NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 021 - Kolam Darah Tiga Puluh Enam Tiang

Di dalam keheningan gua yang dingin membeku, bau anyir tembaga karat bercampur aroma bangkai lama terasa begitu menyengat hingga membuat pangkal lidah Gu Yuan terasa pahit dan asam. Udara yang terperangkap di dalam ruangan tertutup ini terasa sangat berat, dingin, dan lembap, seolah setiap tarikan napas memaksanya menghirup uap darah busuk yang telah mengendap selama puluhan tahun di dasar perut tebing.

Gu Yuan merogoh saku jubah abu-abunya, mengeluarkan sebuah pemantik batu api kecil dan sebotol minyak tanah murahan yang biasa dibawa para pekerja tambang barak luar saat memasuki terowongan gelap. Dengan beberapa gesekan hati-hati pada sepotong sumbu kain kering, nyala api kecil berwarna jingga kekuningan mulai menyala, menerangi kegelapan pekat di sekelilingnya sejauh beberapa depa.

Cahaya temaram lentera kecil itu seketika menyingkap pemandangan mengerikan di dalam aula gua raksasa yang tersembunyi di balik air terjun.

Ruangan bawah tanah itu memiliki langit-langit setinggi tiga depa yang dipenuhi gantungan stalaktit batu kapur runcing berwarna merah kehitaman, menyerupai taring-taring binatang buas raksasa yang siap menelan siapa pun yang masuk. Tepat di tengah aula terhampar sebuah kolam bundar selebar sepuluh langkah yang digali langsung dari batuan cadas dasar gua. Kolam itu berisi cairan merah pekat yang berputar lambat, dialiri oleh jaringan pipa-pipa batu purba yang menggantung dari langit-langit gua seperti saluran urat darah raksasa yang menembus lapisan batu tebing.

Melingkari kolam darah tersebut, berdiri tegak tiga puluh enam tiang batu hitam setebal dua pelukan orang dewasa. Permukaan setiap tiang dipahat dari batu obsidian keras yang dipenuhi ukiran rune kuno bermotif ular melingkar dan parit-parit kapiler halus. Parit-parit kapiler itu terhubung langsung ke dasar kolam darah, membentuk susunan formasi melingkar yang dirancang untuk menyedot, menyaring, dan memusatkan energi darah murni ke arah singgasana batu berukir tengkorak di ujung utara aula.

Inilah Formasi Penguras Darah Pembalik Meridian—formasi sesat warisan sekte kuno yang digunakan oleh Tetua Mo Cheng untuk memperpanjang usia fana dan menekan pembusukan Dantian-nya yang digerogoti racun Korosi Tulang.

Gu Yuan melangkah perlahan mengelilingi bibir kolam darah, menjaga langkah kakinya tetap ringan di atas lantai marmer hitam yang dingin dan licin oleh lumut darah kering. Dari lipatan sabuk pinggangnya, ia menarik keluar pelat perunggu segi delapan bertatahkan batu giok merah darah. Sambil mengangkat lentera minyak dengan tangan kanan, matanya yang tajam mulai mencocokkan tiga puluh enam titik simpul spiritual pada pelat perunggu dengan posisi fisik tiang-tiang batu obsidian di sekelilingnya.

Setiap tiang memiliki nomor urut rajahan yang dimulai dari arah timur mengikuti perputaran jarum jam.

Tiang pertama hingga keenam berfungsi sebagai pasak penyerap darah awal, dirancang untuk menyedot cairan merah dari tubuh bejana melalui pipa marmer lantai. Tiang kedelapan hingga kesebelas berfungsi sebagai penyaring racun kasar dari darah fana sebelum disalurkan ke pusaran utama.

Namun, begitu Gu Yuan melangkahkan kakinya mendekati tiang ketujuh di sisi timur laut kolam, lempengan cermin perunggu di balik saku jubah sebelah kirinya mendadak terasa membara panas membakar kulit.

Hawa panas logam cermin itu menyengat kulit telapak tangannya dengan denyutan yang sangat kuat dan berirama cepat. Di permukaan cermin yang menghadap tubuhnya, terpancar kilatan pendaran cahaya abu-abu perunggu samar yang menembus kain jubah abu-abunya, menerangi ukiran rune di pangkal tiang ketujuh.

Di dalam mata batin Gu Yuan, terbentang proyeksi struktur energi tak kasatmata: tiang ketujuh ini memiliki pasak batu berbentuk kepala banteng yang terhubung langsung ke saluran urat darah utama di bawah lantai marmer. Fungsinya adalah sebagai pasak pengatur aliran utama yang mengunci tekanan darah agar tidak meledak ke luar saat pusaran Qi spiritual formasi mencapai titik didih.

Gu Yuan melanjutkan langkahnya menyusuri lingkar barat kolam darah, menghitung tiang demi tiang hingga tiba di depan tiang kedua belas.

Panas cermin perunggu kembali meledak menyengat telapak tangannya, kali ini dua kali lipat lebih membakar daripada di tiang ketujuh tadi.

Tiang kedua belas berdiri tepat di samping saluran pembuangan lumpur darah kolam. Di dasar tiang ini, terpahat rajahan rune penyeimbang kutub Yin-Yang yang berfungsi sebagai sumbat penahan arus balik tenaga spiritual. Jika tiga puluh enam tiang sedang bekerja menyedot darah dan mengalirkannya ke Dantian Mo Cheng, tiang kedua belas inilah yang menahan agar gejolak racun dari tubuh sang tetua tidak berbalik menghantam kembali ke dalam rongga dadanya sendiri.

Kedua tiang ini—tiang ketujuh dan tiang kedua belas—adalah dua pilar penopang paling vital sekaligus titik paling mematikan dari seluruh rangkaian formasi altar.

Jika rajahan penyeimbang di tiang ketujuh dikikis dan pasak penahan arus balik di tiang kedua belas dirusak menggunakan garam pemadam formasi, aliran energi formasi akan tetap tampak normal dari luar saat Mo Cheng mulai merapalkan mantra ritual. Namun, begitu formasi mencapai putaran puncak dan menyedot darah dalam jumlah besar, tekanan energi yang tersumbat di tiang ketujuh akan meledak ke arah tiang kedua belas, memicu arus balik racun Korosi Tulang yang luar biasa dahsyat langsung menghantam rongga dada sang tetua seperti godam raksasa tak kasatmata.

Gu Yuan menarik napas dalam-dalam, menatap tiang ketujuh dengan pandangan mata yang dingin dan terukur. Tangan kanannya meraba saku jubah, mengeluarkan sebilah pahat besi kecil bertangkai kayu keras yang biasa ia gunakan untuk memecah batu arang di tambang barak luar.

Sabotase harus segera dimulai dari dasar tiang ketujuh sebelum pasukan di luar berhasil menembus pintu batu.

Namun, tepat saat Gu Yuan berjongkok di samping tiang batu hitam dan mengangkat pahat besinya ke atas ukiran rune, permukaan air kolam darah di depannya mendadak bergolak keras. Gelombang cairan merah berputar membentuk pusaran liar di tengah kolam, memuntahkan gelembung-gelembung udara berbau busuk yang meletup dan menyebarkan kabut beracun ke seluruh langit-langit aula gua.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!