Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Tak Pernah Benar - Benar Pergi
Kami pikir semuanya sudah selesai. Bahwa setelah pintu istana itu tertutup di belakang kami, perjalanan terberat sudah berakhir. Ternyata, baru saja dimulai.
Langkah kami cepat melewati lorong batu yang sepi. Orion menggenggam tanganku erat, jemarinya sedikit berkeringat, napasnya lebih teratur dari sebelumnya tapi matanya tetap waspada, meneliti setiap sudut gelap di sepanjang jalan.
"Jangan santai dulu," bisiknya, suaranya rendah di telingaku. "Ayahku mungkin sudah memberi izin, tapi bukan berarti semua orang setuju."
Baru saja kalimat itu selesai terucap, cahaya di sepanjang lorong tiba-tiba padam. Total gelap gulita.
Tanganku dipererat seketika. "Orion?"
"Aku di sini," jawabnya segera, suaranya tenang meski aku tahu dia siap siaga. "Jangan bergerak. Tetap di belakangku."
Dari ujung lorong terdengar suara langkah kaki — lambat, berat, dan bergema di mana-mana. Bukan satu orang. Banyak.
"Kalian pikir Raja benar-benar membiarkan kalian pergi begitu saja?" suara itu memecah keheningan, tajam dan penuh kebencian. Seorang pria muncul dari kegelapan, diikuti selusin sosok yang berdiri di belakangnya. Matanya menyala merah samar, senyumnya menyeringai licik. Namanya aku pernah dengar — Jendral Kael, tangan kanan Valdris yang paling fanatik. Dia tidak percaya pada perdamaian. Baginya, cahaya adalah racun yang harus dimusnahkan.
Orion melangkah maju sedikit, menempatkan dirinya di antara aku dan mereka. "Menyingkir, Kael. Ayahku sudah memberi kami izin keluar. Kalau kau berani menghalangi, kau tahu konsekuensinya."
Kael tertawa, suara yang terdengar kasar dan tidak menyenangkan. "Raja sedang lemah, Pangeran. Kebaikan bukan sifat seorang penguasa. Dan aku tidak akan membiarkan racun dari dunia luar mencemari tanah kita. Kau boleh pergi, tapi dia..." Dia menunjuk ke arahku dengan dagunya. "...dia harus tetap di sini. Sebagai jaminan. Atau sebagai kurban. Siapa yang tahu?"
"Dia tidak akan menyentuhmu," bisik Orion kepadaku, suaranya teguh tapi aku bisa merasakan ketegangan di tubuhnya. Dia berbalik sedikit, tangannya yang bebas menyentuh pipiku, matanya menatapku dalam-dalam seolah ingin mengingat setiap inci wajahku. "Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan jubahku. Tutup matamu kalau kau merasa takut. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Bahkan kalau harus aku pertaruhkan nyawaku sendiri."
"Kau tidak perlu menghadapi mereka sendirian," kataku, suaraku bergetar tapi aku tetap berdiri tegak di sampingnya. "Kita hadapi ini berdua. Selalu berdua, kan?"
Dia tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh kasih sayang sekaligus kesedihan yang dalam. "Aku tahu. Tapi kali ini... tolong dengarkan aku. Percayalah padaku. Seperti yang kau selalu lakukan."
Sebelum aku sempat menjawab, Kael melambaikan tangan. Sosok-sosok di belakangnya melompat maju. Tapi bukan dengan pedang — mereka melemparkan jaring tipis yang memantulkan cahaya redup, terbuat dari bayangan padat yang membuat siapa pun yang tersentuhnya merasa lemas tak berdaya.
Orion melindungiku, menangkis serangan pertama dengan kekuatannya yang memancar dari dalam dirinya — cahaya keemasan yang menyilaukan, membuat mereka mundur terdesak. Tapi mereka terlalu banyak. Dia tidak bisa menahan mereka selamanya.
"Lari, Aruna! Lewat pintu samping!" serunya saat salah satu dari mereka berhasil menusukkan senjatanya ke lengan Orion. Dia meringis, tapi tidak berhenti berdiri di depanku.
"Aku tidak akan pergi tanpamu!" teriakku, hatiku berdebar kencang melihat darah menetes dari lengannya.
Dia menoleh padaku, matanya terlihat sedih namun penuh tekad. "Kau harus pergi. Kalau tidak, pengorbanan kita sia-sia. Aku akan menyusulmu. Aku janji. Sekarang pergilah!"
Dia mendorongku pelan ke arah celah kecil di dinding yang tadi tidak kusadari ada di sana. Sebelum aku sempat menolak, dia berbalik dan berdiri tegak, memancarkan cahaya yang begitu kuat sampai aku terpental mundur sedikit, dan pintu batu di belakangku tertutup rapat — memisahkan kami.
