NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 2 - Cahaya Emas di Tengah Badai

Hujan masih turun deras, memukul atap-atap reot di kawasan terendah kota Veyra, namun di tempat Kai berdiri, tak setetes pun air menyentuhnya. Seakan ada tirak tak kasat mata yang melindunginya, aura keemasan yang samar namun kokoh, mendorong setiap butiran air menjauh sebelum menyentuh kulitnya. Di pelukannya, Aurelia menatap wajah ayahnya dengan mata terbelalak, napasnya yang tadi terengah-engah kini perlahan menjadi lebih tenang, lebih dalam, seolah ada sumber kehidupan baru yang mengalir lembut di dalam dadanya.

"Ayah…" suaranya lembut, penuh keheranan yang tak disembunyikan. "Panasnya… hilang. Badanku tidak terasa berat lagi."

Kai menunduk, jantungnya berdebar kencang — bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya baru saja terbangun di tempat yang paling gelap dan putus asa. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi putrinya. Demam yang tadi membakar tubuh gadis kecil itu sungguh-sungguh mereda. Kulitnya yang pucat perlahan mendapatkan kembali rona kemerahan, pipinya yang cekung terlihat sedikit lebih penuh, dan napasnya yang tersengal kini mengalir tenang, seolah beban tak kasat mata yang menindihnya selama berbulan-bulan telah diangkat perlahan.

Namun Kai tahu — ini belum sembuh total. Kekuatan yang baru bangkit di dalam dirinya hanya menahan penyakit itu, menekannya ke dasar, memberi mereka waktu. Bukan menyembuhkannya sepenuhnya. Ia bisa merasakannya — ada ikatan halus yang menghubungkan kekuatan di tubuhnya dengan kondisi Aurelia, seperti dua benang yang terjalin menjadi satu. Jika kekuatannya tumbuh, harapan putrinya juga ikut tumbuh. Tapi jika ia gagal, atau jika ia salah menggunakannya… ia tak berani memikirkan akhirnya.

Waktu. Itulah yang kini kita miliki. Dan aku tak akan menyia-nyiakannya sedetik pun.

"Kau akan baik-baik saja, Aurelia," bisiknya, mencium kening putrinya dengan perasaan yang bercampur bahagia dan takut. "Ayah berjanji. Kali ini Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

Ia mengangkat wajah, menatap ke arah tembok batu yang menjulang tinggi di ujung lorong — batas antara kawasan kumuh tempat ia dibuang dan kota yang dulu ia panggil rumah. Di balik tembok itu, wanita yang pernah ia cintai, istrinya sendiri, kini duduk di kediaman yang dulu milik mereka berdua, menikmati kemewahan yang ia bangun dengan keringat, kesetiaan, dan pengabdian bertahun-tahun. Di sana, mereka yang bersekongkol menghancurkannya tidur tenang, berpikir bahwa nama baiknya sudah terkubur, bahwa ia sudah hilang, tak berdaya, tak akan pernah kembali untuk menuntut pertanggungjawaban.

Mereka salah.

Kai mengangkat tangannya perlahan. Cahaya keemasan memancar dari telapak tangannya — lembut di awal, seperti pantulan matahari di permukaan sungai yang tenang, lalu semakin terang hingga menerangi seluruh lorong gelap itu. Ia merasakannya mengalir di dalam dirinya: bukan sekadar tenaga, melainkan ingatan. Suara-suara samar, bayangan masa lalu ribuan tahun yang lalu, perasaan bangga dan tanggung jawab yang begitu berat hingga membuatnya nyaris terhuyung. Ia belum paham sepenuhnya apa warisan ini, belum tahu seberapa jauh ia bisa melangkah dengan kekuatan ini, namun satu hal sudah tak perlu diragukan lagi — ia tidak lagi sendirian. Darah yang mengalir di uratnya bukan sekadar darah manusia biasa. Ia adalah sisa dari sesuatu yang agung, sesuatu yang ditakuti, dan sesuatu yang tak boleh jatuh ke tangan yang salah.

