NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pertemuan di Antara Bintang

Malam itu, Riu Han beristirahat di kediaman Sun Li. Tidak ada penginapan di perkampungan ini; setiap tamu diterima di rumah warga, sebagai kerabat sendiri. Di dalam ruangan yang hangat dan wangi kayu, Riu Han merenungi semua yang didengarnya. Alam semesta mini — sebuah dunia yang terpisah, mandiri, namun mirip dengan dunia tempat mereka tinggal. Pintu masuknya tersedia di setiap wilayah besar dan kota penting, sehingga tempat itu kerap menjadi panggung pertemuan maupun pertempuran bagi para petualang. Cara masuknya melalui portal teleportasi, sama seperti biasanya, namun jalan keluarnya berbeda: setiap pengunjung diberi seutas gelang formasi. Bila gelang itu dihancurkan, kekuatan yang tersimpan di dalamnya akan mengirim seseorang kembali ke tempat asalnya, ke pintu portal yang digunakan untuk masuk.

Sun Li telah menyerahkan gelang itu kepadanya. Riu Han menatapnya lekat-lekat — sederhana namun penuh makna. Simbol-simbol formasi yang terukir di atasnya berpadu indah, saling menyatu membentuk pola yang mengalir. Begitu hebatnya formasi ini, batinnya kagum. Satu gelang mampu menghubungkan dua dunia yang terpisah jauh.

Keesokan paginya, Riu Han menyapa tuan rumahnya. Mereka berada di rumah yang sama, hanya terpisah dinding kamar, namun suasana pagi itu terasa seakan ada sesuatu yang berubah.

"Selamat pagi, Tuan Sun Li," ucapnya dengan tulus.

Lelaki tua itu tersenyum, lalu menghela napas panjang.

"Semula, saat dua orang temanmu bercerita tentangmu, aku masih sedikit ragu," ucapnya pelan, menatapnya dengan pandangan yang jujur. "Namun kini aku melihatnya sendiri. Riu Han, kau terlalu sopan, terlalu lembut, dan terlalu ramah. Di dunia para kultivator yang penuh kekerasan, pertumpahan darah, dan pertarungan memperebutkan kekuatan, sifatmu ini justru menonjol — kau terlihat lebih seperti seorang sarjana yang tenang dari Alam Bawah, bukan petualang yang biasa mengayunkan pedang."

Senyumnya sedikit berubah, menyiratkan kekhawatiran. "Aku berharap ini tidak menjadi kelemahanmu. Orang lain akan mengira kau lemah, dan sebagian akan mencoba memanfaatkanmu. Semoga keberuntungan selalu menyertaimu."

Lalu ia bangkit berdiri. "Sudahlah, mari ikut aku."

Mereka berjalan menuju ruang terdalam di rumah itu. Saat berdiri di tengah ruangan, lantai di bawah mereka perlahan turun, halus dan tenang bagai ditarik oleh kekuatan yang tak terlihat. Riu Han menyadari ke mana mereka menuju — poros tengah pohon raksasa ini, menembus ke bawah tanah. Di sana, di ruang batu yang luas dan bercahaya lembut, terbentanglah simbol-simbol portal yang akrab baginya.

Sun Li mengangguk pelan. Riu Han mengeluarkan batu roh dan meletakkannya di lekukan yang tersedia. Cahaya segera menyebar, menyusuri setiap garis, membuka pintu menuju tempat yang dicarinya. Ia memberi salam terakhir kepada lelaki tua itu, lalu melangkah masuk ke dalam cahaya.

Perjalanan melalui portal terasa lebih lama dari biasanya. Ruang di sekelilingnya gelap pekat, hanya diselingi kilatan cahaya samar yang berkelebat cepat. Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya pandangannya kembali jernih — dan Riu Han mendapati dirinya melayang di angkasa yang luas.

Tidak ada tanah di bawah kakinya, tidak ada permukaan tempat berpijak. Ia melayang di tengah hamparan kehampaan yang dipenuhi cahaya bintang yang berkelap-kelip lembut. Di kejauhan terlihat benda-benda yang berputar — matahari, bulan, bumi, dan gugusan pulau-pulau batu yang melayang mengelilingi poros yang tak terlihat. Semuanya bergerak berirama, searah, seakan mengikuti aturan yang tak terlihat.

Riu Han memilih salah satu pulau batu yang terlihat paling dekat, lalu melesat ke arahnya. Perjalanan itu memakan waktu beberapa menit, dan semakin dekat, semakin ia menyadari betapa besarnya pulau itu — luasnya setara puluhan kota di Alam Bawah, sebuah dunia kecil yang lengkap.

Belum sempat kakinya menyentuh tanah, dua aura yang ia kenal mendekat dengan cepat. Hangat, teguh, dan tak terpisahkan — Genbu dan Bai Wing.

Riu Han tersenyum lebar. Mereka pasti telah merasakan kedatangannya sejak ia melangkah masuk ke perkampungan Binatang Roh, dan sengaja menunggu di sini, yakin bahwa Sun Li akan mengantarnya.

"Hahahaha! Benar sekali, Kakak! Kau pasti datang!"

Genbu melesat menghampirinya, wajahnya yang tampan berseri-seri penuh kegembiraan. Ia memeluk Riu Han erat, seakan takut kehilangan lagi.

"Kakak... syukurlah, kau ada di sini," suaranya sedikit bergetar. "Sempat aku pikir kita tak akan bertemu lagi. Mengapa waktu itu kau lupa membawa kami masuk ke dalam Cincin Ruang?"

