Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 30
Alensky, Tranaka dan Draja melihat ke arah yang sama, di dalam ruangan sana suara murni masih menjerit histeris, hingga terdengar perintah dokter untuk segera menyuntikkan obat penenang.
Sesaat kemudian, suasana terkontrol kembali, Draja maju paling depan saat seorang tenaga medis memanggil keluarga Murni untuk di berikan penjelasan.
"Saya keluarganya" ucap Draja, tak peduli jika itu berbohong atau terlalu lancang, karena pada kenyataanya Murni dan ibunya sudah tidak punya siapa-siapa.
"Maaf, kami sudah mengupayakan semaksimalnya mungkin, perdarahan di kepalanya terlalu parah, kami tak bisa menghentikannya, dan sebentar lagi polisi akan ke sini untuk mengusut kejadian bunuh diri ini"
"APA?!, Bunuh diri?" Tanya Draja.
"Iya, ada pelaporan yang masuk jika pasien sengaja melompat dari jendela lantai tiga Rumah mewah milik Haris Mawardi, tempatnya bekerja"
Draja benar-benar tak menyangka seperti itu kejadiannya, karena saat dia datang bersama dengan Murni masih belum ada penjelasan pasti.
Rasanya nafas yang dimasukkan ke dalam paru-parunya terasa kurang, Draja merasa sesak sesaat, hingga kemudian Alensky datang menyentuh bahunya.
"Draja ada apa?" Tanya Alensky dengan wajah yang tak kalah cemas dengannya.
"Ibunya Murni, tidak bisa di selamatkan lagi"
"APA?!"
"Innalilahi wainnailaihi rojiun" kalimat yang langsung di ucapkan bersama oleh Tranaka dan tiga orang temannya yang baru saja datang.
Vito yang kebetulan mempunyai saudara di rumah sakit itu segera pergi untuk mencari informasi, "aku akan tanyakan ke Paman ku dulu, salah satu dokter disini" ucapnya dan berlari pergi.
Galen yang melihat kedatangan polisi segera menyapa salah satunya yang tak lain adalah Om nya.
Semua mencari informasi dengan caranya sendiri-sendiri, untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Duduk diam, seluruh tenaganya terasa habis terkuras, Draja hanya menunduk dan berusaha tetap tenang.
"Apa yang terjadi Draja, katakan" ucap Alensky.
"Bunuh diri"
"APA?!" Alensky terasa sesak seketika.
Tranaka yang ada disebelahnya dengan cepat menggenggam tangannya.
"Ini tidak benar, aku akan masuk dan melihat sendiri jasadnya!" Alensky berteriak dan langsung berdiri, melepaskan tangan Tranaka.
"Nona area ini dilarang masuk, jaga sikap anda!" Salah satu polisi menahannya.
"Aku ingin lihat, biarkan aku lewat!" Alensky masih tidak terima.
"Tidak boleh, jangan mengganggu penyelidikan!"
"Aku mau masuk!" Alensky masih tak mau mendengar.
Hampir saja terjadi kekacauan hingga akhirnya Tranaka memeluknya erat, membawa Alensky menyingkir dari area yang di larang.
"Lepaskan aku Tranaka, aku yakin pasti ada yang membu-nuhnya!" Teriak Alensky dan masih meronta berusaha lepas dari pelukan Tranaka.
"Alen, dengar_"
"Aku tidak mau, lepaskan!"
"ALENSKY!"
Teriak Tranaka yang sudah tidak punya cara lagi untuk menenangkan wanita yang masih ada didepannya.
Alensky terkejut, menatap mata Tranaka dan tubuhnya seketika terhuyung bersandar di tembok yang ada di sampingnya.
"Dengarkan aku, saat ini kita tidak bisa berbuat apa-apa, penyelidikan sudah di lakukan, disana ada pihak yang lebih berwenang, kalau kamu membuat kekacauan, bisa jadi justru semua berbalik padamu, aku tidak menginginkan hal itu"
"Tapi Ibu Murni di bu-nuh, aku yakin itu Naka" suara Alensky yang kini disertai air mata yang jatuh.
Tranaka maju dan mengambil tangan Alensky, menariknya masuk kembali ke dalam pelukannya.
"Aku tau, kita akan cari cara untuk mengetahui hal itu, tapi kita harus tenang"
Draja memanggil mereka, mengatakan jika akan mencari keberadaan Murni, dan keduanya segera mengikuti.
Sampai di suatu kamar perawatan, Draja mengetuk pintu pelan, membuka dan menatap seseorang tengah diam sambil memeluk Bantal dengan erat, mata keduanya beradu sesaat, dan Draja menyapanya.
"Murni?"
Tidak ada suara, Murni masih mengamati, Draja tersenyum terus mendekat untuk berbicara atau untuk memberikan support padanya.
"Kalian_" ucap Murni tertahan, kini tatapan itu berubah, tidak seperti biasanya.
Alensky segera maju dan mencoba lebih dekat dari jarak Draja saat ini.
"Murni, ini aku Alen"
Dan diluar dugaan, Murni seketika berdiri dan mendorong Alensky, beruntung Tranaka sigap dan melompat untuk menahan tubuh Alensky.
"Aku di siksa oleh mereka tidak apa-apa, aku selalu menerima asalkan kami baik-baik saja, tapi kenapa kalian datang dan membunuh nya!" Teriak Murni.
"PERGI!"
"PERGI!
Semua barang di lemparkan ke arah Draja dan juga Alensky, petugas medis yang mendengar keributan itu langsung terjun dan memberikan suntikan penenang kembali.
"Untuk sementara, tolong jangan mendekat dulu, pasien masih dalam kondisi yang tidak stabil"
"Baik, kami mohon maaf" Tranaka yang menjawabnya.
Draja berlari, entah kemana, Alensky duduk bersimpuh di lantai seolah tubuhnya tak bisa di gerakkan lagi.
Hanya Tranaka yang masih berusaha untuk tenang kali ini, berjongkok dan mencari tangan Alensky untuk di genggam nya lagi.
"Kita pulang" ucap Tranaka pelan.
"Murni_?"
"Aku tau, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, sudah ada tenaga medis yang akan mengurus Murni, ayo kita pulang" Tranaka lalu membantu Alensky untuk kembali berdiri.
"Apa benar yang di katakannya?, aku_"
"Sudah, kita pulang dulu" sahut Tranaka dan segera membopong Alensky, karena berjalan normal sepertinya terlalu sulit dan lama.
Alensky mengeratkan pelukan di leher Tranaka, ada tangisan yang berusaha di sembunyikan, dan Tranaka membiarkan.
Sampai di dalam mobil, Tranaka menurunkan Alensky perlahan, lalu berputar menuju kursi kemudi setelah memastikan Alensky duduk dengan nyaman.
"Kamu mau pulang kemana?" Tanya Tranaka.
"Apartemen" ucapnya.
Tranaka menghela nafasnya sebelum melajukan mobil dan menuju ke Apartemen Alensky.
Perjalanan yang cukup sepi, terlihat Alensky tak mau membuka matanya sama sekali walau tidak tidur.
"Alen?"
Tranaka memanggilnya, namun tak ada suara yang menjawabnya.
"Ini bukan salah siapa-siapa, sebuah kematian adalah sesuatu yang sudah di takdirkan"
"Aku tau, tapi aku yang menjadi pemicunya"
"Tidak, kamu hanya berniat membantunya"
"Tapi nyatanya apa?, apa yang aku lakukan justru membuat nyawa ibu Murni melayang" kali ini suara tangisan Alensky sedikit terdengar oleh Tranaka.
Tidak menyuruhnya untuk diam, Tranaka membiarkan, setidaknya tangisan yang keluar bisa membuat hati Alensky nanti akan lega.
Setiba di Apartemen, Tranaka tak membiarkan Alensky terjaga, membawanya perlahan dalan dekapan menuju di sebuah Apartemen yang sudah bisa di akses oleh nya.
Meletakkan perlahan di atas kasur, mungkin Alensky cukup kelelahan setelah semua yang terjadi hari ini, dan selimut hangat di raih oleh Tranaka untuk menutupi tubuhnya.
Berbalik perlahan, nyatanya seseorang tak membiarkan, Tangan Alensky sudah berada di jari jemarinya.
"Aku tidak ingin sendirian" ucapnya lirih sekali, tapi masih bisa tertangkap pendengaran Tranaka.
Tak ada jawaban, Tranaka hanya kembali berbalik dan berjongkok di pinggiran tempat tidurnya, keduanya saling menatap dalam diam.
"Harusnya aku bisa mencegah hal ini terjadi bukan?" Tanya nya.
Tranaka tersenyum lembut, tangannya membelai wajah Alensky, "Tidak ada yang bisa mencegah sebuah takdir yang telah di gariskan Alen"
"Tapi aku bisa saja mengeluarkan Murni dan Ibunya dari sana, aku bisa membantu mereka, aku bisa membawa mereka ke suatu tempat yang aman, aku bisa_"
"Sstt, cukup"
Tranaka menghentikan kalimat Alensky, lalu perlahan ikut merebahkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur, bergabung dengan Alensky yang memasukkan wajahnya ke dalam bantal.
"Kita tidur, ini sudah malam, aku akan disini sampai kamu bangun nanti" Tranaka lalu memeluknya.
Tenang, terasa nyaman dan aman, hati Alensky berubah damai untuk saat ini, dan akhirnya keduanya tertidur bersama.
Yuk komen ya gaes, makin seru ni, jangan lupa LIKE VOTE dan HADIAH nya.