Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuah Mala, Asap Panas, dan Janji Sang Eksekutor Masa Depan
Malam musim gugur di Beijing selalu punya cara sendiri untuk membuat orang-orang mencari kehangatan. Di salah satu sudut distrik Haidian, sebuah restoran hotpot tradisional Sichuan tampak sesak dipenuhi pengunjung. Uap panas mengepul dari setiap meja, membawa aroma rempah, cabai kering, dan kaldu daging yang langsung membuat perut keroncongan.
Lu Feng dan Lin Xiao duduk berhadapan di sebuah bilik kayu di sudut restoran. Di tengah meja mereka, sebuah panci tembaga terbelah dua—satu berisi kaldu jamur yang gurih, dan satu lagi berisi kuah Mala berwarna merah menyala yang dipenuhi lapisan cabai dan lada Sichuan yang terlihat mematikan.
Lin Xiao sudah menggulung lengan kemeja birunya sampai siku. Rambutnya diikat asal ke atas menggunakan jedai, menyisakan beberapa helai anak rambut yang menempel di lehernya yang sedikit berkeringat karena hawa panas ruangan.
Di seberangnya, Lu Feng sedang sibuk menjadi 'koki pribadi'. Cowok itu dengan telaten memasukkan irisan tipis daging sapi bertekstur marmer ke dalam kuah Mala yang mendidih, menghitung mundur dalam hati selama sepuluh detik, lalu mengangkatnya dan menaruhnya tepat di mangkuk Lin Xiao yang sudah berisi racikan saus wijen.
"Makan lagi, Yang. Lo dari siang cuma makan roti lapis doang kan gara-gara nugas," perintah Lu Feng, tidak menyentuh makanannya sendiri sebelum mangkuk Lin Xiao penuh dengan daging, akar teratai, dan bakso ikan.
Lin Xiao meniup daging panas itu pelan, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Matanya otomatis terpejam menikmati perpaduan rasa pedas yang membakar lidah namun sangat gurih.
"Pedas banget... tapi enak," gumam Lin Xiao, buru-buru menenggak es teh manisnya.
Lu Feng terkekeh pelan, mengambil selembar tisu dan dengan sangat natural mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengusap sudut bibir Lin Xiao yang terkena noda kuah merah.
"Pelan-pelan makannya, nggak ada yang mau ngerebut," ucap Lu Feng, suaranya terdengar jauh lebih rileks dibandingkan saat presentasi tegang tadi siang.
Lin Xiao menatap cowok di depannya ini lamat-lamat. Lu Feng hanya mengenakan kaos hitam polos kesukaannya, tapi entah kenapa, di bawah cahaya lampu restoran yang temaram ini, dia terlihat sangat dewasa. Garis rahangnya semakin tegas, bahunya semakin lebar, dan sorot matanya... sorot mata itu tidak lagi memancarkan kemalasan atau pemberontakan kosong. Sorot mata itu kini dipenuhi oleh perhitungan, ambisi, dan tanggung jawab.
"Kenapa ngeliatin gue kayak gitu? Muka gue ketempelan daun ketumbar?" tanya Lu Feng sadar diperhatikan, alis kanannya terangkat jahil.
Lin Xiao menggeleng pelan, meletakkan sumpitnya. "Aku cuma... masih kepikiran presentasimu tadi siang. Kamu benar-benar memukau, Lu Feng. Ide tentang kurir estafet itu... bagaimana kamu bisa memikirkannya?"
Lu Feng menyandarkan punggungnya ke sofa kayu, mengambil kaleng sodanya. "Insting bertahan hidup, Xiao. Anak-anak kayak Li Wei itu dari kecil udah disuapin teori ekonomi makro pakai sendok emas. Mereka mikir gimana caranya bikin perusahaan multinasional, tapi mereka lupa mikirin gimana caranya dapet untung sepuluh yuan hari ini buat beli makan besok."
Lu Feng memutar-mutar kaleng soda di tangannya, matanya menatap pantulan kuah mendidih di depannya.
