Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Misi Penyelamatan dan Insiden Kucing Oranye
Layar ponsel Narendra memancarkan pemandangan ruang tengah rumah Cassandra yang porak-poranda. Tanda stiker simbol konsorsium yang menutupi lensa kamera pengawas seolah mengejek mereka berdua secara terbuka di bawah teriknya matahari siang.
Cassandra langsung mencengkeram lengan jaket Narendra erat-erat dengan wajah pucat pasi. "Rumah gue dibobol lagi, Ren! Ibu gimana?!"
"Tenang, Cas, jam segini Ibu kan lagi ikut pengajian warga di balai RW," potong Narendra cepat seraya menatap layar pemantau posisi GPS di jam tangannya. "Sinyal keberadaan Ibu masih aman di balai desa, jadi sekarang kita langsung meluncur ke rumah lu!"
Narendra memacu motor sport-nya membelah kemacetan kota Jakarta dengan kecepatan penuh. Cassandra memeluk pinggang tegap Narendra erat-erat, membiarkan tiupan angin siang menerpa wajahnya yang diliputi rasa cemas luar biasa.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi mereka untuk sampai di depan gerbang rumah Cassandra yang sudah terbuka sedikit. Narendra mematikan mesin motornya jauh sebelum gerbang, memilih merayap pelan menyusuri halaman samping demi mengejutkan penyusup di dalam rumah.
Cassandra memungut sebuah sapu ijuk dari dekat tempat sampah sebagai senjata darurat. "Kalau penyusupnya banyak, gue sabet pakai sapu ini!"
Narendra menyunggingkan senyum miring melihat aksi nekat ceweknya, lalu mencabut peranti wifi jammer portabel dari sakunya. Alat peretas mikro itu berfungsi memutus seluruh sinyal jaringan nirkabel di dalam rumah agar penyusup tidak bisa mengunggah dokumen ayah Cassandra ke peladen luar.
Mereka menyelinap masuk melewati pintu dapur yang ternyata sudah dibobol paksa hingga engselnya rusak. Suara kresek-kresek kertas dan langkah kaki yang berat terdengar riuh dari arah ruang kerja almarhum ayah Cassandra di lantai dua.
"Ingat, Cas, dalam dunia keamanan fisik modern, sistem pengawas nirkabel itu mudah dibutakan cuma pakai frequency jammer sederhana," bisik Narendra mengedukasi dengan suara amat pelan di balik tangga.
Saat mereka mengendap mendekati pintu ruang kerja yang terbuka separuh, terlihat seorang pria berjaket kulit hitam sedang sibuk membongkar brankas besi. Pria itu mengumpat kesal karena semua jaringan seluler di ponselnya mendadak hilang total akibat ulah alat peretas Narendra.
Namun, sebelum Narendra dan Cassandra sempat melakukan aksi penyergapan dramatis, seekor kucing oranye gemuk milik tetangga mendadak melompat dari atas lemari. Kucing barbar itu mendarat tepat di atas kepala gundul sang penyusup seraya mencakar wajahnya secara membabi buta.
"Aduh! Setan mana ini yang piara macan oren?!" jerit penyusup itu histeris sambil berguling-guling di lantai mencoba melepaskan cengkeraman si kucing.
Melihat momen kocak nan langka tersebut, Cassandra tanpa ragu langsung mengayunkan sapu ijuknya kencang-kencang dan menghantam bokong pria itu. Pria bertubuh tegap itu menjerit makin nyaring. Ia kewalahan menghadapi kombinasi cakaran kucing oranye dan sabetan sapu ijuk cewek SMA.
Narendra tertawa lepas melihat pemandangan ajaib di depannya, lalu menendang pergelangan tangan penyusup itu hingga dokumen rahasia terlepas dari genggamannya. Pria itu akhirnya menyerah kalah. Ia melompat keluar jendela lantai dua dan kabur melompati pagar rumah dengan wajah penuh luka cakaran.
