NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:423.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

“Jadi, menurut kamu aku yang salah, Mas?” tanya Ningsih dengan senyum getir yang dipaksakan.

“Aku tidak bilang kamu salah. Aku hanya bilang telingamu yang bermasalah,” sahut Hendra tak acuh.

“Tapi dari tadi semua ucapanmu itu menyudutkan dan menyalahkan ku, Mas!”

“Itu karena aku capek! Aku pulang ke rumah ini ingin istirahat, bukan malah disuguhi drama kecemburuan buta mu yang tidak bermutu ini!”

Hendra berdecak kesal, melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh.

“Kamu tahu tidak, seberapa banyak urusan bisnis penting yang harus aku tangani dan aku selesaikan setiap harinya di luar sana?”

Ningsih memilih diam, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.

“Tidak tahu, kan? Kamu tidak pernah tahu! Karena kerjaan mu setiap hari cuma duduk manis di rumah mewah ini, menghabiskan uangku, dan memikirkan hal-hal nggak berguna!”

Ningsih menatap suaminya dengan pandangan yang perlahan berubah menjadi asing. Pria di depannya ini benar-benar sudah berubah total.

Cara Hendra berbicara dan memandangnya dengan tatapan merendahkan, seolah-olah Ningsih kini berada jauh di lapisan bawah derajatnya.

Padahal, tak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu, seberapa banyak malam yang sudah dihabiskan Ningsih demi menemani Hendra terjaga, membantu pria itu menyusun proposal bisnis dari nol saat mereka masih tinggal di rumah kontrakan sempit.

Tak ada yang tahu siapa sosok di balik layar yang mencarikan jaringan investor pertama saat perusahaan rintisan Hendra hampir hancur dan bangkrut tiga tahun lalu.

Semua itu dilakukan Ningsih secara diam-diam dari balik meja rumah mereka. Tanpa pernah meminta pujian dari bibir Hendra.

Namun kini, setelah berada di puncak kejayaan, Hendra seolah-olah mengalami amnesia dan melupakan semua tetesan keringat istrinya.

“Siapa perempuan itu, Mas?”

“Masih membahasnya?!”

“Katakan!”

“Dia itu sekretarisku di kantor. Namanya Arumi.”

“Sekretaris?” Ningsih menaikkan sebelah alisnya. “Sekretaris mana yang memegang penuh atas ponsel pribadimu, Mas?”

“Memangnya itu penting buat kamu? Itu urusan operasional kantorku!”

“Kalau dia memang hanya seorang sekretaris biasa, kenapa dia memanggilmu dengan sebutan sayang di luar jam kantor? Dan kenapa—”

“Ningsih! Cukup!” potong Hendra. “Kamu benar-benar sudah tidak punya pekerjaan lain ya selain mencurigai suamimu sendiri yang sudah lelah bekerja mencari nafkah?! Kamu mau jadi istri durhaka?!” bentak Hendra dengan urat-urat leher yang menonjol.

Ningsih sampai kehilangan kata-kata, lidahnya mendadak kelu melihat bagaimana suaminya menggunakan tameng mencari nafkah untuk menutupi kebusukannya.

“Aku tegaskan sekali lagi padamu, Ningsih. Arumi itu adalah sekretaris pribadiku. Titik!”

Perdebatan di antara mereka malam itu terasa seperti sedang menabrak tembok beton yang tebal dan tinggi.

Apapun fakta dan argumen yang dilontarkan oleh Ningsih, Hendra akan selalu menemukan celah untuk memutarbalikkannya dengan lihai, menggunakan posisinya sebagai kepala rumah tangga.

“Mas, kamu sudah berubah banyak ya,” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Ningsih.

“Berubah bagaimana maksudmu?”

“Dulu kamu tidak pernah seperti ini. Dulu kamu selalu jujur dan menempatkan aku dan Luna di atas segalanya. Kamu bahkan tidak pernah berbicara kasar padaku,” ucap Ningsih, menatap wajah suaminya yang kini terasa seperti orang asing bagi dirinya.

Hendra menyunggingkan senyum sombongnya, ia menegakkan tubuhnya dengan angkuh.

“Tentu saja dulu aku tidak seperti ini. Karena dulu aku belum menjadi orang yang sukses dan sekaya sekarang!”

