"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. J*lang pergi
"Dulu aku memang bodoh," bisik Adam pelan, melangkah mendekati meja dan menyentuh sampul diari Fitri dengan ujung jemarinya. "Aku membuang wanita tulus yang merawat ibuku, yang mengurus rumah ini tanpa pernah menuntut barang berharga, hanya demi mengejar wanita dangkal seperti kamu."
Mata Rosa mendelik murka. "Oh, jadi kamu masih terus mengagungkan mantan istri udikmu itu?! Ya udah! Pergi sana cari dia! Minta dia mengemis lagi padamu! Tapi dengar ya, Adam, jangan pernah berharap aku mau hidup susah sama kamu!"
"Aku memang tidak pernah memintamu hidup susah bersamaku, Rosa," jawab Adam tenang, suaranya mantap walau napasnya terasa berat. "Tapi kamu sudah menghancurkan sisa harga diriku. Rumah tangga ini sudah mati. Kamu tidak pernah sekalipun menghargai semua kerja kerasku. Kamu memang dari awal tidak menghargai ku kan? Kamu hanya ingin uang ku saja."
"Bagus kalau kamu sadar!" Rosa mendengus kencang sembari menatapnya jijik. "Aku juga sudah muak berpura-pura jadi istri yang baik buat pria gagal seperti kamu!Kamu seharusnya ngaca dari awal. Biar bisa lihat dengan jelas. Dan kamu seharusnya ingat janji kita waktu kamu masih di kos. Memangnya perjuangan ku nemenin kamu dari nol dari dulu gratis hah! Di dunia ini mana ada yang gratis! Sadar kamu! Cih.."
Dengan hentakan kaki yang keras, Rosa membalikkan badan, masuk ke dalam kamar utama dan membanting pintunya hingga berguncang hebat. Suara benturan kayu itu bergema nyaring, tetapi Adam sama sekali tak terkejut.
Pria itu kembali terduduk di sofa, membenamkan wajah di antara kedua telapak tangan. Suara gemuruh hujan di luar seolah mengejek kehancuran hidupnya. Adam menyadari dirinya telah berada di titik terendah. Ia kehilangan harta, kedamaian, kehormatan, dan yang paling menyakitkan. Dia kehilangan wanita yang pernah mencintainya dengan begitu tulus.
"Kini aku rasa aku jadi sangat sangat kehilangan kamu fit." Gumam nya.
Adam memeluk diari biru tua milik Fitri erat-erat di dadanya, membiarkan air matanya menetes meresap ke dalam sampul kulit yang dingin. Di tengah pekatnya malam dan keputusasaan yang mengurung, satu nama terus terbisik pelan di bibirnya: Fitri. Sebuah nama yang kini menjadi penyesalan terbesar sepanjang sisa hidupnya.
***
Delapan bulan berlalu sejak ketukan palu pengadilan memutus ikatan kelam di masa lalu. Waktu telah menempa Fitri menjadi pribadi yang jauh berbeda. Tak ada lagi wanita murung berpakaian kusam. Kini, di koridor sebuah rumah sakit bersalin swasta di Bandung, Fitri melangkah dengan anggun. Gamis modern berwarna pastel terbalut rapi di tubuhnya, dipadukan dengan hijab yang tertata elegan. Wajahnya memancarkan ketenangan dan aura wanita mandiri.
Fitri telah menyelesaikan masa koasnya dengan nilai sangat memuaskan, bahkan langsung melanjutkan pendidikan spesialisasi dengan dukungan penuh keluarganya. Namun, pencapaian terbesarnya bukanlah gelar atau karier yang melesat, melainkan sebuah kehidupan kecil yang kini sedang berjuang untuk lahir ke dunia.
Sore itu, gumpalan awan mendung menggelayut di langit kota. Di dalam kamar rawat inap yang hangat, Fitri terbaring di atas tempat tidur medis. Keringat dingin membasahi pelipisnya saat kontraksi hebat mulai menyerang perutnya setiap beberapa menit sekali. Rasa sakitnya luar biasa, menusuk hingga ke tulang belakang, tetapi tak ada sepatah kata keluhan pun yang keluar dari bibirnya.
Di samping tempat tidur, ibu kandungnya setia memegang jemari Fitri, memberikan dorongan semangat tanpa henti.
