Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUMPAH SERAPAH INAYAH.
Sepanjang hari itu, Inayah merasa nasibnya tak ubahnya seorang tahanan kelas atas. Ruangan kerja PRESIDENT DIRECTOR yang seluas lapangan sepak bola itu mendadak terasa seperti penjara berlapis emas.
Inayah menghentakkan kakinya ke lantai marmer berulang kali. Rasa jengkel yang membakar dada membuatnya secara resmi membuang panggilan "Mas Biyan" dari kamus hidupnya.
"Pak president yang terhormat!" panggil Inayah dengan nada sinis yang dibuat-buat, sambil mengatupkan kedua tangannya di depan meja kerja Abiyan yang megah. "Saya mau keluar sebentar! Mau cari angin, mau hirup polusi, mau lihat pemandangan luar! Boleh tidak?!"
Abiyan bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ia tanda tangani. "Tidak boleh."
"Hah?! Pak president yang terhormat tidak punya keprimanusiaan ya?!" teriak Inayah histeris. "Saya ini manusia, bukan patung pajangan ruangan! Saya cuma mau jalan-jalan di lobby!"
"Di luar banyak orang. Kamu di sini saja," sahut Abiyan datar, suaranya tenang tanpa beban.
Inayah mencebirkan bibir hingga makin mengerucut kencang. Dengan gusar, ia membalikkan badan dan melempar tubuhnya ke atas sofa kulit super empuk di sudut ruangan.
Di atas meja kaca di depannya, berbagai camilan mewah, buah-buahan segar impor, hingga kue-kue manis buatan koki terkenal sudah tersaji rapi. Namun, semua kemewahan itu sama sekali tak sanggup mengobati rasa kesalnya karena merasa telah dijebak mentah-mentah oleh pria bermuka dua itu.
"Cih, dikira gua bisa dibeli pake kue bolu kaya gini?" gumam Inayah sambil menjejali mulutnya dengan satu potong kue cokelat hingga pipinya menggembung. "Awas aja lu ya, Es Batu! Gua ganjal kursi roda lu pake kerikil baru tahu rasa!"
Karena lelah ngedumel dan mengutuki nasibnya sendiri sepanjang siang, perut Inayah yang kenyang mulai mengirimkan sinyal kantuk. Matanya yang bulat perlahan-lahan makin berat, hingga akhirnya Inayah tertidur lelap di atas sofa dengan posisi telentang konyol dan mulut sedikit terbuka.
Mendengar suara hembusan napas teratur dari sudut ruangan, Abiyan menghentikan penanya. Pria itu menoleh, menatap wajah polos istrinya yang tertidur lelap. Sebuah senyuman kemenangan yang tipis terukir indah di wajah tampannya.
Abiyan mengambil gawai di atas meja, lalu mendial nomor kepercayaan pribadinya.
"Bara," panggil Abiyan begitu sambungan terhubung.
"Iya, Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?" suara Bara terdengar siap siaga dari seberang telepon.
"Perintahkan tim kontraktor terbaik untuk merenovasi rumah Inayah mulai hari ini," perintah Abiyan tegas. "Perbesar ruangannya, terutama kamarnya. Buat ranjang King Size itu muat tanpa menghalangi jalan ke kamar mandi."
Abiyan jeda sejenak, menatap ruangan kerjanya yang terlalu luas, lalu menambahkan, "Tapi ingat, jangan terlalu besar juga. Ternyata rumah sederhana jauh lebih nyaman ketimbang rumah besar yang hanya melelahkan kaki untuk berjalan."
Di ujung telepon, Bara sempat mengutak-atik jadwalnya. "Baik, Tuan Muda, pelaksanaan segera dilakukan. Tapi... kalau rumah Nyonya sedang direnovasi, malam ini Anda dan Nyonya Muda akan tinggal di mana?"
Mata tajam Abiyan berkilat dingin. "Malam ini adalah malam kejutan bagi para keluarga besar Zimraan. Selama ini mereka selalu menyudutkanku untuk segera menikah, jadi sudah saatnya mereka mengenal siapa istri sahku."
Abiyan menyandarkan punggungnya. "Kamu siapkan saja semuanya. Katakan pada seluruh tetua dan anggota keluarga untuk berkumpul makan malam bersama di kediaman utama malam ini."
"Baik, Tuan Muda. Semuanya akan saya siapkan," jawab Bara mantap sebelum akhirnya menutup panggilan.
Hari pun menjelang sore. Sinar matahari jingga menerobos masuk melalui dinding kaca tebal ruangan kerja.
