NovelToon NovelToon
DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: R. AL

Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.

Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.

Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."

Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.

Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SATU RANJANG DENGAN MUSUH

Perjalanan pulang dari toilet menuju kamar tamu terasa sangat panjang.

Arga masih menggendongku dengan gaya bridal style. Semua tamu pesta menatap kami dengan mulut ternganga. Tante Mira yang tadi menghinaku kini wajahnya pucat pasi ketakutan. Clara dan sepupunya yang menyiram gaunku sudah diusir keluar dari mansion oleh satpam atas perintah Arga.

Aku seharusnya merasa senang karena dibela, tapi aku tahu ini semua hanya bagian dari sandiwara untuk mendapatkan warisan 2 Triliun.

"Sudah sampai, turunkan saya Pak," bisikku pelan saat kami sudah di depan pintu kamar tamu yang besar.

Arga tidak menjawab. Dia membuka pintu kamar dengan satu tangan dan langsung membantingku ke atas ranjang dengan tidak lembut. Bantingan itu membuat gaun merahku sedikit robek di bagian bawah.

"Jangan pernah berpikir saya membela kamu karena saya peduli, Sinta," kata Arga dengan suara dingin, kembali menjadi Arga yang kejam. Jas mahalnya yang tadi dia pakaikan ke tubuhku ditariknya kembali dengan kasar. "Saya membela kamu karena kamu adalah properti saya. Properti Wijaya Group. Tidak ada yang boleh merusak properti saya selain saya sendiri. Mengerti?"

Hatiku yang tadi sempat menghangat karena pelukannya, kini kembali membeku.

"Iya... mengerti..."

Arga melepas dasinya dan melemparkannya ke lantai. Dia terlihat sangat stres. Dia berjalan mondar-mandir di dalam kamar mewah itu, tangannya memijat keningnya.

Syarat Kakek tadi benar-benar membuatnya kacau.

"Gara-gara kamu! Gara-gara kamu semua jadi berantakan!" Arga tiba-tiba berteriak padaku.

Aku terkejut. "Saya... saya salah apa?"

"Di kontrak jelas Pasal 3! TIDAK BOLEH HAMIL! Tapi Kakek malah minta cicit dalam satu tahun! Jika tidak ada cicit, warisan 2 Triliun akan disumbangkan semua! Rencana saya gagal karena kamu!"

Aku menunduk. Aku tidak tahu harus jawab apa. Aku juga tidak mau hamil dari pria yang membenciku.

"Lalu... kita harus bagaimana Pak?" tanyaku dengan suara bergetar.

Arga menatapku dengan tatapan yang membuatku takut. Dia berjalan mendekati ranjang, perlahan, seperti predator yang mendekati mangsanya. Aku mundur terus sampai punggungku mentok di kepala ranjang.

"Kita harus bagaimana? Kita harus pura-pura, Sinta. Di depan Kakek, kita harus terlihat seperti pasangan yang berusaha punya anak. Kita harus terlihat mesra, terlihat... subur."

Wajahku langsung merah padam. "Maksud Bapak..."

"Maksud saya, malam ini kita tidur seranjang. Dan mulai malam ini sampai kita kembali ke Jakarta, kamu tidak boleh tidur jauh-jauh dari saya. Kamu harus tidur di pelukan saya. Jika ada pelayan atau Kakek yang tiba-tiba masuk, mereka harus melihat kita tidur bersama seperti suami istri normal."

Tidur di pelukannya? Jantungku berdegup sangat kencang.

"Tapi Pak... di kontrak..."

"Lupakan kontrak untuk malam ini! Ini perintah baru! Atau kamu mau saya telepon ayahmu sekarang dan saya bilang kontrak batal karena kamu tidak mau kerja sama?"

Ancaman itu lagi. Selalu ayahku yang menjadi senjatanya.

Aku akhirnya mengangguk dengan air mata. "Baik Pak... saya mau..."

Arga kemudian masuk ke kamar mandi. Aku mendengar suara air shower. Aku duduk di tepi ranjang dengan gugup, memeluk lututku.

Gaun merahku masih basah karena disiram air tadi. Aku tidak punya baju ganti di kamar ini.

Beberapa menit kemudian, Arga keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk putih melilit pinggangnya lagi. Tetesan air masih mengalir di dada bidangnya yang kekar. Aku langsung memalingkan wajah, tapi dari ekor mata aku bisa melihat tubuhnya yang sempurna itu.

"Kenapa kamu masih pakai gaun kotor itu? Lepas!" perintahnya.

"Lepas?!" Aku panik.

"Di lemari ada kimono tidur. Pakai itu. Gaun itu sudah kotor dan robek. Buang saja."

