NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1.

“Sombong sekali paduka, mau bicara saja sibuknya minta ampun.”

Meskipun keluhan telah diucapkan dengan terbuka, tapi masih tidak mengubah fakta bahwa pembicaraan telah diputus secara sepihak. Membuat dia yang mengadu, hanya bisa menggigit kecil bibir bawahnya tertahan.

Menatap ke lintasan balap yang begitu terbuka, hingga membuat rintik hujan bisa menjangkau dirinya, sekali lagi dia hanya bisa membuang nafas panjang.

“Kenapa denganmu Sor?”

“Tidak, bukan apa-apa.”

“Bukan apa-apa tapi wajahmu sepahit pil obat, yang benar saja!”

“Serius, bukan apa-apa.”

“Jangan katakan Kakakmu lagi, kan?”

“Ck, tidak salah lagi. Memang hanya Laith seorang yang bisa membuat Soraya murung..” — “Haahahhaa~~~”

Timpal menimpal percakapan yang berakhir tawa ini, tidaklah mendapatkan bantahan dari si pemilik nama Soraya. Dia memang sedang tidak dalam suasana hati yang baik sekarang. Itulah kenapa teman-temannya mencoba menghibur dengan merangkul pundaknya.

“Sudahlah Sor, balapannya sudah mau dimulai. Yang paling penting soal Kakakmu itu, uang kirimannya selalu tepat waktu. Benarkan Nes?”

“Yaps, seratus persen denganmu.”

“Ck kalian ini!” Soraya memutar bola matanya jengah dengan kedua tangan terlipat di dada. Meskipun kesal, tapi acap kali diingatkan bahwa saldo ATMnya tidak pernah kosong oleh sang Kakak, suasana hati Soraya pasti membaik. Ini bahkan membuatnya menyunggingkan sudut bibir dengan asal.

Hingga matanya yang acuh, tidak sengaja bertemu mata hitam di meja ujung lain. Masih dengan senyuman asal-asalannya, Soraya mengangkat gelas wine dengan sebelah alis terangkat seduktif, manakala mata pria itu juga tidak beranjak darinya.

“Eh eh, balapannya sudah mau mulai. Ayo ke depan,” ajak salah seorang bernama Ines.”

“Julia, Soraya, ayo!”

Mendengar ini, gadis lain bernama Julia juga hendak berdiri. Hendak mendekat ke area balkon, untuk melihat ke jalan lebih dekat.

“Soraya? Sor?” — “Sor hei?!”

Soraya yang disikut akhirnya teralihkan dari pria itu dengan sedikit tawa sinis di wajahnya. Dia tertawa karena perasaan bosan membuatnya bermain-main dengan mata.

“Soraya, kau dengar tidak?”

“Iya-iya aku dengar,” jawab Soraya asal, yang masih bisa dilihat oleh kawan bicaranya.

Mengira Soraya masih berpikir tentang Kakaknya, Julia selaku sahabat segera membujuk lagi. “Sudahlah Sorayaaa, … ini waktu bagi kita untuk bersenang-senang. Kapan lagi bisa nonton balapan pro di tepi pantai begini? Ini harus dinikmati. Dinikmati! Lagian kan besok itu kita harus balik kampus.”

“Yasss, benar kata Julia. Dunia kampus menunggu kita untuk menghabiskan uang di sana, atau lebih tepatnya uangku.”

Ucapan terakhir milik Ines, sontak membuat Julia dan Soraya pecah tawa bersama. Sebagai satu-satunya yang membayar kuliah disaat dua sahabatnya mendapatkan beasiswa, Ines tidak bisa menahan perasaan tertekannya.

“Cukup, jangan bahas itu. Daya humorku sedang rendah sekarang.” Mengatakan ini, Ines pun mengambil gelas berisikan wine, dan mengangkatnya. “Lebih baik kita bersulang dulu. Bersulang untuk meja VIP curian ini.” — “Pffft.” - “Hahhaaa~~~”

Ketiganya berbagi tawa yang keras sekali lagi, sebelum berbagi dentingan gelas satu sama lain.

Ines dengan rambut pendek tegak lurusnya, bahkan mengambil botol untuk meneruskan wine-nya yang tidak cukup. Mereka masih berbagi tawa hingga akhirnya balapan dimulai.

Hal ini jelas menarik banyak pasang mata ke arah mereka. Bagaimanapun saat ini mereka ada di salah satu lintasan balap paling terkenal di dunia. Sebuah lintasan yang terletak dipinggir pantai, yang juga terkenal oleh destinasi wisatanya yang luar biasa. Penampilan ketiganya yang masih segar di awal dua puluhan, sangat memanjakan mata ditambah paduan keindahan fisik mereka.

Memang tidak semua mata suka memandang mereka, karena pada dasarnya, perempuan dan sesama perempuan sangatlah sensitif.

Ines, si rambut sebahu dengan bahu yang indah, adalah si kaya dari keluarga cemara. Auranya selalu menyenangkan kemanapun dia pergi, meski tindakannya tidaklah selalu. Seperti saat ini, set meja VIP yang sedang mereka duduki, adalah hasil tindihan uang Ines yang lebih banyak dari pada pemesanan sebelumnya.

Lalu ada Julia, si pemilik pear body yang cukup berani dalam gaya pakaiannya, juga merupakan si cerdas kesayangan semua dosen. Dia berasal dari keluarga sederhana, namun karena kecerdasan serta kemampuan berbaurnya yang baik, dia bisa menjadi teman dari para elit sejak di sekolah.

Lalu ada Soraya kita, si cantik perpaduan tiga ras, membuat kecantikannya sangat mencolok. Sulit untuk memalingkan wajah dari Soraya tidak peduli sudah berapa kali kau melihatnya. Ini membuatnya seolah memiliki magnet untuk menawan.

Soraya sendiri adalah sicerdas lainnya, dan juga cukup kaya menurut ukuran jumlah uang jajannya. Namun tidak ada yang sempurna dalam aspek kehidupan, begitupun dengan Soraya. Latar belakang keluarga dan kehidupan pribadi adalah masalah terbesarnya.

Masalah yang membuat dia menjadi sembrono dan acuh dalam hidup.

~~

Sedikit lelah setelah berdiri lama melihat langsung ke jalan, Soraya akhirnya berbalik untuk duduk. Namun saat dia berbalik, dia

hampir menabrak pria yang tadi sempat berbagi tatapan dengannya.

Pria itu hendak lewat di belakang Soraya, jadi tidak menduga bahwa Soraya akan berbalik tiba-tiba. Tapi sebagai pria, dia sudah menunjukkan refleks hendak menahan semisal mereka tertabrak, tapi kelincahan kaki Soraya tidak mengizinkannya menyentuh siapapun.

Berdua mereka hanya saling melewati, meskipun hembusan nafas mereka telah menyentuh satu sama lain.

Harum, pikir Soraya mengenai pria itu. Namun itu hanya sebatas pikiran dengan kesan baik, karena baginya tidak semua harus diperhatikan.

•

•

“Bagaimana Tuan Kim? Bukankah tempat ini sempurna untuk investasi terbaru anda?”

Mendengar namanya disebut, pemilik mata hitam berat itu segera mengangguk perlahan.

“Tentu saja. Ini sempurna,” jawabnya.

Setelah mengatakan formalitas itu, keduanya pun berjabat tangan tanda sepakat dan tertawa formal.

Sang penanya juga kembali mempersilahkan pria yang disapa Tuan Kim itu untuk menikmati pemandangan selagi sirkuit sedang heboh-hebohnya. Berpindah arah ke sisi seberang, membuat mata sang Tuan tanpa sadar kembali pada tempat Soraya dan teman-temannya sempat berada tadi.

Namun alisnya yang hitam tiba-tiba berkerut halus, ketika tidak mendapati Soraya lagi disana.

Apa ini? Herannya sendiri dalam hati. Dia heran, kenapa dia melihat kearah yang tidak seharusnya dia lihat.

“Tuan Kim, maaf jika saya lancang. Tapi apa benar, saya dengar anda akan segera menikah?”

