NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 (KASUS 1) KEJANGGALAN DI TKP

Sirene mobil ambulans Dokpol Bhayangkara meraung pelan saat melaju keluar dari gerbang kompleks Apartemen Cempaka Putih.

Di belakangnya, mobil MPV hitam milik Ipda Harumi dan dr. Haruma mengikuti dalam jarak dekat.

​Matahari siang mulai memancarkan terik yang membakar aspal jalanan kota. Di dalam kabin MPV hitam yang sejuk dan kedap suara, keheningan sempat tercipta untuk beberapa saat. Harumi memegang kemudi dengan kedua tangannya, sementara Haruma duduk di kursi penumpang depan, menatap lurus ke arah jalan raya yang dipadati kendaraan.

​Harumi menghela napas panjang, memecahkan keheningan di antara mereka berdua.

​"Kak Ruma..." panggil Harumi pelan.

​Haruma menoleh, menatap wajah adiknya dari samping. "Iya, Dek? Kakak udah tahu dari raut mukamu sejak di kamar penthouse tadi, ada banyak kejanggalan yang mau kamu obrolin, kan?"

​Harumi mengangguk pelan. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk kemudi mobil berirama konstan. "Bukan cuma janggal, Kak. Tapi ada tiga hal yang sama sekali nggak masuk akal kalo cuma dijelasin pake logika penyidikan polisi biasa."

​Haruma memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan punggung pada kursi kulit hitam. "Coba ceritain sama Kakak, satu per satu. Biar Kakak cocokkan sama sudut pandang medis."

​"Yang pertama... cangkir kopi di meja nakas samping tempat tidur Jonathan," ujar Harumi memulai analisisnya.

​Haruma mengerutkan kening. "Cangkir kopi? Tadi bukannya kamu bilang itu sisa minuman kopi hitam yang udah mengendap?"

​"Betul, Kak. Secara kasat mata, itu cuma sisa kopi hitam dingin," sahut Harumi dengan nada suara yang kian serius. "Tapi pas aku deketin wajah dan secara nggak sengaja jariku nyenggol pinggiran cangkir keramik itu... cangkirnya masih terasa anget, Kak."

​Haruma langsung tersentak kaget. Matanya membelalak menatap Harumi.

​"Anget? Rumi, kamu yakin?" tanya Haruma meyakinkan. "Pendingin udara di dalem kamar penthouse itu disetel di suhu 18 derajat Celsius. Perhitungan awal medis Kakak nunjukkin Jonathan udah meninggal sekitar enam jam lalu, berarti sekitar jam dua atau jam tiga dini hari. Air mendidih biasa yang didiemin di ruangan sedingin itu bakal dingin total dalam waktu kurang dari dua jam!"

​"Nah, itu dia masalah utamanya, Kak!" seru Harumi dengan penekanan pada suaranya. "Rasa anget di cangkir keramik itu bukan anget dari air mendidih biasa. Pas jariku menyentuhnya, rasanya aneh. Kayak ada energi panas yang ketahan di dalem lapisan keramiknya. Anget yang anomali... anget yang justru bikin bulu kuduk berdiri."

​Haruma merenungkan ucapan adiknya.

Sebagai seorang dokter forensik yang juga memahami fenomena batin, ia tahu betul bahwa gesekan energi gaib tingkat tinggi sering kali meninggalkan jejak termal atau perubahan suhu yang tidak wajar pada benda-benda di sekitar lokasi kejadian.

​"Itu jelas bukan panas biasa," gumam Haruma pelan. "Lalu, hal kedua apa, Rumi?"

​"Hal kedua... jam tangan keemasan milik korban yang tergeletak di samping cangkir kopi itu," lanjut Harumi. "Jam itu mati tepat di angka pukul 03.13 menit dini hari."

​"Apa uniknya jam tangan mati? Bukannya jam tangan biasa emang bisa mati kapan aja kalau baterainya abis?" tanya Haruma memancing.

