak di perairan terbuka." Rahang Hendarto mengeras. "Tapi saya jamin, dia tidak akan jauh. Semua pelabuhan, bandara, dan perbatasan sudah kami kunci. Orang seperti dia selalu punya jalan keluar, tapi malam ini, dia terlalu terburu-buru."

"Dan map itu?"

Hendarto menarik napas panjang. "Belum ditemukan. Dua unit kami menyisir seluruh kawasan dermaga dan tidak menemukan apa-apa. Siapa pun yang mengambilnya, dia bergerak cepat dan tahu jalur keluar yang tidak kami jaga."

"Berarti dia orang dalam kawasan itu."

"Atau orang yang sudah mempelajari kawasan itu lebih lama dari kami." Hendarto menatap Laras. "Bu Laras, Mira bilang Pak Dimas sempat mengatakan sesuatu sebelum pingsan. Tentang seseorang di belakang Rudi."

Laras mengangguk pelan. Ia mengulang kata-kata itu, satu per satu, seperti mengeja sesuatu yang berbahaya. *Rudi bukan yang paling atas. Ada orang di belakangnya. Dekat denganmu. Dekat sekali.*

Hendarto mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya tak berubah, tapi jemarinya mengetuk lututnya pelan, tanda ia sedang menyusun sesuatu di kepalanya.

"Itu masuk akal," katanya akhirnya. "Selama dua tahun saya mengejar Rudi, ada hal yang tidak pernah cocok. Dia terlalu rapi. Terlalu cepat tahu setiap langkah kami. Seolah ada yang memberi tahu."

"Orang di kejaksaan?"

Hendarto tidak menjawab langsung. Matanya bergeser sedikit ke arah Mira, lalu kembali pada Laras. "Saya tidak mau menuduh siapa pun tanpa bukti. Tapi saya tidak menutup kemungkinan itu."

Mira menegang di samping Laras. "Pak, saya..."

"Bukan kamu." Hendarto mengangkat tangan. "Kamu menyalakan telepon yang menyelamatkan nyawa mereka berdua. Kalau kamu pengkhianat, kamu tidak akan melakukan itu." Ia berdiri, merapikan jaketnya. "Tapi mulai sekarang, kita harus lebih hati-hati. Siapa pun yang tahu rencana kalian malam ini, dia ada di lingkaran kecil. Sangat kecil."

Laras menghitung dalam kepalanya. Mira. Vania. Reza. Dirinya sendiri. Dan Jaksa Hendarto yang kini berdiri di depannya.

Dan, jauh di dasar pikirannya, sebuah nama yang belum berani ia sebut.

---

Pukul lima pagi, langit di balik jendela lorong mulai memucat.

Reza tiba dengan langkah cepat, rambut berantakan dan perban di pelipisnya sudah ganti baru. Ia masih mengenakan kaus yang sama dengan semalam, kini kusut dan bernoda. Matanya mencari-cari sampai menemukan Laras, lalu berhenti.

"Mbak."

Laras berdiri. Untuk sesaat mereka hanya saling menatap, dua orang yang dipertemukan oleh pengkhianatan dan kini terikat oleh sesuatu yang lebih sulit diberi nama.

"Kenzo?" tanya Laras lebih dulu.

"Aman. Tidur di kamar ibu Mbak. Beliau baik sekali. Memasak bubur untuk Kenzo jam dua pagi." Ada senyum kecil yang letih di bibir Reza. "Vania menemaninya. Dia nggak mau tidur."

Laras mengangguk, dan seluruh ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Terima kasih, Mas."

"Dimas?"

"Selamat. Atau akan selamat."

Reza menghela napas lega, seolah kabar itu juga miliknya. Ia ragu sejenak, lalu duduk di sebelah Laras, dan untuk beberapa menit mereka hanya diam, bahu hampir bersentuhan, memandangi pintu ruang operasi yang belum juga terbuka.

"Mas," kata Laras pelan. "Wasiat itu hilang."

Reza menoleh. "Hilang?"

"Map berisi semua dokumen dan rekaman diambil seseorang di dermaga. Bukan Rudi. Kami belum tahu siapa."