"Waktu SMP, bokap gue sempet kena PHK dari pabrik," cerita Lu Feng pelan, sebuah masa lalu yang jarang sekali ia bicarakan. "Gue terpaksa bantuin paman gue di bengkel, kadang jadi kurir barang gelap ke pasar-pasar subuh. Di jalanan, lo nggak butuh grafik atau ROI. Lo cuma butuh tau siapa yang butuh barang lo cepet, dan siapa yang mau bayar murah buat tenaga lo. Makanya pas gue lihat ribuan anak asrama kampus pada males jalan ke gerbang depan buat ngambil paket, gue tau itu ladang duit yang nggak butuh modal."
Lin Xiao mendengarkan dalam diam, hatinya mencelos. Di saat ia menghabiskan masa remajanya di kamar ber-AC untuk menghafal puisi kuno dan rumus fisika, Lu Feng harus berhadapan dengan kerasnya aspal jalanan untuk bertahan hidup. Perbedaan kasta mereka dulunya adalah jurang yang sangat lebar, namun cowok ini berhasil membangun jembatan dengan darah dan keringatnya sendiri.
"Kamu akan jadi pebisnis yang hebat," bisik Lin Xiao tulus, matanya memancarkan kebanggaan yang absolut.
"Harus," jawab Lu Feng cepat dan mantap. Cowok itu menatap lurus ke dalam mata Lin Xiao, mengunci seluruh atensi cewek itu. "Gue harus jadi sukses, Xiao. Lo tau kenapa?"
"Untuk membungkam orang-orang yang meremehkanmu?"
"Itu bonus," Lu Feng tersenyum tipis. Cowok itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas meja. "Alasan utamanya adalah lo."
Napas Lin Xiao sedikit tercekat.
"Lo itu calon pengacara, Xiao. Calon hakim, atau mungkin jaksa. Pekerjaan lo nanti bakal berurusan sama keadilan, sama hukum yang kadang kotor dan berisiko," suara Lu Feng berubah sangat serius, dalam, dan menggetarkan hati. "Gue tau sifat lo. Lo keras kepala, lo benci ketidakadilan, dan lo nggak bakal mau dibeli pakai uang sogokan."
Lu Feng meraih tangan kiri Lin Xiao yang bertumpu di atas meja, menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatan yang mengalahkan panasnya kuah hotpot di antara mereka.
"Dunia ini brengsek, Lin Xiao. Orang jujur kayak lo bakal sering dipersulit," lanjut Lu Feng, ibu jarinya mengusap punggung tangan pacarnya dengan penuh kelembutan. "Makanya gue harus jadi kaya. Gue harus punya bisnis yang solid, duit yang banyak, dan *power* yang kuat. Biar apa? Biar lo bisa jadi pengacara sebebas yang lo mau. Biar lo nggak perlu takut kelaparan kalau lo nolak membela orang bersalah. Biar kalau dunia ini nyoba ngancurin idealisme lo... lo tau ada gue di belakang lo, siap jadi penyokong dana abadi lo, dan jadi benteng yang nggak bisa mereka tembus."
Setetes air mata tiba-tiba jatuh dari pelupuk mata Lin Xiao, meluncur bebas membasahi pipinya.
Cewek itu tidak pernah menangis karena pedasnya kuah Mala, tapi kalimat Lu Feng barusan benar-benar menghancurkan sisa-sisa pertahanan emosionalnya. Itu bukan sekadar gombalan remaja tentang 'aku tidak bisa hidup tanpamu'. Itu adalah janji seorang pria dewasa yang sedang merencanakan seluruh masa depannya sebagai jaring pengaman untuk mimpi-mimpinya.
"L-Lu Feng... kamu ini..." Lin Xiao terisak pelan, menutupi wajahnya dengan tangan kanannya yang bebas, merasa sangat malu karena menangis di tempat umum tapi hatinya terlalu penuh untuk ditahan.
