Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zhang Tian
Langit ibu kota Kekaisaran Pedang Langit tampak cerah, namun hiruk-pikuk jalanan membuat suasana terasa panas dan sesak.
Natalia berjalan perlahan bersama Wulan, matanya menyapu setiap sudut jalan seolah sedang mencari sesuatu. Wulan mengikuti di belakang dengan sikap waspada, sesekali melirik orang-orang di sekitar.
Keramaian pasar dipenuhi pedagang dan pembeli yang saling tawar-menawar. Teriakan penjual bercampur dengan suara langkah kaki dan derap kereta kuda yang berlalu lalang. Natalia tetap berjalan tenang, meski pikirannya jelas sibuk.
Tiba-tiba, dua pria berjalan melewati mereka sambil berbicara cukup keras, seolah sengaja ingin didengar. “Aduh! Harus ke mana lagi kita mencari kediaman untuk tinggal?” keluh salah satu dari mereka dengan nada putus asa.
“Iya, di kota sebesar ini saja sulit sekali mendapatkan tempat berteduh,” sahut yang lain, menghela napas panjang.
Langkah Natalia terhenti seketika. Ia menoleh sedikit, lalu tanpa ragu melangkah mendekati kedua pria itu.
“Permisi,” ucapnya sopan namun tegas. “Maaf jika saya menyela, apakah Anda benar-benar sedang mencari kediaman?”
Kedua pria itu berhenti dan berbalik. Saat wajah mereka terlihat jelas, mata Natalia langsung melebar karena terkejut.
“Kau … pria yang berada di hutan larangan itu?” katanya tanpa sadar.
Pria tampan di hadapannya tersenyum tipis, lalu mengangguk seolah baru menyadari. “Ah, nona. Kita bertemu lagi rupanya.”
Nada suaranya terdengar terkejut juga, namun matanya menatap Natalia dengan penuh arti.
Natalia masih menatapnya beberapa detik sebelum kembali fokus. “Jadi kau benar-benar sedang mencari kediaman?”
Pria itu mengangguk tanpa ragu. “Benar.”
Debu jalanan tampak menempel pada jubah kasar yang dikenakannya, namun gerak-geriknya tetap tenang dan berwibawa. Di sampingnya, seorang pria lain dengan pakaian rami kumal berdiri sambil memanggul dua keranjang anyaman.
“Nona, perkenalkan,” ujar pria tampan itu dengan suara rendah. “Nama saya Zhang Tian.”
Ia menunjuk pria di sampingnya. “Dan ini saudara laki-laki saya, A-Lin. Kami hanyalah Xiao Fan, (pedagang keliling) dari wilayah Utara yang datang untuk mengadu nasib. Makanya kemarin, kami hampir dirampok.”
A-Lin hanya mengangguk kaku, wajahnya sedikit tegang. Ia tampak berusaha keras menahan sesuatu, seperti kebiasaan seorang prajurit yang tidak sengaja terbawa.
Natalia memperhatikan mereka sejenak, matanya tajam menilai. Namun akhirnya ia menghela napas ringan.
“Udara di sini terlalu panas untuk bicara,” katanya singkat. “Mari, ada kedai teh di ujung jalan. Kita bicara di sana.”
Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk di dalam kedai teh yang ramai. Aroma teh melati memenuhi ruangan, bercampur dengan suara percakapan para pengunjung.
Natalia menyesap tehnya perlahan sebelum akhirnya membuka pembicaraan. Wulan berdiri di belakangnya, tetap siaga mengamati setiap gerakan kedua pria itu.
“Aku mendengar kau sedang mencari tempat bernaung, Tuan Zhang,” ujar Natalia langsung ke inti. “Kebetulan, aku berniat menjual kediaman pribadiku.”
Zhang Tian meletakkan cangkir tehnya dengan tenang. Wajahnya berubah sedikit prihatin, meski terlihat dibuat-buat.
“Dijual?” katanya pelan. “Sungguh disayangkan jika seorang nona terhormat harus melepas kediamannya.”
Ia menggeleng kecil, lalu menatap Natalia. “Di zaman seperti ini, bahkan pedagang kecil seperti kami pun kesulitan mencari tempat tinggal.”
Zhang Tian kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit. “Jika boleh … apakah harganya bisa sedikit diringankan agar kami bisa bernapas lega? Kami ini orang miskin.”
Natalia mengangguk tanpa ragu. “Tentu. Aku tidak akan memberatkanmu.” Ia menatap langsung ke mata Zhang Tian. “Katakan saja berapa tawaranmu.”
Zhang Tian terdiam sejenak, seolah berpikir. Lalu dengan nada santai yang terlalu ringan untuk sebuah transaksi besar, ia membuka suara.
“Bagaimana kalau tiga ribu tael emas?” katanya datar. “Apakah itu cukup murah untukmu?”
“Pffft! Uhuk-uhuk!”
A-Lin yang baru saja meneguk teh langsung tersedak hebat. Ia batuk berkali-kali, wajahnya memerah saat ia memberikan kode mata yang panik kepada pangerannya seolah berteriak, 'Yang Mulia, kita sedang menyamar jadi orang miskin! Mana ada pedagang keliling punya emas sebanyak itu!
Namun Zhang Tian tetap tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.
Di sisi lain meja, Natalia membeku. Tangannya yang memegang cangkir sedikit gemetar, sementara Wulan di belakangnya terbelalak lebar.
“Tiga ribu … tael emas?” ulang Natalia perlahan.
Ia menatap tajam ke arah Zhang Tian. “Tuan Zhang … bukankah kau bilang kau hanya pedagang keliling?”
A-Lin hampir melompat dari kursinya, wajahnya memucat pasi. Ia segera meletakkan cangkir tehnya dengan kasar, lalu tertawa hambar yang terdengar sangat dipaksakan untuk menutupi kepanikan.
”T–tiga ribu tael?! Ha! Ha! Ha! Ha! Maafkan kakak saya, Nona Natalia. Dia pasti sedang mengigau karena terlalu lama terpapar terik matahari di jalanan!” A-Lin menyela dengan cepat, suaranya naik satu oktav.
Ia menyikut pinggang Zhang Tian dengan cukup keras, sementara matanya melotot memberi kode ’Sadarlah, Yang Mulia!’.
Tapi, Zhang Tian justru mengernyit bingung. Baginya, tiga ribu tael emas adalah harga ”sampah” yang biasanya ia gunakan hanya untuk membeli kuda pacuan atau memberi tip pada pelayan istana.
”Mengapa kau tersedak, A-Lin? Bukankah itu harga yang sangat murah untuk sebuah kediaman?” tanya Zhang Tian dengan wajah polosnya dan menatap tajam. ”Aku bahkan merasa tidak enak hati menawar serendah itu pada Nona Natalia.”
Wulan, pelayan Natalia, sampai menjatuhkan kipas yang dipegangnya. ”Murah?! Tuan, dengan uang sebanyak itu, Anda bisa membeli sepuluh rumah sebesar milik Nona kami!”
Melihat kecurigaan yang makin besar di mata Natalia, A-Lin segera memutar otak. Ia membungkuk dalam-dalam ke arah Natalia, lalu berbisik dengan nada rahasia yang dibuat-buat sedih.
”Mohon maafkan dia, Nona. Kakak saya ini ... sebenarnya agak ’terganggu’ ingatannya sejak keluarga kami bangkrut,” ucap A-Lin sambil menunjuk kepalanya sendiri.
”Dulu keluarga kami memang pedagang besar di perbatasan, tapi sekarang harta kami hanya tinggal sisa-sisa perak yang kami kumpulkan dengan susah payah. Dia masih sering mengira satu keping perak adalah seribu tael emas karena trauma kemiskinan ini. Benar kan, Kak?”
A-Lin memberikan kode, memaksa sang pangeran untuk diam.
Natalia masih menatap Zhang Tian dengan ragu. ”Jadi ... kau tidak benar-benar memiliki tiga ribu tael emas?”
Mendengar pengakuan A-Lin tentang ”gangguan ingatan” kakaknya akibat jatuh miskin, gurat kecurigaan di wajah Natalia perlahan luntur, berganti dengan rasa iba yang mendalam. Ia menghela napas panjang, menatap Zhang Tian yang masih tampak bingung dengan tatapan kasihan.
”Ternyata begitu, malang sekali nasib kalian,” ucap Natalia lembut. Ia beralih menatap A-Lin yang masih berkeringat dingin. ”Kalau begitu, beli saja semampu yang kalian punya. Berapa pun perak yang kalian kumpulkan dengan susah payah itu, aku akan menerimanya.”
Wulan sempat ingin memprotes, namun Natalia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pelayannya diam. ”Sejujurnya, aku tidak terlalu butuh uang banyak. Aku hanya ingin segera menjual rumah itu agar bisa mengusir para ’benalu’ yang menumpang di sana. Jika rumah itu sudah berpindah tangan secara sah, mereka tidak punya alasan lagi untuk tinggal.”
A-Lin nyaris merosot dari kursinya karena rasa lega yang luar biasa. ”Terima kasih, Nona! Benar-benar kemurahan hati yang luar biasa! Kami akan memberikan sepuluh ribu ... eh, sepuluh keping perak? Apakah itu cukup?”
A-Lin memgdipkan mata untuk memberi kode agar sang pangeran tutup mulut. Namun, Zhang Tian justru mengerutkan kening lebih dalam. Di dalam kepalanya, ia masih menghitung.
Sepuluh keping perak? Itu bahkan tidak cukup untuk membeli sepatu kudaku, batin Zhang Tian heran.
Ia hampir saja membuka mulut untuk memprotes harga yang menurutnya ”menghina” rumah Natalia itu, namun mata tangan kanannya itu semakin melotot seolah ingin keluar, membuatnya hanya bisa terdiam dengan wajah masam.
”Sepuluh keping perak sudah lebih dari cukup,” sahut Natalia dengan senyum tipis yang tulus.
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah