NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEJUANG ZAMAN COVID

Seragam Atasan, Celana Piyama

​Bab 1: Musim Corona dan Sekolah dari Kasur

​Dunia tiba-tiba berhenti berputar pada awal tahun 2020. Virus dengan nama keren tapi mematikan, Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2—atau yang lebih populer dengan panggilan COVID-19—resmi menginvasi planet Bumi. Penyakit pernapasan yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok pada akhir Desember 2019 itu mendadak menjadi pandemi global. Semua orang dikurung di dalam rumah; masker jadi barang berharga, dan cairan pembersih tangan mendadak lebih mahal daripada parfum premium.

​Efek dominonya sampai ke kehidupan persekolahan. Sebagai anak SMK yang baru membayangkan serunya masa-masa remaja di sekolah, aku harus menerima kenyataan pahit sekaligus nikmat: sekolah dialihkan menjadi sistem daring. Orang-orang menyebutnya pembelajaran jarak jauh, tapi di otakku, ini tak ada bedanya dengan homeschooling. Bedanya, kalau homeschooling biasa dilakukan secara personal, yang ini dilakukan oleh satu sekolah secara serentak dengan segala kekacauannya.

​Jujur saja, awal mulanya terasa seperti surga dunia. Siapa coba yang tidak bahagia bisa mengerjakan tugas matematika sambil berbaring telentang di kasur, berselimut kain lembut, dengan camilan keripik kaca di samping bantal? Tidak ada lagi drama bangun jam lima pagi, tidak ada ritual mandi dingin yang menyiksa, dan tidak perlu takut kena razia kedisiplinan di gerbang sekolah.

​Namun, surga itu ternyata memiliki biaya operasional yang mahal; kuota dan sinyal.

​Kehidupan murid SMK di era pandemi sangat bergantung pada indikator sinyal di pojok kanan atas layar ponsel. Jika indikator itu menunjukkan 4G dengan garis penuh, hidup terasa indah. Namun, ketika garis itu mendadak hilang dan berganti menjadi huruf ‘E’ atau bahkan logo silang, saat itulah kepanikan massal dimulai.

​"Ayo dong, muter terus dari tadi!" gerutuku suatu sore, menatap layar ponsel yang menampilkan icon loading tanpa henti.

​Batas pengumpulan tugas tinggal lima menit lagi. Aku sudah memotret lembaran jawaban dengan gaya maksimal, tapi foto itu tersangkut di awan-awan internet karena sinyal rumahku mendadak mati total. Posisiku sudah berpindah-pindah, mulai dari berdiri di atas kursi, memanjat jendela kamar, sampai berdiri di dekat pintu pagar luar demi mencari sekotak sinyal nyasar.

​Ketika tenggat waktu melewati pukul 23.59 dan gambar belum juga terkirim, aku hanya bisa mengelus dada; Good bye nilai tugas. Kalau sudah begitu, pasrah adalah satu-satunya pilihan rasional daripada membanting ponsel yang cicilannya belum lunas.

​Bab 2: Penyamaran Setengah Badan

​Kekacauan online learning tidak berhenti di urusan krisis kuota. Puncak dari keabsurdan era pandemi ini terjadi saat guru-guru mulai mengenal aplikasi tatap muka virtual bernama Zoom Meeting.

​Pagi itu, alarm ponsel berbunyi nyaring pukul tujuh pas. Jam pelajaran pertama dimulai lima menit lagi, dan aku baru saja terbangun dengan mata yang masih lengket serta nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Dengan panik, aku menyambar kemeja seragam atasan yang tergantung di balik pintu. Tanpa sempat menyisir rambut dengan benar, aku langsung mengenakannya begitu saja di atas piyama.

​Ya, piyama tidur bergambar karakter kartun warna merah muda dengan celana panjang kendor yang sangat tidak estetika.

​Strategiku sederhana: kamera ponsel hanya akan menyorot dari dada ke atas. Jadilah pagi itu aku tampil sebagai murid teladan dari dada ke kepala; berkerah rapi, wajah tampak menyimak materi, dan tatapan mata fokus ke layar. Namun, di bawah meja, dari pinggang sampai ujung kaki, aku adalah seorang manusia yang baru bangkit dari alam mimpi dengan celana tidur gombrang.

​"Anak-anak, tolong semua menyalakan kamera ya, Bapak mau mengambil foto dokumentasi untuk presensi," suara guru mata pelajaran terdengar dari pengeras suara ponsel.

​Aku menelan ludah; Aman, yang penting jangan disuruh berdiri.

​Sepanjang sesi pertemuan virtual itu, dadaku berdebar kencang. Setiap kali guru menyebut namaku untuk bertanya, aku menjawab dengan suara setenang mungkin sambil menahan napas, berdoa dalam hati agar tidak ada insiden aneh—seperti kucing rumah yang melintas dan menumpahkan minuman, atau ibuku yang mendadak masuk kamar sambil membawa jemuran dan menyuruhku berdiri.