Reza menunduk, memandangi tangannya sendiri. Lama ia tak bicara. Ketika akhirnya mengangkat wajah, ekspresinya berbeda dari yang Laras duga. Bukan putus asa. Bukan marah.

"Mbak tahu," katanya pelan, "waktu saya baca surat itu semalam, hal pertama yang saya rasakan bukan perusahaan atau uang atau warisan."

"Apa?"

"Saya merasa saya punya orang tua." Suaranya bergetar sedikit. "Selama sebelas tahun saya mengira mereka cuma dua orang yang pergi tanpa meninggalkan apa-apa. Tapi malam itu, saya sadar mereka memikirkan saya sampai akhir. Mereka menulis surat itu untuk saya." Ia tersenyum getir. "Itu sudah lebih dari cukup. Kalau kertasnya hilang, ingatannya nggak bisa dicuri."

Laras menatapnya, dan ada sesuatu yang menghangat di dadanya, sesuatu yang bukan dendam dan bukan rasa bersalah.

"Mas Reza orang yang baik," bisiknya.

"Mbak juga." Reza menatapnya sebentar, lalu cepat-cepat memalingkan wajah, seolah menyadari sesuatu yang belum waktunya.

---

Menjelang pukul enam, seorang perawat jaga menghampiri Laras dengan langkah ragu.

"Bu Laras? Maaf mengganggu. Ada titipan untuk Ibu dari resepsionis bawah. Katanya diantar seseorang tadi subuh, tapi orangnya langsung pergi."

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat polos, tidak tebal, tanpa nama pengirim. Hanya satu tulisan di bagian depan, dengan tinta hitam dan huruf yang rapi dan miring: *Untuk Ibu Laras. Pribadi.*

Hendarto, yang berdiri tak jauh, langsung mendekat. "Jangan dibuka dulu. Biar kami periksa."

"Pak, kalau ada bahayanya, orang itu sudah menyerang saya di dermaga." Laras mengambil amplop itu dengan hati-hati. Terasa ringan, tipis, nyaris tak ada isinya. "Tapi baik. Silakan periksa."

Petugas forensik membuka amplop itu dengan sarung tangan dan pinset. Tak ada bahan berbahaya. Hanya selembar dokumen tua yang dilipat tiga, dan secarik kertas kecil.

Laras mengenali dokumen itu sebelum sempat dibuka sepenuhnya, dari warna kuning pudarnya, dari kop notaris di sudut atas.

Surat wasiat Hendra Wijaya. Asli. Utuh.

Reza berdiri tiba-tiba, matanya melebar. "Itu..."

Hendarto memeriksa lembar itu dengan cermat, membaliknya, menyorotkan senter kecil ke stempel dan tanda tangan. "Asli," gumamnya. "Tapi hanya ini. Rekaman dan berkas keuangan tidak ada."

Laras meraih secarik kertas kecil di dalam amplop. Tulisan tangan yang sama, miring dan rapi:

*"Wasiat ini untuk Reza. Dia berhak menerimanya. Sisanya kusimpan sebagai jaminan, sampai aku yakin kalian layak dipercaya. Jangan cari aku. Aku akan menemukan kalian lebih dulu. — T."*

Laras membaca pesan itu dua kali. Lalu ia menyerahkannya pada Hendarto tanpa kata.

"T," ulang Hendarto, alisnya berkerut. "Saya tidak kenal siapa pun dengan inisial itu di kasus ini."

"Saya juga," bisik Mira.

Reza memegang wasiat itu dengan kedua tangan, seperti memegang sesuatu yang bisa pecah. Ia tidak bicara, hanya memandangnya, lalu mengusap pelan satu sudut kertas tua itu dengan ibu jari.

Laras memandangi tulisan *T* itu lama sekali. Seorang penolong yang sekaligus penyandera. Seorang sekutu yang tak mau menunjukkan wajah. Siapa pun dia, ia tahu tentang gudang, tentang dermaga, tentang wasiat, dan ia cukup dekat untuk mengamati mereka tanpa pernah terlihat.

*Dekat denganmu. Dekat sekali.*

Di belakang mereka, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas masker, wajahnya lelah tapi tenang.

"Keluarga Pak Dimas?"

Laras berbalik. Jantungnya berhenti sesaat, lalu berdetak lagi, keras dan cepat.

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!