Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Cukup lama Rin menangis dan sadar kalau dia nggak bisa cuma menangisi tentang berita yang memfitnahnya. Rin menghapus air matanya lalu mencuci mukanya. Air dingin itu membuat wajahnya dingin seketika.
Kampus tidak terlalu ramai karena sebagian berada di kelas. Pelan-pelan Rin keluar dari toilet dan pergi ke pos satpam. Satu-satunya akses untuk seluruh CCTV ada di ruang belakang gedung B, pos satpam!
Sebenarnya Rin nggak mau ke sana selain karena ruangannya berada di pojok belakang dan tempatnya juga gelap. Kalo nggak kepaksa nyari helm ilang mahasiswa pasti menghindar ke ruangan itu.
Rin harus tau siapa yang nempel berita itu, makanya dia nekat ke sana dan membolos mata kuliah untuk pertama kalinya. Sampai di sana Zayn keluar dari ruang satpam membawa kertas.
"Rin! Mau kemana?" tanyanya.
"Mau lihat CCTV, kayaknya gue salah naruh buku perpustakaan, sekarang hilang!" Rin berbohong.
"Ooh... Aku temani!"
"Nggak usah! Cuma lihat perpus aja!" Rin menolak.
"Ya udah, aku mau ngobrol juga sama kamu. Aku tunggu di kantin ya," ucap Zayn.
"Oke, gue masuk dulu!" Rin masuk dan Zayn berlalu dari sana.
Rin lapor pura-pura kehilangan buku padahal matanya melihat ke banyak tempat.
"Sebentar pak!" ucap Rin.
"Ini!" Rin menunjuk layar yang lain. Satpam mengernyit. Katanya cari buku, tapi malah CCTV lorong yang dilihat.
Satpam memutar bagian lorong. Seseorang tadi malam menempel kertas itu di mading! Memakai hoodie hitam. Wajahnya nggak kelihatan. Tapi Rin melihat jam tangannya, itu laki-laki. Rin nggak asing dengan jam itu. Tapi siapa?
"Terimakasih pak, kayaknya udah ketemu!" ucap Rin. Satpam hanya mengangguk.
Rin berjalan di sepanjang koridor kelas. Tiba-tiba tangan Rin ditarik dari belakang. Hampir saja Rin mau memukul pakai buku yang dibawanya.
"Ini gue!" Tyo melindungi kepala dengan lengannya.
"Serem banget! Gue kira lo penculik!" ucap Rin.
"Enak aja! Eh tapi sini deh! Gue mau nanya!" Tyo menarik lengan Rin ke samping gedung.
"Gue juga mau nanya!"
"Ya udah, lo dulu deh!" ucap Tyo sambil duduk di tangga.
"Gue mau nanya, lo tau siapa yang nempel berita nggak bener di mading?" tanya Rin.
"Gue nggak tahu, dan itu gue mau nanya soal kebenaran berita itu. Gila! Rame banget d grup,"
"Nggak bener, semua itu nggak bener! Lo tahu sendiri kita berdua yang nganter proposal itu ke kantor T&T,"
"Iya tapi besoknya, waktu nganter rider permintaan mereka lo pergi sendiri! Inget nggak?"
"Jadi lo nuduh gue kalo berita itu bener?" tanya Rin.
"Gue nggak nuduh, cuma cari pembenaran aja. Lo tau berita kayak gini cepat sampe ke dekan. Status lo sebagai mahasiswa lagi terancam!" ucap Tyo. Rin mengangguk membenarkan.
"Tapi sumpah Tyo, gue nggak pernah ngelakuin kayak apa yang mereka tuduhin. Gue dari ruang satpam buat cek CCTV. Gue tau ada seseorang yang nggak suka dan nempel berita itu di mading. Sayangnya mukanya nggak kelihatan. Dia pakai hoodie," ucap Rin.
"Jadi sekarang lo mau gimana? Mau gue temanin ke kantor T&T biar mereka klarifikasi?" tawar Tyo.
"Nggak! Gue selesaikan sendiri dulu. Gue rasa mereka juga nggak tahu soal ini," Rin menunduk.
"Gue percaya lo Rin! Kalau lo butuh bantuan panggil aja! Gue balik ke kelas dulu!" Tyo menepuk bahu Rin sebelum dia pergi.
Rin tidak tinggal diam, dia harus menghadap ke dosennya sebelum masalah ini semakin melebar. Sebelum ke dosen dia menemui Zayn yang sudah menunggunya di kantin.
"Maaf ya, gue kelamaan!" ucap Rin sambil duduk. Matanya yang sedikit sembab menunjukkan kalau dia habis nangis.
