Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 kedatangan pak kades
Langkah Nara terasa canggung saat ikut di belakang Revan menuju meja makan yang sederhana namun tampak begitu kokoh.
Seketika, aroma gulai ikan patin yang menggugah selera menyambut mereka, berpadu dengan kehangatan khas sebuah rumah yang sudah lama tak Nara rasakan.
"Ayo, Nara. Duduk di sini, Nak."
Bu Sumi menepuk kursi kosong di sampingnya.
Nara tersenyum kecil.
"Iya, Bu."
Tanpa banyak bertanya, Bu Sumi langsung mengambilkan nasi untuk Nara, kemudian menyendokkan gulai ikan patin terbaik, lengkap dengan siraman kuah kuning gurih yang masih menggepul tipis.
"Ayo dimakan yang banyak ya, Nak. Perjalanan jauh dari kota pasti menyita tenaga. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri," ucap Bu Sumi penuh perhatian, menatap Nara dengan tatapan seorang ibu yang merindukan anak perempuannya.
Nara terpaku sejenak, sentuhan kasih sayang Bu Sumi seketika menyentuh sudut terdalam hatinya.
"Waduh, Ibu... Kak Nara dipiringnya banyak banget! Nisa aja yang anak kandung nggak pernah dipilihin potongan ikan yang paling gede gitu," goda Nisa sambil mengerucutkan bibir, membuat suasana meja makan seketika mencair oleh gelak tawa.
" Nisa. Kakak Nara ini tamu spesial kita,"
balas Bu Sumi tersenyum hangat membelai lembut pundak Nara. "Gimana Nak,..enak ...."
Nara menyuap sendok pertamanya. Rasa gurih, asam, dan rempah segar menyatu halus di lidah. Ia mengangguk mantap, matanya berbinar jujur.
"Enak Bu. sempurna. Nara jadi ingat rumah..."
Revan yang duduk di sampingnya mencuri pandang. Melihat cara Nara menikmati masakan ibunya dengan raut wajah tenang dan matanya yang hangat, ada getaran halus yang tak asing menyusup ke dada sang komandan.
Karakter tegas dan dingin sang bidan desa seolah meluruh, menyisakan sosok wanita lembut yang tampak begitu serasi berada di tengah keluarganya.
"Kalau suka, besok Ibu masakkan lagi. Mau makan apa saja tinggal bilang sama Ibu ya, Nak," sahut Bu Sumi hangat.
Di tengah riuhnya canda tawa Nisa yang tak henti mengalun dan perhatian Bu Sumi yang begitu melimpah, Nara mendapati dirinya perlahan rileks. Kesan asing dan ketegangan akibat kebohongan mereka mendadak terkikis oleh ketulusan yang melingkupi meja makan itu.
Malam semakin larut, namun kehangatan di ruang tengah rumah Bu Sumi tak sedikit pun memudar. Angin malam yang berembus dari luar hanya menambah nyaman suasana di dalam.
Revan bersandar di ambang pintu yang membatasi ruang tengah dan dapur, berpura-pura menyesap teh hangatnya. Matanya tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah Nara yang sedang duduk di atas karpet bersama Nisa.
Seandainya saja dia benar-benar calon istriku... gumam Revan dalam hati.
Dari jarak sedekat ini, Revan bisa memperhatikan detail wajah Nara tanpa halangan. Bibir wanita itu merah alami tanpa sapuan gincu, dan matanya memancarkan kesejukan yang menenangkan jiwa. Revan terhipnotis hingga bibirnya mengukir senyum tipis tanpa ia sadari.
"Hayooo... Kenapa Bang Revan senyum-senyum sendiri?"
goda Nisa tiba-tiba dengan suara setengah berbisik namun penuh intonasi jail.
Revan tersentak, hampir saja menumpahkan teh di genggamannya. Ia cepat-cepat menetralkan raut wajahnya dan berdeham pelan. "Siapa yang senyum-senyum? Abang cuma lagi mikirin pekerjaan."
Nara yang mendengar godaan Nisa ikut tersadar. Saat matanya berpapasan dengan revan. Ia dengan cepat mengalihkan perhatian, berpura-pura sibuk membetulkan letak duduknya.
Nisa yang tak menyadari pergolakan batin kedua orang di dekatnya justru makin bermanja pada Nara.
"Kak Nara cantik banget sih, hidungnya mancung, bibirnya juga bagus. Mau dong punya muka adem begini," ucap Nisa sambil gemas menyentuh ujung hidung dan bibir Nara, membuat Nara canggung untuk menutupi rasa gugupnya.
Kehangatan yang mengalir indah itu mendadak terputus ketika terdengar ketukan keras di pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum..."
Bu Sumi yang sedang melipat pakaian di sudut ruangan segera berdiri.
"Wa'alaikumussalam... ?"
Raut wajah Bu Sumi berubah kaget melihat tamu yang datang bertandang selarut ini. Pak Kades berdiri di ambang pintu dengan wajah serius, didampingi oleh dua orang tokoh masyarakat desa.
" eh...pak kades..."
"Ada apa ya, Pak? Kok malam-malam gini kerumah " tanya Bu Sumi heran.
"Kita bicara di dalam ya, Bu," potong Pak Kades cepat, suaranya terdengar berat dan tanpa basa-basi.
"Oh, iya, iya, Pak. Masuk dulu..." Bu Sumi dengan sigap menggelar tikar pandan tambahan di ruang tamu. Ayah Revan yang baru keluar dari kamar segera menyambut dan duduk lesehan bersama Pak Kades, disusul oleh Bu Sumi.
Revan melangkah mendekat dan ikut duduk di samping ayahnya.
Sebagai seorang perwira, Revan sudah terbiasa menghadapi situasi paling menegangkan di medan tugas tanpa gentar sedikit pun.
Musuh bersenjata tak pernah membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Namun malam ini, melihat ekspresi dingin Pak Kades dan mengingat sandiwara 'status hubungan' dirinya dan Nara, ada perasaan gugup yang mendadak menyusup kaku di dadanya.
Di sudut ruangan, canda tawa Nisa dan Nara berangsur terhenti.
Nara menghentikan jemarinya yang sedang membelai rambut Nisa. Matanya menatap lurus ke arah ruang tamu. Ketegangan menyergap udara, mengikis habis kehangatan malam yang baru saja mereka nikmati.
Atmosfer hangat di ruang tamu rumah panggung itu seketika membeku. Dengung jangkrik dari pekarangan seolah menjadi satu-satunya bunyi yang tersisa di tengah ketegangan yang mendadak pekat.
Pak Kades membetulkan letak duduknya di atas tikar pandan, menatap Bu Sumi dan suaminya dengan raut wajah serba salah.
"Gini, Bu, Pak... Saya ingin meluruskan," ucap Pak Kades pelan namun mantap, membuka percakapan dengan nada penuh hati-hati. "Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga setelah saya beritahu hal ini, Ibu dan Bapak tidak marah berlebihan. Karena saya sangat paham, anak-anak cuma ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuanya."
Bu Sumi meremas jarinya sendiri, gelisah. Tatapannya beralih antara Pak Kades dan Revan yang duduk menunduk kaku di sebelahnya. "Nah, gini Bu... sebenarnya Nak Nara itu..." Pak Kades menggantung kalimatnya sejenak, menghela napas berat.
"Kenapa dengan Nara, Pak Kades?" potong Bu Sumi, suaranya bergetar halus dibalut rasa khawatir.
"Dia itu... bidan desa baru kita, Bu," lanjut Pak Kades berterus terang.
Bu Sumi hanya terdiam. Bibirnya mengatup rapat, matanya berkedip lambat seolah berusaha mencerna setiap suku kata yang baru saja mampir di telinganya.
"Jadi, Nak Revan sebenarnya tidak sengaja mengambil foto Bidan Nara waktu di stasiun," sambung Pak Kades lagi, melirik Revan yang mengepalkan buku-buku jarinya di atas paha. "Nak Revan pikir Bidan Nara tidak satu tujuan ke desa kita, sampai akhirnya terjadi kesalahpahaman ini."
Ayah Revan mengisap napas dalam-dalam, garis-garis tegas di wajah tuanya mengeras seketika.
(akankah ayah dan ibu Revan sakit mengetahui kenyataan bahwa Nara bukan calon menantu yang dibawa Revan)