NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 : Ending

"Karmamu sudah datang Rosa."

Namun itu terdengar seperti bukan suara Naya. Rosa pun sadar, ia tidak sedang menghadapi Naya. Tapi sesuatu yang memakai tubuhnya.

Zuan menatap tajam pada Naya.

"Siapa kau?" Tanya Zuan.

"Hahahaha..." Naya tiba-tiba tertawa serta hujan yang terdengar semakin deras.

"Sari, dimana Naya?" Tanya Rosa yang sudah mulai murka karna Rosa jelas-jelas tahu jika itu bukanlah Naya.

"Naya sudah mati, dia menyerah." Ujar Naya dengan lantangnya.

Rosa kaget bukan main, tubuhnya jatuh ke lantai begitu tahu jika Naya ternyata benar-benar sudah meninggal.

Kepala Rosa menggeleng pelan, "Enggak."

Suaranya hampir tidak terdengar.

Sosok itu melangkah mendekat. Pelan, kakinya terseret.

"Naya capek."

"Naya takut."

"Dan kalian semua biarin dia mati." Ujar Naya dengan senyum lebar.

Deg.

Rosa membeku, kata-kata itu lebih menyakitkan dari apapun. Bukan ancaman, tapi tuduhan yang benar adanya.

"Kalian semua harus mendapatkan karma atas apa yang telah kalian lakukan kepada Naya." Dengan marah Sari menatap Rosa begitu pun dengan Zuan.

"Lo yang udah bunuh Naya!" Tegas Rosa yang menyadari jika bukan karna Sari tak mungkin Naya akan menyerah secepat ini.

Rosa bahkan belum sempat berdiri saat Naya tiba-tiba bergerak sangat cepat. Pisau di tangannya langsung mengarah ke leher Rosa.

"MATI KAU!!" Teriak Naya.

Rosa dengan cepat menahan tangan Naya namun tiba-tiba.

BRAK!!!

Tubuh Naya terlempar keras ke dinding. Zuan berdiri dengan satu tangan terangkat, napasnya berat.

Debu jatuh perlahan dari dinding yang retak. Namun Naya bangkit lagi. Kepalanya miring. Tulangnya berbunyi keras, dia tersenyum. Dan menghilang dari tempatnya.

Zuan tersentak.

DUK!!!

Zuan terpental ke belakang saat Naya muncul tepat di depannya.

Pertarungan antara Zuan dan Naya pecah.

Pukulan.

Benturan.

Suara tubuh menghantam meja, lantai, dinding. Zuan melawan sekuat tenaga tapi Naya tidak terasa seperti manusia. Lebih kuat. Lebih cepat.

"BANGS4T!!" teriak Zuan melayangkan pukulan namun tiba-tiba Naya lagi-lagi menghilang dari hadapannya dengan suara tawa yang masih ada.

SRET!!!

Pisau menembus punggung Zuan.

Tubuh Zuan menegang, matanya membelalak. Darah mengalir pelan.

Rosa masih terkejut.

Zuan jatuh berlutut. Naya mencabut pisau itu perlahan. Lalu menoleh ke Rosa.

Senyumnya kembali muncul.

"Sekarang giliran balas dendamku." Ujar Naya dengan senyum lebar.

Langkahnya mendekat, Rosa mundur mengingat rasa bersalahnya ke Naya, dia tidak bisa melawan. Naya mengangkat pisaunya...

DUARR!!!

Tubuh Naya tiba-tiba terbanting ke atas.

Menghantam langit-langit.

Keras.

Rosa tersentak.

Sosok lain muncul.

Samar.

Tidak sepenuhnya terlihat.

Namun cukup jelas untuk dikenali.

Abel.

Matanya dingin menatap Naya. Suaranya pelan tapi penuh tekanan.

"Kowe sing kudu mati, Naya."

Suasana langsung berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Dan Tawa menggema.

"Hahahahaha…"

Suara tua. Dalam. Berasal dari segala arah. Eyang Dhahar yang sepertinya puas dengan apa yang terjadi saat ini.

Naya bangkit lagi namun kali ini dia tertawa.

Dia menatap Abel.

Lalu melompat menyerang.

Namun.tubuh Abel menghilang tidak bisa disentuh.

Naya menggeram.

Abel muncul di belakangnya.

Naya langsung menoleh, kedua mata Naya memerah akan menangkap namun Abel sudah di depannya.Tangannya mencengkram leher Naya. Mengangkatnya. Tubuh itu terangkat paksa ke atas. Kaki Naya menggantung. Meronta. Untuk pertama kalinya dia terlihat kesulitan.

Rosa tersentak sadar.

"Ini kesempatan."

Tangannya gemetar dia meraih sesuatu dari sakunya bungkus berisi bubuk hitam. Tangannya bergetar saat mulai menggambar lingkaran di lantai. Mulutnya komat-kamit. Mantra penguncian.

