Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 24
Arsyad menyentak kaku. Lidahnya mendadak kelat. Logikanya yang sempat tertutup emosi kini menghantam balik kesadarannya. Bener... limitnya cuma 50 juta. Nggak bakal cukup buat deposit mobil begini!
"Lalu... kalau bukan sewa... ini mobil siapa?!" tanya Arsyad terbata-bata, tenggorokannya mendadak terasa kering dan perih.
"Nggak mungkin ini punya kamu! Kamu itu cuma pegawai kantor biasa!"
Zemima tersenyum manis, mengulurkan tangan untuk merapikan kerah kemeja Arsyad yang agak kusut dengan gerakan jemari yang pelan dan halus.
"Ini mobil fasilitas pribadi dari mitra kerjaku, Mas," bisik Zemima tepat di hadapan wajah Arsyad yang pucat pasi.
"Pimpinan tertinggi Altamas Group sendiri yang mengirimkan mobil ini untukku. Kamu mungkin selama ini selalu mengira kalau aku hanaya pegawai rendahan di kantor kecil. Kamu salah. Mas. Dan sepertinya kamu memang tak pernah mengenal aku sebagai istrimu. Atau mungkin memang karena kamu tak peduli dan tak mau tahu,"
"Lagi pula nanti malam aku juga akan pulang terlambat karena akan pergi makan malam dengan rekanan bisnis perusahaan Altamas..."
Mendengar nama Altamas Group, salah satu konglomerasi raksasa yang merupakan induk dari perusahaan cabang tempat dia bekerja selama ini. Tempat dia membanggakan segala pencapaiannya. Tapi bagaimana bisa istrinya malah bekerja di perusahaan besar itu?
"Makan malam...?" ulang Arsyad gagap, matanya berkedip-kedip liar seraya menahan rasa minder yang luar biasa.
"Sama siapa?! Siapa pimpinan Altamas Group itu?! Bagaimana bisa kamu bekerja di kantor Altamas? Kamu tidak main belakang atau macam-macam dengan salah satu petinggi di sana kan, Zemima?"
Zemima menyunggingkan senyum misterius, menepuk-nepuk dada kemeja Arsyad secara halus sebelum memutar badannya menuju mobil.
"Aku tidak serendah itu, Mas. Untuk bekerja di sana sangat mudah bagitu, bahkan sebenarnya kalau kamu dari dulu bicarakan padaku ingin masuk ke dalam perusahaan utama, dengan mudah aku akan memasukkan kamu ke sana,"
"Maksud kamu apa, Dek?" cicit Arsyad, suaranya gemetar menahan kepanikan yang kian memuncak.
Ia memegang kedua pundak Zemima, menatap mata istrinya dalam-dalam seraya berusaha mencari celah untuk menghibur dirinya sendiri. Otaknya yang mulai kewalahan memproses rentetan kejutan ini sibuk merangkai alibi baru untuk menyelamatkan harga dirinya yang tercoyak.
'Nggak mungkin... Ini nggak mungkin nyata, batin Arsyad menghibur diri. Zemima pasti cuma gertak sambal. Mana mungkin dia orang penting di Altamas? Dia cuma emosi, cuma cemburu setengah mati gara-gara ada Dina! Wanita kalau cemburu kan emang suka halusinasi dan bertingkah dramatis!'
Bibir Arsyad menyunggingkan senyum kaku yang dipaksakan. Ia terkekeh pelan, mencoba menguasai keadaan kembali meski matanya tak bisa menyembunyikan getar ketakutan.
"Kamu... kamu lagi bercanda kan, Dek?" pangkas Arsyad dengan nada meremehkan yang dibuat-buat, memegang jemari Zemima dengan erat.
"Mas tahu kamu lagi marah besar. Mas tahu kamu cemburu setengah mati gara-gara keberadaan Dina di rumah Ibu, kan? Tapi harus banget kalau kamu sampai ngarang cerita sejauh ini cuma buat bikin Mas minder!"
Zemima tidak menyentak tangannya. Ia hanya memiringkan kepala, menatap Arsyad dengan pendar mata yang teramat dingin dan tajam.
"Ngarang cerita, Mas?" bisik Zemima sehalus sutra.
"Iya! Kamu cuma lagi drama dan cemburu buta!" potong Arsyad semakin percaya diri dengan analisanya. Dadanya mengembang, merasa berhasil mematahkan 'skenario' sang istri.