Mendengar pertanyaan yang menyentil keheranan dalam hatinya, pria itu segera sadar penuh. Dia mengangguk kecil, “Mm.”

Sang penanya yang harus selalu siap sedia dengan mode menjilat, segera mengembangkan senyum terbaiknya. “Wah luar biasa, anda dan calon istri pasti akan menjadi pasangan sempurna Tuan. Jadi dengan sopan, izinkan saya untuk memberi selamat sebelumnya Tuan Kim.”

Melihat gelas alkohol terarah padanya, pria yang bernama lengkap Alexander Kim itu sedikit tidak nyaman. Dia tidak terlalu suka minum, apalagi pada sore menjelang malam begini. Namun mendengar ini sebagai ucapan selamat atas pernikahannya yang akan datang, Alexander akhirnya mengulurkan tangan.

“Terimakasih.”

Ucapan selamat itu dimulai dengan baik dan sopan, bahkan semakin baik, ketika Alexander yang tidak sengaja bertemu dua teman dari negaranya, di negeri asing ini. Lalu seperti biasa, alkohol memainkan perannya. Beberapa pria berbicara hal-hal baik yang panjang, di tengah waktu yang terus berlalu hingga menjadi malam yang dingin, beserta angin pantai dan terpaan ombak yang menambah kombinasi memabukkan.

Jadi ketika tiga jam berlalu. Ketika perlombaan balap akhirnya juga ikut selesai, itu cukup untuk membuat Alexander Kim, pria matang tiga puluh lima tahun, seorang pebisnis yang sebentar lagi akan terjun dunia politik kehilangan semua martabatnya dalam asam manis alkohol.

Dengan dibantu para pengawal, dia yang sudah sempat muntah dibawa ke area Resort yang hanya sekompleks. Tidak ada yang spesial, semua tampak pada tempatnya. Bahkan asisten khususnya juga sudah menuntunnya ke dalam kamar untuk beristirahat.

Tapi ada yang bisa dipamerkan, ketika daya mabuk tidak bisa melawan disiplin diri yang dilakukan seseorang selama bertahun-tahun. Cukup lama tertidur, Alexander sudah terbangun tepat pada pukul empat pagi. Waktu biasa, dia selalu bangun setiap hari. Walaupun tidak bisa melepaskan diri dari pening dan linglung akibat mabuk, dia berusaha sebisanya untuk tetap bangun.

“Argh,” erangnya tertahan.

Melihat bayang ruangan yang luas, dia dengan susah payah akhirnya sampai pada area dekat pintu masuk, tempat dimana tombol lampu utama berada.

“Kebodohan,” gumamnya kesal. Dia kesal karena melewatkan batasannya terhadap alkohol, salah satu hal yang menjadi kelemahannya.

Dan untuk menghadapi kelemahan seperti ini, orang-orang seperti Alexander selalu memiliki caranya sendiri. Alih-alih minum ramuan penghilang pengar dan sebagainya, Alexander lebih suka berjalan-jalan untuk memulihkan dirinya dari mabuk.

Jadi meskipun masih pening, dia memakai sandalnya dan hendak turun. Tapi belum sampai ke bawah dia melihat bahwa gerimis menyapa, tidak memungkinkannya untuk jalan kaki. Jadi dengan begini, Alexander memilih ke area resepsionis dan mengambil mobil untuk dirinya. Sebuah keuntungan kehidupan orang kaya.

“Tuan membutuhkan yang lain?”

“Tidak,” jawab Alexander yang hanya mengambil kunci dan berlalu pergi. Dia benar-benar berlalu pergi tanpa arah. Mengemudikan mobil di negeri orang pada pukul empat pagi.

Walaupun tampak nyeleneh, tapi hembusan sepoi-sepoi angin yang mengenai wajah tampannya, berhasil memulihkan kondisi Alexander dengan cepat. Meskipun masih kabur dalam berpikir, tapi dia cukup sadar untuk mengemudi.

“Desain yang bagus,” gumam Alexander mengomentari area pinggir sungai, dari sungai tengah kota. Ada banyak bangku, ada parkiran, ada trek lari, dan lampu yang bagus.