"Dadi wates… dadi pager… sing ora iso dilanggar.."

Energi mulai terasa. Udara bergetar.

Abel menoleh, matanya langsung mengunci Rosa.

Tubuh Naya di hempaskan ke pintu utama rumah makan sampai pintu itu terbuka.

BRAKK!!

Rosa tersentak, belum selesai, namun terlambat.

Abel melemparkan Naya, dan dalam sekejap sudah berada di depan Rosa.

Tangannya mencengkram leher Rosa.

Tubuh Rosa terangkat, mantranya terputus. Lingkaran itu pecah.

"Argh-"

Napasnya tercekik matanya membelalak.

Namun tiba-tiba menghilang dengan jeritan yang sangat amat keras.

"Sari?? Di-dia.. Segel Sari lepas." Ujar Rosa yang baru sadar sesuatu membuat Rosa langsung berlari ke lantai 2 ruangan karyawan dan menemukan jika laci bertuliskan nama Sari itu sudah terbuka lebar

"ROSA!!" Teriakan Naya terdengar mencarinya membuat Rosa terburu-buru berlari dan menutup laci itu.

“ROSA!!”

Teriakan itu menggema dari bawah langkah kaki terdengar naik tangga. Memburu.

Tangan Rosa menekan kayu itu kuat-kuat. Namun dorongan dari dalam. Keras.

Berulang.

BRAK… BRAK… BRAK…

"ROSA!!" Suara Naya semakin dekat.

Rosa menutup mata tak ada pilihan lain, Rosa membuka matanya kembali.

Hitam. Seluruh matanya menghitam.

"Saatnya mati." Terdengar suara Naya yang sudah berdiri di belakangnya.

Sunyi. Semua suara seperti menjauh. Rosa mengeluarkan bubuk hitam dari genggamannya langsung melemparkannya ke arah Naya.

DUARR!!

Teriakan menggema, tubuh Naya terbakar. Bukan api biasa, membakar dari dalam.

"AARGH!!" Tubuhnya jatuh, meronta.

Namun Rosa tidak menoleh. Fokusnya hanya satu. Laci itu. Yang terus bergetar.

Darah mulai keluar dari mulut Rosa karna kekuatan yang dia keluarkan sudah melewati batasnya, Rosa mulai mengucap mantra.

Pelan.

Dalam.

"Dadi wates… dadi pager… sing ngiket roh… sing ora iso uwal…"

Udara berubah.

Berat.

Tekanan terasa di dada tiba-tiba asap hitam keluar dari tubuh Naya. Menjerit. Menyayat telinga.

"ROSA!!!"

Suara Sari.

Kali ini jelas. Marah dan benci. Asap itu melesat menuju Rosa. Namun seperti ditarik dengan paksa untuk kembali masuk ke dalam laci.

Rosa tidak berhenti meski darah sudah menetas dari jidatnya, suaranya makin keras, "BALI! DIKUNCI! Ora oleh metu mane!"

Laci itu bergetar hebat seperti mau meledak. Lalu...

BRAK!!

Tertutup dengan sendiri.

Langsung hening.

Tidak ada suara lagi. Tidak ada tekanan lagi. Seolah semuanya baru saja diputus.

Rosa terdiam. Napasnya berat. Darah masih keluar dari mulutnya begitu pun kepalanya, rupa yang biasanya sangat cantik menawan perlahan berubah menjadi perempuan tua.

Matanya perlahan kembali normal. Tubuhnya gemetar pelan, dia menoleh. Tubuh Naya tergeletak di lantai.

Rosa berlutut di samping tubuh itu, tangannya gemetar menyentuh pipi Naya. Dingin, terlalu dingin.

"Naya.." Suaranya pecah. Hampir tidak terdengar. Tangannya berpindah ke leher, mencari denyut.

Rosa menggeleng pelan, "Bangun Nay!!"

"Naya… bangun…"

Namun tubuh itu tetap diam.

Tidak bergerak.

Tidak merespon.

Air mata mulai jatuh, Rosa menunduk. Dahinya menyentuh dada Naya. Tubuhnya bergetar. Dia tidak menjerit, tidak histeris. Hanya… hancur dalam diam. Hujan masih turun di luar. Suara air menetes pelan dari atap. Seolah ikut menghitung waktu.

"Maaf telat, Nay.." Kalimat itu keluar pelan.

Hampir seperti napas terakhir. Sunyi.

Tidak ada yang menjawab.

Tidak ada yang tersisa.

Dan untuk kedua kalinya, Rosa merasa kehilangan seseorang tepat di hadapannya sendiri. Andai saja waktu itu dia bisa berbicara kepada Naya, andai saja waktu itu Rosa lebih terbuka kepada Naya, dan andai saja waktu itu Rosa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Naya. Andai saja.. Namun semuanya sudah terlambat karna kematian Naya benar-benar sudah terjadi.

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!