Aku berlari ke lemari dan menemukan sebuah kimono sutra berwarna hitam yang sangat tipis. Kimono itu sangat pendek dan licin.

Aku masuk ke kamar mandi untuk berganti. Saat aku keluar dengan kimono itu, aku merasa sangat tidak nyaman. Kimono itu hanya sampai setengah paha, dan bahannya sangat tipis sehingga lekuk tubuhku terlihat.

Arga yang sedang duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya langsung terdiam saat melihatku.

Matanya menatapku lekat, dari wajahku yang tanpa make up tapi memerah, turun ke leherku, ke bahu mulusku, ke kaki jenjangku.

Aku melihat jakunnya naik turun. Aura Alpha nya tiba-tiba menjadi sangat kuat dan panas, memenuhi seluruh kamar.

"Siapa yang menyuruhmu memakai kimono itu?" Suaranya tiba-tiba serak.

"Bibi Sari... Bibi Sari yang menyiapkan di lemari... maaf kalau tidak sopan, saya ganti lagi..."

Aku berbalik mau kembali ke kamar mandi, tapi Arga dengan cepat berdiri dan menarik pergelangan tanganku.

"Jangan."

Satu kata itu membuatku mematung.

Arga menarikku lebih dekat. Jarak kami kini hanya beberapa senti. Aku bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya yang baru selesai mandi. Aroma kayu dan hujan miliknya kini bercampur dengan aroma sabun, membuat kepalaku pusing.

"Jangan ganti. Pakai itu saja malam ini," bisiknya pelan, matanya menatap bibirku.

Aku bisa merasakan napasnya yang berat. Untuk sesaat, aku melihat sesuatu yang berbeda di mata abu-abunya. Bukan benci, tapi sesuatu yang lebih berbahaya, sesuatu yang membuat serigala Omega di dalam diriku ingin tunduk dan menyerahkan diri.

Tapi secepat itu juga, Arga melepaskan tanganku dengan kasar seolah dia tersadar dari hipnotis.

"Jangan geer. Saya hanya tidak mau Kakek curiga kalau kamu pakai baju tertutup seperti biarawati. Suami istri yang berusaha punya anak tidak mungkin tidur dengan baju tertutup."

Lagi-lagi alasan.

Arga kemudian naik ke atas ranjang king size itu dan berbaring di sisi kanan, jauh dariku. Dia menepuk sisi kiri ranjang yang kosong.

"Tidur di sini. Dan jangan melewati garis bantal di tengah ini. Jika kamu melewati garis ini dan menyentuh saya, saya akan..."

"Arga! Sinta! Cucu menantu Kakek!"

Tiba-tiba pintu kamar diketuk dan suara Kakek terdengar dari luar!

Kami berdua panik.

Arga dengan cepat menarikku ke atas ranjang dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh kami berdua. Dia memelukku dengan sangat erat, sangat mesra, dan menempelkan kepalanya di leherku.

"Kakek masuk ya!" Kakek membuka pintu dengan kursi rodanya.

Di dalam selimut, aku dan Arga berpelukan seperti pasangan yang sangat mesra. Wajahku memerah karena malu dan takut. Tubuhku yang hanya memakai kimono tipis menempel langsung ke dada Arga yang telanjang.

Kakek melihat kami dan tertawa bahagia.

"Hahaha! Bagus! Bagus! Sudah mesra begini! Kakek hanya mau bilang selamat malam! Jangan begadang ya! Cepat berikan Kakek cicit!"

Kakek kemudian menutup pintu dan pergi.

Di dalam kamar yang sunyi, hanya tinggal aku dan Arga yang masih berpelukan di bawah selimut.

Aku bisa merasakan detak jantung Arga yang sangat kencang, sama kencangnya dengan detak jantungku.

Arga menatapku, aku menatapnya. Jarak wajah kami hanya 5 senti.

Tidak ada yang bergerak.

Lalu Arga dengan perlahan melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangiku.

"Tidur. Jangan bersuara. Dan ingat garis bantal itu."

Malam itu, aku tidur membelakangi Arga, dengan jarak satu bantal di antara kami, tapi dengan perasaan yang sangat aneh.

Di satu sisi aku membenci pria ini karena telah membeli dan mengancamku. Tapi di sisi lain, pelukannya tadi... terasa begitu hangat dan aman.

Apakah ini yang dinamakan Stockholm Syndrome? Jatuh cinta pada penculikmu sendiri?

Aku memejamkan mata, mencoba tidur, tapi bayangan syarat cicit 2 Triliun itu terus menghantui.

Bagaimana jika dalam satu tahun ini, aku benar-benar hamil anak dari musuh keluargaku?

(Bersambung...)

""Enjoy gess hehe""

1
aina susiyanti77
keren kk😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!