Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Bersama
Aliqa sedang berkutat di dapur dengan di bantu oleh Bi Atik untuk mempersiapkan makan malam bersama, sementara Mila tak membantu dan hanya duduk santai di atas meja makan, memainkan jari-jari lentiknya di atas meja.
Makanan yang telah di buat oleh Aliqa pun telah siap untuk di sajikan, Aliqa menyimpan hasil masakannya di atas piring dan menatanya di atas meja makan.
Davin yang telah selesai mandi, menghampiri mereka. Mencium kening mereka secara bergantian, Davin duduk di samping Mila. Sementara Aliqa hendak duduk di sebrang tempat duduk mereka, namun Davin menahannya dan meminta Aliqa untuk duduk di sampingnya.
Aliqa mengambilkan nasi untuk Davin, Mila tak mau kalah dan ikut mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk Davin.
Kedua wanita itu menyodorkan piring kepada Davin secara bersamaan, Davin merasa bingung akan memakan dari piring yang mana.
Aliqa berinisiatif untuk menarik kembali piring yang di sodorkannya, Aliqa berfikir Mila sedang hamil dia tidak ingin merusak suasana hatinya tak baik untuk kesehatan bayi yang sedang di kandungnya.
"Makan dari piring yang telah di siapkan Mila saja Mas, ini biar aku yang makan."
"Iya Al," ucap Davin, kemudian membalikan wajahnya kepada Mila, "Terimakasih sayang."
"Sama-sama sayang," ucap Mila seperti sengaja menekankan kata sayang di hadapan Aliqa.
Kata yang tak pernah sekalipun keluar dari mulut Davin untuk Aliqa, sementara wajah Aliqa kini berubah muram, beginikah rasanya hidup diantara orang yang saling mencintai. Ada namun di anggap seakan tak pernah ada.
"Sekarang kita buka lembaran baru, tak masalah kan jika kita berbagi? Aku akan bersikap adil kepada kalian berdua," ucap Davin.
"Iya Mas," jawab Aliqa dengan raut wajah yang tak dapat di artikan. Entah adil yang seperti apa yang Davin maksud, pria itu tak memiliki kepekaan untuk menyadari perasaan seseorang. "Lebih baik Mas dan Mila beristirahat, biar ini semua aku dan Bi Atik yang bereskan."
"Baiklah, jika sudah selesai, segeralah beristirahat Al."
Davin dan Mila menuju ke kamar mereka, meninggalkan Aliqa dan Bi Atik yang membereskan piring kotor, "Nyonya biar Bibi aja yang beresin, nyonya istirahat saja."
"Gak apa-apa Bi, biar Al bantu supaya cepet selesai."
Aliqa membereskan piring kotor dan menyimpaya di wastafle. Aliqa memandangi tumpukan piring kotor tersebut.
Bi Atik memandangi kelakuan majikannya, ada satu buliran bening yang hendak menetes dari sudut matanya.
"Nyonya," ucap Bi Atik, Aliqa dengan sigap menyeka buliran bening di sudut matanya. "Biar bibi yang cuci, sekarang nyonya beristirahatlah."
"Makasih ya Bi, Al ke kamar dulu."
Dengan wajah sendu Aliqa memasuki kamarnya, tak mudah untuk hidup satu atap bersama madunya. Aliqa merasa cemburu melihat kedekatan di antara mereka.
Ketika Aliqa menaiki anak tangga, terdengar suara tawa bahagia di dalam kamar Davin bersama dengan Mila. Aliqa hanya dapat mengurut dada menahan rasa cemburu di dalam hatinya.
Aliqa melanjutkan kembali langkahnya untuk menuju kamarnya.
***
Kali ini aku tidur dengan Mila, wanita itu telah tertidur dengan pulasnya. Entah kenapa mata ku sangat sulit terpejam, aku mengingat kebersamaan dengan Aliqa di dalam kamar ini.
Mata ku tak kunjung menemukan kantuknya, akhirnya ku putuskan untuk keluar kamar, mataku tertuju pada pintu kamar Aliqa entah kenapa aku sangat ingin melihatnya.