"Tunggu di sini sebentar, Sayang," ucapnya pelan, menurunkan Aurelia di atas tumpukan jerami kering yang tiba-tiba terasa hangat, seolah kehangatan itu ikut mengalir dari tubuhnya ke sekitarnya. "Ayah akan kembali. Ayah janji."

Gadis kecil itu mengangguk perlahan, matanya tak lepas dari sosok ayahnya yang kini tampak berbeda — lebih tegap, lebih kokoh, seolah ada gunung yang berdiri di tempat orang yang dulu lemah dan tertindas itu berada. Ia menarik selimut tipis yang diberikan ayahnya, memeluknya erat, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa aman.

Kai berbalik, melangkah keluar dari perlindungan lorong itu. Hujan langsung menyambutnya, membasahi bahunya, namun setiap tetes air yang menyentuh kulitnya langsung menguap menjadi kabut tipis yang naik perlahan ke udara. Setiap langkahnya terasa ringan, seakan tanah di bawah kakinya bukan lagi beban, melainkan pendorong yang menuntunnya maju. Ia berjalan menuju gerbang bawah kota — tempat di mana orang-orang yang tak punya tempat tinggal berkumpul, tempat di mana ia diusir tiga bulan lalu dengan hinaan, pukulan, dan teriakan yang masih terngiang di telinganya hingga kini.

Dua penjaga berdiri di sana, bersandar pada tombak mereka, wajah mereka penuh kebosanan dan kesombongan yang tak disembunyikan. Saat melihat sosok yang berjalan mendekat di tengah kegelapan dan hujan, salah satu dari mereka menyipitkan mata, lalu tertawa sinis.

"Hei, lihat siapa yang datang," ucapnya, menyilangkan tangan di dada sambil menatap Kai dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Bukan ini si pengkhianat yang jatuh tersungkur? Kau masih hidup, Kai? Kupikir tubuhmu sudah dimakan tikus di sudut-sudut gelap yang tak ada orang yang tahu."

Penjaga yang kedua ikut tertawa keras, menendang batu kecil ke arahnya. "Pulanglah, orang malang. Kota ini bukan tempat sampah sepertimu. Kalau kau tidak pergi sekarang sebelum kami marah, kami akan pastikan kau benar-benar tak bisa berdiri lagi selamanya."

Kai berhenti sepuluh langkah di depan mereka. Ia tidak merasa marah — amarah yang membakar dadanya selama berbulan-bulan telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin, jauh lebih berbahaya. Ia menatap kedua orang itu dengan tenang, dan perlahan, cahaya di matanya menyala — keemasan, tajam, tak bisa dipandang lama tanpa merasakan getaran takut yang tak dapat dijelaskan.

Sesuatu berubah seketika. Udara di sekitar mereka tiba-tiba menjadi berat, menekan dada hingga terasa sesak seakan ada beban tak kasat mata yang menindih bahu. Tombak di tangan kedua penjaga itu bergetar pelan, lalu semakin keras hingga gagangnya berbunyi nyaring di keheningan malam. Wajah mereka yang tadi penuh ejekan kini berubah pucat, keringat dingin muncul di kening mereka meski udara terasa semakin dingin. Mereka mundur selangkah tanpa sadar, saling bertukar pandang penuh kebingungan dan ketakutan.

"Kau…" salah satu dari mereka bergumam, suaranya pecah dan gemetar. "Apa yang terjadi dengan matamu? Itu… tidak mungkin."

"Aku datang bukan untuk berdebat," ucap Kai, suaranya tenang namun bergema, seolah diucapkan bukan hanya oleh dirinya, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih dahsyat, dan jauh lebih bijaksana daripada siapa pun yang pernah hidup di kota ini. "Aku ingin masuk. Buka gerbangnya."