Lu Feng terkekeh pelan melihat pacarnya menangis. Cowok itu bangkit dari kursinya, berpindah duduk ke sebelah Lin Xiao. Tanpa peduli pada pengunjung lain yang sibuk makan, Lu Feng merengkuh bahu Lin Xiao, menarik cewek itu ke dalam pelukannya.
"Udah, jangan nangis. Nanti dikira orang gue nyiksa lo suruh makan cabai sekilo," bisik Lu Feng, mencium pelipis Lin Xiao berkali-kali.
"Habisnya kamu bicara seenaknya! Siapa yang menyuruhmu jadi penyokong danaku hah?!" omel Lin Xiao di sela isakannya, memukul dada Lu Feng pelan. "Aku bisa cari uang sendiri nanti!"
"Iya, iya, Ibu Pengacara mandiri," Lu Feng memeluknya makin erat. "Gue cuma nawarin posisi *backup*. Kalau lo nggak butuh duit gue, yaudah duitnya gue beliin lo tas mahal aja nanti."
Lin Xiao akhirnya tertawa di tengah tangisnya, mengusap air matanya ke ujung kaos Lu Feng tanpa rasa bersalah.
Sisa makan malam itu dihabiskan dengan tawa, obrolan ringan, dan Lu Feng yang terus-menerus memaksa Lin Xiao memakan sayuran yang tidak cewek itu sukai. Perdebatan kecil mereka tidak pernah hilang, namun kini terasa jauh lebih manis dan membumi.
Setelah membayar tagihan, mereka berdua berjalan keluar dari restoran. Angin malam musim gugur langsung menyapa, membuat Lin Xiao sedikit merapatkan jaketnya.
Melihat itu, Lu Feng langsung membuka resleting jaket denimnya sendiri. Dia melingkarkan lengannya di bahu Lin Xiao, menarik cewek itu masuk ke dalam jaketnya, berjalan berdempetan menyusuri trotoar ibu kota yang dihiasi lampu jalan kuning.
"Feng," panggil Lin Xiao pelan, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang cowok itu saat mereka berjalan.
"Hm?"
"Proyek kurir estafet asrama itu... kamu akan benar-benar menjalankannya?"
"Gue udah mulai ngetik proposal *pitch deck*-nya buat nyari pendanaan ke inkubator kampus," jawab Lu Feng yakin. "Chen Hao bahkan gue paksa bantuin bikin *flowchart* operasionalnya dari kampung halaman. Otak *game*-nya ternyata lumayan kepake buat nyusun alur logistik."
Lin Xiao tersenyum membayangkan Chen Hao yang pasti sedang mengumpat panjang pendek di depan komputernya karena dipaksa bekerja oleh bos berandalnya ini.
"Kalau kamu butuh bantuan soal aspek legalitas kontrak kerja dengan kurir mahasiswa, atau masalah perizinan penggunaan nama kampus di aplikasimu..." Lin Xiao mendongak, menatap Lu Feng dengan sorot mata penuh arti. "...jangan cari konsultan hukum lain. Tarifku jauh lebih murah. Cukup bayar dengan traktir hotpot ini sebulan sekali."
Langkah Lu Feng terhenti. Cowok itu menatap wajah Lin Xiao yang tersenyum cerah di bawah cahaya lampu jalan. Sebuah perasaan bangga dan cinta yang luar biasa besar meledak di dadanya. Mereka bukan lagi dua anak SMA yang saling menutupi rasa cemburu. Mereka sekarang adalah *partner in crime*, rekan sejawat yang siap menaklukkan kerasnya dunia bersama-sama.
"Kesepakatan diterima, Nona Konsultan," jawab Lu Feng dengan senyum miring yang mematikan.
Cowok itu menundukkan wajahnya, dan di tengah trotoar Beijing yang dingin dan sepi, Lu Feng mencium bibir Lin Xiao. Kuat, dalam, dan penuh kepastian. Merayakan bukan hanya kelulusan dari masa lalu, tapi juga merayakan masa depan yang baru saja mereka rencanakan bersama di antara uap panas dan kuah pedas malam itu.