Aku meraih gagang pintu milik Aliqa, ternyata seperti biasa dia tak pernah mengunci pintu kamarnya. Aku menatap sosok wanita yang sedang membaringkan tubuhnya.
Aku mendekatinya, menatap lekat wajahnya. Wajahnya begitu damai dengan nafas yang teratur.
Ku baringkan tubuhku di samping Aliqa, wajah kami saling berhadapan, ku usap wajahnya lembut.
Belaian lembut yang ku berikan ternyata telah membuatny terbangun, wanita itu menggeliatkan tubuhnya, mengerjapkan matanya perlahan.
"Mas," ucap Aliqa lembut.
"Maafkan aku, mengganggu tidur mu."
"Kenapa Mas disni, bukankah seharusnya Mas tidur dengan Mila."
"Mata ku tak kunjung terpejam."
"Apakah Mas merasa lapar? Biasanya orang lapar sulit untuk tertidur."
"Aku memikirkan mu." Entah kenapa akhir-akhir ini Aliqa selalu bermain di dalam pikiran ku.
"Ah Mas bisa aja, mau bikin aku GR ya." Senang? Tentu saja Aliqa merasa senang mendapatkan pernyataan dari Davin bahwa laki-laki itu tengah memikirkannya.
"Sana Mas balik lagi ke tempa Mila, nanti dia nyariin loh." Sejujurnya Aliqa merasa terluka mengatakan itu semua, wanita mana yang sanggup untuk berbagi suami, terlebih Mila adalah wanita yang sangat di cintai Davin. Jelas akan membuat sikapnya lebih condong pada Mila. Tapi Aliqa bisa apa? Dengan tegar wanita itu harus menerima ketidakadilan yang di lakukan suaminya.
"Kamu mengusir ku?" Tanya Davin dengan mengerenyitkan dahi.
"Engga Mas, aku hanya takut jika Mila akan marah ketika tak mendapati mu berada dalam kamarnya."
"Aku akan kembali, tapi bolehkah aku memeluk mu?"
Tanpa menunggu persetujuan dari Aliqa, Davin langsung memeluknya erat. Aliqa hanya menerima pelukan yang di berikan oleh Davin dengan pasrah. "Hangat dan nyaman," gumam Aliqa dalam hati.
Aliqa menelusupkan wajahnya ke dalam dada bidang milik Davin. Aliqa merasakan ketulusan dari pelukan yang di dapatkannya, tak pernah sebelumnya Davin memeluk Aliqa setulus dan sehangat ini.
Aliqa tertidur dengan lelapnya di dalam pelukan Davin, tak berselang lama Davin pun menyusul Aliqa menuju alam mimpi.
***
Mila terbangun dari tidurnya, meraba samping tempat tidurnya, kosong. Mila membuka mata perlahan melirik kearah samping, tak ada Davin disana.
Mila mencari kedalam kamar mandi tak ada siapa pun disana, akhirnya mila keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Davin.
Matanya tertuju pada pintu kamar Aliqa, Mila mendekati kamar Aliqa, membuka pintunya secera perlahan.
Hanya ada lampur tidur remang-remang di dalam sana sebagai pencahayaan ruangan, Mila masih bisa melihat keduanya tertidur dengan berbagi selimut dan saling berpelukan.
Dadanya bergemuruh hebat dengan deru nafas memburu, Mila merasa tak rela pria yang ia cintai telah berpelukan dengan wanita lain. Mila merasa tak rela melihat Aliqa di perlakukan sama seperti dengan dirinya.
Mila menutup pintu kamar Aliqa dan kembali menuju kamarnya, Mila tak rela menjadi istri kedua, ada ketakutan yang dia rasakan. Mila takut Davin akan mencintai Aliqa. Mila tak ingin rasa cinta yang di miliki Davin untuknya terbagi untuk wanita lain.
Mila tak mampu melanjutkan tidurnya kembali, pikirannya telah di penuhi oleh kejadian yang ia lihat dengan mata nya sendiri.
"Mana mungkin Davin meninggalkan ku tertidur sendiri di dalam kamar, sementara Davin malah memilih tidur dengan bocah sialan itu." ucap Mila dengan kesal dan menghamburkan bantal di atas ranjangnya.