Cherry adalah seorang gadis yang beruntung, ia memiliki keluarga yang hangat dan sangat menyayanginya, hidupnya seperti impian banyak gadis seusianya terlebih ia memiliki Kakak Laki laki yang selalu melindunginya Kevin, di sekolah berpacaran dengan pria paling populer sekaligus ketua OSIS Dion Prince, namun setelah kehadiran dua Pria bernama Bumi dan Langit hidupnya berubah, masa lalu yang selama ini ia cari kebenarannya perlahan mulai terungkap. Akankah Cherry berhasil mengetahui masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua kutub yang berbeda
Kegelapan sudah menggantikan cahaya mentari, Bumi berjalan menuju halaman salah satu Villa mewah di kota Jala, baginya malam itu sama saja terasa sangat sunyi layaknya malam malam sebelumnya.
Dari kejauhan ia melihat sebuah mobil sport warna hitam dengan plat nomer khusus terparkir di halaman Villa megah itu.
Badannya yang lelah, dan bajunya yang basah oleh keringat bercucuran membuatnya sangat tidak nyaman, ia baru saja pulang sehabis latihan basket di sekolah, sangat terlambat daripada hari hari sebelumnya.
Ketika sampai di depan mobil hitam itu, ia menghentikan langkahnya, bersandar di Cap depan mobil, melamun, dan seperti sedang bersiap akan sesuatu.
Bik Ripa menghampiri Bumi yang termangu.
"Den Bumi" Panggil Bik Ripa.
"Eh iya bi"
"Den maaf ya Bibi lupa laporan ke Aden, kalau Den Kecil datang."
Bumi mengangguk lalu berkata "Iya gak apa Bi, Bumi juga udah liat ada mobilnya, jam berapa dia datangnya tadi?"
"Tadi sore Den jam 3an, maafin bibi ya den, bibi bener bener lupa padahal Aden udah nitip pesen kalau tiba tiba den kecil datang harus segera lapor ke Aden." Sesal bi Ripa, raut wajahnya penuh penyesalan.
"Aman Bi, aman, tenang aja, mungkin dia ada urusan disini." Ujar Bumi meski tak yakin dengan pemikirannya, biasanya Langit akan datang jikalau ada masalah besar di kota Nirwana.
Bik Ripa terdiam, seakan menyembunyikan sesuatu, wajahnya terlihat sangat sedih.
Bumi menghela nafasnya seakan menyadari sesuatu. "Kenapa lagi bi?"
Bik Ripa tiba tiba terisak "Bibi gak tega Den, badannya den kecil lebam lebam, mukanya juga keliatan ada bekas pukulan."
Bumi menghela nafasnya "Udah Bumi duga pasti dia ada masalah bik."
Bik Ripa mengangguk tanda setuju.
"Yaudah, Bumi nyamperin dia dulu ya bi."
"Baik den."
***
Selepas mandi dan berganti Baju, Bumi lekas menemui adik bungsunya itu.
"Bro kenapa tiba tiba kesini?" Bumi bertanya dengan nada serius campur khawatir, adik lelakinya saat itu terlihat lebam lebam di beberapa bagian tubuhnya, wajahnya pun terlihat bengkak dan memerah karena terkena bekas pukulan.
"Bukan urusan Lo, mending Lo urus aja urusan Lo sendiri." Jawab si adik ketus.
Bumi memperhatikan adiknya yang saat itu asik mengatur kunci gitar.
"Masih aja main musik, Lo gak kapok kena omel Kakek, dan kena hajar Papi apa jangan jangan ini alesan Lo ngikut gue kesini, Lo kabur?" Selidik Bumi tak kuasa menahan rasa penasaran dengan alasan kedatangan bujang badung itu.
Lelaki berambut kecoklatan itu tersenyum sinis "Hah kabur, emang kapan gue pernah se pengecut elu Bumi Kaivan?" Ujarnya menohok.
Bumi menghela nafas tak disangka si badung ini sudah mulai bisa kurang ajar padanya.
"Lo masih marah karena gue gak jadi tepati janji gue?" Tanya Bumi dengan perasaan tidak enak, ia merasa bersalah karena ingkar janji pada adiknya.
Pria muda berlesung pipi dalam itu tersenyum kecut "menurut Lo?"
"Soal jadi penerus dan nerima perjodohan, emang itu udah hak Lo Langit, gue gak berhak atas yang bukan milik gue, lagian waktu itu gue belum dewasa, makanya pas Kakek tanya gue iya iya aja, tapi sekarang you know lah, gue udah tau semuanya, gue ngerasa gak pantes dan gak berhak, semua itu hak Lo Langit." Bumi berkata dengan perasaan tak enak.
"Soal ingkar janji emang Lo jagonya Bum, udahlah stop, gue mau gitaran dulu, keluar, muak banget gue liat muka Lo."
Bumi dengan terpaksa keluar dari kamar itu.
Sebuah alunan lagu dari petikan gitar akustik mulai terdengar sesaat setelah Bumi keluar.
Ia bergumam dalam hatinya "Seandainya gue bisa, akan gue pikul semua beban Lo Langit."
Dalam hatinya ia berdoa semoga saja Mami tidak terganggu kesehatannya karena masalah ini.
***
Bumi dan Langit adalah saudara, Bumi Kakak yang hanya beda 1 tahun dari Langit, secara sikap dan dan kematangan emosional mereka sangat berbeda, Bumi cendrung penurut sedangkan Langit berjiwa bebas dan sangat sulit diatur.
Maka dari itu Kakek mereka sebenarnya sangat menyukai Bumi, namun karena satu dan lain hal yang tersembunyi, Bumi tidak akan pernah bisa menjadi penerus keluarga Wijaya.
Semua itu harus jatuh sepenuhnya pada adiknya Langit, sedangkan anak lelaki Badung itu tidak menginginkannya.
Iya bahkan sering membangkang dan kabur kaburan dari tanggung jawab yang harus dipikulnya.
Bahkan ia harus menanggung banyak penyiksaan fisik yang diberikan oleh Ayah mereka.
Seakan tidak jera Langit akan selalu kabur, dia tak pernah mau menurut, bahkan semakin di kekang ia akan semakin memberontak.
Seusai memainkan gitarnya Langit merebahkan diri di kasurnya, fikirannya kacau ia memikirkan kondisi Maminya, Namun iapun tak ingin pulang untuk saat ini.
Dibukanya ponsel pintar miliknya, tangannya sibuk menuliskan sebuah notes, tentang perasaan yang ia rasakan dihari itu, menulis adalah bagian dari kebiasaannya, Langit memiliki jiwa seni yang sangat tinggi, ia sangat berbakat menulis dan membuat lirik lagu, begitupun dengan bermusik.
Kalau saja ia bisa memilih, ia rela melepaskan segala miliknya hanya untuk hidup bebas dan menjadi dirinya sendiri.
Setelah puas menulis notes, terakhir ia membuka galeri dan melihat sebuah potret perempuan di tepi pantai lalu tanpa sadar tersenyum penuh arti.
* * *
Bumi Kaivan Wijaya Sang Kakak
Langit Kaivan Wijaya Sang Adik
Itu tiap satu bulan, gonta-ganti terus dong?!
Ya Salaam... 🗿🗿🗿