"Kucing oren memang peretas pertahanan terbaik sepanjang masa," seloroh Narendra seraya memberi makan biskuit ikan pada si kucing heroic di lantai.
Cassandra menghela napas lega seraya merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu menaruh sapu ijuknya kembali ke sudut ruangan. Ia mengambil map cokelat berisi dokumen rahasia almarhum ayahnya yang berhasil diselamatkan dari tangan penyusup tadi.
Di dalam map itu, terdapat sebuah peranti flashdisk berbentuk kunci fisik berwarna emas tua yang belum pernah Cassandra lihat sebelumnya.
"Ini bukan flashdisk penyimpanan data biasa, Cas," terang Narendra seraya mengamati lekukan komponen di balik kunci emas itu. "Ini adalah Hardware Security Key fisik, alat kriptografi tingkat tinggi yang hanya bisa diakses kalau ditempelkan langsung ke komputer induknya."
Cassandra menatap kunci emas itu dengan dahi berkerut heran. "Komputer induk? Tapi ayah gue enggak pernah punya komputer khusus selain yang di meja ini."
Narendra menyunggingkan senyum khasnya, mengusap lembut pipi Cassandra yang masih tampak tegang. "Eksplorasi teknologi kuno selalu punya tempat tersembunyi yang enggak terpikirkan oleh peretas zaman sekarang."
Mereka berdua mulai menyisir setiap sudut meja kerja kayu tua milik ayah Cassandra untuk mencari slot tersembunyi. Pelajaran berharga dalam keamanan informasi adalah bahwa kunci enkripsi fisik jauh lebih aman daripada kata sandi digital karena tidak bisa diretas dari jarak jauh.
"Lihat ini, Ren!" panggil Cassandra gembira saat menemukan slot colokan kecil tersembunyi di balik Bingkai Foto Keluarga mereka.
Pukul 16.00 WIB.
Cassandra menancapkan kunci emas tersebut ke dalam slot tersembunyi di balik bingkai foto. Layar monitor tua di atas meja kerja seketika menyala otomatis, menampilkan sebuah direktori berkas rahasia berjudul Proyek Pelindung Garuda.
Isi direktori itu membongkar seluruh daftar nama pejabat tinggi konsorsium yang terlibat dalam manipulasi hukum dan utang fiktif selama belasan tahun.
"Dengan dokumen induk ini, kita bisa membersihkan nama keluarga lu dan meruntuhkan seluruh jaringan konsorsium sampai ke akar-akarnya!" seru Narendra bangga seraya merangkul bahu Cassandra erat-erat.
Cassandra tersenyum sangat manis, memeluk pinggang Narendra seraya menyenderkan kepalanya di dada tegap cowok itu. Rasa lega meluap di dalam dadanya karena perjuangan panjang mereka akhirnya membuahkan bukti paling mematikan bagi musuh.
"Makasih ya, Narendra, lu selalu ada buat menyelamatkan gue dan keluarga gue," bisik Cassandra tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Narendra terkekeh pelan, mendaratkan sebuah ciuman hangat di dahi Cassandra yang membuat pipi cewek itu merona merah merona. "Sama-sama, Kanjeng Ratu. Lagian aksi gabungan sapu ijuk sama kucing oren tadi keren banget tau."
Namun, saat mereka baru saja hendak memindahkan seluruh berkas rahasia itu ke dalam peranti penyimpanan nirkabel, speaker komputer tua itu mendadak mengeluarkan suara dengungan keras.
Sebuah program perintah otomatis yang tertanam di dalam kunci emas itu mendadak berjalan sendiri tanpa bisa dihentikan.
Layar monitor yang tadinya hijau cerah berubah menjadi garis-garis kode merah yang berkedip sangat cepat.
Sebuah pesan siaran darurat terenkripsi muncul di layar, disertai peta geolokasi yang menunjukkan bahwa berkas rahasia ini, baru saja terkirim secara otomatis ke seluruh ponsel milik dewan guru SMA Garuda.