Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
A-chui segera menyeka jemari Selir Lan dengan perlahan. Matanya yang sempat melirik sekilas ke arah wajah Shen Mo kini fokus pada tangan majikannya.
Sebagai pelayan yang selalu berada di dekat Selir Lan, A-Chui sebenarnya sudah lama curiga pada perhatian berlebih sang tabib. Namun ia memilih diam dan sibuk bekerja.
Selir Lan menggigit bibirnya. Ia sadar kalau tadi sempat terbawa suasana. Ada rasa takut karena tidak mau rahasia itu terungkap. Itu tentang hatinya.
Xiao Yu melebarkan mata lelah melihat mereka berdua yang menjadi canggung.
"Ada suara lolongan serigala, Nona. Apa Nona tidak mendengar itu di hutan sebelum malam makin gelap tadi?" tanya A-chui mengingat lagi saat tubuhnya merinding mendengar lolongan serigala.
Semua mendengarkan karena itu momen yang tidak bisa hilang dari kepala mereka. Suara itu seperti menghipnotis semuanya.
"Apa Nona berdua ini tidak bertemu hewan buas di hutan? Tadi ada suara serigala melolong," tanya A-chui. Pertanyaan ini membuat Xiao Yu melirik cepat. Padahal sejak tadi tidak ada pertanyaan soal itu. Kini tanpa bermaksud sengaja membuat panik, A-chui malah bertanya.
Bao'er awalnya setuju dengan pertanyaan A-chui, tapi saat melihat raut wajah tegang Xiao Yu dia paham ada yang sedang disembunyikan olehnya.
Alis mata Bao'er bergerak meminta informasi. Ada apa? tanya Bao'er.
Xiao Yu melirik. A-ku yang mem-bunuh se-ri-gala i-tu. Bibir Xiao Yu bergerak patah-patah.
Bao'er mengerutkan keningnya. Mencoba mencerna satu persatu apa yang di ucapkan Xiao Yu. Meski lambat, Bao'er akhirnya paham. Matanya pun membelalak kaget. Bahkan mulutnya terbuka.
Xiao Yu menowel lengan Bao'er dengan cepat untuk mengkondisikan raut wajahnya ketika tabib Shen menoleh.
Untung saja Bao'er membelakangi tabib, jadi ia bisa segera menatap wajah tanpa takut ketahuan.
"Tidak. Kita aman," sahut Selir Lan. Rupanya ia menepati janjinya. Selir Lan tidak menyinggung apapun soal serigala atau Xiao Yu yang bertarung.
Xiao Yu yang tadi melirik tajam kini menghela napas lega. Ia yang sempat cemas kini bisa menurunkan bahunya.
"Kalau memang tadi ada yang terluka, Yang Mulia bisa katakan pada saya. Akan segera saya obati," kata tabib Shen Mo kembali bersikap hormat seperti biasa pada Selir Lan dan juga pada Xiao Yu. Kini tabib itu menghadap ke arah Xiao Yu.
Selir Lan hendak menjawab diam karena takut terbawa suasana lagi. Namun, ingatannya mendadak melayang pada bayangan Xiao Yu yang berdiri tegap memegang busur di tengah kegelapan. Itu juga tidak bisa ia hilangkan dari dalam otaknya.
"Selir Xiao Yu," panggil Selir Lan.
"Ya?"
"Bukankah kamu terluka?" tanya Selir Lan lembut.
"Oh, itu. Hanya lecet sedikit," sahut Xiao Yu santai.
"Saya akan obati, selir Xiao ..." Shen Mo menghampiri Xiao Yu untuk memeriksa.
"Tidak perlu," potong Xiao Yu cepat. Ia menolak untuk diobati. Xiao Yu tidak ingin Shen Mo memeriksa kulitnya terlalu dekat dan menyadari ketegangan otot serta bekas gesekan tali busur pada jemarinya.
"Tapi jika ada selir yang terluka dan saya tidak mengobati, Pangeran pasti marah," ujar Tabib.
Marah? Mana mungkin, cibir Xiao Yu dalam hati.
Melihat penolakan keras Xiao Yu, Selir Lan paham kalau itu bisa menemukan jati diri Xiao sebenarnya. "Itu hanya luka kecil, tabib Shen. Biarkan saja."
"Tapi Selir, Xiao ..." ujar Tabib Shen.
