NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Nada yang Mengubah Pandangan

Sebelum panggung besar Nusantara Purna Ekspresi tiba, kejutan lain lebih dulu menghampiri kelas 10 MIPA 1. Pak Hartono memutuskan bahwa hari itu juga kelas harus memiliki pengurus inti, terutama seorang ketua kelas. Pemilihan berlangsung secara pemungutan suara di papan tulis. Dari sekian banyak calon yang diajukan anak-anak, nama Rama melambung tinggi di posisi teratas.

Suara untuk Rama terkumpul hampir mutlak. Pembawaannya yang tenang, cara bicaranya yang tertata, serta kemampuannya merangkul suasana membuat mayoritas siswa merasa aman jika Rama yang memimpin. Namun, dari puluhan garis kapur di papan tulis itu, ada satu orang yang secara terang-terangan menolak memberikan hak suaranya untuk Rama.

Alee.

Gadis itu memilih abstain dengan alasan yang dibuat-buat, sengaja bersedekap dada sambil memutar bola matanya saat nama Rama resmi ditetapkan sebagai Ketua Kelas 10 MIPA 1. Bagi Alee, memilih Rama jadi ketua kelas adalah bencana; cowok yang irit bicara dan jual mahal itu pasti akan membuat kelas kaku bagaikan museum.

---------

Sore harinya, kekesalan Alee yang terpendam seharian akhirnya meledak begitu ia sampai di rumah. Tanpa melepas sepatu terlebih dahulu, Alee melempar tas sekolahnya ke sofa ruang tamu, lalu melempar tubuhnya ke samping sang kakak perempuan yang sedang santai mengikir kuku sambil mendengarkan musik.

"Bisa gila gue lama-lama di kelas itu!" seru Alee dramatis, tangannya mengepal udara.

Kakak perempuannya, Kak Maya, hanya melirik malas tanpa menghentikan aktivitasnya. "Apaan sih? Baru minggu kedua SMA udah ngamuk-ngamuk. Lu berantem sama satpam sekolah?"

"Bukan!" semprot Alee nyaring. "Ini soal cowok sebelah meja gue. Bayangin ya, Kak! Dia itu manusia paling garing, paling sok jual mahal, sok misterius, dan super pemilih kalau berteman! Eh, tadi malah terpilih jadi ketua kelas! Mau jadi apa kelas gue dipimpin sama patung es kayak gitu?!"

Alee mengoceh tanpa henti, memuntahkan semua kekesalannya tentang betapa menyebalkannya Rama mulai dari gayanya yang kelewat rapi, caranya menjawab pertanyaan dengan sangat hemat, hingga ekspresi tenangnya yang menurut Alee sangat berpura-pura.

Kak Maya meniup kukunya pelan, mendengarkan ocehan adiknya yang berapi-api. Bukannya prihatin, Kak Maya justru mengulum senyum jahil. Ia meletakkan pengikir kukunya, lalu menoleh menatap Alee dari atas sampai bawah.

"Perasaan lu baru kenal dua minggu, tapi udah khatam banget merhatiin detail hidup tuh cowok," celetuk Kak Maya santai.

"Ya gimana nggak diperhatiin, orang duduknya persis di sebelah gue!" balas Alee tak mau kalah, matanya melotot.

Kak Maya terkekeh pelan, menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menopang dagu. "Hati-hati, Lee. Biasanya nih ya, cewek yang benci setengah mati sama cowok gara-gara hal sepele dan dikit-dikit diomongin terus kayak gini... bentar lagi bakal jatuh hati."

"Ih! Najis tralala!" teriak Alee histeris sambil melempar bantal sofa tepat ke arah kakaknya. "Gue jatuh cinta sama Rama? Mending gue makan kapur papan tulis MIPA 1 tiap hari!"

Kak Maya tertawa terbahak-bahak sambil menangkap bantal. "Kita lihat aja nanti. Karma tuh sukanya datang tanpa permisi, Dek."

Alee menghentakkan kakinya dengan kesal lalu berjalan cepat menuju kamarnya, bersumpah dalam hati bahwa prediksi kakak perempuannya itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.

---

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Lapangan utama SMA Nusantara Jaya diubah menjadi arena megah untuk acara **Nusantara Purna Ekspresi (NPE)**. Sebuah panggung berukuran besar berdiri kokoh lengkap dengan tata lampu dramatis dan sistem suara yang menggelegar. Sorak-sorai ratusan siswa dari kelas 10 hingga kelas 12 memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang membakar semangat.

Sesuai janjinya pada diri sendiri, Alee berdiri di barisan paling depan di dekat pagar pembatas panggung. Ia melihat sekeliling sambil melipat kedua tangannya di dada dengan gaya petantang-petenteng khasnya, siap menilai dan mencibir penampilan perwakilan kelasnya.