"Orion!" Aku memukul pintu itu, berusaha membukanya, tapi tidak berguna. Hanya suaranya yang terdengar samar dari balik dinding tebal itu.
"Maafkan aku... tunggu aku di tempat kita pertama kali bertemu di perbatasan. Aku akan datang. Tidak peduli apa pun yang terjadi."
Aku terhentak. Pintu itu tertutup rapat, dan di sisi lain... suara pertarungan perlahan meredup. Hening yang menakutkan menyusul.
Aku tidak tahu berapa lama aku berlari. Aku hanya tahu kakiku terus melangkah, meski hatiku terasa seperti dihancurkan berkeping-keping. Setiap langkah terasa berat, seolah ada bagian dari diriku yang tertinggal di sana.
Aku sampai di perbatasan — tempat di mana gerbang antara dua dunia berdiri. Tempat di mana aku pertama kali melihatnya. Sekarang aku berdiri sendirian di sana, menunggu. Menghitung detik yang terasa seperti tahun.
Hari berganti malam. Bintang-bintang di langit dunia bayangan bersinar terang, tapi tidak ada sosok yang kucari yang muncul di cakrawala.
"Kau berjanji..." bisikku pada angin yang berhembus dingin. "Kau bilang kau akan datang."
Malam semakin larut. Aku mulai takut. Aku mulai berpikir hal-hal terburuk yang bisa terjadi. Bahwa mungkin dia tidak akan pernah datang lagi. Bahwa pintu itu adalah yang terakhir kalinya aku melihatnya.
Saat aku hampir menyerah, saat air mata mulai menetes di pipiku yang dingin, ada bayangan yang bergerak di kejauhan. Tidak berjalan dengan gagah. Melainkan tertatih-tatih.
Aku berlari mendekat, jantungku berpacu kencang. Saat dia masuk ke dalam cahaya, aku nyaris tidak mengenalinya. Dia berjalan dengan susah payah, satu lengannya terbalut kain yang basah oleh darah, wajahnya pucat pasi, dan kakinya terhuyung-huyung seolah setiap langkah menyakitkan.
Tapi saat dia melihatku, senyumnya muncul — senyum yang paling tulus dan lega yang pernah kulihat.
"Maaf..." suaranya parau, hampir tak terdengar. "Aku terlambat... mereka tidak membiarkanku pergi dengan mudah."
Dia jatuh berlutut saat aku sampai di depannya. Aku memeluknya erat, membiarkan dia bersandar di tubuhku yang gemetar.
"Kau gila! Kau benar-benar gila!" isakku, memeluk wajahnya dengan kedua tanganku. "Kau pikir aku bisa hidup tanpamu? Jangan pernah lakukan itu lagi. Jangan pernah pisahkan diri dariku lagi, mengerti?"
Dia tersenyum lemah, tangannya yang gemerlap menyentuh air mata di pipiku. "Aku tidak akan pernah. Aku hanya... tidak sanggup melihatmu terluka. Kalau harus memilih antara diriku atau kau... aku akan selalu memilihmu. Bahkan kalau itu menyakitkan bagiku."
Dia menatapku dalam-dalam, matanya berkilauan di bawah cahaya bintang.
"Dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Saat aku terjebak di sana... aku menyadari sesuatu. Bahwa mencintaimu bukan sekadar bagian dari hidupku. Kau adalah alasan aku bernapas. Alasan aku percaya bahwa masa depan itu indah, meski dunia di sekelilingku gelap gulita."
Dia mendekatkan wajahnya, keningnya menyentuh keningku, napasnya hangat di wajahku.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Aruna. Bahkan kalau aku yang memintamu. Kadang aku bodoh. Kadang aku takut dan ingin kau pergi agar kau aman. Tapi tolong... tetaplah di sini. Di hatiku. Karena di mana pun kau berada, di situlah rumahku."
"Selamanya," bisikku, menyatukan bibirku ke bibirnya — lembut, penuh rindu, dan penuh janji. Ciuman yang bukan sekadar tentang cinta, tapi tentang kesetiaan yang tak tergoyahkan. Bahwa apa pun yang terjadi di luar sana, kita punya satu sama lain. Dan itu cukup.
Tapi di kejauhan, di balik bayangan pepohonan yang gelap, sepasang mata merah menyala mengawasi dari kejauhan. Mereka tidak bergerak, tidak bersuara. Hanya menunggu.
Karena cerita ini belum selesai. Dan bahaya itu... baru saja dimulai.