Kepala Selir Lan menggeleng memotong kalimat tabib Shen Mo. Meminta pria itu untuk memahami permintaanya.
Tabib Shen menghela napas. Melihat sorot mata Selir Lan begitu menginginkan supaya dia menurutinya, akhirnya tabib Shen luluh.
"Beri obatnya pada Bao'er. Biar dia yang mengobati Selir Xiao," ujar Selir Lan mencari cara untuk membantu Xiao Yu menolak pengobatan.
"Baiklah."
Tabib Shen Mo merogoh tas kulitnya, mengeluarkan botol porselen kecil berisi salep penawar lecet dan beberapa lembar kain kassa bersih. Dia menyerahkan perlengkapan itu kepada Bao'er yang sudah mengulurkan tangan.
"Oleskan salep ini secara tipis pada bagian yang lecet," pesan Tabib Shen pelan dengan nada profesional yang diusahakan sekuat tenaga. "Jangan dibebat terlalu ketat agar lukanya cepat mengering."
Bao'er merunduk hormat. "Baik, Tabib Shen. Hamba mengerti."
Tabib Shen menutup tas obatnya. "Karena sudah selesai, saya pamit Yang Mulia," pamitnya pada Selir Lan.
"Ya. Terima kasih tabib Shen," kata Selir Lan.
"Terima kasih, tabib Shen." Semua mengikuti Selir Lan mengucap terima kasih.
Namun, tepat saat Tabib Shen baru saja hendak melangkah keluar, tirai tebal kediaman Selir Lan tersibak dari luar.
Pangeran Zhang Li melangkah masuk seorang diri. Aura dominan dan dingin yang dibawanya seketika membuat ruangan hening. Selir Lan yang hendak berbaring, urung. Dia mengangguk sopan memberi penghormatan. Disambung A-Chui sambil merapat ke sudut meja.
Sementara itu Xiao Yu langsung berdiri lalu menunduk hormat. Bao'er yang ada didekatnya juga cepat-cepat menundukkan kepala seraya menggenggam botol porselen di tangannya.
"Yang Mulia," sapa Tabib Shen Mo seraya membungkuk dalam.
Zhang Li tak segera menjawab. Tatapan matanya yang tajam menyapu kondisi ruangan sejenak sebelum menatap sang tabib. "Bagaimana keadaan mereka, Tabib Shen?"
"Luka Selir Lan sudah diobati dan hanya butuh istirahat, Yang Mulia. Selir Xiao Yu juga hanya mengalami lecet ringan," jawab Tabib Shen Mo patuh.
"Bagus. Kau boleh pergi dan istirahat," perintah Zhang Li datar.
"Hamba mohon diri, Yang Mulia," Tabib Shen Mo membungkuk hormat lalu bergegas melangkah keluar menembus tirai tenda.
Kini, tinggal Pangeran Zhang Li berdiri di tengah ruangan. Sebagai seorang pria sejati dan penguasa berwibawa, ia paham betul bahwa malam sudah terlalu larut untuk menanyakan hal-hal yang memberatkan pikiran mereka yang baru saja melewati trauma.
Ia berjalan perlahan mendekati pembaringan, berdiri dalam jarak yang sopan tanpa mengganggu ruang gerak Selir Lan.
"Bagaimana keadaan kalian sekarang?" tanya Zhang Li dengan suara berat dan tenang.
"Sudah jauh lebih baik, Yang Mulia. Terima kasih atas perhatian Anda," sahut Selir Lan pelan dari pembaringan, menundukkan pandangannya penuh hormat.
Zhang Li mengangguk-angguk kecil, lalu melirik sekilas ke arah Xiao Yu yang duduk membisu di sudut ruangan.
"Malam ini beristirahatlah dengan tenang. Jangan memikirkan hal lain," ujar Zhang Li datar, memberi kepastian perlindungan. "Besok pagi-pagi sekali rombongan kita akan berkemas kembali ke Istana Kerajaan. Pastikan kondisi kalian cukup kuat untuk perjalanan."
"Baik, Yang Mulia," sahut Selir Lan dan Xiao Yu hampir bersamaan.
Tanpa memperpanjang kata atau merusak waktu istirahat mereka, Pangeran Zhang Li membalikkan badan dan melangkah keluar dari tenda.