NovelToon NovelToon
Ingat! Kita Itu Mantan

Ingat! Kita Itu Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!

Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.

"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.

"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08

"Aish, lama sekali." Arsen melihat Bianca hanya terdiam menatapnya, pada akhirnya pria itu menarik tangan Bianca dan menaruh bingkisan makanan yang ia bawa ke tangan Bianca.

"Makan yang banyak! aku tidak ingin melihat mu sakit meski kita tidak dekat lagi" ucapan itu langsung menyayat hati Bianca, setelah bengong menatap Arsen, kini gadis itu malah bengong menatap bingkisan makanan di tangannya.

"Astaga, tidak bisakah tolong jangan mengatakan-nya" ucap Bianca sambil cemberut.

Arsen merasa gemas melihat respons gadis itu, "Jadi sekarang aku harus mengatakan apa. Kita memang telah berpisah bukan?" Arsen sangat ingin mengelus kepala Bianca, namun ia tak bisa, ia pun menghentikan tangan-nya.

Arsen menghembuskan napasnya panjang, alih-alih mengelus kepala gadis itu, ia lebih memilih duduk duduk di sampingnya.

"Sini cerita, kamu lagi ada masalah apa?" Tanya Arsenio. Bianca pun tanpa pikir panjang, langsung menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu.

"Kau tahu Arsen, bosku, dia memecatku dari kantor. Entah apa salah dan dosa yang aku perbuat. Kau lihat sendirikan, aku selalu rajin, selalu tepat waktu. Sekarang aku jadi pengangguran, terus aku harus gimana? Aku juga masih punya tunggakan," ujar Bianca kepada Arsen.

Arsenio pun menoleh, menatap wajah Bianca. Ia menangkup wajah gadis itu sambil menolehkan-nya ke kanan dan kiri.

"Kenapa?" tanya Bianca pada Arsen. Sedangkan Arsen, dia hanya heran pada kelakuan mantan-nya itu. Mereka sudah jadi mantan, namun keduanya masih terus saling curhat. Jadi, sebenarnya niat atau tidak jadi mantan?

"Tidak ada apa-apa," Arsen kemudian mengambil ponselnya.

"Nomor rekeningnya masih sama kan?" tanya Arsen dan Bianca hanya mengangguk.

Bainca yang sadar pun sempat diam, ia kemudian menghentikan Arsen. "Tunggu Arsen! kamu mau apa?"

"Ya bayarin hutang kamu lah, kamu kan bilang punya tunggakan," Arsen benar-benar enteng sekali berbicara seperti itu, tanpa sedikitpun rasa canggung.

"Tunggu Arsen, kita itu udah jadi mantan. Ingat tidak? tadi cafe, kita saja sudah asing. Kok sekarang jadi dekat lagi sih. Wah, ini mah harus jaga jarak!" Bianca yang sadar pun langsung bangun dari duduknya, ia berdiri dan menjauh dari Arsen. Namun pria itu tak mau kalah, ia malah semakin mendekat kepada gadis itu.

"Stop Arsenio! berhenti di situ!. Berhenti!, ini perintah!!!" ucap Bianca sambil mundur-mundur cantik.

Tapi Hal itu malah membuat Arsen tertawa.

"Kok ketawa si, emangnya apa si yang lucu?" Bianca benar-benar tak terima, ia merasa seperti tengah di ledek oleh mantannya itu.

"Ya kamu lah siapa lagi." Arsen semakin mendekat, ia terus menggeser posisinya saat duduk mendekat pada Bianca, sedangkan Bianxa yang di dekati oleh Arsen pun semakin menjauh.

Hingga akhirnya Bianca benar-benar muak dan memilih berdiri, lalu tanpa pikir panjang, ia pun langsung lari kalang kabut.

"WOI, MAKANAN-NYA NGGAK DI BAWA?!" Teriak Arsen sambil mengangkat bingkisan itu.

"O iya, lumayan, gratisan." Ucap Bianca.

Gadis itu pun kembali melangkah mundur, tanpa sedikit pun menoleh atau menatap Arsen secara langsung.

Arsen menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan mantanya yang sedikit agak kurang waras. Gadis itu ingin mengambil makanannya, mengesampingkan tubuhnya dan tanpa menatap Arsen langsung menarik bingkisan itu.

Setelah mendapatkan bingkisan makanan, Bianca pun tersenyum dan dengan secepat kilat, gadis itu pun berlari menjauhi Arsen.

"WOI MANTAN, MINIMAL MAKASIH!" Teriak Arsen, dan mendapat jempolan tangan dari Bianca.

"Ck ck, masih sama dia ternyata, benar-benar sangat menggemaskan" ucap Arsen, ia benar-benar salah tingkah saat ini.

"Wah, serius. Ini pasti jodoh, Bianca kita harus bertemu lagi. Apa pun alasan kamu, kamu harus tetap jadi milikku."

Mereka ini memang agak lain. Biasanya jika orang putus mereka akan saling menjauh dan asing, namun hal ini itu tidak berlaku untuk kedua orang ini.

***

Bianca berjalan mengendap-endap masuk ke dalam rumah, ia masuk dari pintu belakang. "Hehe, aman" Ckck, Bianca benar-benar berpikir seperti itu, ia berpikir bahwa jika melewati pintu belakang, maka ia akan aman dari Lucia.

