NovelToon NovelToon
Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: jingrd24

"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.

Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!

Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Hampir di Ambang Batas

Percayalah, semua hal dan rencana yang disusun oleh Kate sedemikian rupa pada akhirnya tidak bisa membantu apa pun. Salvatore terlalu overpower untuk Kate yang rencananya sangat kekanak-kanakan. Kate sudah mencoba semuanya, mulai dari yang paling nekat sampai yang paling memalukan. Hasilnya, Salvatore selalu punya cara untuk mengatasinya—yang justru berakhir membuat suaminya itu jauh lebih populer daripada yang dibayangkan oleh Kate.

Seperti hari ini, Kate sudah mempersiapkan tiga ekor kodok. "Baiklah, Pangeran Kodokku. Aku harap kali ini kalian bisa membantu."

Kate dengan sangat hati-hati mengunci kotak kayu berlubang-lubang kecil yang kini berisi tiga ekor kodok pohon berwarna hijau cerah. Senyum liciknya mengembang sempurna, mengabaikan fakta bahwa ia sendiri sebenarnya agak merinding saat memegang hewan amfibi tersebut demi melancarkan aksinya.

"Dengarkan aku, Pangeran Kodokku," bisik Kate sembari mendekatkan wajahnya ke kotak kayu tersebut. "Tugas kalian sederhana. Begitu pria batu itu membuka laci meja kerjanya nanti malam, kalian hanya perlu melompat ke wajah sok tampannya itu. Mengerti?"

Rhea yang sedang menata gaun-gaun malam Kate di lemari hanya bisa menghela napas panjang untuk kesekian kalinya dalam dua minggu terakhir. Dayang setia itu berbalik, memandang majikannya dengan tatapan lelah yang amat sangat transparan.

"Nona," panggil Rhea tenang. "Ini sudah hari keempat belas sejak Anda resmi menjadi istri Tuan Jenderal. Dan selama dua minggu ini, tidak ada satu pun rencana Anda yang berhasil."

Kate mendongak, melotot tidak terima. "Hei! Rencanaku selalu sempurna, Rhea! Hanya saja keberuntungan selalu memihak pada si Jenderal Tembok itu!"

"Sempurna?" Rhea mulai menghitung dengan jarinya satu per satu dengan nada monoton.

"Hari pertama, Anda mencoba menaruh garam tiga sendok di teh paginya, Tuan Jenderal meminumnya tanpa mengedip dan mengira itu adalah jamu kesehatan perbatasan. Hari ketiga, Anda melonggarkan baut kursi kerjanya, beliau malah menyadarinya dalam sedetik dan memperbaikinya sendiri menggunakan belati. Hari ketujuh, Anda memasukkan ulat bulu ke jubahnya, ulatnya justru mati tertindih armor besi beliau."

Rhea menarik napas pendek sebelum melanjutkan daftar penderitaan majikannya.

"Lalu minggu lalu, Anda menyuruh anak-anak nakal melemparkan telur ke kudanya, kuda tempur Tuan Jenderal justru menangkap telur itu di udara dan memakannya dengan lahap.

Dan puncaknya kemarin lusa, saat Anda menukar pedangnya dengan pedang kayu, beliau justru membuat seluruh pasukannya makin terpukau dan menyembahnya seperti dewa perang."

Kate menggertakkan giginya. Setiap patah kata yang diucapkan Rhea adalah kenyataan pahit yang menghantam dada dan harga dirinya.

"Rhea! Kenapa kau malah mendata kegagalanku?" sembur Kate, wajahnya merona merah antara kesal dan malu. "Seharusnya kau memberikanku dukungan moral!"

"Saya memberikan dukungan realistis, Nona," balas Rhea tanpa dosa. "Tuan Jenderal itu terlalu overpower untuk rencana-rencana Anda yang... maaf sekali, sangat kekanak-kanakan. Setiap kali Anda mencoba mempermalukannya, hasil akhirnya justru membuat beliau makin populer di mata para pelayan, prajurit, bahkan para bangsawan yang mendengar ceritanya."

Kate meremas tepi meja riasnya. Ia tidak bisa membantah. Berita tentang Jenderal Ardan yang mengalahkan komandannya hanya dengan pedang kayu kini sudah menyebar luas ke seluruh ibu kota! Banyak bangsawan muda yang makin mengagumi ketangkasan Salvatore, sementara para wanita bangsawan malah makin gigit jari karena iri pada Kate yang memiliki suami sehebat itu.

Mereka pikir Kate adalah wanita paling beruntung di kerajaan, padahal Kate sedang berada di ambang batas kewarasannya karena frustasi!

"Aku tidak peduli!" tegas Kate, berdiri tegak sembari memeluk kotak berisi kodok itu di dadanya. "Orang yang berhenti berusaha adalah orang yang kalah! Dan seorang Putri Raventhal tidak akan pernah mengaku kalah dari pria yang bicaranya cuma dua kalimat per jam!"

"Lalu apa rencana Anda setelah tiga ekor kodok ini gagal melompat ke wajah beliau?" tanya Rhea datar, sudah bisa menebak jalan ceritanya.

Kate menyeringai misterius, matanya berbinar penuh kejahatan yang terencana. "Kodok ini hanyalah pengalih perhatian, Rhea. Jika kodok ini gagal—dan aku yakin tidak akan gagal—aku sudah menyiapkan rencana baru untuk besok malam. Cara yang benar-benar berbeda!"

"Cara apa lagi, Nona?" Rhea memiringkan kepalanya, menatap curiga.

"Rencana pembalasan mutlak!" jawab Kate bangga. "Aku akan memanipulasi jadwal rapat militernya besok! Aku sudah menyuruh salah satu pelayan baru untuk memindahkan dokumen laporan perbatasan ke laci paling bawah meja perpustakaan pribadi, sementara surat undangan jamuan istana aku sembunyikan di balik lukisan. Dia pasti akan terlambat menghadiri rapat penting bersama Yang Mulia Raja! Raja akan marah, dan reputasinya sebagai jenderal yang disiplin akan hancur!"

Rhea menatap majikannya selama lima detik dalam keheningan yang mencekam. Dayang itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, memancarkan rasa simpati mendalam untuk majikannya yang tidak pernah kapok.

"Nona..." kata Rhea pelan. "Rencana Anda pasti meleset lagi. Saya taruhan dua koin perak untuk itu."

"Rhea! Kau ini dayangku atau dayang Salvatore?!" jerit Kate frustasi, melangkah ketus keluar kamar menuju ruang kerja Salvatore untuk menaruh kotak kodoknya.

***

Malam harinya, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kediaman Ardan sudah sangat hening.

Kate duduk bersedekap di atas ranjang, berpura-pura membaca buku dengan posisi telinga yang dipertajam maksimal ke arah pintu ruang kerja Salvatore yang berada tepat di seberang kamar utama mereka.

Suara pintu ruang kerja terbuka terdengar. Derap langkah kaki Salvatore yang tenang dan teratur berbunyi mendekati kamar tidur. Kate menahan napas, dadanya berdebar kencang menantikan suara teriakan kaget atau kepanikan dari sang Jenderal Besar.

Pintu kamar tidur terbuka. Salvatore melangkah masuk dengan kemeja putih yang lengan bajunya sudah tergulung hingga ke siku. Wajahnya seperti biasa: datar, tampan, dan tenang tanpa cela. Tidak ada tanda-tanda pria itu baru saja diserang oleh tiga ekor kodok pohon yang beringas.

Kate mengerjapkan mata, kekecewaan langsung merayapi hatinya. Lho? Kok tidak ada suara? Apa dia belum membuka lacinya?

Salvatore melangkah menuju meja rias, meletakkan jam saku dan sebuah wadah kaca kecil di atasnya. Pria itu lalu berbalik, menatap Kate yang sedang memandangnya dengan tatapan menyelidik yang sangat transparan.

"Kau belum tidur?" tanya Salvatore dengan suara baritonnya yang rendah.

"Belum!" sahut Kate ketus, matanya berusaha mengintip wadah kaca di atas meja rias. "Kau... dari mana saja? Sudah memeriksa meja kerjamu?"

"Sudah," jawab Salvatore tenang. Ia berjalan mendekati sisi ranjangnya, lalu duduk di pinggir kasur. "Terima kasih atas hadiahnya."

Kate membeku. "Hah? Hadiah apa?”

Salvatore menunjuk ke arah wadah kaca di meja rias dengan dagunya. "Tiga ekor kodok pohon di atas meja. Spesies yang cukup langka dari Hutan Timur. Kulit mereka mengeluarkan lendir yang sangat bagus untuk bahan campuran obat luka bakar para prajurit di barak."

Salvatore menoleh, menatap Kate dengan mata elangnya yang jernih. "Aku sudah menyuruh pengawal membawanya ke tabib markas tadi. Mereka sangat terbantu. Kau sungguh istri yang sangat perhatian pada kebutuhan medis militerku, Kate.”

Dunia Kate rasanya runtuh seketika itu juga. Mulutnya ternganga lebar sampai rasanya enggan terkatup kembali.

Kodok? Spesies langka? Bahan obat luka bakar?

Bagaimana bisa tiga ekor kodok nakal yang ia tangkap di selokan taman belakang dengan susah payah justru berubah menjadi sumbangan medis yang berguna bagi pasukan militer suaminya?

"K-kau..." Kate menunjuk Salvatore dengan jari yang gemetar hebat, wajahnya memerah padam karena gabungan antara malu, kesal, dan rasa ingin menjerit histeris saat itu juga.

"Kau bercanda, kan? Kau tidak kaget sama sekali saat membuka laci?”

"Kenapa harus kaget?" tanya Salvatore polos tanpa dosa, mengangkat sebelah alisnya. "Aku sudah mendengar suara jangkrik dan gesekan kaki kodok itu di dalam laci sejak aku melangkah lima meter di depan pintu ruang kerja. Suara mereka cukup nyaring."

ARGHHHHHHH!

Kate menggeram tertahan di dalam hatinya. Pria ini bukan manusia! Dia adalah monster berwujud manusia bertopeng batu giok!

Bagaimana bisa indra pendengarannya setajam itu?

Salvatore yang melihat perubahan wajah istrinya yang makin cemberut dan napasnya yang naik turun karena emosi, hanya bisa menahan senyum tipis di balik wajah datarnya. Pria itu memiringkan tubuhnya sedikit, menatap Kate yang kini melipat tangan di dada dengan bibir yang maju beberapa sentimeter.

"Kenapa wajahmu merah begitu?" tanya Salvatore rendah, suaranya terdengar begitu dekat di telinga Kate. "Kau kecewa karena kodoknya tidak menggigitku?"

"Diam kau, Jenderal Tembok!" sembur Kate ketus, langsung menarik selimutnya tinggi-tinggi hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalanya, membentuk tumpukan kain bulat di atas ranjang. "Jangan bicara padaku! Aku mau tidur!"

Dari balik selimut tebal itu, Kate bisa mendengar suara kekehan pelan dari Salvatore—suara tawa tipis yang begitu renyah dan hangat, yang selalu berhasil membuat jantung Kate berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.

"Selamat tidur, Istriku," ujar Salvatore pelan dari luar selimut. "Omong-omong, dokumen laporan perbatasan yang kau sembunyikan di laci bawah perpustakaan tadi sore... sudah aku temukan dan aku tandatangani."

Tubuh Kate di balik selimut langsung membeku kaku.

"Dan surat undangan dari Istana di balik lukisan," lanjut Salvatore santai, terdengar suara gesekan kain saat pria itu mulai berbaring di sisinya, "...terima kasih sudah merapikannya di sana. Tapi lain kali, kalau mau menyembunyikan dokumen, jangan taruh di tempat yang aroma parfum mawar milikmu menempel sangat kuat. Sangat mudah ditebak."

Kate menendang bantal guling di tengah ranjang mereka dengan frustasi yang sudah mencapai puncaknya. Rencana besok malamnya bahkan sudah hancur berantakan sebelum hari berganti!

Rhea benar. Rencananya selalu meleset, dan Salvatore terlalu overpower untuk bisa dikalahkan.

"Aku benci kau, Salvatore Ardan!" teriak Kate dari balik selimut dengan suara teredam.

Salvatore memejamkan matanya dengan tenang di balik benteng bantal mereka, mengulas senyum tipis yang amat sangat tulus di kegelapan malam. "Aku tahu, Kate. Selamat malam."

1
Iluvmacha
ga sabar Kate notice Sonia🤭
jinggaarundari: waduh bener lagi, tungguin bab selanjutnya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
btw, semangat kaka authorr💪💪 lanjut terus
jinggaarundari: 😍😍makasi banyak kaa, makin semangat disemangati kakakk
total 1 replies
otter_orange
Menunggu reaksi Kate kalau suaminya deket sama wanita lain🤣
jinggaarundari: sipp, tunggu update bab nya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
apaan sii, dia yg nunggu dia jg yg gengsi😭😭
jinggaarundari: emang kadang kidding🫣
total 1 replies
otter_orange
Akhirnya yg ditunggu-tunggu Kate kena karma kan, dibilang suaminya perfect gitu😭
La Vanya
waduhh, siapa tuh Sonia🤔
jinggaarundari: siapa ya🤔🤔, tunggu bab selanjutnya besok kaa😍😍
total 1 replies
La Vanya
katanya pemandangan merusak, tp kok ditungguin🤭
jinggaarundari: kalo ga gengsi bukan Kate namany🤭
total 1 replies
La Vanya
RHEA APRESIASI SETINGGI-TINGGINYA BUAT KMU WKWKWK😭😭😭
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jinggaarundari: hahaha, bener banget ka, emang orang kaya Kate butuh dayang kaya Rhea 😭😭
total 1 replies
Mommy Inci
plis Thor lngsung kebagian menyerah and falling in love ke jendral biar ga monoton...
jinggaarundari: siap kaa, pas banget besok bab 23 memang udh masuk Kate Denial suka suaminya, makasi kaa supportnya 😍😍
total 1 replies
lynn.flow
udah mampir nihh, ternyata seru juga, ga expect kalau si putri seberani itu😭😭
Vy
Seru ceritanya thorr😍
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗
jinggaarundari
baik kaa, cuma agak tsundere aja🫣
Putry Chan
nih prmepuan keras lumayan sulit sih di bikin Lulu semoga nanti bisa ya
Putry Chan
hmmm tapi jasa juga ke kejuaraan lumayan besar
Putry Chan
owh jadi nih putri trlalu tinggi derajatnya dan sulit di atur
Putry Chan
owh hadiahnya trlalu besar nya mknya sulit dia kan seorang putri
Putry Chan
beh 100 tahun coy
Putry Chan
apakah dia orang baik
La Vanya
kaa lanjuttt💪💪
otter_orange
SERU BANGET ANJIRRR!! 😭😭 Kakinya Kate ga bisa diem banget pas nyusun rencana kabur tapi malah bikin makin nempel aama suaminya wkwkw! Salvatore ganteng banget tapi lempengnya minta ampun 😭 Pokoknya wajib baca guyss, ceritanya seger, komedinya banyak, cocok buat dibac selepas kerja atau sekolah yang penat. Lanjut part 22 thorr fast update!!!💙💙💙
jinggaarundari: waa, senang kalau kakak sukaa. makasi suportnya kaa😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!