Penjaga pertama mengumpulkan sisa keberaniannya, mengangkat tombak tinggi-tinggi dan mengacungkannya ke arah dada Kai. "Gila! Kau pikir siapa dirimu sekarang? Kami perintahkan pergi — atau kami tidak segan-segan melukaimu di tempat ini!"

Ia tak sempat menyelesaikan ancamannya. Sebuah gelombang tekanan lembut namun tak terbendung melesat dari arah Kai, menyapu mereka berdua tanpa menyakiti, namun cukup kuat untuk mengangkat mereka sedikit dari tanah lalu mendorong mundur hingga punggung mereka membentur pintu gerbang dengan bunyi dentuman keras. Tombak mereka terlempar ke samping, berguling di atas batu hingga berhenti jauh di tempat gelap. Mereka terjatuh ke tanah yang basah, terengah-engah, menatap Kai dengan mata yang membelalak tak percaya.

"Aku tidak ingin menyakiti siapa pun hari ini," ucap Kai perlahan, melangkah maju satu langkah, dan kedua penjaga itu merangkak mundur sejauh yang mereka bisa, punggung mereka menempel ke kayu gerbang yang kokoh. "Tapi jangan uji aku. Ada sesuatu yang bangkit di dalam diriku, dan aku belum sepenuhnya tahu seberapa jauh ia bisa pergi. Jika aku kehilangan kendali… aku tak ingin ada orang tak bersalah yang terluka."

Ia berhenti tepat di depan pintu gerbang — kayu keras berlapis besi, setebal tiga orang berdiri berdampingan, dibangun ratusan tahun lalu untuk menahan serangan pasukan besar sekalipun. Orang biasa tak akan mampu menggerakkannya sedikit pun, apalagi membukanya sendirian dalam keadaan sehat walafiat.

Namun Kai bukan lagi orang biasa.

Ia mengulurkan tangan, telapak tangannya menghadap ke permukaan pintu itu tanpa menyentuhnya. Cahaya keemasan memancar perlahan, menyelimuti seluruh permukaan pintu hingga setiap lekuk, retak, dan paku besinya terlihat jelas seolah diterangi matahari di tengah malam. Bunyi gemuruh rendah terdengar — dari dalam tanah, dari udara di sekitar mereka, seolah seluruh kota ikut bergetar mengikuti irama tenaga yang mengalir dari tubuhnya.

Paku-paku besi yang menahan pintu selama berabad-abad perlahan terlepas satu per satu, melayang di udara seolah tak memiliki berat sama sekali. Kayu tua yang kokoh berderit pelan, lalu semakin keras, dan perlahan — namun pasti — pintu gerbang yang tak bisa digerakkan puluhan orang dewasa itu terbuka. Hanya dengan satu gerakan tangan.

Angin malam dari kota bagian dalam menyambutnya, membawa bau lilin, kemewahan, dan kekuasaan yang dulu pernah ia miliki. Kedua penjaga itu ternganga, tak mampu bergerak, tak mampu bersuara, hanya menatap sosok yang melangkah melewati celah pintu itu — bukan lagi orang yang jatuh tersungkur dan dikhianati, melainkan sesuatu yang jauh lebih menakutkan, jauh lebih agung, dan jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah mereka lihat.

Kai tidak menoleh ke belakang. Ia berjalan menyusuri jalan utama kota, tempat lampu-lampu minyak menyala terang di setiap tiang, tempat orang-orang yang dulu menyapanya dengan hormat kini menatap dari balik jendela dan beranda, tertegun melihat sosok yang mereka yakini sudah hancur berdiri tegak di sana. Beberapa orang berbisik pelan, beberapa menarik napas panjang tak percaya, beberapa lainnya menyembunyikan diri di balik tirak — namun tak ada satu pun yang berani melangkah menghadangnya. Ada sesuatu di cara ia berjalan, di cahaya samar yang menyelimuti tubuhnya, dan di tatapan matanya yang membuat siapa pun enggan melangkah mendekat.

Ia tidak pergi ke istana kota atau kediaman megah bekas miliknya. Ia berbelok ke arah Kuil Silsilah — bangunan tua yang berdiri di bukit paling tinggi di pusat kota, tempat catatan asal-usul semua keluarga besar disimpan sejak kota ini didirikan, tempat di mana rahasia yang mungkin bisa menjelaskan apa yang terjadi padanya tersembunyi di antara naskah-naskah yang berdebu. Jika kekuatan ini benar-benar ada sejak ribuan tahun lalu, jika darah ini memang milik keturunan yang dikatakan telah punah, maka di sanalah jawabannya.

Kuil itu sepi, hanya diterangi cahaya remang dari lampu minyak yang dipasang di dinding batu. Saat mendengar langkah kaki mendekat di halaman yang dipenuhi daun basah, seseorang muncul dari balik pilar batu — seorang lelaki tua berjubah kelabu, rambut dan janggutnya memutih sepenuhnya, namun matanya masih tajam, menatap lurus ke arah Kai tanpa menyipit sedikit pun.

"Siapa yang datang ke sini di malam yang begini?" suaranya serak namun tegas, penuh kewibawaan yang tak dipaksakan. "Tempat ini tertutup untuk umum. Apakah kau tidak tahu bahayanya terlihat di tempat-tempat seperti ini?"

Kai berhenti di ambang pintu, menatap lelaki tua itu dengan tatapan yang tenang namun penuh harap. "Guru Harun. Kau masih mengenaliku?"

Tetua itu terdiam sejenak, menatap wajah pemuda itu dengan saksama, menelusuri setiap garis wajah yang dulu ia kenal baik — wajah murid yang rajin, pemuda yang jujur, ayah yang penuh kasih sayang. Perlahan matanya membelalak sedikit, dan ia mundur selangkah tanpa sadar.

"Kai…?" suaranya turun menjadi bisikan. "Tidak mungkin. Aku mendengar… kau sudah diusir, jatuh sakit, tak ada yang melihatmu lagi."

"Diusir, dikhianati, ditinggalkan — tapi belum mati," jawab Kai pelan namun tegas. "Dan ada sesuatu yang bangkit di dalam diriku, Guru. Sesuatu yang aku tak paham. Aku datang ke sini karena aku tahu — di antara semua orang di kota ini, hanya kau yang mungkin tahu kebenarannya."

Guru Harun menatapnya lama, lalu melirik ke arah jalan di bawah bukit, seakan takut ada mata yang mengawasi mereka. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Masuklah. Tapi berhati-hatilah — banyak mata yang mengawasi kuil ini. Dan kehadiranmu di sini bisa membahayakan kami berdua."

Kai melangkah masuk. Di dalam kuil itu terasa hangat, diterangi cahaya lilin yang menari di dinding batu berusia ratusan tahun. Rak-rak kayu jati yang tinggi memenuhi seluruh ruangan, berisi gulungan naskah kuno yang tersusun rapi, beberapa di antaranya ditulis dengan tulisan tangan orang-orang yang hidup ribuan tahun lalu. Di dinding bagian belakang, tepat di hadapan ruangan utama, tergantung lukisan besar yang memakan hampir seluruh permukaan dinding — lukisan yang menggambarkan masa-masa paling awal, sebelum kota-kota dibangun, sebelum kerajaan berdiri.

Di tengah lukisan itu, seekor naga emas melayang di antara awan, tubuhnya memancarkan cahaya yang menerangi daratan di bawahnya. Di sekelilingnya berdiri sosok-sosok pejuang yang memegang senjata bercahaya, dan di kejauhan, bayangan gerbang-gerbang raksasa yang menghubungkan tempat-tempat yang tak diketahui siapa pun kini.

Guru Harun menutup pintu dengan hati-hati, menguncinya, lalu berbalik menatap Kai. Matanya tertuju pada telapak tangan pemuda itu, di mana cahaya keemasan masih memancar lembut, berdenyut perlahan seperti napas makhluk hidup.

"Apa yang kau rasakan?" tanyanya pelan, mendekat sedikit.

"Panas," jawab Kai jujur. "Seperti ada api yang mengalir di setiap uratku — tapi tidak membakar. Ia memberi kekuatan. Ia menyembuhkan. Dan… ia bicara padaku, lewat perasaan, lewat ingatan yang bukan milikku."

Ia menunjuk langsung ke arah naga emas di lukisan itu. "Ini bukan sekadar kisah dongeng, bukan? Keturunan Naga Tertinggi — itu nyata. Dan aku… aku adalah salah satu dari mereka."

Guru Harun terdiam cukup lama, menatap lukisan itu dengan tatapan yang bercampur hormat dan kesedihan. Ia berjalan mendekat, mengusap permukaan lukisan itu dengan jari keriputnya seakan menyapa teman lama.

"Selama berabad-abad, kami menyimpannya sebagai rahasia terbesar," ucapnya pelan, suaranya bergema lembut di ruangan yang sunyi itu. "Ketua- ketua keluarga yang memegang kekuasaan di kota ini — mereka tahu. Mereka tahu bahwa keturunan itu tidak pernah benar-benar punah. Ia hanya tersembunyi, menyatu dengan orang-orang biasa, menurun dari generasi ke generasi, menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali."

Ia berbalik menatap Kai, tatapannya berat dan serius. "Dan tampaknya… saat itu telah tiba di dalam dirimu."

"Mengapa isteriku… mengapa mereka semua ingin menghancurkanku sebelum aku tahu?" tanya Kai cepat, rasa penasaran bercampur amarah mulai muncul kembali. "Apakah mereka tahu sejak awal?"

"Kemungkinan besar ya," jawab Guru Harun dengan wajah tegang. "Mereka takut. Jika keturunan Naga Tertinggi kembali, keseimbangan kekuasaan di seluruh dunia akan bergeser — bukan hanya di kota ini, bukan hanya di negeri ini, tapi di mana saja. Mereka yang sudah lama memegang kekuasaan tidak akan membiarkan itu terjadi tanpa perlawanan. Mereka berusaha memusnahkanmu sebelum kekuatanmu bangkit, sebelum kau menyadari siapa dirimu sebenarnya."

Ia melangkah mendekat, suaranya semakin rendah dan serius. "Tapi kau harus tahu sesuatu, Kai. Pengkhianatan istrimu… mungkin bukan dimulai dari dirinya. Bukan sekadar itu. Ada kekuatan yang lebih besar bergerak di balik semua ini. Kekuatan ini menarik perhatian dari tempat yang jauh — dari dunia yang bahkan tak bisa kami bayangkan."

Jantung Kai berdebar kencang. "Dunia lain."

"Ya. Jika kekuatan nagamu semakin kuat, gerbang-gerbang kuno yang sudah tertutup ribuan tahun akan mulai terbuka kembali. Di sisi lain gerbang itu, ada tempat-tempat di mana kekuatan seperti milikmu adalah hal biasa, di mana orang-orang berlatih seumur hidup untuk mendekati apa yang sudah mengalir di darahmu sejak lahir. Dan di sana, ada yang menginginkan kekuatan itu untuk diri mereka sendiri."

Guru Harun meletakkan tangannya di bahu Kai, menatapnya lurus ke mata. "Kau berdiri di awal perjalanan yang tak akan berakhir di kota ini, Kai. Jika kau memilih untuk melanjutkan, kau akan melintasi tempat-tempat yang tak pernah didatangi manusia, menghadapi musuh yang kekuatannya melampaui apa pun yang bisa kau bayangkan, dan mungkin menemukan kebenaran yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan yang baru saja kau alami."

Kai menunduk, memikirkan Aurelia yang menunggunya di lorong gelap itu, memikirkan senyumnya yang perlahan kembali, memikirkan janji yang ia ucapkan pada dirinya sendiri — untuk melindunginya, untuk menyembuhkannya, untuk memberinya masa depan. Ia tahu tidak ada obat di kota ini, tidak ada tabib yang bisa menyembuhkan penyakit putrinya yang aneh dan mematikan itu. Namun di tempat asal kekuatannya… mungkin di sanalah jawabannya.

Ia mengangkat wajah, matanya menyala teguh, tak lagi ada keraguan di sana.

"Aku tidak punya pilihan lain," ucapnya mantap, penuh tekad yang tak bisa digoyahkan. "Aurelia membutuhkan penyembuhan yang tak ada di sini, bukan? Hanya di tempat asal kekuatan ini, di tempat di mana darah naga mengalir bebas, aku bisa menemukan cara menyelamatkannya."

Ia meremas tangannya, merasakan kekuatan yang berdenyut di dalamnya.

"Dan aku juga akan mencari tahu siapa sebenarnya yang mengatur semua ini. Siapa yang memanfaatkan orang-orang di sekelilingku untuk menghancurkanku. Dan aku akan membuat mereka semua bertanggung jawab."

Guru Harun mengangguk pelan, lalu berjalan ke arah lemari tersembunyi di balik rak naskah. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain tua, membukanya perlahan — di dalamnya tergeletak sebuah liontin batu berwarna emas redup, bentuknya seperti sayap naga yang terlipat.

"Ini milik leluhurmu yang terakhir yang tercatat dalam catatan kami," ucapnya menyerahkan liontin itu kepada Kai. "Ia akan menuntunmu. Saat kau mendekati gerbang dunia lain, ia akan bersinar terang. Dan ia juga akan memberi tahu jika ada bahaya mendekat — meski tidak selalu tepat waktu."

Kai menerima liontin itu. Saat menyentuhnya, batu itu langsung hangat di tangannya, seakan mengenali pemilik barunya. Ia mengenakannya di leher, merasakan kehangatan yang menenangkan menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Terima kasih, Guru," ucapnya tulus.

"Pergilah sebelum mereka menyadari kau ada di sini," kata Guru Harun dengan nada sedih. "Hati-hatilah, Kai. Dunia di luar sana jauh lebih luas dan jauh lebih berbahaya daripada yang kau bayangkan. Tapi ingatlah satu hal — kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan musuhmu. Melainkan alasan yang membuatmu terus melangkah ke depan meski semuanya tampak mustahil."

Kai mengangguk. Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak, menoleh ke belakang.

"Aku akan kembali," ucapnya tegas. "Dan saat aku kembali, kota ini akan tahu siapa yang sebenarnya layak berdiri di atasnya."

Ia melangkah keluar ke malam yang masih basah dan dingin, namun kali ini ia tidak sendirian. Di dadanya tergantung tanda perjalanannya, di dalam uratnya mengalir kekuatan kuno, dan di hatinya tertanam satu tujuan yang tak akan pernah ia tinggalkan — menyelamatkan Aurelia, menyingkap kebenaran, dan menegakkan keadilan yang selama ini diingkari.

Di kejauhan, di balik awan gelap yang mulai menipis, bayangan raksasa melintas samar — hilang secepat ia muncul, namun meninggalkan getaran yang membuat semua makhluk di kota itu terdiam sesaat, seakan merasakan bahwa sesuatu yang besar telah berubah. Dan perjalanan panjangnya baru saja dimulai.

1
Youngku Manz
thorr.. aku mampir nih dan ninggali jejak, jgn lupa mampir juga di cerita baru aku ya yang bernama "RUMAH DI UJUNG JALAN LAYANG" aku tunggu loh kedatangmu di novelku dan jejakmu juga😊😍😍🤗
Yanto Hulu: 🙏 ok thor
total 1 replies
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!