​Harumi menggelengkan kepala dengan mantap. "Jam tangan milik Jonathan itu jenis mekanik pemutar otomatis, Kak. Jam kelas atas buatan Swiss. Jam jenis itu nggak memakai baterai kimia sama sekali. Selama jam itu dipakai di pergelangan tangan yang bergerak, atau kalau diputar penuh pegasnya, mekanismenya bisa terus berjalan sampai 48 jam tanpa henti. Dan Adek yakin banget, Jonathan itu pria kaya yang merawat barang-barangnya dengan sangat teliti."

​Haruma memotong cepat, menghubungkan titik-titik petunjuk di kepalanya. "Dan jam itu berhenti bergerak tepat di angka 03.13 menit?"

​"Tepat jam 03.13 dini hari!" tegas Harumi. "Angka itu pas banget dengan rentang waktu perkiraan kematian terendah yang Kakak hitung dari kaku mayat rahangnya, kan?"

​"Iya, bener banget, Dek," jawab Haruma dengan raut wajah kian tegang. "Kaku mayat di rahang dan leher emang baru kebentuk sempurna sekitar 5 sampai 6 jam setelah jantung berhenti berdetak. Berarti jam 03.13 menit itu adalah detik-detik persis saat nyawa Jonathan dicabut."

​Harumi menepuk kemudi mobilnya pelan. "Artinya, tepat di menit ke 13 setelah jam 3 pagi itu, ada satu gelombang benturan energi yang sangat kuat menghantam tubuh Jonathan. Benturan energi itu besar banget sampai sanggup menghentikan gerak pegas baja mekanik di dalem jam tangannya secara mendadak. Mekanismenya kekunci seketika, bukan karena rusak aus, tapi karena korsleting energi, Kak!"

​Haruma menyilangkan kedua tangannya di dada, merasakan ketegangan yang kian membuncah. Dua petunjuk fisik—cangkir kopi dengan hangat anomali yang aneh dan jam tangan mekanik yang terkunci di jam 03.13—sudah cukup untuk membuktikan bahwa ada skenario pembunuhan yang tidak biasa.

​"Dan hal ketiga, Rumi..." suara Haruma memelan, menatap mata adiknya lewat pantulan kaca spion tengah. "Apa yang dilihat sama mata batinmu di dalem kamar tidur itu?"

​Harumi menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan lewat mulut. Bayangan gumpalan aura hitam yang dilihatnya di atas plafon kamar penthouse kembali melintas jelas di dalam ingatannya.

​"Di atas plafon... tepat tegak lurus di atas posisi kepala Jonathan yang terbaring..." ujar Harumi dengan nada suara yang bergetar tipis. "Mata batin aku ngelihat gumpalan kabut hitam pekat. Bentuknya bukan cuma asap biasa, Kak. Asap hitam itu cukup padat, mirip sepasang telapak tangan raksasa dengan jari-jari yang panjang, kurus, dan bengkok tajam."

​Haruma menahan napasnya. "Telapak tangan raksasa? Yakin kamu, Dek?"

​"Iya, Kak. Ukurannya bener-bener nggak wajar. Telapak tangan gaib itu posisinya nukik ke bawah, persis seperti baru aja selesai mencengkeram dada dan leher Jonathan dari udara kosong," terang Harumi detail. "Pas aku mendongak natap plafon, aura hitam itu emang pelan-pelan memudar, tapi aroma bunga melati busuk dan hawa esnya masih tertinggal sangat menyengat di indera batinku."

​Haruma menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, memejamkan matanya sejenak untuk menyatukan seluruh fakta fisik dan fakta spiritual yang baru saja dibeberkan oleh adiknya.

​"Sekarang semuanya makin jelas," ucap Haruma setelah membuka matanya kembali. "Seseorang udah menggunakan serangan sihir hitam tingkat tinggi dari jarak jauh. Pelakunya nggak perlu ngedobrak pintu atau repot-repot manjat jendela penthouse. Sihir itu dikirim buat nembus dinding, berwujud telapak tangan gaib yang mencengkeram tubuh Jonathan saat dia sedang tidur lelap."

​"Dan benturan sihir itulah yang bikin jam tangannya berhenti tepat di jam 03.13," timpal Harumi melanjutkan analisis kakaknya. "Sekaligus ninggalin sisa gesekan panas gaib di cangkir keramik di dekatnya."

​"Tepat," angguk Haruma mantap. "Tapi... ada satu hal yang masih bikin Kakak penasaran, Rumi. Kalo sihir itu mencengkeram leher dan dadanya sampai membunuhnya, kenapa nggak ada bekas lebam atau memar sama sekali di kulit luar Jonathan? Kenapa kulitnya bener-bener bersih?"

​Harumi melirik kakaknya sekilas. "Itulah alasannya kenapa aku minta Kakak buat lakukan pembedahan utuh hari ini juga. Jawaban dari pertanyaan itu cuma ada di dalam tubuh Jonathan sendiri. Di balik kulit luar yang kelihatan utuh itu, pasti ada organ yang hancur."

​"Kamu bener, Dek," setuju Haruma. "Pembedahan forensik nanti bukan cuma sekadar memeriksa racun atau penyakit, tapi kita harus lihat kondisi organ dalemnya secara mikroskopis."

...........

...........

​Perjalanan mereka akhirnya sampai di area kompleks Dokpol Bhayangkara. Mobil MPV hitam milik Harumi berbelok memasuki pekarangan gedung laboratorium forensik, terparkir tepat di samping mobil ambulans jenazah yang baru saja selesai menurunkan kantong mayat hitam berisi jasad Jonathan Nasution.

​Beberapa petugas forensik berseragam khusus tampak sedang mendorong ranjang dorong berisi kantong mayat tersebut menuju pintu belakang bangsal pemeriksaaan.

​Harumi mematikan mesin mobilnya. Pintu kabin terbuka, dan kedua bersaudara itu melangkah keluar menyambut hawa siang yang panas.

​Haruma merapikan jaket dinas dan tas peralatan forensiknya. Ia menatap adiknya dengan raut wajah penuh kesiapan.

​"Kakak akan masuk ke ruang bedah sekarang, Rumi. Bripda Bowo dan tim asisten udah siapin mejanya," kata Haruma tegas.

​"Iya, Kak. Aku juga mau balik ke kantor Satreskrim," balas Harumi. "Aku akan suruh Aipda Rudi bongkar riwayat transaksi keuangan, telepon terakhir, dan semua hubungan bisnis Jonathan. Orang kaya berusia 32 tahun nggak mungkin diserang sihir sekelas ini kalo nggak ada alasan perebutan harta, bisnis, atau konflik besar di belakangnya."

​Haruma tersenyum tipis, memegang kedua bahu adik keduanya itu dengan hangat. "Hati-hati pas ngelacak jalurnya, Rumi. Kalo pelaku sanggup mengirim sihir pembunuh yang bisa nembus penthouse mewah, berarti posisi pelaku ini kuat banget dan bahaya."

​"Kakak juga hati-hati di ruang bedah," pesan Harumi tulus. "Jangan lupa buat minta perlindungan batin sebelum menyentuh jasad itu."

​"Pasti, Dek. Sekar Arum akan selalu jagain Kakak." jawab Haruma dengan berbisik di telinga Harumi.

​Haruma memutar tubuhnya, melangkah mantap memasuki pintu kaca laboratorium forensik untuk memulai tugas utamanya.

Sementara Ipda Harumi kembali masuk ke dalam MPV hitamnya, siap meluncur menuju markas kepolisian untuk membongkar jaringan rahasia di balik kehidupan sang Direktur Keuangan muda.

​Penyelidikan Kasus 1 kini resmi bergerak dari dua sisi:

Lewat tajamnya pisau bedah forensik di ruang otopsi...

Dan lewat dinginnya analisis hukum di meja penyidikan.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!