Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Sepanjang penjelasan panjang yang disampaikan oleh Profesor Jameson Baxter Ashford di depan podium, Hazel Rosemary Brooks sama sekali tidak bisa tenang.
Jantungnya berdegup kencang seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya.
Jemari tangannya yang menggenggam pena bergetar tipis, sementara matanya sebisa mungkin terus menatap lurus ke arah buku catatan, menghindari kontak mata langsung dengan pria yang berdiri tegak di depan sana.
Berbeda jauh dengan Hazel yang diserang kepanikan luar biasa, Seraphina yang duduk di sebelahnya justru tampak seperti orang lain.
Wanita itu tidak berhenti berbisik antusias, matanya berbinar-binar penuh pemujaan saat memperhatikan setiap gerak-gerik sang dosen muda.
"Lihat, Hazel... bukankah dia sangat sempurna?" bisik Seraphina gemas, menyenggol pelan lengan Hazel.
"Punggungnya yang tegap itu... argh, entah siapa wanita beruntung yang berhasil mendapatkannya di atas ranjang! Kau tahu tidak? Dia itu bukan cuma jenius di bidang bisnis, tapi dia juga ahli dalam penjinakan bom! Keluarga Ashford itu kan keluarga kelas atas yang punya pengaruh gelap—beberapa rumor bahkan bilang mereka keturunan mafia besar. Entah apa yang membuatnya mau repot-repot jadi dosen di sini, padahal kesibukannya di luar sana pasti luar biasa."
Hazel mendengar setiap patah kata yang diucapkan sahabatnya dengan jelas.
Ahli penjinakan bom? Keluarga mafia? Batin Hazel merintih pasrah.
Meringis membayangkan fakta bahwa pria asing yang ia bayar dengan segepok uang semalam ternyata adalah pria paling berbahaya dan berpengaruh di seluruh kota ini.
Di depan sana, Jameson tiba-tiba menghentikan penjelasannya. Ia merapikan beberapa lembar kertas di atas meja podium, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap dingin ke seluruh penjuru aula amfiteater.
"Karena jadwal saya yang cukup padat dan saya rasa saya tidak bisa menangani kalian semua sendirian," suara Jameson yang berat dan berwibawa memotong keheningan ruangan, "saya memutuskan untuk memilih satu orang asisten dari kelas ini untuk membantu tugas-tugas akademis saya."
Belum sempat Jameson menyelesaikan kalimatnya, kehebohan seketika meledak di dalam aula.
Seolah dikomando, hampir seluruh mahasiswi di ruangan itu mendadak mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke udara.
Mereka saling bersaing menarik perhatian sang dosen tampan, bahkan Seraphina di samping Hazel melompat kecil sembari mengacungkan tangannya setinggi mungkin.
"Saya, Sir! Pilih saya!"
"Profesor Ashford, saya berpengalaman menjadi asisten!"
Aksi heboh para mahasiswi yang mendadak hilang kendali itu membuat para mahasiswa di barisan belakang berteriak dan tertawa terbahak-bahak.
Suasana kelas yang tadinya tegang dan formal berubah menjadi riuh oleh candaan.
Namun, Jameson sama sekali tidak menyunggingkan senyum.
Matanya yang tajam dan dingin melewatin jemari-jemari yang terangkat di udara.
Bukannya memilih salah satu dari sekian banyak mahasiswi yang berantusias, pandangan Jameson justru mengunci rapat pada satu-satunya wanita yang duduk membeku dan sama sekali tidak berniat memperlihatkan tangannya.
Sudut bibir Jameson terangkat tipis, membentuk lengkungan misterius yang sarat akan dominasi.
Tangannya yang panjang terangkat, menunjuk lurus ke arah barisan tengah.
"Kau..." panggil Jameson dingin. "Kau yang jadi asistenku."
Deg!
Hazel membatu di tempatnya. Ia merasakan pandangan mata puluhan mahasiswa di dalam ruangan itu mendadak tertuju padanya. Seraphina di sebelahnya perlahan menurunkan tangannya, menatap Hazel dengan mulut ternganga tak percaya.
Apa maksud pria ini? batin Hazel lirih, matanya melebar menatap Jameson dengan kilatan cemas.
Tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk mencerna situasi, Jameson langsung mengambil map dokumen hitamnya dan merapikan barang-barangnya.
"Perkuliahan hari ini kita akhiri," ucap Jameson tegas, memotong riuhnya bisik-bisik mahasiswa.
Pandangannya tidak teralih sedikit pun dari Hazel. "Dan kau... bantu aku membawakan ini semua ke ruangan saya."
Keberanian dan gengsi khas putri bangsawan Inggris di dalam diri Hazel seketika bergolak. Ia berdiri tegak dari kursinya, menatap lurus ke mata tajam Jameson tanpa rasa takut yang diperlihatkan.
"Saya belum mengatakan setuju, Sir," sahut Hazel dengan artikulasi yang tegas dan lugas. "Saya tidak bisa menjadi asisten Anda. Jadwal saya terlalu sibuk, dan saya juga punya jadwal melukis siang ini juga."
Ruangan aula seketika hening.
Para mahasiswa terkejut melihat seorang mahasiswi baru berani menolak perintah dari Profesor Ashford yang terkenal dingin dan ditakuti.
Jameson berbalik perlahan di balik podiumnya. Ia mengangkat sebelah alis tebalnya, menatap Hazel dari atas ke bawah sebelum sebuah senyuman miring yang provokatif terukir di wajah tampannya.
"Kebetulan sekali..." jawab Jameson santai dengan nada suara yang dalam, "saya juga akan menuju ruang seni siang ini. Kita sekalian saja pergi bersama."
"Hah?!" Seraphina spontan berseru pelan tak percaya.
Seluruh mahasiswa di aula mulai berbisik gempar. Sepanjang sejarah universitas ini berdiri, belum pernah ada yang mendengar kabar bahwa pak dosen dingin yang anti-sosial itu menginjakkan kaki di gedung Seni Rupa.
Hazel mengepalkan tangannya di samping tubuh, meremas ujung blazernya.
Hari pertama di kampus barunya benar-benar menjadi hari yang akan selalu diingatnya—dalam arti yang paling buruk.
Bagaimana mungkin pria ini bersikap seenaknya seperti ini?
Dia pikir dia siapa? Dosen berkuasa yang bisa mengatur hidup orang lain begitu saja?
"Ikut saya sekarang, Miss Brooks," tegas Jameson pendek, lalu berbalik melangkah keluar aula tanpa menunggu persetujuan lagi.
Dengan helaan napas berat dan langkah kaki yang dipaksakan tegak menahan sisa rasa perih, Hazel terpaksa merapikan tasnya dan berjalan menyusul langkah lebar sang profesor, meninggalkan Seraphina yang masih terpaku memandangnya dengan tatapan heran dan takjub.
Lorong penghubung antar-gedung menuju kelas melukis tingkat tinggi terasa begitu panjang dan sunyi.
Hazel berjalan sekitar dua langkah di belakang Jameson, membawakan setumpuk buku dan dokumen tebal milik sang dosen. Punggung lebar Jameson yang terbalut jas hitam mahal tampak begitu dominan di depannya, menghalangi pandangan Hazel dari dunia luar.
Saat mereka melintasi taman dalam yang sepi, ponsel pintar di dalam saku jas Jameson mendadak berdering nyaring.
Jameson menghentikan langkahnya sejenak, merogoh ponselnya, lalu menggeser layar untuk mengangkat panggilan video-call dari sahabat dekatnya, Louis.
Hazel ikut terhenti beberapa langkah di belakangnya, berpura-pura menatap pepohonan di taman walau telinganya menajam mendengarkan.
"Hei, Jameson!" suara santai Louis terdengar jernih dari speaker ponsel.
"Aku baru saja menyuruh tim peretas terbaik kita untuk melacak CCTV hotel tempatmu menginap semalam. Mengenai penyelidikan wanita asing bertato kupu-kupu yang kauduga menyirammu dengan segepok uang itu—"
"Tidak perlu direpotkan lagi, Louis," potong Jameson dingin namun nada suaranya menyiratkan kepuasan yang teramat sangat.
Di layar ponsel, Louis mengerutkan keningnya heran. "Maksudmu tidak perlu? Kau menyerah memburunya?"
"Bukan," Jameson melirik tipis ke arah Hazel dari sudut matanya, senyum miringnya kembali terkembang. "Aku baru saja mendapatkannya tanpa perlu bersusah payah mencarinya. Dia ada tepat di belakangku sekarang."
"WHAT?!" seru Louis heboh dari seberang telepon, wajahnya di layar mendadak mendekat ke kamera karena terkejut bukan main.
"Kau bercanda?! Wanita yang menidurimu lalu melempar uang ganti rugi itu... sekarang ada bersamamu? Bagaimana bisa?!"
"Dia mahasiswi baruku," jawab Jameson singkat, penuh ketenangan yang penuh kemenangan.
Louis terdiam sejenak sebelum akhirnya tawa berderai tumpah dari mulutnya. "Astaga, Jameson! Ini takdir yang benar-benar gila! Kau memburu wanita yang ternyata adalah mahasiswamu sendiri?"
Louis mengusap air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa, lalu ekspresi wajahnya berubah menggoda dan penuh kerlingan nakal.
"Tapi ingat, Brother... semalam kau bercerita padaku kalau kalian melakukannya dengan sangat liar, dan kau sama sekali tidak memakai pengaman, kan?"
Mata Hazel di belakang Jameson mendadak membelalak lebar. Wajahnya seketika memerah padam sampai ke ujung telinga akibat rasa malu yang membakar saat mendengar kalimat frontal dari sahabat Jameson itu.
Rahang Jameson mengetat, dadanya bergejolak antara amarah dan rasa canggung yang teramat sangat saat sadar bahwa Hazel mendengarnya.
"Sialan kau, Louis!" umpat Jameson dengan suara rendah yang menakutkan, berniat mematikan panggilan.
"Hahaha! Yah, segera kembali ke kantor setelah urusan 'kuliahmu' selesai, Tuan Ashford! Aku sudah muak mengurus tumpukan berkas kantor milikmu ini!" goda Louis lagi dengan tawa puas sebelum akhirnya Jameson mematikan sambungan telepon secara sepihak dengan gerakan kasar.
Jameson menarik napas dalam-dalam, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa hangat. Ia berbalik perlahan, menatap lurus ke arah Hazel yang kini menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan rona merah padam di kedua pipinya.
Atmosfer di antara mereka berdua seketika berubah menjadi sangat pekat, penuh dengan ketegangan gairah yang belum tuntas dari malam sebelumnya.
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