Hendra melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa bangga yang luar biasa atas pencapaian dirinya sendiri.

"Dulu, aku masih merintis dari bawah. Masih menjadi orang susah yang harus mengalah pada keadaan. Tapi Sekarang aku memimpin sebuah perusahaan besar yang disegani di kota ini! Posisi dan status sosialku sudah berubah, Ningsih! Jadi, aku tidak bisa terus-menerus hidup dan berpikir kerdil seperti orang biasa yang tidak punya visi ke depan!”

“Tapi Luna menangis semalaman menunggumu pulang, Mas. Dia menunggumu karena janji kelingkingmu sendiri,” ucap Ningsih, suaranya tercekat di tenggorokan.

“Itu semua terjadi karena kamu yang terlalu memanjakannya secara berlebihan!” bentak Hendra tak acuh.

Ningsih membelalakkan matanya sempurna, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Aku memanjakannya?”

“Iya! Anak itu sudah berusia enam tahun, dia harus mulai belajar banyak hal tentang kehidupan yang sebenarnya!” sahut Hendra kejam.

“Belajar apa, Mas? Dia hanya ingin merayakan ulang tahunnya bersama ayahnya sendiri!”

“Belajar bahwa dunia ini tidak akan pernah berputar hanya di sekeliling dirinya saja! Dia harus tahu kalau ayahnya ini adalah orang penting yang punya kesibukan besar di luar sana, bukan cuma pengangguran yang bisa dia suruh pulang kapan saja hanya untuk meniup lilin kue!” ucap Hendra dengan nada ketus yang teramat menusuk.

Ningsih benar-benar sudah tidak mampu lagi mengenali sosok pria yang kini berdiri tegap di hadapannya ini.

Hendra bukan lagi pria penyayang yang dulu menangis haru sampai meneteskan air mata saat pertama kali menggendong putri mungil mereka di ruang bersalin. Pria yang berdiri di hadapannya malam ini hanyalah sesosok makhluk asing yang sedang mabuk kepayang oleh harta, takhta, dan kesuksesan semu.

“Sudahlah, aku capek bicara denganmu. Sama sekali nggak menambah wawasan malah membuat pikiranku jadi kacau. Aku mau tidur di kamar sebelah saja,” ucap Hendra ketus, lalu berbalik dan menyambar jas kerjanya yang tergantung di dinding.

“Tunggu dulu, Mas,” panggil Ningsih.

Hendra menghentikan langkah kakinya tepat di ambang pintu kamar, menoleh dengan wajah yang dipenuhi rasa bosan yang teramat sangat.

“Apa lagi, Ningsih? Aku mau istirahat, besok pagi-pagi sekali aku ada rapat penting dengan Arumi dan investor.”

Ningsih berjalan perlahan mendekati suaminya, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Mas, kalau suatu hari nanti aku memutuskan untuk benar-benar berhenti mendukungmu dari belakang, apa kamu yakin kamu masih bisa tetap berdiri tegak di tempatmu yang sukses sekarang ini?”

Hendra tertawa dengan sangat keras, seolah baru saja mendengar sebuah lelucon paling konyol dan paling lucu di seluruh dunia.

“Jangan bercanda kamu, Ningsih! Pertanyaanmu itu sangat menggelikan,” ucap Hendra di sela-sela tawanya yang meremehkan.

“Aku sedang tidak bercanda, Mas Hendra. Aku sedang bertanya dengan sangat serius kepadamu.”

“Ningsih, Ningsih. Kamu ini benar-benar terlalu melebih-lebihkan kapasitas dirimu sendiri sebagai seorang wanita rumah tangga. Kamu pikir kamu siapa, hah?”

Deg!

Hati Ningsih kembali dihantam rasa sakit yang luar biasa, namun kali ini ia tidak membiarkan air matanya jatuh lagi.

“Kamu pikir, semua kesuksesan, kekayaan, dan jabatan tinggi yang aku miliki di perusahaan saat ini adalah berkat bantuan dari dirimu, begitu?! Sama sekali bukan, Ningsih! Semua ini murni karena kehebatanku sendiri dan bantuan Arumi! Karena otakku, kerja kerasku, dan kemampuanku Lagipula, kamu harus tahu satu hal, tanpa adanya dirimu di hidupku pun aku ini adalah pria hebat yang akan tetap bisa sukses di mana saja! Jadi, jangan pernah merasa dirimu itu penting dalam karierku!”

Setelah melontarkan kalimat itu, Hendra langsung berbalik badan. Ia melangkah menuju kamar tamu lalu menutup pintunya dengan bantingan keras.

1
Kembarr Kembaarr
apem bosok di tawak2ne. ngono ko yoo enek seng gelem . tp seng gelem biasane podo bosok'e
Kembarr Kembaarr
lanangan nek wes diwei apem bosok lali anak bojo.
Kembarr Kembaarr
jngn terlalu bodoh ningsih. dn jngn terlalu banyak bicara buktikn kemampuanmu dn tunjukn pd laki2 gak guna itu
Kembarr Kembaarr
lepas saja ningsih laki macam itu. gak guna. dari pd stres sendiri punya suami tak tau diri
merry
ko ning msh ksh krjaan le selingkuhan mntn laki ya 🤔🤔🤔pdhl Hendra rela keluarin uang bnyk demi arumi bli tas mewah
arniya
luar biasa kak
Elina thea
semakin lama semakin menjengkelkan sich iklan2 ini...datang gak di jemput tapi pulang harus di antar....ngeselin bangettt,lagi enak2 baca juga....
Senja: Banyk iklan skrg ya kak? kok tumben yah ntoon iklan bejibun, coba di pengaturan hapenya
total 1 replies
Lesmana
makan noh yeni kelakuan lu tuh.. elu nolak cucu dr hendra , diksh dobel ama Tuhan..skalian keturunan elu putus sampai di nawang aja..😄😄😄
Lesmana
sadis gila nih nenek lampir😡😡 hendra cacat jg gara2 nolongin nawang anak elu sndr.. astagaa nyawa gak berharga amat yah dimata nih nenek lampir😭😭
Setiawan
loh td kan udah liat2an sama ningsih & satria..kog skrng nanya mana ningsih ??🙄🙄
Dewa Nara
baru mampir Thor
Lesmana
kirain rmh mamanya pun pny satria , secara satria kan prnh ngaku sama ningsih kalo dulu msh jaman sekolah , satria msh susah ekonominya..
Lesmana
mending janda ketauan gak perawan skalian , hilang perawan nya jg jelas.. drpd gadis tp gak perawan , gak jelas siapa yg merawanin😄😄😄
Setiawan
hendra keliatan nya sdh insyaf.. tp kog aneh yah , wkt mertua nya yudha serangan jantung , katanya krn dgr alasan hendra yg ribut dgn yeni , mamanya nawang.. hendra suruh yeni jualan rmh warisan kakek nawang utk nutupin hutang hendra.. kog gak dibahas lg yah wkt yudha sembuh ?? bukannya hendra cm korupsi 10M di ktr yudha doang yah ?? masa sih hendra ada hutang juga diluaran ?? 🙄🙄🙄
Setiawan
nih si nawang yah.. dulu hendra msh calon suami aja , dia cemburu sama ningsih , gak mau lelaki miliknya diganggu cwe lain.. eh eh eh skrng dia sndr yg gangguin lelaki org.. emang wataknya ulet bulu nih cwe.. emak nya aja yg mantan ulet bulu jd ikut malu liat kelakuan anaknya😄😄😄😄
Lesmana
author sadis🤣🤣🤣 udah ky ditampol bulak balik , pake sendal jepit pula🤣🤣🤣
Lesmana
kan kan si bloon🤣🤣 jelas2 lg hamil , jatuh pula😄😄😄
Lesmana
krn ningsih mau terima satria walopun dlm keadaan lumpuh.. nah elu ?? yg ada menghina satria cacat.. ente sombong pisan euyy 🤣🤣
Lesmana
elu emang sial , hendra...dimata elu , mantan slalu dah lbh indah.. pdhl arumi cm OB , msh aja di blng lbh modis , konslet emang otak si hendra kynya nih🤣🤣🤣
Lesmana
perasaan td satria ksh nya bunga matahari , gak sebut ada bunga mawar nya🙄🙄
Senja: blm kurevisi 🤣🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!