romansa islami story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Aroma semerbak bunga melati dan mawar putih yang merambat di setiap pilar Ballroom Ritz-Carlton menciptakan atmosfer syahdu yang menggetarkan dada. Ruangan megah itu telah disulap menjadi tempat berlangsungnya akad nikah yang sakral, memadukan kemewahan khas dinasti Hilton dengan keanggunan islami yang murni.
Di balik tirai pembatas berbahan sifon putih yang menjuntai dari langit-langit, Nadiva duduk bersimpuh. Jantungnya berpacu seolah tengah mengikuti lari maraton. Balutan kebaya putih berekor panjang yang bertabur payet kristal Swarovski memeluk tubuh mungilnya dengan pas. Di atas kepalanya, sebuah siger Sunda bertahtakan berlian bertengger anggun, menyempurnakan jilbab putihnya.
Tangan Nadiva yang dihiasi ukiran henna putih meremas sapu tangan sutranya dengan gelisah. Di sebelahnya, Karin yang bertugas sebagai bridesmaid sudah menghabiskan tiga lembar tisu untuk mengusap air matanya sendiri, padahal acara inti belum dimulai.
Dari pelantang suara yang menggema ke seluruh penjuru ballroom, terdengar dehaman pelan dari paman Nadiva—sang kiai dari Sukabumi yang hari ini bertindak sebagai wali nikah menggantikan almarhum abinya.
Suasana mendadak hening. Udara terasa menyusut.
Di depan meja akad, Dereen Hilton duduk berhadapan dengan paman Nadiva. Pria yang dulu ditakuti sebagai bad boy arogan penguasa sekolah itu, kini tampak luar biasa gagah dengan setelan beskap putih, blangkon, dan kalung melati yang melingkar di leher tegapnya. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, namun matanya memancarkan kesiapan yang absolut.
"Saudara Dereen Hilton bin... "
Suara sang kiai mengalun mantap, membelah keheningan, menyebutkan nominal mahar dan serah-terima tanggung jawab yang teramat berat.
Begitu kalimat itu selesai, tanpa jeda sedetik pun, tanpa ada getar keraguan di suaranya, Dereen membalas dengan lantang dalam satu tarikan napas yang menggema di seluruh ruangan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadiva Ayudia binti almarhum... dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH!"
Air mata Nadiva tumpah seketika. Pertahanannya runtuh. Kata sah yang diteriakkan serempak oleh para saksi—termasuk suara bariton Mex dan Andrew yang duduk di barisan depan—menjadi tanda bahwa batas yang selama bertahun-tahun merintangi mereka kini telah lebur sepenuhnya. Pemuda arogan yang dulu selalu ia panggil 'tiang jemuran' itu, kini resmi menjadi imamnya, pelindungnya, dan surganya.
Tak lama, tirai sifon disingkap. Dereen dituntun berjalan menuju tempat istrinya berada.
Mata kelam pria itu langsung terkunci pada sosok Nadiva yang menunduk dengan bahu bergetar pelan. Dereen berlutut di hadapan Nadiva. Tangan besarnya yang sedikit berkeringat dingin perlahan terangkat, menyentuh puncak kepala Nadiva dengan kelembutan yang luar biasa.
Bibir Dereen berkomat-kamit melantunkan doa untuk sang istri, sebuah doa yang selama ini ia pelajari dalam diam. Setelahnya, Nadiva meraih punggung tangan Dereen, menciumnya dengan takzim. Saat Nadiva mendongak, Dereen mengecup kening gadis itu cukup lama, menyalurkan segala kerinduan, janji, dan rasa syukurnya pada Sang Pencipta.
"Jangan nangis terus, Cewek Aneh. Makeup mahal lo luntur nanti," bisik Dereen serak, mengusap air mata di pipi Nadiva dengan ibu jarinya. Sisa-sisa gaya jahilnya sengaja ia keluarkan untuk mencairkan ketegangan.
Nadiva mendengus pelan di sela tangisnya. Sisi barbar-nya refleks terpancing. "Biarin aja! Ini siger di kepalaku beratnya udah kayak mikul galon, Kak! Kalau aku nggak nangis, nanti aku pingsan!" keluhnya dengan bibir mengerucut.
Dereen tertawa pelan. Tawanya renyah dan penuh kelegaan. Pria itu mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga istrinya. "Tahan sebentar, Sayang. Nanti malam gue sendiri yang bakal lepasin siger itu buat lo."
Wajah Nadiva seketika merona sehebat kepiting rebus. Ia refleks mencubit pinggang suaminya, membuat sang CEO muda itu meringis namun tak berhenti tersenyum.
Malam harinya, resepsi pernikahan digelar dengan kemewahan yang menjadi perbincangan para sosialita ibu kota. Ribuan tamu dari kalangan pejabat, pengusaha, hingga rekan-rekan sastra Nadiva dari luar negeri memenuhi grand ballroom.
Di salah satu meja VIP, Nyonya Maya Hilton duduk dengan postur kaku. Gaun malam marunnya membalut tubuhnya yang masih terlihat awet muda. Namun, raut wajahnya sulit ditebak. Matanya tak lepas memperhatikan interaksi menantunya di atas pelaminan.
Dulu, ia memandang Nadiva sebagai parasit. Hama yang ingin menggerogoti harta keluarganya. Namun, fakta yang menampar Maya beberapa bulan terakhir ini sukses membungkam seluruh kesombongannya.
Nadiva bukan gadis lemah yang menunggu dihidupi. Gadis itu pulang dari Maroko dengan gelar Master Cum Laude. Ia seorang penulis novel best-seller internasional yang royaltinya tak bisa dipandang sebelah mata. Ia cerdas, berwibawa, dan bahkan—yang paling menohok harga diri Maya—Nadiva membeli sebuah rumah mewah di kawasan elite Jakarta Selatan dengan uangnya sendiri, murni dari hasil keringatnya, berbulan-bulan sebelum Dereen melamarnya.
Dan malam ini, melihat bagaimana Nadiva melayani para tamu VVIP ekspatriat dengan bahasa Inggris dan Arab yang sangat fasih, serta bagaimana relasi-relasi bisnis Dereen menatap Nadiva dengan penuh kekaguman dan rasa hormat... tembok keangkuhan di hati Maya perlahan retak.
Maya bangkit dari kursinya. Ia melangkah pelan menaiki pelaminan saat antrean tamu sedang sepi.
Melihat kedatangan ibunya, rahang Dereen otomatis mengeras. Pria itu secara refleks menggeser tubuhnya, berdiri sedikit menyamping untuk menutupi Nadiva, layaknya perisai yang siap menghadang serangan.
Namun, Maya mengabaikan putranya. Wanita paruh baya itu berhenti tepat di hadapan Nadiva.
"Mama nggak perlu bikin keributan di sini," ancam Dereen dengan suara bariton rendah, penuh peringatan.
"Diam, Dereen. Mama tidak sedang bicara padamu," sahut Maya tenang, tatapannya terkunci pada sang menantu.
Nadiva menelan ludah. Ia menepuk punggung tangan Dereen pelan, memberi isyarat agar suaminya itu menyingkir sedikit. Dengan senyum sopan yang elegan, Nadiva menundukkan kepalanya hormat.
"Terima kasih sudah berkenan hadir, Nyonya..." Nadiva memberikan jeda sekilas, lalu merevisinya dengan lembut, "...Ma."
Maya terdiam sejenak. Matanya yang biasa menyorotkan tatapan merendahkan, kini memindai wajah chubby di depannya dengan tatapan menilai yang rumit.
"Saya harus mengakui, saya pernah sangat meremehkanmu, Nadiva," ucap Maya akhirnya, suaranya tak lagi melengking angkuh, melainkan datar dan sedikit... mengalah. "Saya pikir kamu hanya gadis udik pencari harta yang akan mempermalukan nama Hilton."
Dereen baru saja hendak menyela marah, namun Nadiva menahannya lagi.
"Ternyata saya salah," lanjut Maya, menghela napas pendek. Ia menatap lurus ke dalam mata cokelat menantunya. "Kamu membuktikan bahwa kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri. Gelar Master, karya yang diakui dunia, dan kemandirian finansialmu... itu bukan sesuatu yang bisa dicapai oleh sembarang orang, apalagi dengan latar belakang masa lalumu yang sulit."
Nadiva tersenyum tulus. "Semua itu hanya titipan, Ma. Sama seperti yang pernah saya bilang lima tahun lalu. Saya cuma berusaha memaksimalkan apa yang Allah titipkan ke saya."
Kalimat itu mengingatkan Maya pada tamparan keras lima tahun silam di mansion-nya. Wajah wanita paruh baya itu sedikit merona karena sisa-sisa rasa gengsi, namun kali ini, ia tidak membantah.
"Kamu punya harga diri yang sangat tinggi, Nadiva. Dan keluarga ini..." Maya menatap putranya sekilas, lalu kembali pada Nadiva. "...membutuhkan wanita tangguh sepertimu untuk mendampingi Dereen. Saya mungkin belum bisa sepenuhnya menjadi ibu mertua yang hangat, tapi saya menghormatimu sebagai wanita yang berpendidikan dan pekerja keras. Selamat datang di keluarga Hilton."
Tanpa diduga, Nyonya Maya mengulurkan tangannya.
Mata Dereen sedikit membulat, tak menyangka ibunya yang keras kepala itu akan menyerah dan mengibarkan bendera putih di atas pelaminan.
Dengan hati yang terasa begitu lapang, Nadiva menyambut uluran tangan itu, lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan takzim. "Terima kasih, Ma. Nadiva akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Dereen."
Maya hanya mengangguk pelan, menepuk pundak Dereen sekilas, lalu melangkah turun dari pelaminan dengan sisa-sisa keanggunannya.
Sepeninggal Maya, Dereen menarik napas panjang, menatap istrinya dengan sorot mata takjub. "Lo bener-bener punya sihir ya, Div? Nyokap gue yang kepalanya lebih keras dari batu granit aja bisa takluk sama lo."
Nadiva terkekeh, mencubit pinggang Dereen lagi. "Bukan sihir, Kak. Itu namanya the power of pembuktian diri. Makanya, jangan berani-berani ngeremehin mantan babu Kakak ini, ya! Sekali Kakak macem-macem, aku bisa biayain hidup aku sendiri pakai royalti buku!"
Tawa Dereen pecah. Ia menarik pinggang Nadiva mendekat, tak peduli pada ratusan pasang mata yang masih ada di dalam ballroom.
"Nggak akan," bisik Dereen posesif, menempelkan keningnya pada kening Nadiva. Matanya memancarkan lautan cinta yang begitu dalam dan absolut. "Gue yang bakal terus jadi tawanan lo seumur hidup, Nadiva. Terima kasih udah mau pulang dan nunggu gue."
Di bawah sorot lampu kristal dan alunan musik jazz romantis, dua anak manusia itu akhirnya menemukan pelabuhan terakhir mereka. Taruhan konyol, luka beda keyakinan, dan perpisahan lima tahun kini telah terbayar lunas oleh sebuah mahkota baru bernama pernikahan.