Riu Han menepuk punggungnya pelan. "Itu salahku, Genbu. Maafkan aku. Untung kalian berdua selamat dan baik-baik saja. Bagaimana? Apakah di sini ada harta karun yang hebat?"

Genbu menggaruk kepalanya sambil tersenyum. "Lumayanlah, Kakak."

Riu Han menoleh ke arah sosok yang berdiri di sampingnya, tenang dan gagah seperti biasa. "Bai Wing, bagaimana kabarmu?"

Bai Wing tersenyum tipis, matanya bersinar jernih. "Sejak terpisah darimu, Kakak, naluriku membawaku ke arah perkampungan Binatang Roh. Setelah mendapatkan informasi, kami pun menunggu di sini. Tempat ini sungguh berbeda dari yang kami bayangkan."

Ia menjelaskan lebih lanjut. Di alam semesta mini ini, terdapat makhluk-makhluk yang lahir dan tumbuh di ruang angkasa itu sendiri — mereka disebut Binatang Hunshuan. Berbeda dengan Binatang Roh yang mampu berubah wujud menjadi manusia dan memiliki kecerdasan yang setara, Binatang Hunshuan tetap mempertahankan wujud aslinya, sekecil apa pun atau sekuat apa pun mereka. Mereka hidup mengikuti naluri: mencari makan, tumbuh, dan bertahan hidup, memakan apa saja yang ada di sekitar mereka, termasuk sesamanya.

"Apakah mereka memiliki Kristal Roh?" tanya Riu Han.

"Ya, Kakak," jawab Bai Wing. "Itulah yang paling berharga. Energi di dalamnya jauh lebih murni dan padat daripada batu roh biasa. Hanya saja... untuk mendapatkannya, kami harus berburu."

Riu Han mengangguk paham. "Jadi intinya, mereka sama dengan Binatang Roh, hanya saja wujud mereka tetap asli dan kecerdasan mereka berbeda. Kristal Roh mereka adalah sumber energi terbaik di sini."

"Benar sekali," Genbu tertawa. "Kami berdua tidak seberlimpah hartamu, Kakak. Di sini kami harus berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang kami butuhkan."

"Apakah kalian sudah mendapatkan banyak?" tanya Riu Han sambil tersenyum.

"Lumayan," jawab mereka serempak.

Bai Wing mengulurkan tangannya, melemparkan sebutir benda yang berkilau ke arah Riu Han. "Coba lihat ini, Kakak."

Riu Han menangkapnya. Kristal itu sebesar kepalan tangan orang dewasa, bening namun memancarkan cahaya yang kuat dan hangat. Sekali dipegang, ia merasakan gelombang energi yang melimpah — ratusan kali lipat lebih banyak dibandingkan batu roh tingkat tinggi.

"Luar biasa..." gumamnya takjub.

"Kami berada di bagian luar tempat ini," jelas Bai Wing. "Di bagian yang lebih dalam, Binatang Hunshuan-nya jauh lebih kuat. Kulit mereka tebal, tubuh mereka keras, dan kekuatan fisik mereka luar biasa. Tingkat terendah di sini setara dengan tingkat sepuluh — sama dengan ranah Dewa Kecil. Dan yang lebih dalam lagi..."

Bai Wing menunjuk ke arah titik cahaya kecil yang tampak jauh sekali di tengah kegelapan. "Dikatakan ada yang mencapai tingkat tiga belas puncak."

"Tingkat tiga belas puncak?!" Riu Han mengulang pelan, matanya membelalak.

Itu bukan sekadar angka. Tingkat itu berarti kekuatan yang mendekati batas antara Dewa dan Semi-Abadi — makhluk yang mampu menghancurkan gunung dan membelah sungai dengan satu gerakan. Di tempat yang begitu luas, di antara pulau-pulau yang terpisah jarak jauh, dan di mana setiap makhluk tumbuh dengan kekuatan yang murni dan buas, pertemuan dengan makhluk seperti itu bukan sekadar berbahaya — itu bisa berarti maut.

Riu Han menatap sekelilingnya kembali. Pulau-pulau batu yang berputar, cahaya bintang yang tak pernah padam, dan luasnya tempat ini yang jauh melampaui Negeri Daratan Bawah — semuanya buatan, ciptaan makhluk kuno yang kekuatannya tak terbayangkan.

Siapa yang mampu menciptakan dunia sebesar ini? batinnya. Dan apa lagi yang tersembunyi di bagian terdalamnya?

Genbu dan Bai Wing menatapnya, menunggu keputusan. Riu Han mengeratkan genggamannya pada Kristal Roh di tangannya, lalu menatap kedua sahabatnya dengan tekad yang bulat.

1
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
𝕸𝕬𝕾𝕿𝕰𝕽𝕾 𝕷𝕰𝕰, 𝕬𝕸𝕶
Luar Biasa, Mantap
sibaweh abduh
cerita yang sangat baik thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur Ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca, Mantap 👍👍
Bg Byl
Cerita yg menarik dg alur yg mengalir baik dan tata bahasa yg bagus. keren 👍❤️
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
syarif ibrahim
makin sakti nih.... 👍
syarif ibrahim
akhirnya.... terobati sudah kerinduan selama 20 tahun.... 👍
syarif ibrahim
kaget... ternyata sudah habis ceritanya..... up lagi Thor....... 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han dialam atas makin mantap 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!