NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RITUAL PENYEMPURNAAN DAN AWAL PETAKA

# PELET LAKNAT 2

## Bab 29: Ritual Penyempurnaan dan Awal Petaka

Keringat dingin terus menetes dari dagu Jaka yang masih tertunduk gemetar di lantai gubuk Mbah Usman. Aroma kemenyan dan bau bunga melati terasa makin pekat dan menusuk hidung, menggantikan hawa dingin malam yang tadi merasuk hingga ke tulang. Jemarinya mencengkeram erat jaket, sementara jantungnya berdebar kencang seakan menunggu sesuatu yang sangat penting.

Sementara itu, Mbah Usman tengah komat-kamit membacakan jampi-jampi pada ayam cemani yang dibawa Jaka. Anehnya, ayam itu tak lagi berontak sama sekali; ia hanya menunduk pasrah dengan tatapan kosong, seakan jiwanya telah lama dicabut dan pergi dari raga hitamnya.

Setelah selesai memantrai ayam, Mbah Usman segera mengeluarkan sebatang jarum emas berukuran sepuluh sentimeter dari balik altarnya. Dengan gerakan cepat, ia mencabuti beberapa helai bulu di paha ayam tersebut hingga menyisakan kulit yang terbuka. Lantas, Mbah Usman menusukkan jarum emas itu dalam-dalam ke paha sang ayam. Seketika, cairan darah berwarna hitam pekat menetes perlahan, menampung di dalam gelas kuningan tua yang telah ia siapkan sebelumnya.

Sementara itu, Jaka hanya tertegun menyaksikan tindakan sang dukun tanpa mengerti sedikit pun tujuan dan maksud dari ritual tersebut. Setelah dirasa cukup, Mbah Usman mengikat salah satu kaki ayam cemani itu dengan seutas tali hitam. Lantas, darah pekat di dalam wadah dicampur dengan air yang dituangkan langsung dari kendi tanah liat di atas altarnya.

"Sekarang minum ini! Supaya jiwamu dan perempuan incaranmu bersatu sepenuhnya!" ujar Mbah Usman seraya menyodorkan gelas kuningan itu tepat ke hadapan Jaka.

Mendengar perintah tersebut, Jaka menelan ludah dalam-dalam. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraih wadah kuningan itu. Seketika, aroma amis dan busuk yang amat menusuk menyeruak hebat, langsung menusuk indra penciumannya.

"Buset deh! Begini amat ritualnya... Aku harus minum darah ayam hanya untuk mendapatkan satu perempuan," gumam Jaka meratap dalam hati.

"Ayo cepat diminum! Jangan ditunggu-tunggu lagi!" ujar Mbah Usman kembali memerintah dengan nada menekan.

Dengan memejamkan mata dan menahan napas rapat-rapat, Jaka terpaksa meneguk cairan hitam pekat itu hingga kandas, walau keraguan besar masih mengganjal di lubuk hatinya. Rasa amis dan pahit membakar kerongkongannya seketika.

"Dengan diminumnya darah ayam cemani ini, kamu resmi terikat dengan jiwa si perempuan itu dan pelet yang Simbah berikan!" lanjut Mbah Usman seraya tertawa terkekeh penuh kepuasan.

"L-lantas apa selanjutnya, Mbah?" tanya Jaka dengan nada terbata-bata seraya menaruh kembali gelas kuningan itu ke atas meja.

"Hehehe! Langkah selanjutnya, kamu harus menaruh ayam ini di tempat kamu menaruh foto perempuan itu. Ini ritual terakhirmu. Dan ingat, bayar ayam itu! Simbah tidak menerima tumbal dari ayam hasil curian, hehehe!" seru Mbah Usman mengingatkan seraya tertawa terkekeh.

Mendengar itu, Jaka tersentak kaget. Ia tak menyangka sama sekali Mbah Usman bisa mengetahui asal-usul ayam tersebut.

"Buset deh! Sakti benar Simbah, bisa tahu kalau ayam ini hasil colongan... Pantesan si Kiki sampai dibuat begitu," gumam Jaka dalam hati, makin mengagumi sekaligus merinding akan kesaktian Mbah Usman.

Sementara Jaka mengeksekusi ritual terakhirnya, di tempat lain Dea mulai sepenuhnya dikuasai kegelapan. Dea yang kala itu sedang duduk melamun di depan meja rias tiba-tiba ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Ironisnya, tak ada seorang pun yang mengetahuinya—bahkan kedua orang tuanya yang saat itu sedang berada di ruang tengah sembari menonton film favorit mereka.

"Pak! Kok perasaan Ibu tidak enak ya, kenapa ya?" tanya Ibu Nengsih dengan raut wajah cemas.

"Nggak enak kenapa sih, Bu? Ibu ini ada-ada saja!" sahut Pak Wawan santai tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

"Bapak ini gimana sih! Ibu nanya kok malah balik nanya! Ibu semakin khawatir sama anak kita, Pak. Bapak lihat sendiri kan, tubuhnya sekarang makin hari makin kurus," seru Ibu Nengsih menumpahkan kegelisahannya.

"Khawatir kenapa sih, Bu? Ibu kan pernah bilang sama Bapak kalau Dea belum mau cerita masalahnya. Mungkin Dea cuma butuh waktu sendiri untuk *move on*," sahut Pak Wawan mencoba menenangkan sekaligus mengingatkan istrinya.

"Iya sih, Pak! Tapi Bapak bertindak dong, jangan diam saja! Apa tidak kasihan sama Dea?" protes Ibu Nengsih dengan nada kesal.

"Loh... loh... kok malah menyalahkan Bapak? Sama Ibu saja dia sudah tidak mau cerita, apalagi sama Bapak! Gimana sih Ibu ini... coba sekarang Ibu tanya lagi, barangkali hari ini dia mau cerita," perintah Pak Wawan.

Mendengar perintah itu, Ibu Nengsih segera bangkit dari duduknya lantas melangkah menuju kamar Dea.

Tok... tok... tok!

"Neng!... Neng!... buka dulu pintunya, Ibu mau bicara!" seru Ibu Nengsih seraya mengetuk pintu kayu itu.

Namun, tak ada jawaban sama sekali dari balik pintu. Hanya suara detak jarum jam yang berputar memecah keheningan malam itu.

Tok... tok... tok!

"Neng! Dea! Kamu sudah tidur, Nak?" seru Ibu Nengsih kembali untuk memastikan.

Karena tak ada jawaban, Ibu Nengsih kembali melangkah ke ruang tengah. Ia sama sekali tak tahu kalau putri semata wayangnya kini tengah terkapar pingsan di dalam kamar.

"Gimana, Bu? Apa katanya?" tanya Pak Wawan yang melihat istrinya telah kembali.

"Dea-nya sudah tidur, Pak! Ibu tidak sempat bicara. Aneh, tumben sekali anak itu jam segini sudah tidur," sahut Ibu Nengsih seraya duduk kembali di samping suaminya.

"Sudahlah, Bu. Lain kali saja Ibu tanya lagi. Kasihan kalau dibangunkan sekarang hanya untuk menanyakan masalah dia," ujar Pak Wawan menenangkan sang istri.

Mereka pun kembali menikmati malam dengan secangkir teh panas bersama, tanpa menyadari bahaya gaib yang tengah mengintai keselamatan anak mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!