"Tahan ya, Nak... Tarik napas pelan-pelan," bisik ibunya lembut sembari mengusap dahi Fitri yang basah.
Fitri mengangguk pelan, menguasai rasa sakitnya dengan teknik pernapasan yang ia pelajari sebagai tenaga medis. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan penderitaannya dulu malam-malam dingin saat ia diabaikan, penghinaan dari Rosa, hingga keputusannya keluar dari rumah Adam membawa koper sendirian melintas cepat di benak. Semua luka itu tak lagi membuatnya menangis, melainkan menjadi bahan bakar yang membentuk keberaniannya hari ini.
"Ibu Fitri, pembukaannya sudah lengkap! Mari kita mulai mengedan ya," seru dokter kandungan yang menangani dengan sigap.
Dua perawat memposisikan tubuh Fitri. Dengan sisa tenaga yang dikumpulkannya, Fitri menarik napas dalam-dalam lalu mengedan kuat-kuat. Cengkeraman tangannya pada jemari sang ibu makin erat. Di dalam dada, satu doa melambung tinggi: ia ingin anaknya lahir sehat, tanpa perlu tahu betapa pahitnya masa lalu yang pernah dilalui ibunya.
"Ayo sedikit lagi, Bu! Kepalanya sudah kelihatan!" dorong sang dokter penuh semangat.
Fitri mengumpulkan seluruh daya hidupnya, mengedan untuk terakhir kali dengan satu dorongan panjang. Peluh mengucur deras, napasnya memburu kencang, hingga akhirnya...
OEEEEK! OEEEK! OEEEK!
Tangisan nyaring pecah menggema di seluruh ruangan steril itu, membelah kesunyian dan menghentikan seluruh rasa sakit yang menghimpit dada Fitri.
Dokter dengan terampil memotong tali pusat, membersihkan tubuh mungil yang kemerahan itu, lalu meletakkannya tepat di atas dada Fitri untuk proses inisiasi menyusu dini. Seketika, air mata haru yang sejak tadi ditahan Fitri akhirnya menetes deras membasahi pipinya.
Fitri menatap bayi laki-laki di dada hangatnya. Bayi itu memiliki jemari mungil, kulit bersih, dan bentuk bibir yang amat menggemaskan. Namun, saat mata mungil itu terbuka tipis dan garis wajahnya terlihat makin jelas di bawah lampu operasi, jantung Fitri berdesir hebat. Garis hidung, bentuk dagu, hingga lekuk wajah bayi mungil ini adalah jiplakan sempurna dari Adam sewaktu muda.
"Selamat ya, Bu Fitri. Bayi laki-lakinya sangat tampan dan sehat sempurna," ucap dokter kandungan dengan senyum hangat.
Fitri mengusap lembut kepala bayinya yang masih basah, menyandarkan dagu di atas rambut tipis sang buah hati. Kehadiran anak ini adalah bukti bahwa dari luka yang sangat dalam, Tuhan bisa menghadirkan anugerah paling indah.
"Selamat datang di dunia, Aiden..." bisik Fitri lirih di telinga kecil bayinya, suaranya sarat kasih sayang. "Mulai hari ini, cuma ada Ibu dan kamu. Ibu janji akan menjaga dan membahagiakanmu dengan segenap jiwa Ibu."
Mata bayi mungil itu mengedip perlahan seolah mengerti janji sang ibu. Di dalam ruangan yang hangat itu, masa lalu Fitri resmi terkubur, berganti dengan babak baru yang penuh cahaya bersama Aiden pangeran kecil yang menjadi alasan utamanya untuk berdiri tegak dan tak tergoyahkan.
****
Dua tahun bergulir cepat, menenun kisah baru yang jauh dari jejak masa lalu. Suara gelak tawa renyah seorang balita memecah keheningan pagi di sebuah rumah bergaya modern tropis di kawasan elit Bandung. Aiden, bocah mungil berumur dua tahun dengan mata bulat berbinar dan pipi menggemaskan, berlari kecil mengejar bola plastik warna-warni di atas rumput hijau halaman rumah.
"Aiden, jangan lari kencang-kencang, Sayang! Nanti jatuh loh," panggil Fitri lembut sembari melangkah keluar dari pintu teras membawa secangkir teh hangat.
"Ehehe engga ibu eeemuah..." Jawab Aiden senang mencium pipi Fitri lalu dia berlari kecil lagi menendang-nendang bola.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.