NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11- Nilai Matematika Dan Es Teh Kantin

Hari Senin adalah hari yang paling dihindari hampir seluruh murid X IPA 2. Bukan cuma karena harus berdiri kepanasan saat upacara bendera, tapi karena jadwal pelajaran pertama di kelas kami adalah Matematika bersama Pak Suryadi. Dan seperti janji beliau minggu lalu, hasil ulangan harian bakal dibagikan pagi ini.

Begitu Pak Suryadi masuk ke kelas membawa tumpukan lembar jawaban berwarna putih, suasana kelas yang tadinya riuh langsung mendadak hening.

"Secara keseluruhan, nilai ulangan kali ini lumayan. Tapi tetap saja ada beberapa anak yang nilainya masih di bawah KKM dan harus ikut remedial minggu depan," kata Pak Suryadi dengan suara beratnya sambil merapikan kacamata.

Beliau mulai memanggil nama murid satu per satu sesuai urutan absen. Setiap ada teman yang maju ke depan, raut wajah mereka beda-beda. Ada yang tersenyum lega, ada yang langsung lemas memandangi lembar kertasnya.

"Nara Kirana."

Nara berdiri dari bangkunya di depan, berjalan tenang menuju meja guru. Saat menerima kertasnya, Pak Suryadi memberikan sedikit anggukan kepala. Dari jarak dua bangku di belakang, aku bisa melihat angka seratus tertulis besar dengan spidol merah di pojok kanan atas kertas milik Nara. Cewek itu memang tidak ada obat kalau urusan hitung-hitungan.

Beberapa nama dipanggil setelahnya, sampai akhirnya nama keduaku disebut.

"Satria Pratama."

Aku helat napas panjang sebelum berdiri. Saat aku menerima kertas dari Pak Suryadi, beliau menatapku sejenak di balik kacamatanya.

"Nilaimu naik lumayan, Satria. Sudah lewat batas KKM. Pertahankan dan jangan malas belajar," ucap Pak Suryadi tegas.

"Terima kasih, Pak," balasku jujur, lega setengah mati.

Begitu kembali ke meja, aku langsung melihat angkaku: 78. Nilai yang sangat mewah buat ukuranku yang biasanya megap-megap di angka lima puluh. Aku melirik ke depan, dan ternyata Nara sedang menoleh sedikit ke belakang, memperhatikan reaksimu.

Aku memamerkan angka 78 di kertasku sambil tersenyum lebar. Nara cuma berdehem pelan, memutar badannya kembali ke depan, tapi aku tahu dia sempat menahan senyum tipisnya.

Saat bel istirahat pertama berbunyi, aku dan Diko langsung berjalan menuju kantin belakang. Diko mukanya lemas banget karena nilainya cuma dapat 60 dan harus ikut remedial hari Kamis nanti.

"Apes banget aku, Sat. Padahal kemarin aku udah ngawur ngisi semua nomor," keluh Diko sambil menarik kursi plastik di lapak Mbok Darmi.

"Ya kamu ngisinya asal-asalan sih, Dik. Lagian mumpung ada remedial, pelajari lagi rumus yang kemarin," kataku sambil memesan dua gelas es teh manis.

Nggak lama kemudian, Nara dan Lina kelihatan berjalan masuk ke area kantin. Karena meja lain sudah penuh dengan anak-anak kelas XII, Lina langsung mengarahkan pandangannya ke meja kami yang masih tersisa dua kursi kosong.

"Numpang duduk di sini ya, Sat, Dik. Meja lain penuh banget," kata Lina sambil menarik kursi di sebelah Diko.

Nara yang ada di belakang Lina sempat ragu sejenak, tapi akhirnya dia duduk di kursi kosong tepat di depanku.

"Nih," kataku sambil menyodorkan satu gelas es teh manis yang baru saja diantarkan Mbok Darmi ke meja kami.

Nara menatap gelas es teh itu dengan dahi berkerut. "Buat siapa?"

"Buat kamu lah. Anggap aja ini traktiran kecil dari aku gara-gara nilaiku tadi lulus KKM," jawabku santai.

Nara menatapku curiga. "Kamu nggak kasih racun kan di es teh ini?"

"Yee, suudzon aja bawaannya! Ya enggak lah. Lagian kalau bukan gara-gara kamu miringin kertas jawaban pas ulangan kemarin, mana mungkin aku dapet 78," balasku sambil terkekeh pelan.

Lina yang mendengar ucapan itu langsung menoleh kaget ke arah Nara. "Demi apa, Ra? Kamu ngasih nyontek ke Satria? Sejak kapan kamu baik hati begini?"

Pipi Nara seketika memerah. Dia memelototi Lina, lalu beralih menatapku dengan pandangan galaknya yang khas.

"Siapa yang ngasih nyontek? Nggak ada ya! Aku cuma pegal aja kemarin, makanya duduknya miring!" bantai Nara cepat, suaranya naik satu oktav karena panik.

Diko yang tadinya lemas langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Nara. "Halah, Nara, alibi mulu. Mukamu udah merah gitu tuh!"

"Diko, diam nggak!" gertak Nara sambil mengepalkan tangannya di atas meja. Sifat galaknya langsung keluar full power, membuat kami bertiga malah makin tertawa melihatnya.

Meskipun terus mengelak dan marah-marah kecil, Nara akhirnya mengambil gelas es teh manis itu dan meminumnya menggunakan sedotan. Momen-momen santai kayak gini di kantin bikin rasa canggung di antara kami benar-benar hilang. Nara yang biasanya dipandang murid-murid lain sebagai cewek dingin dan susah didekati, ternyata kalau sudah ngumpul begini kelihatan sangat manusiawi dan seru.