"Nggak apa, santai aja. Gue nggak ada kelas juga," ucap Zayn.
"Ada apa?" tanya Rin.
"Gue baca grup..."
"Nggak usah diterusin! Itu fitnah! Gue nggak tahu siapa dalangnya tapi gue janji bakal nyari orangnya!" ucap Rin.
"Gue percaya lo. Kerja sama tim kemarin buktiin semua kerjaan lo jujur. Kalau lo butuh sesuatu jangan sungkan hubungi gue!" ucap Zayn.
"Makasih udah percaya sama gue," Rin menghapus air matanya yang meluncur tiba-tiba.
"Apa yang mau lo lakuin sekarang?" tanya Zayn.
"Gue mau lapor ke pihak kampus soal fitnah ini!"
"Sebaiknya jangan dulu Rin, kalo lo lapor sekarang nama lo makin kesebar. Biar gue bantu beresin. Lo istirahat aja, gue nggak tega liat lo begini" ucap Zayn dengan wajah penuh simpati.
"Makasih ya lo udah percaya gue, gue ngak tahu sekarang harus gimana. Berita itu nggak bener dan gue malu,"
"Tenang, gue percaya. Nanti gue bantu ya," Zayn menyentuh jari Rin sambil tersenyum. Rin mengangguk.
"Lo mau pulang? Gue anter!" tawar Zayn. Tepat saat itu ponsel Rin bergetar. Neneknya menelepon.
"Ya nek?"
"Cepat pulang ya, di Roemah Roti banyak wartawan,"
Rin memasukkan ponselnya ke dalam tas dan pamit dengan Zayn.
"Ada apa?" tanyanya.
"Di rumah rame banget! Ada wartawan... Gue.. Gue..."
"Ssst... Tenang ya, ada gue. Ayo gue anter pulang!" ucap Zayn. Rin mengangguk, rasanya dia tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Entah apa maunya wartawan itu dan bagaimana berita kecil di kampus jadi sebesar ini bahkan sampai menyeret neneknya.
Sepanjang perjalanan Rin gelisah, gemetar. Berita mading di kampus tadi pagi hanya kertas fotokopian sekarang sudah difoto seseorang dan di-upload ke akun gosip kampus. Judulnya makin dipelintir jahat.
"Mahasiswi Panitia diduga Mark-Up Dana Sponsor Roemah Roti T&T untuk Modal Usaha Pribadi Roemah Roti"
Akun itu nge-tag T&T dan nge-tag lokasi Roemah Roti. Komentar netizen langsung liar. Ada yang bilang Rin pansos ke brand gede, ada yang bilang Roemah Roti mau bangkrut makanya nipu sponsor.
Jahat! itu jahat banget! Rin nggak sanggup lagi melihat akun sosial medianya. Ini bukan wartawan kampus lagi, tapi wartawan kuliner lokal yang lagi nyari berita sensasi UMKM vs brand besar yang menyeret nama T&T.
Zayn yang mengantar Rin pulang langsng mengernyitkan dahi saat melihat dari kejauhan dua mobil dan beberapa orang bawa kamera di depan Roemah Roti.
"Lo di sini aja. Biar gue beresin!" bisik Zayn pelan sambil menggenggam tangan Rin.
Rin hanya bisa mengangguk. Tidak ada jalan lain kecuali membiarkan Zayn yang ikut campur. Zayn diwawancarai terkait masalah itu. Dan Zayn menjawab beberapa pertanyaan dan meminta semuanya untuk bubar.
"Kalian sudah dapat jawabannya, sekarang biarkan kami tenang! Disini tidak ada yang bangkrut atau kekurangan dana. Semua hanyalah tuduhan. Kalau sekali lagi saya mendengar hal ini, kami akan laporkan!" ucap Zayn tegas.
Satu per satu wartawan itu pergi. Rin keluar dari mobil dan menghampiri neneknya.
"Nenek nggak apa-apa? Maafin Rin, nek! Rin minta maaf, Rin...."
"Ayo berdiri! Kita masuk! Kamu boleh pulang, terimakasih sudah mengantar cucu saya. Hari ini Roemah Roti tutup cepat!" nenek memberi perintah pada karyawannya. Mereka dipulangkan. Begitu juga Zayn yang sebenarnya masih tak rela meninggalkan Rin tapi dia harus pergi mengurus sesuatu.
Rin masuk sambil menangis. Jika hanya namanya yang buruk di kampus, Rin masih bisa kuat. Tapi kalau mereka sudah menyenggol Roemah Roti milik neneknya, Rin tidak terima. Dia harus tau siapa dalang dibalik ini semua.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok