Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Jejak Rahasia
Hujan yang mengguyur kota sejak kemarin malam kini menyisakan aroma tanah basah dan genangan air di sepanjang gang Kebon Jeruk. Di dalam kamar kontrakannya yang redup, Arya duduk bersila di atas lantai kayu yang agak dingin.
Di hadapannya tergelar tiga hal yang kini menjadi pusat dari seluruh alur kehidupannya: botol kaca berisi tutup ampul racun dari Taman Kota, buku catatan hitam berisi kronologi kematian Bambang Gunawan, dan kliping berita mengenai Nusantara Utama Group.
Pikirannya masih belum sepenuhnya tenang setelah kasus pembunuhan Rendra Prakasa. Pengkhianatan tragis yang dilakukan Siska, istri almarhum Rendra, memberikan luka emosional tersendiri bagi Arya.
Namun, keberhasilan membongkar kasus tersebut membuktikan satu hal penting bahwa penglihatan magis dari sentuhannya adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah, sebuah amanat yang harus ia emban.
"Mas Rendra sudah mendapatkan keadilannya," bisik Arya pelan seraya jemarinya mengusap sampul buku catatannya. "Sekarang tinggal Pak Bambang."
Arya mengambil ponsel tuanya, lalu membuka aplikasi perpesanan anonim yang baru saja ia unduh. Ia teringat nama jurnalis muda yang kerap menjadi rekan kerja almarhum Bambang Gunawan berdasarkan penelusuran internetnya beberapa hari lalu yaitu Dian Pertiwi.
Dian adalah seorang jurnalis muda berbakat yang dikenal berani menyuarakan kasus-kasus penyelewengan publik. Berdasarkan beberapa artikel lokal, Dian merupakan junior kesayangan Bambang di redaksi koran Suara Kota.
Jika ada satu orang di kota ini yang memegang salinan berkas investigasi Bambang sebelum ia tewas disuntik mati, orang itu pastilah Dian.
Dengan hati-hati, Arya mengetikkan pesan ke nomor kontak redaksi Dian yang ia dapatkan dari situs resmi majalah tersebut:
“Jika Anda ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada Pak Bambang Gunawan di Taman Kota, temui saya di Warung Kopi Sejahtera dekat Stasiun Lama jam sembilan malam ini. Datanglah sendirian jika Anda menghargai keselamatan Anda dan ingin kebenaran terungkap.”
Arya menarik napas panjang, lalu memencet tombol kirim. Ia tau ini adalah langkah yang sangat berisiko. Menghubungi jurnalis bisa saja memancing perhatian pihak Nusantara Utama Group yang sedang mengawasinya.
Namun, berdiri diam tanpa melakukan apa-apa hanya akan membiarkan racun konspirasi itu membunuh lebih banyak orang teladan di kota ini.
Pukul 07.30 WIB, Arya tiba di IKKJ RSUD Bina Husada. Suasana pagi itu tampak relatif tenang dibandingkan hari sebelumnya. Udara ruangan bertekanan negatif berembun samar di sekitar pintu kaca kedap udara.
Teguh sudah berada di dalam, sedang menyeduh teh hangat sambil memeriksa lembaran manifes inventaris barang medis.
"Pagi, Ya," sapa Teguh dengan senyum tipis. "Gimana tidurmu semalam? Mukamu kelihatan sedikit lebih segar dibanding kemarin-kemarin."
"Pagi, Mas Teguh. Alhamdulillah lumayan, Mas," jawab Arya seraya melangkah ke loker karyawan untuk mengenakan pakaian dinasnya, seragam pemulasara, apron kedap air, dan sepatu boot karet. "Hari ini ada jadwal apa aja, Mas?"
"Pagi ini ada satu jasad lansia dari ruang ICU yang mau dimandikan keluarga, terus jam satu siang nanti ada jadwal pemindahan dua jasad dari ruang pendingin ke ambulans jenazah untuk dibawa ke TPU," jelas Teguh. "Tapi... ada satu hal yang harus kamu tau, Ya."
Arya menghentikan tangannya yang sedang mengikat tali apron. "Hal apa, Mas?"
Teguh mendekati Arya dan menurunkan volume suaranya hingga menjadi bisikan pelan. "Tadi pagi-pagi sekali, sebelum kamu datang, ada orang dari manajemen pusat rumah sakit yang datang ke sini. Mereka minta dokumen manifes kedatangan jenazah selama tiga bulan terakhir, terutama berkas almarhum Bambang Gunawan."
Jantung Arya berdesir. "Manifes tiga bulan terakhir? Untuk apa, Mas?"
"Katanya sih audit rutin dari dinas kesehatan," ujar Teguh seraya menggeleng heran. "Tapi yang aneh, orang manajemen itu didampingi sama dua pria berjas rapi yang kemarin pernah kemari. Pria-pria dari Nusantara Utama Group itu. Mereka meriksa buku log kita satu per satu, terus nanya-nanya soal siapa aja petugas yang piket pas Pak Bambang masuk."
Arya meremas kain apronnya. Mereka benar-benar mencari celah. Keberadaan Arya yang sempat mencatat detail almarhum dan kedatangannya ke Taman Kota rupanya mulai menimbulkan kecurigaan di lingkaran dalam para penguasa tersebut.
"Mas Teguh bilang apa ke mereka?" tanya Arya berusaha bersikap senormal mungkin.
"Ya aku bilang sesuai fakta," jawab Teguh santai. "Aku bilang waktu itu yang piket malam kamu sama aku. Tapi aku tegaskan ke mereka kalau kita cuma menjalankan tugas pemulasaraan standar sesuai prosedur medis, tidak ada yang aneh-aneh. Mereka cuma manggut-manggut terus pergi gitu aja. Tapi jujur ya, Ya... tatapan orang-orang itu bikin bulu kuduk berdiri. Kamu harus hati-hati kalau ketemu mereka lagi."
Arya menangguk pelan. "Makasih informasinya, Mas. Aku bakal selalu waspada."
**
Pukul 20.45 WIB, rintik gerimis mulai membasahi aspal di sekitar kawasan Stasiun Lama. Lampu-lampu jalanan berpendar kekuningan di antara kabut tipis.
Warung Kopi Sejahtera, sebuah warung tua berpenerangan remang yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu tampak sepi. Hanya ada dua pengunjung tua yang sibuk bermain catur di sudut ruangan.
Arya duduk di bangku sudut paling belakang, mengenakan jaket bertudung hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Di depannya tergeletak cangkir kopi yang mengepulkan asap tipis.
Pukul 21.00 WIB tepat, pintu kayu warung berderit terbuka. Seorang wanita muda berambut sebahu dengan jaket parasut cokelat dan tas kamera besar melangkah masuk. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan pandangan waspada dan cemas. Itu adalah Dian Pertiwi.
Arya mengangkat tangannya sedikit, untuk memberi sinyal.
Dian melihat sinyal tersebut, dan ragu-ragu sejenak, lalu melangkah mantap mendekati meja Arya. Ia menarik kursi kayu di hadapan Arya dan langsung duduk tanpa membuang waktu.
"Kamu yang kirim pesan anonim itu?" tanya Dian dengan suara berbisik, matanya menatap tajam ke arah Arya dari balik kacamata bingkai hitamnya. "Siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu orangnya Hendra Wijaya yang mau jebak aku?"
Bersambung...