Inayah mengeliat pelan, mengerjap-kerjapkan matanya yang masih lengket. Namun, begitu pandangannya mengatup sempurna, Inayah mendadak meloncat kaget hingga hampir terjengkang dari sofa.
"Ayam terbang?!" pekik Inayah histeris.
Bagaimana tidak kaget? Tepat beberapa sentimeter di hadapannya, Abiyan sudah duduk di seberang sofa sambil menatapnya tanpa berkedip bagaikan hantu tampan.
"Sudah bangun?" tanya Abiyan santai. "Sekarang bersiaplah. Kita akan memberikan kejutan spektakuler untuk para tetua keluarga Zimraan."
Abiyan bangkit dari sofa, lalu meregangkan badannya sedikit sebelum kembali duduk di atas kursi roda otomatisnya yang canggih.
Inayah mendengus keras, wajahnya langsung cemberut seratus persen. "Boleh tidak aku tidak ikut? Aku mau pulang saja ke rumahku! Capek dari pagi diisolasi di sini!"
"Tidak boleh. Dan tidak ada bantahan," pangkas Abiyan dingin sambil menekan tombol di lengan kursi rodanya untuk berputar menuju pintu keluar.
Melihat punggung Abiyan yang membelakanginya, rasa jengkel Inayah mendadak memuncak sampai ke ubun-ubun. Sifat tengil dan seruntulannya langsung bangkit tanpa kompromi!
Inayah berdiri dari sofa, mengepalkan kedua tangannya, lalu melayangkan jurus tinju dan tendangan maut tanpa arah ke udara dengan wajah bersungut-sungut.
"Dasar Es Batu tak berperasaan! Seenaknya aja mengatur-ngatur hidup orang!" geram Inayah berbisik penuh penekanan. "Gua sumpahin hilang tuh ketampanannya! Biar mukanya pas-pasan, peyot, dan nggak laku-laku sampe metong! Rasain lu!"
Tiba-tiba, kursi roda otomatis Abiyan berhenti mendadak. Pria itu memutar kursinya ke belakang, menatap Inayah yang masih berdiri di samping sofa dengan satu kaki terangkat di udara.
Abiyan menyunggingkan senyum tipis yang amat menyebalkan. "Sudah puas menyumpahi suamimu ini, hm?"
Inayah membatu seketika dengan posisi konyolnya.
"Tapi ingat, Naya," lanjut Abiyan tenang namun menohok. "Kalau ketampananku hilang, yang rugi ya kamu sendiri. Karena kenyataannya... aku ini sudah laku, dan yang bakal menjalani hidup sama aku ya kamu sendiri."
DEG!
Inayah tertegun di tempat. Tangannya yang melayang di udara mendadak lemas.
Eh... iya juga ya? batin Inayah berputar cepat. Sekarang kan gua udah sah jadi istrinya. Kalau mukanya berubah jelek kaya busi mogok, gua dong yang malu dibawa jalan-jalan?! Idih, amit-amit deh! Ogah banget punya suami jelek!
Namun, gengsi seorang Inayah tentu setinggi langit. Ia buru-buru membetulkan gaunnya, lalu melempar tatapan sengit pada Abiyan.
"Aah bodo amat! Gua nggak peduli!" sembur Inayah lantang, berkacak pinggang dengan percaya diri. "Kalau Bapak president yang terhormat ini selalu mengatur-ngatur hidup saya seenak jidat, maka saya akan menyumpahi Anda terus sampai telinga Anda bernanah!"
Abiyan hanya menggelengkan kepala, menahan tawa melihat kelakuan tengil istrinya yang tidak ada takut-takutnya. "Sudah selesai ceramahnya, Nyonya Zimraan? Ayo jalan."
Inayah mencebikkan bibir kencang-kencang, tetapi tetap mengekor di belakang kursi roda Abiyan dengan langkah dihentak-hentakkan konyol.
"Lihat aja nanti," gumam Inayah pelan saat mereka memasuki lift VIP. "Gua bikin rusuh acara makan malam keluarga lu yang sok formal itu, Mas Biyan gila! Biar lu kapok punya istri kaya gua!"
Abiyan yang mendengar gumaman itu hanya tersenyum misterius. Dalam hatinya, ia justru sudah tidak sabar melihat bagaimana reaksi seluruh tetua keluarga besar Zimraan yang kaku saat berhadapan dengan kegilaan dan ketengilan istri barunya malam ini.