Namun tragis sekali nasib gadis itu, saat dirinya baru saja masuk ke dalam dapur, ia sudah di sambut hangat oleh Lucia. Bahkan kini, gadis itu tengah menyeduh teh dan menuangkan teh itu di cangkir, teh itu sampai tumpah di meja. Dengan wajah tertekuknya, dan bibir yang terlihat mencibir serta sorot matanya yang tampak datar. Membuat Bianca yang baru saja masuk, langsung terlihat kikuk. Ia hanya bisa meringis dan mencoba berjalan normal. Namun sayang bagi Bianca, karena Lucia benar-benar masih marah kepadanya.

“KAK BIANCAAAAAAAA”

Teriakan bagaikan toa masjid itu terdengar lagi, membuat semua orang yang berada dalam rumah langsung pergi ke area dapur.

“Lucia, maafin kakak ya. Besok deh kakak janji.”

“Nggak usah, sudah ada yang benerin,” ucap Lucia sambil kembali merajuk.

“Lucia ada apa?”

“Itu, anak ibu sudah pulang,” ucap Lucia dengan cuek sambil menunjuk ke arah Bianca.

“Hem, dari mana saja kamu hah?" Bu Mayang menarik telinga Bianca dan membawanya pergi dari dapur.

“Hp Lucia sudah benar belum?" tanya Bianca pada Axel.

“Sudah belum ya?"

“Ihhhhh aku tanya sama kamu apa, kamu jawabnya apa. Jangan bercanda please!?" ucap Lucia dan di balas cubitan pipi oleh Axel.

“Jujur saja deh!” Lucia berbalik badan dan menatap wajah Axel yang berdiri tepat di belakangnya.

“Ok soal apa”

“Soal semuanya, kamu pasti ada alasan kan. Untuk pindah kemari, Hem?”

“Tidak, itu bukan karena kamu. Aku butuh rumah baru, itu lah mengapa aku ke mari” ucap Axel menyahuti Lucia.

“Ekhem”

“Ekhem”

Rupanya di belakang mereka ada kakak laki-lakinya yang tengah berdiri di ambang pintu dapur.

“Kakak sedang apa berdiri di situ? Mau nguping atau bagaimana? hah” ujar Lucia sambil menaikkan nada volume suaranya ketus.

“O, kakak. Kakak cuma numpang lewat, mau ambil gelas.” Pria itu berjalan mengambil gelas di rak piring. Namun ia malah lupa mengambil air dalam teko, dengan panik dan karena takut akan terkena marah oleh adiknya, pria itupun berpura-pura minum segelas air.

Setelahnya dia pun pergi meninggal kan Lucia dan Axel di dapur. “Itu dia serius minum air?" tanya Axel yang tampak kebingungan. Pasalnya setetes air pun pasti tak akan ada dalam gelas itu.

“Biarin, namanya juga penganggur”

“Kalau kamu pengangguran bukan?” tanya Axel yang coba menggoda Lucia.

Lucia pun langsung cemberut, “o iya, kalau kamu kan beban keluarga,” mendengar hal itu terlontar dari mulut Axel, Lucia pun mengambil teko berisikan teh dan mengangkatnya ke atas. Ia bermaksud ingin melemparkannya pada Axel.

Namun pria itu sudah ngancir pergi lebih dulu, Axel berlari ngibrit ke ruang tamu.

“Kau kenapa?" tanya Bianca pada Axel.

“O, tidak. Tidak apa-apa.”

“O iya, Axel,” mendengar namanya di panggil, pria itu pun menoleh.

“Iya ada apa?”

“Sudah lama jadi Asisten dosen?”

“Lumayan lah, 1 tahun ada”

Keduanya saling berbincang, Lucia menatap hal itu dan dia pun menjadi jutek. Ia menaruh teh di cangkir Axel lalu juga memberikan-nya kepada kakak dan ibunya.

“Thanks dek” ucap abangnya yang senang karena di buatkan teh.

“hem” jawab Lucia singkat.

Bianca mengangkat gelas teh itu, mencium harum teh itu dan bermaksud akan meminumnya. Namun sebelum ia meminumnya, gelas teh itu sudah lebih dahulu di curi oleh Lucia dari Bianca meminumnya. “Hem, enak banget tehnya”

“Kau kan membuat ini untuk ku, lalu mengapa harus kau ambil Lucia?"

Lucia tersenyum miring, “Tapi yang membuat teh enak ini kan aku, bukan kakak. Jadi nggak bagus dong kalau yang buat nggak ikut minum”

“Sudahlah kakak minggir!, aku mau duduk,” Lucia kemudian berjalan melewati Bianca.

“AAAAAAAAAAAA” Bianca berteriak keras, saat kakinya dengan sengaja di injak oleh Lucia dengan cukup keras.

“Ups maaf nggak sengaja”

“LUCIA KAU MEMANG SENGAJA MEMBUAT KU MARAH ATAU BAGAIMANA HAH?”

Lucia bukan-nya meminta maaf ia malah mengacungkan jari tengah dan itu benar-benar membuat Bianca dan Bu Mayang menjadi murka. Sedangkan Axel, ia malah asyik mengobrol dengan kakak laki-lakinya.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!