Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menghadapi kenyataan
Keesokan paginya, Laras tiba di kantor dengan pikiran yang masih kacau setelah menerima pesan mengejutkan dari Raka semalam. Ia hampir tidak bisa tidur, terus memikirkan apa yang mungkin dimaksud dengan "kebenaran soal kepergian kamu lima tahun lalu" yang disebutkan dalam pesan itu.
Belum sempat ia duduk di mejanya, ponselnya kembali bergetar—pesan dari Raka.
"Laras, saya benar-benar perlu bicara sama kamu. Bisa ketemu saya di ruangan, kapan pun kamu siap?"
Laras menatap layar ponselnya lama, dadanya dipenuhi kecemasan dan rasa penasaran yang bercampur aduk. Setelah beberapa saat mempertimbangkan, ia akhirnya membalas.
"Saya ke ruangan Bapak jam sepuluh."
Jam sepuluh tepat, Laras mengetuk pintu ruang kerja Raka dengan hati yang berdebar kencang. Begitu masuk, ia mendapati Raka berdiri di dekat jendela, wajahnya tampak lelah, matanya sedikit sembab seperti kurang tidur semalaman.
"Silakan duduk," kata Raka, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Laras duduk dengan hati-hati, menunggu penjelasan yang sejak semalam terus membuatnya penasaran sekaligus khawatir.
"Laras," Raka memulai, menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Semalam, Ibu saya akhirnya mengaku semuanya. Tentang apa yang terjadi lima tahun lalu."
Jantung Laras berdegup kencang mendengar kalimat itu. "Mengaku apa, Pak?"
"Ibu saya yang menyuruh orang untuk mengancam keluarga kamu," lanjut Raka, suaranya bergetar menahan emosi. "Ancaman itu yang membuat kamu terpaksa pergi tanpa penjelasan. Saya... saya baru tau semuanya semalam."
Kata-kata itu membuat Laras terdiam, air mata mulai menggenang di matanya mendengar akhirnya kebenaran yang selama lima tahun ia simpan sendirian kini terungkap, meski dari mulut orang yang paling bertanggung jawab atas semua penderitaan itu.
"Jadi... Bapak akhirnya tau," gumam Laras, suaranya bergetar. "Saya udah coba jelasin dulu, Pak. Saya coba telepon, saya coba cari cara buat kasih tau. Tapi waktu itu saya terlalu takut, terlalu terancam untuk berani ambil risiko."
"Saya tau, Laras. Dan saya minta maaf," Raka melangkah mendekat, matanya penuh penyesalan yang tulus. "Saya minta maaf karena udah salah paham selama ini, karena udah memperlakukan kamu dengan kejam tanpa alasan yang benar. Saya minta maaf karena udah bikin kamu menderita dua kali—sekali karena ancaman keluarga saya, dan sekali lagi karena kemarahan saya yang nggak berdasar."
Laras menatap Raka lama, air mata mulai mengalir di pipinya, campuran antara kelegaan karena akhirnya didengar dan kepahitan karena mengingat semua penderitaan yang telah ia lalui sendirian selama bertahun-tahun.
"Saya nggak tau harus ngomong apa, Pak," katanya akhirnya, suaranya pecah menahan tangis. "Selama lima tahun, saya berharap suatu saat Bapak bisa ngerti kebenarannya. Tapi sekarang, setelah semuanya terungkap, saya juga nggak tau harus ngerasa apa."
"Saya ngerti," jawab Raka pelan. "Saya tau kata maaf aja nggak akan cukup buat ganti semua penderitaan yang kamu alami. Tapi saya pengen kamu tau, saya bener-bener menyesal, Laras. Dan saya... saya masih punya perasaan yang sama seperti dulu."
Pengakuan itu membuat Laras terdiam, dadanya bergejolak antara rasa haru mendengar kejujuran itu dan kebingungan besar mengingat posisinya sekarang—hubungannya yang mulai berkembang dengan Bagas, kepercayaan baru yang mulai ia bangun setelah bertahun-tahun terluka.
"Pak Raka," katanya akhirnya, mencoba menata perasaannya dengan hati-hati. "Saya menghargai kejujuran dan permintaan maaf Bapak. Ini berarti banyak buat saya, terutama karena akhirnya kebenaran itu terungkap. Tapi... saya butuh waktu untuk mencerna semuanya. Terlalu banyak yang terjadi, terlalu banyak luka yang harus saya sembuhkan."
"Saya ngerti," jawab Raka, meski jelas ada kekecewaan yang tersembunyi di balik kata-kata itu. "Saya nggak akan maksa kamu buat langsung memaafkan atau menerima apa pun. Saya cuma pengen kamu tau kebenarannya, dan bahwa saya benar-benar minta maaf atas semua yang telah terjadi."
Laras mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan tangan yang gemetar. "Terima kasih, Pak. Saya... saya permisi dulu."
Ia berdiri, melangkah menuju pintu dengan pikiran yang kacau balau, dipenuhi berbagai perasaan yang saling bertentangan—kelegaan karena akhirnya didengar, kesedihan mengingat penderitaan masa lalu, dan kebingungan besar tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya dengan kehidupan yang telah ia bangun susah payah tanpa Raka.
Sepeninggal Laras, Raka duduk kembali di kursinya, menatap pintu yang baru saja tertutup dengan perasaan campur aduk. Ada kelegaan karena akhirnya bisa mengungkapkan kebenaran dan permintaan maafnya, namun juga ketakutan besar bahwa semuanya mungkin sudah terlalu terlambat.
Ia meraih ponselnya, menatap galeri foto yang masih kosong sejak lima tahun lalu ia menghapus semua kenangan bersama Laras. Sebuah keinginan kuat muncul untuk mulai membangun kembali kepercayaan yang telah hancur, namun ia juga menyadari bahwa proses itu tidak akan mudah, terutama dengan kehadiran Bagas yang semakin dekat dengan kehidupan Laras.
Sore harinya, Laras menelepon Sari, menceritakan semua yang baru saja terjadi di kantor.
"Astaga, Laras," Sari terdengar terkejut mendengar cerita itu. "Jadi ibunya yang ngatur semuanya? Dan sekarang Raka udah tau kebenarannya?"
"Iya, Sari. Dia minta maaf, bilang masih punya perasaan yang sama kayak dulu."
"Terus, gimana perasaan kamu?"
Laras terdiam lama sebelum menjawab, mencoba menata perasaannya yang masih kacau. "Aku nggak tau, Sari. Di satu sisi, aku lega akhirnya dia tau kebenarannya. Tapi di sisi lain, aku juga sadar, lima tahun itu waktu yang panjang. Aku udah berubah, aku udah mulai bangun hidup baru, termasuk sama Bagas."
"Jadi kamu masih mau lanjutin sama Bagas?"
"Aku rasa iya," jawab Laras dengan suara yang lebih mantap. "Bagas udah tunjukkin ketulusan dan kesabaran yang luar biasa. Sementara Raka... meskipun sekarang aku ngerti kenapa dia bersikap kayak gitu selama ini, luka yang dia bikin selama berbulan-bulan terakhir juga nggak bisa aku lupain begitu aja."
"Aku ngerti, Laras. Ini keputusan yang berat, tapi aku dukung apa pun pilihan kamu."
Percakapan itu berakhir dengan Laras yang merasa sedikit lebih tenang, meski hatinya masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang masa depan yang harus ia hadapi—antara kesempatan kedua yang ditawarkan Raka dengan segala kompleksitas masa lalu mereka, atau melangkah maju bersama Bagas menuju kebahagiaan yang lebih sederhana dan tulus tanpa bayang-bayang kelam yang terus menghantui.