Beberapa pertunjukan dari kelas lain sudah tampil mulai dari tarian modern yang energik hingga pertunjukan teater singkat. Hingga akhirnya, pembawa acara naik ke atas panggung dengan mikrofon di tangan.

"Selanjutnya, mari kita sambut perwakilan siswa baru dari kelas 10 MIPA 1... Ramaditya!"

Tepuk tangan riuh bergema. Lampu panggung mendadak meredup, menyisakan satu sorot lampu putih (spotlight) yang mengarah tepat ke tengah panggung.

Rama melangkah keluar dari balik tirai. Ia tidak memakai pakaian yang aneh-aneh. Cowok itu hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana abu-abu. Di bahunya, tersampir sebuah gitar akustik cokelat tua.

Rama berjalan ke depan, menyesuaikan tinggi mikrofon, lalu duduk di atas kursi tinggi yang sudah disediakan. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak tenang namun dipenuhi aura karismatik yang tak pernah Alee lihat sebelumnya.

"Selamat malam semuanya," sapa Rama pelan melalui mikrofon. Suara beratnya yang bergema di speaker besar membuat sorak-sorai penonton perlahan mereda. "Malam ini saya mau membawakan satu lagu untuk kita semua."

Rama mulai memetik senar gitarnya.

*Jreng...*

Alunan nada pertama yang keluar dari gitar Rama langsung membuat jantung Alee berhenti berdetak sejurus. Alee membelalakkan matanya. Petikan gitar itu... melodi awal itu... Alee sangat mengenalnya. Itu adalah intro lagu **"Everything You Are" dari Hindia** lagu favorit Alee sepanjang masa, lagu yang selalu menemaninya di saat-saat sepi.

Rama mendekatkan bibirnya ke mikrofon, lalu mulai bernyanyi dengan nada lembut.

>Wajahmu

Kuingat selalupakan

Hal-hal yang menggangguku

Karena hari ini mata kita beradu

Kita saling bantu, melepas perasaan.....

Suara Rama bukan sekadar merdu. Suaranya terdengar begitu hangat, dalam, dan dipenuhi penghayatan yang luar biasa. Setiap intonasi dan getaran vokalnya mengalir sempurna, berpadu harmoni dengan petikan jari-jarinya di atas senar gitar. Tidak ada keraguan, tidak ada kesan 'jual mahal' seperti yang selama ini Alee tuduhkan. Di atas panggung itu, Rama bernyanyi dengan ketulusan yang murni.

Seluruh lapangan mendadak hening. Ratusan pasang mata terhipnotis oleh penampilan Rama. Cahaya lampu *spotlight* yang memantul di wajah Rama membuat cowok itu terlihat bagaikan sosok yang berbeda sama sekali.

Di barisan paling depan, Alee membeku. Tangannya yang tadinya melipat angkuh di dada perlahan terlepas dan jatuh ke samping tubuhnya. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya yang biasa menatap tajam dan sarat akan provokasi kini tak berkedip, terkunci sepenuhnya pada sosok Rama.

Dada Alee berdebar kencang sebuah getaran asing yang meledak-ledak di dalam hatinya, bukan karena amarah, melainkan karena rasa terpukau yang amat sangat.

*Bagaimana bisa... cowok yang selama ini gue anggap kaku dan menyebalkan... bisa menyanyikan lagu Hindia favorit gue dengan seindah ini?* batin Alee berbisik.

Saat lagu mencapai bait utamanya, vokal Rama terdengar semakin emosional namun tetap terkontrol rapi:

> Cerita kita tak jauh berbeda

Got beat down by the world

Sometimes I wanna fold

Namun, suratmu 'kan kuceritakan ke anak-anakku nanti

Bahwa aku pernah dicintai

With everything you are

Ketika petikan gitar terakhir selesai dialunkan, hening sempat menguasai lapangan selama dua detik sebelum akhirnya meledak dalam tepuk tangan dan teriakan histeris dari seluruh siswa.

Rama berdiri dari kursinya, tersenyum hangatsenyuman tulus yang sangat tampan lalu membungkukkan badan memberi penghormatan sebelum melangkah mundur ke belakang panggung.

Namun bagi Alee, riuh tepuk tangan di sekelilingnya terdengar samar. Pandangannya tetap tertuju pada bayangan Rama yang menghilang di balik tirai panggung. Jantungnya masih berdegup tidak karuan. Kata-kata sindiran Kak Maya di rumah tiba-tiba bergema kembali di dalam kepalanya bagaikan petir:

"Biasanya yang gini... bentar lagi bakal jatuh hati."

Alee memegang dadanya yang bergetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alee merasa bingung dan takut pada perasaannya sendiri. Dunia Alee yang tadinya bising dan penuh percaya diri, seketika luluh hanya oleh satu lagu dari seorang Ramaditya.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!