"Dek, Dina itu bukan siapa-siapa! Kamu nggak usah kekanak-kanakan sampai sewa mobil sport mewah begini dan bawa-bawa nama Altamas Group cuma demi balasan dendam atau bikin Mas panas! Kamu pikir Mas bakal percaya kalau kamu punya kuasa di Altamas? Dengar ya, Mas ini kerja keras di sana, Mas tahu betul seberapa tertutupnya jajaran direksi Altamas!"
Arsyad menepuk dada kemejanya sendiri dengan bangga, mencoba merebut kembali wibawanya sebagai kepala keluarga.
"Kamu nggak perlu halusinasi sampai sejauh ini cuma buat dapat perhatian Mas, Zemima. Kalau kamu cemburu sama Dina, bilang! Ngomong baik-baik! Jangan malah bikin kelakuan aneh dan membual soal relasi bisnis yang nggak masuk akal begini. Mas ini suami kamu, Mas tahu batas kemampuan kamu!"
Zemima mendengarkan setiap ocehan Arsyad tanpa menyela satu kata pun. Setelah Arsyad selesai meluapkan rasa percaya diri palsunya, Zemima justru menyunggingkan senyum paling manis, sebuah senyuman yang seketika merontokkan seluruh keberanian Arsyad.
"Begitu ya pikirmu, Mas?" tutur Zemima sangat tenang, melepaskan pegangan tangan Arsyad dari pundaknya satu per satu secara perlahan.
"Kamu mengira aku sedang cemburu buta pada wanita yang menumpang di rumah ibumu itu? Dan kamu sangat yakin kalau semua ini cuma gertakan dramatis dari seorang istri yang butuh perhatian?"
Arsyad menelan ludah, ketegangannya kembali merayap naik melihat respon Zemima yang sama sekali tidak panik.
"Ya... memangnya apa lagi kalau bukan itu?!"
Zemima menarik kacamata hitamnya turun ke pangkal hidung, memperlihatkan sorot mata tajam yang membuat tenggorokan Arsyad mendadak kering seketika.
"Bagus kalau kamu berpikir begitu, Mas Arsyad. Pertahankan rasa percaya dirimu itu," bisik Zemima tepat di samping telinga suaminya, menyisakan pendar hawa dingin yang mencekik.
"Simpan baik-baik anggapan kalau aku 'cemburu dan halusinasi' ini... sampai waktunya kamu sendiri yang berlutut dan sadar, siapa sebenarnya wanita yang selama ini kamu anggap remeh."
"Dan kalau kalian memang tak menyembunyikan apapun dari aku, maka tidak perlu menyembunyikan dan membela wanita itu mati-matian! Ingat Mas aku memangtak punya siapa-siapa! Tapi jangan kira kalau aku bucin sama kamu sampai mau kamu bohongi. Dan ingat perjanjian awal kita! Kamu selingkuh maka kamu akan menderita dan hancur!"
"Aku pergi dulu, aku akan pulang terlambat mungkin agak malam. Kalau kamu mau ke rumah ibu untuk menengok istri sepupu jauhmu juga tak masalah dan aku tak peduli!"
Tanpa menunggu balasan dari Arsyad yang kembali membeku, Zemima membalikkan badan dengan anggun, melangkah masuk ke dalam kabin mobil sport bernuansa metallic obsidian black tersebut.
Thud.
Pintu mobil mewah itu ditutup rapat. Kaca mobil yang gelap tak sedikit pun bergeser turun. Mesin supercar tersebut menderum halus namun bertenaga tajam, menggetarkan lantai teras tempat Arsyad berdiri, sebelum akhirnya meluncur mulus membelah jalan raya dan menghilang di belokan.
Arsyad berdiri sendirian di teras, memandangi jalanan kosong dengan napas tersengal. Meski mulutnya berusaha meyakinkan diri bahwa Zemima hanya sedang gila karena cemburu, namun tatapan dingin dan kata-kata terakhir istrinya tadi justru menanamkan rasa cemas yang teramat dalam di dasar hatinya.
"Apa benar dia bekerja di Perusahaan Utama Altamas Grup? Tapi sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu? Ah iya, dari awal dia tak pernah mengatakan berkerja di mana dan memiliki jabatan apa! Apa dia menyembunyikan sesuatu?"