​Kalau sampai aku dipanggil berdiri dan seluruh teman sekelas melihat kombinasi seragam SMK atas dan celana piyama bawah ini, tamatlah riwayat sosialku di sekolah. Aku pasti akan menjadi bahan gunjingan di grup WhatsApp tanpa guru selama tiga tahun berturut-turut. Beruntung, hingga tombol Leave Meeting ditekan, rahasia besar itu tersimpan rapi di bawah kolong meja.

​Bab 3: Bencana Unjuk Bakat

​Kalau insiden celana piyama bisa terlewati dengan selamat, krisis berikutnya benar-benar tidak bisa dihindari.

​Suatu hari, di grup WhatsApp kelas, wali kelas mengirimkan pengumuman yang membuat bulu kudukku berdiri. Ada tugas wajib pengumpulan bakat murid. Setiap siswa diminta merekam video pendek yang menampilkan keahlian khusus mereka, lalu mengumpulkannya ke wali kelas.

​"Duh, bakat apaan? Bakat rebahan delapan jam tanpa histeris?" bisikku pada diri sendiri.

​Aku mencoba menolak. Aku membalas pesan di grup dengan alasan tidak memiliki alat yang memadai, tapi bu rayuan wali kelas jauh lebih ampuh daripada alasanku. Tugas itu hukumnya wajib dan masuk ke dalam nilai kepribadian. Tidak ada jalan keluar.

​Dengan berat hati dan modal nekat, aku memutuskan untuk mengambil jalan pintas: bernyanyi. Padahal, aku sadar betul kapasitas vokal yang kumiliki. Suaraku tidak merdu; kalau boleh jujur, suaraku lebih cocok dikategorikan sebagai suara sumbang yang bisa membuat burung yang terbang di udara mendadak hilang arah.

​Aku mengunci pintu kamar, mengambil posisi paling pojok agar tidak terdengar tetangga, lalu menekan tombol rekam di ponsel.

​"Ehem... ehem..."

​Satu bait lagu mulai kunyanyikan. Suaraku terdengar bergetar, fales di nada tinggi, dan kehabisan napas di nada rendah. Rasanya sungguh menyiksa mendengarkan rekaman suara sendiri. Setelah mengulang rekaman sebanyak lima belas kali dan tidak ada satu pun yang bagus, aku menyerah pada keadaan. Dengan jari gemetar dan muka merah padam karena malu, aku menekan tombol send ke nomor pribadi wali kelas.

​Satu-satunya hal yang membuatku sedikit bernapas lega adalah fakta bahwa wali kerasku adalah seorang perempuan. Aku tidak bisa membayangkan kalau wali kerasku seorang laki-laki; tingkat kecanggungannya pasti akan melipat ganda.

​Semoga Ibu Wali Kelas cuma mendengarkan satu detik lalu langsung memberi nilai B, doaku dalam hati sambil membenamkan wajah ke bantal, membayangkan betapa memalukannya jika beliau tertawa sendirian di rumah saat mendengar rekaman suaraku yang pas-pasan itu.

​Bab 4: Berakhirnya Era Absurd

​Hari-hari berlalu dengan pola yang sama: drama kuota habis, panik saat zoom meeting, dan tugas-tugas aneh yang memeras rasa malu. Namun, roda waktu terus berputar. Virus yang dulunya menakutkan itu perlahan-lahan mulai terkendali seiring masifnya program vaksinasi dan protokol kesehatan.

​Saat pengumuman kenaikan kelas tiba dan kami resmi naik ke kelas XI SMK, kabar baik itu akhirnya datang. Pemerintah mulai mengizinkan sekolah untuk menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara bertahap.

​Hari pertama kembali ke bangunan sekolah terasa sangat asing sekaligus mengesankan. Gerbang sekolah yang biasanya sepi kini kembali riuh. Lapangan yang tumbuh rumput liar selama pandemi kembali dipijak oleh ratusan pasang sepatu hitam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa melihat wajah teman-teman sekelas secara langsung—bukan lagi berbentuk kotak kecil berukuran dua inci di layar ponsel.

​Masa-masa homeschooling dadakan yang penuh keabsurdan itu perlahan-lahan resmi berakhir.

​Jika diingat-ingat kembali, zaman pandemi COVID-19 saat masa awal SMK adalah lembaran sejarah yang sangat aneh tapi sekaligus berharga. Kejadian celana piyama, perjuangan berburu sinyal di atas meja, hingga trauma merekam suara sumbang kini berubah menjadi kenangan kocak yang selalu sukses membuatku tersenyum sendiri. Zaman itu memang absurd; tapi dari keabsurdan itulah, cerita masa sekolahku jadi punya warna yang tak akan pernah dilupakan.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!