Melihat ini, Alexander merasa terundang untuk berhenti. Kesepian seperti ini benar-benar sesuatu yang langkah dalam hidupnya.

Membelok mobilnya ke pinggir sungai, dan memarkirkan disana, Alexander puas. Dia dengan nyaman membuka seat belt tanpa berniat turun. Hanya ingin sedikit lebih udara segar, sebelum udara disekitarnya berubah mencekam ketika mobilnya tiba-tiba berbunyi keras. BRAKKK–

“AKH!” Alexander memegang dadanya syok. Bunyi itu terdengar datang dari arah pintunya.

Dia dengan naluri penuh hendak turun, ketika wujud perempuan dengan rambut menutupi wajah tiba-tiba berada di samping pintunya.

“BRENGSEK!” Refleksnya.

Sementara perempuan yang berdiri dalam pose setan itu, ternyata adalah Soraya yang sama mabuknya.

PLAK. Satu tamparan mendarat begitu saja di pipi Alexander, membuatnya membeku seketika.

“Brengsek? Kau bilang aku brengsek? Dasar tidak sopan.” PLAK. Tamparan kedua datang dengan mulus ke pipi Alexander, membuat Alexander semakin hilang jiwa. Memang bukan tamparan yang kuat, bahkan hampir tidak ada tenaga berarti. Tapi tetap saja, Tuan Muda Kim yang bangga, terkejut akan hal ini.

“Aku bilang jemput sendiri, bukan suruh kirim gigolo. Dasar!”

Mendengar ini, Alexander akhirnya perlahan pulih. Dia mengedipkan matanya beberapa kali, mengetahui bahwa yang sedang bicara, bahkan sedang bersandar di jendela mobilnya saat ini adalah seorang perempuan. Yang juga dari aromanya, jelas telah meneguk alkohol yang tidak sedikit.

KLIK. Lampu mobil dinyalakan.

Satu detik, dua detik, tiga detik, dan hampir sepuluh detik Alexander terdiam. Dia terdiam melihat Soraya yang juga menatapnya, tapi dengan sinis bercampur sengit.

Alexander tidak akan bohong, dia terkejut. Dia mengenali Soraya dengan baik, tapi tidak begitu dengan Soraya.

“Nona, apa yang kamu lakukan disini?” Mata Alexander segera kesana dan kemari melihat situasi, semakin heran karena Soraya benar-benar sendirian di tempat seperti ini.

Mendorong sedikit pintu mobilnya, sambil memegang tangan Soraya yang tampak tidak bisa mengimbangi tubuhnya sendiri, Alexander mencoba keluar.

“Nnnggg, … jangan pegang-pegang!” Tolak Soraya sambil menghempaskan tangan Alexander.

Benar bahwa dia sudah di bawah pengaruh alkohol, tapi tidak menerima orang memegangnya sembarangan.

“Maaf, tapi aku hanya sedang menahan—”

“Helah, aku bilang lepaskan ya lepaskan!” Marah Soraya, yang memaksa Alexander melepaskan tangannya. Sementara Alexander, dia tahu jika dia melepaskan tangan Soraya sambil mendorong pintu, wanita itu akan terjatuh.

Benar saja. “Lepaaaaas!” — BUG.

“Awwww,” Soraya meringis karena terjatuh. Sudah terjatuh, dia masih tertimpa Alexander yang tidak kecil pula.

“Maaf, maafkan aku. Aku minta maaf,” ujar Alexander berulang kali. Dia tidak mengira bahwa masih ada sisa alkohol di tubuhnya, hingga tidak sadar turun dengan kaki yang tersilang dan menimpa Soraya.

“Jangan pegang-pegang sialan!” maki Soraya yang membuat Alexander mengerutkan dahinya dalam.

Ada apa dengan jangan pegang-pegang?

“Akh!” Alexander mengangkat tangannya terkejut. Apa itu? pinggang ramping namun lembut dalam ukuran yang pas sempat ada dalam lingkaran tangannya tadi.