Sore harinya setelah jam pelajaran usai, jadwal latihan silat kembali diadakan di aula bawah. Aku sudah berganti pakaian menggunakan seragam latihan hitam-hitam. Karena ada beberapa jurus baru yang diajarkan Mas Teguh, latihan sore itu terasa jauh lebih menguras tenaga.

Sekitar jam lima sore, latihan akhirnya selesai. Tubuhku basah kuyup oleh keringat. Saat aku sedang meluruskan kaki di pinggir lapangan basket sambil mengemas tas ransel, aku melihat sosok Nara baru keluar dari perpustakaan sekolah. Dia menggendong tasnya yang kelihatan sangat berat.

Aku mengambil jaketku lalu berjalan menghampirinya di dekat koridor utama.

"Belum pulang, Ra?" sapa ku.

Nara menghentikan langkahnya, menoleh melihatku yang masih berantakan habis latihan. Ujung hidungnya sedikit berkerut.

"Bau keringat banget kamu, Satria. Jarak dua meter aja udah kerasa," cetusnya tanpa menyaring kata-kata.

Aku malah sengaja melangkah mendekat sembari tertawa. "Ya namanya juga habis latihan keras, Ra. Tapi yang penting kan sehat."

Nara menghela napas pelan, menggeser tali tasnya yang kelihatan menekan bahunya.

"Kamu sendiri ngapain di perpustakaan sampai sore begini?" tanyaku sambil memperhatikan tumpukan buku tebal yang menyembul dari tas ranselnya.

"Minjam buku referensi Olimpiade Fisika buat bulan depan. Pak Ridwan minta aku mewakili sekolah lagi," jawab Nara santai.

Aku agak tertegun mendengar ucapannya. Olimpiade Fisika tingkat kabupaten bukan main-main. Anak-anak yang dikirim ke sana biasanya memang jajaran murid terbaik se-kabupaten. Di titik ini, aku makin sadar betapa jauhnya jarak antara duniaku dan dunia Nara. Dia berkutat dengan persiapan olimpiade, sementara aku masih berjuang keras cuma buat menyamakan nilai Matematika dasar.

"Hebat kamu, Ra. Sukses ya buat persiapan olimpiadenya," kataku tulus.

Nara menatapku agak lama. Tidak ada raut sombong sedikit pun di wajahnya. Dia justru menghela napas pendek.

"Capek tahu, Sat. Kadang aku malas kalau dituntut harus menang terus sama guru-guru," bisiknya pelan, suaranya terdengar agak lelah.

Ini pertama kalinya aku mendengar Nara mengeluh tentang beban sekolahnya. Selama ini dia selalu kelihatan sempurna dan tanpa beban.

"Ya kalau capek, istirahat sebentar, Ra. Jangan dipaksain terus. Kamu kan bukan robot," kataku mencoba memberi perhatian dengan gaya santai. "Kalau butuh hiburan atau pelampiasan stres, bilang aja ke aku. Nanti tak ajak nonton aku latihan silat biar kamu bisa ngomel-ngomel sepuasnya."

Nara sempat terkekeh pelan mendengar celetukanku. Beban di wajahnya kelihatan sedikit terangkat.

"Ngapain juga nonton kamu dipukulin senior? Nggak bermutu banget hiburannya," sahutnya judes, tapi ada binar senyum di matanya.

"Tapi bikin kamu ketawa kan?" balasku sambil tersenyum percaya diri.

Nara membuang muka ke arah parkiran motor, berusaha menyembunyikan senyumnya. "Udah ah, aku mau pulang. Makin ngawur kamu kalau diajak ngomong."

Dia melangkah duluan menuju parkiran. Dari belakang, aku memperhatikan jalannya yang tegap. Ada rasa bangga tersendiri bisa jadi salah satu orang yang bisa melihat sisi lelah dan polosnya Nara di balik tameng cewek pintarnya.

Malam harinya, aku duduk di meja belajar kamar sambil memandangi kertas ulangan Matematika bernilai 78 itu. Aku menempelkan kertas itu di dinding kamar memakai selotip bening. Setiap kali melihat kertas itu, aku bakal teringat kalau aku harus terus berusaha biar nggak ketinggalan terlalu jauh di belakang Nara.

HP jadoelku berbunyi nyaring, tanda ada SMS masuk. Aku membukanya dan mendapati nama Nara di layar.

"Traktiran es tehnya tak terima. Tapi jangan mikir kamu bisa santai ya. Minggu depan ada materi baru tentang Vektor, awas kalau bingung lagi pas diterangin Pak Suryadi."

Aku tersenyum melihat tulisan pesan singkat itu. Gaya bicaranya tetap judes dan sok mengatur, tapi di baliknya ada dorongan yang bikin aku makin semangat.

Aku mengetik balasan dengan cepat:

"Siap, Mbak Tutor. Besok ngajarin aku lagi ya pas jam kosong!"

Nara tidak membalas pesan itu lagi, tapi aku yakin dia membaca balasanku sambil mengomel pelan di kamarnya.

Di masa-masa itu, semuanya terasa sangat sederhana dan menyenangkan. Aku merasa hubungan kami mengalir dengan sangat alami tanpa ada kepura-puraan. Tapi aku tidak pernah menyangka, saat Nara makin disibukkan dengan persiapan olimpiade dan dunia akademisnya, celah perbedaan di antara kami bakal pelan-pelan makin melebar tanpa pernah kami sadari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!