Baru sadar apa yang terjadi, Refleks Alexander langsung berdiri. “Nona maafkan aku,” ulang Alexander, sambil membantu Soraya berdiri.

Setelah mereka sama-sama berdiri, Alexander harus memalingkan wajahnya melihat pakaian bagian atas Soraya sedikit terbuka.

Yah, dia memang mabuk tapi tidak brengsek. Bahkan tidak cukup sampai disitu, dia juga kembali ke dalam mobil dan mematikan lampu mobil. Bukan seperti yang dipikirkan orang mesum, tapi menjaga agar orang lain tidak perlu melihat pantulan penampilan wanita muda yang berantakan itu. Termasuk juga dirinya.

Sementara itu, Soraya si pelaku yang membuat keributan di mobil orang lain, ada dalam masalah mabuk banyak orang. Apalagi kalau bukan salah orang.

Saat ini dia sedang menunggu Ines menjemputnya, sedari meninggalkan hotel untuk bermain di kasino sekitar. Tidak menyangka bahwa dia akan salah mengira mobil Alexander sebagai Ines yang menjemputnya. Sejauh itu alkohol telah mempermainkannya.

Namun begitu, Soraya sedikit lebih handal dari Alexander dalam permainan bertahan lambung. Meski sudah urak-urakan dengan celana panjang hitamnya, dan atasan dengan desain terbuka dibelakang, dia masih bertahan dalam kecantikannya dan tidak muntah sama sekali.

Dengan sedikit payah, Soraya menopang tangannya di mobil untuk berbicara.

Meski tadi sempat saling menatap dengan Alexander, dan bahkan menggoda dengan senyum kecilnya, Soraya tidak benar-benar terkesan dengan Alexander. Jadi dia tidak mengingat bahwa pria ini, adalah pria tadi sore.

“Siapa kau? Apa kau dikirim oleh Ines heh?”

“Maaf Nona, kamu sepertinya telah salah orang.”

Mendengar permintaan maaf yang begitu bermartabat dan formal, Soraya menepuk tangannya. “Wow, Ines benar-benar gila. Dia memesan yang sopan dan tampan.”

Mendengar ini Alexander dengan sabar kembali menjelaskan dirinya, yang masih tidak jelas juga bagi Soraya.

“Sebenarnya aku tidak melakukan hal-hal tercela seperti ini. Tapi karena kau terlihat eksklusif, jadi aku akan menerimamu sebagai hadiah sebelum ujian selesai.”

“Hadiah?” Alexander melengos tidak mengerti, terkhusus pada bagian, 'aku akan menerimamu sebagai hadiah’ , ini membuatnya merasa sesuatu telah berjalan salah.

Dan semua terbukti, manakala melihat Kataela mulai berjalan ke arahnya dengan senyuman yang sangat menawan, sekaligus menggoda. Ya, menggoda. Karena dalam sekejap dia merasa nafasnya tercekat.

Tidak cukup tercekat, dia hampir rubuh dengan kepalanya sakit dalam sekejap, manakala Soraya tiba-tiba menggantung kedua tangan di lehernya.

“Tunggu Nona, kamu salah paham kukatakan. Aku tidak datang untukmu, kita adalah orang asing.”

Gerakan Soraya yang mulai mengelus rahang Alexander terhenti mendengar hal ini. “Eh?”

Lagi Soraya membuka mulut, dan alkohol keluar dari sana membuat Alexander yang sempat merasa lebih baik, kini kembali pening saking dekatnya mereka.

“Lalu kau siapa?” tanya Soraya dengan sedikit kesadarannya.

Alexander pun membuang nafas panjang sebelum menjawab, “Pastinya kita orang asing.”

Mendengar kata orang asing, otak mabuk Soraya sedikit memproses. Tangannya turun dari Alexander, dan wajahnya mulai cemberut dengan pipi yang digembungkan. Tubuhnya yang sedikit berisi dan sintal membuat Soraya terlihat dua kali lebih memikat disaat seperti ini.

Alexander tidak yakin, tapi dia merasa tersesat meski hanya sesaat dalam pemandangan ini.

“Huhu, … kalau begitu aku mau pergi ke Ines!” Soraya menghentakan kakinya seperti anak kecil sebelum akhirnya berbalik. Dia jelas sangat mabuk meski berbicara dengan benar, itu karena tangannya berusaha membuka pintu mobil Alexander dan ingin naik.

“Nona, kamu ingin diantar saja?”

Alexander yang walaupun kembali pusing, juga ikut membantu membukakan pintu belakang dan menuntun Soraya kesana. Tidak ada hal lain yang perlu dia lakukan bukan? Karena bagaimanapun ini adalah perempuan, jadi dia masih harus mengantarnya kembali dengan aman jika bisa.

“Hati-hati,” Alexander menahan lengan Soraya yang hampir jatuh saat hendak masuk. Si mabuk menopang si mabuk lainnya.

“Nona katakan alamatmu, aku—

Soraya yang sedikit terkilir kakinya, meringis dibuat. Membuat Alexander mencoba membantunya lebih, namun ditolak Soraya. “Jangan pegang-pegang, aku mau pergi ke Ines saja.”

Alexander yang didorong, terkekeh kecil. Bertanya-tanya apakah memang selucu ini perempuan jika mabuk?

Namun belum juga Soraya duduk dengan benar, Alexander mendengar dua orang berlari. Dan orang-orang ini, menggunakan aksen yang sama dengannya. Mereka datang dari samping kanan, yang berarti mereka sedang dia belakangi saat ini, dan mereka cukup dekat.

DEG.

Dia adalah Alexander Kim, pebisnis dan calon politikus. Dia jelas tidak bisa ditemukan dalam keadaan seperti ini, atau entah apa yang akan diberitakan tentangnya. Apalagi saat ini, satu negaranya tahu bahwa dia hendak menikah dengan sang kekasih.

Jika dia berbalik, dia takut akan resiko kelihatan. Jika dia pindah ke depan pun, dia masih harus menyalakan mobil yang pasti akan menghidupkan cahaya.

Disaat paling genting dan waktu yang sempit, serta keterbatasan berpikir akibat alkohol maka tidak ada jalan keluar terbaik yang bisa dia cari selain masuk ke tempat yang sama dengan Soraya.

Tapi Soraya yang melihat Alexander tiba-tiba masuk, jelas terkejut. Dia menjerit, dan pada saat itu benar-benar memicu kotak hitam pada diri Alexander. Guna membungkam Soraya, dia refleks membekap mulut gadis itu.

“Aw.” Alexander menahan sakit saat tangannya digigit. Dia terpaksa melepaskan, namun Soraya kembali berteriak, “TOLONG!”

Mendengar ini, Alexander benar-benar kehilangan pikirannya. Dia mengunci bibirnya dengan bibir.

DEG.

Ini mengagetkan Soraya serta dua orang yang lewat sambil lari itu. Namun merasa itu privasi, keduanya sedikit menambah kekuatan lari, hingga ciuman Alexander dan Soraya tidak perlu terlalu lama.

Lolos. Dia berhasil lolos.

PLAK. PLAK. Itu tamparan yang keras dan keras, membuat Alexander pusing. Sedikit kaget dengan perubahan kekuatan tamparan Soraya.

Namun dia bahkan belum merespon, ketika Soraya menabrakkan dirinya pada Alexander. Nafas keduanya dapat dirasakan satu sama lain, dalam dingin dan gelapnya bangku belakang.

“Itu kasar Tuan, aku harus mendapatkan balasan,” ujar Soraya, yang tanpa aba-aba langsung menggigit bibir bawah Alexander sampai mengeluarkan cairan merah.

Alexander yang terkejut, merasakan sakit luar biasa pula di bibirnya yang terluka. Namun emosi dari rasa sakit itu bergerak aneh, membuat tubuhnya merespon dengan cara yang lain. Alih-alih mendorong orang yang melukainya, Alexander malah melingkarkan tangannya pada pinggang Soraya dengan kuat dan kasar.

“Aku memang bersalah, tapi kamu terlalu kejam Nona.”

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!